Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 35



🌹HAPPY READING🌹


"Sebelum memutuskan pindah kesini, Umi adalah seorang Dokter kandungan, Nak," ucap Yana memberitahu Zahra.


Jantung Zahra seakan berpacu cepat mendengar penuturan Yana.


"Ta-tapi Zahra hanya melakukannya sekali, Umi, dan itu terjadi satu Minggu yang lalu, Umi. Apakah bisa secepat itu?" ucap Zahra pelan tidak berani menatap Yana.


Yana tersenyum melihat kegugupan Zahra. Bukan hanya gugup, Zahra terlihat sangat takut menatap Yana.


"Yang namanya rezeki tidak ada yang bisa menebak, Nak. Mau sekali ataupun berkali-kali, mau lama.atau baru, kalau rezeki Zahra ada, pasti amanah itu akan datang, Nak," ucap Yana.


Zahra mengangkat kepalanya memandang Yana yang tengah tersenyum kepadanya. "Apa Umi tidak marah atau merasa malu menampung Zahra dengan keadaan seperti ini?" tanya Zahra khawatir.


Yana menggeleng sambil tersenyum. "Kenapa harus malu, Nak? Ini adalah suatu anugrah, bukan? Dan anak ini hadir dengan ikatan yang sah," ucap Yana.


"Tapi sekarang Zahra hanya seorang janda, Umi. Keadaan Zahra yang seperti ini, apa memungkinkan bagi Zahra untuk dapat mempertahankan anak ini sampai lahir?" tanya Zahra sendu.


"Zahra, wanita hamil memiliki kekuatan lebih dari wanita yang tidak hamil. Sekaligus keadaan Zahra seperti ini, percayalah, Allah yang akan membantu Zahra," ucap Yana meyakinkan Zahra.


"Lalu bagaimana dengan orang-orang nanti, Umi? Apa itu tidak akan mengganggu Umi dengan berbagai macam pertanyaan mereka?" tanya Zahra lagi. Sungguh, jika kehamilannya ini membawa pengaruh buruk bagi kehidupan Yana, maka Zahra lebih memilih untuk pergi dari kehidupan Yana.


Yana tersenyum mendengar perkataan Zahra. "Zahra, ini bukan Indonesia, Nak. Ini adalah kota Tarim. Kota dimana prasangka buruk sebelum mengetahui kebenaran sangat dihindari. Karena dengan berprasangka buruk, itu artinya kita menimbulkan fitnah untuk orang lain. Jika Zahra benar, maka jangan pernah takut. Anak ini lahir dalam keadaan yang sah kan, Nak?" tanya Yana pelan. Dia takut pertanyaan yang akan dia tanyakan ini akan menyinggung Zahra.


"Anak ini ada dalam hubungan yang sah, Umi," jawab Zahra yakin.


Yana tersenyum lega dan memeluk erat Zahra. "Selamat atas kehamilan Zahra. Kita akan menjaga bayi Zahra bersama-sama, Nak," ucap Yana menyemangati Zahra.


"Kita beritahu Umi Dee dan keluarga Zahra yang lain?" lanjut Yana menanyakan pendapat Zahra.


"Biar nanti Zahra yang memberitahu, Umi. Zahra ini senyum tercipta di wajah keluarga Zahra saat mengetahui berita ini," ucap Zahra semangat.


Yana mengangguk menyetujui perkataan Zahra. Zahra memang lebih berhak untuk memberi tahu berita baik ini dari pada dirinya.


.....


Setelah berbicara dengan Anggara dan tidak mendapat hasil apapun, Kenzo pergi keruang rawat Kinzi.


Sudah pulang berarti. Batin Kenzo melihat Melani dan Anggara yang sudah tidak ada diruangan Kinzi.


Kenzo berjalan mendekati ranjang Kinzi dan duduk di kursi yang ada ada di sebelah ranjang.


Kenzo menggenggam sebelah tangan Kinzi yang terbebas dari infus. "Bagun Kinzi," ucap Kenzo sendu.


"Bangun dan marahi aku. Bangun dan marahi pria brengsek ini. Bangun dan marahi pria bajingan ini," ucap Kenzo lirih.


"Mengapa penyesalan ini selalu datang di saat senja, Kinzi? Mengapa tidak kesadaran yang datang lebih dulu dari pada penyesalan? Aku sungguh tidak sanggup Kinzi. Bahkan saat menyiksanya saja aku merasakan sakit yang sama. Melihatnya menyeret diri sendiri layaknya binatang tak berkaki membuat aku sakit sekaligus perih, Kinzi. Melihat badannya berdarah, melihat air mata yang tak henti keluar karena aku membuat aku luka Kinzi. Tapi mengapa saat itu ego ini sangat besar? Aku sungguh menyesal. Sungguh," ucap Kenzo dengan lirih.


Kenzo menyeka sudut matanya yang sedikit berair. "Kamu tahu Kinzi, dia adalah wanita terbaik, wanita sabar, wanita tegar yang mampu mencuri hati kembaranmu yang sangat batu ini dengan segala akhlaknya. Bahkan saat pertama kita bertemu dengannya. Kamu ingat bukan, kalau aku pernah mengatakan bahwa aku ingin memiliki istri yang sifatnya seperti Bidadari Bumi, dan itu semua ada pada gadis cacatku yang sangat sempurna. Tidak ada yang lebih baik dari dia untukku, Kinzi," ucap Kenzo mengeluarkan segala isi hatinya.


"Doakan segala usahaku berhasil, Kinzi," lanjut Kenzo menenggelamkan kepalanya di sebelah tangan Kinzi.


Kenapa jantungku berdebar seperti ini. Tidak seperti biasanya. Batin Kenzo saat merasakan hal lain yang terjadi pada dirinya. Entah mengapa, jantungnya berdebar cepat seakan ada sesuatu kejutan yang akan menantinya. Zahra, Zahra dan Zahra selalu berputar pada pikiran Kenzo.


"Semoga saja ini adalah hal baik. Rasanya mendengar kabar buruk, aku sudah tidak sanggup. Penyesalan ini benar-benar terasa seperti neraka bumi yang sangat nyata untukku, Zahra," gumam Kenzo pelan.


.....


Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima subuh waktu Tarim. Zahra duduk di ranjangnya setelah melaksanakan sholat subuh. Tangannya sedari tadi menggenggam ponsel canggih miliknya.


"Sekarang pukul lima, berarti di rumah udah jam sembilan pagi," gumam Zahra.


Zahra memutuskan untuk melakukan panggilan video dengan Dee. Dering ke tiga, panggilan diangkat dan menampakkan wajah damai Dee dari layar ponsel Zahra.


"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Zahra dengan senyum manisnya.


"Waalaikumsalam, Zahra," jawab banyak suara disana. Tidak hanya suara Dee yang ada disana, walaupun di layar ponsel hanya menampakkan wajah Dee.


"Sangat rame, Umi," ucap Zahra.


Dee tersenyum. Dia mengarahkan kameranya ke segala arah. Dan ternyata disana ada semua keluarganya. "Kita lagi di ruang Abang, Nak," ucap Dee memberitahu.


"Pasti seru," jawab Zahra.


"Dan tambah seru lagi dengan kehadiran Kakak, meskipun hanya lewat video call," celetuk Kina yang sedang memakan buah yang sudah di potong kecil-kecil.


Zahra tersenyum melihat tingkah adiknya yang masih seperti anak-anak, padahal sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.


"Bunda sama Ayah kemana, Umi?" ucap Zahra menanyakan keberadaan Sofia dan Kevin yang tidak nampak oleh pandangannya.


"Ayah sama Bunda lagi ke pesantren, Zahra," jawab Dee.


Zahra mengangguk mendengar perkataan Zahra. Pantas Sofia tidak mengangkat ponselnya, karena jika sudah di pesantren, Sofia tidak akan pernah memegang ponselnya. Dia akan sibuk dengan anak pesantren yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


"Zahra punya kabar gembira untuk kita semua," ucap Zahra senang.


"Apa Kak?"


"Apa Dek?"


"Apa Nak?"


Seru antusias sangat nampak dari mereka semua menunggu kabar yang akan Zahra sampaikan.


"Sebentar lagi, kita kedatangan satu keluarga baru," ucap Zahra.


"Keluarga baru?" beo Al menanyakan maksud Zahra.


"Ada adik bayi di perut Zahra," ucap Zahra senang.


"Alhamdulillah," seru mereka semua senang mendengar perkataan Zahra.


"Cucu Umi akan bertambah, Nak," ucap Dee senang. Meskipun di hati kecilnya ada kekhawatiran yang luar biasa mengenai Zahra.


Zahra harus hamil tanpa suami. Seakan masa laluku terulang kembali. Lanjut Dee dalam hati khawatir.


Zahra mengangguk senang dengan senyum mengembangnya. Hingga akhirnya senyum itu hilang saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu yang juga menatapnya dari layar ponsel. Tubuh Zahra seakan menegang melihatnya.


Mereka semua yang melihat perubahan ekspresi Zahra menoleh kebelakang.


DEG


"Kenzo."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz