Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 39



🌹HAPPY READING🌹


Setelah mengetahui segala informasi dari anak buahnya, Ibra, Kevin dan Kenzo kembali dengan perasaan tak menentu.


Kenzo kembali kerumahnya dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ini bahkan lebih sakit dari dikhianati oleh orang yang kita cintai. Besok dia harus bersiap untuk pergi untuk menyusul Zahra. Mencari dan memastikan sendiri, bahwa Zahra harus baik-baik saja.


Kenzo memasuki rumah dengan langkah gontai. Langkahnya tertuju pada kamar kecil Zahra yang ada di bawah tangga.


Kenzo merebahkan tubuhnya di kasur tipis dan kecil yang pernah Zahra gunakan untuk alas tidurnya. "Tolong jaga diri kamu, Sayang. Tolong bertahan untuk aku dan anak kita yang ada di dalam rahim kamu," ucap Kenzo sendu dengan.


Kenzo mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan foto Zahra yang sudah lama ada dalam dompet tersebut.


"Hiks, jangan marah terlalu lama. Jangan pergi terlalu jauh, ada aku disini dengan segala penyesalan yang sangat dalam. Tolong baik-baik saja, Sayang," ucap Kenzo lirih dengan suara bergetar.


Kenzo meluapkan segala perasaannya dalam tangis yang sudah tidak bisa dia tahan.


.....


Ibra dan Kevin sampai di kediaman Ibra. Dee yang melihat kedatangan suaminya langsung menghampiri mereka.


"Yang lainnya kemana, Sayang?" tanya Ibra ketika melihat Dee yang sendirian duduk di ruang tamu.


"Udah istirahat, Mas. Kasian, jadi tadi aku suruh istirahat. Kasian, nanti tenaga mereka habis karena terlalu sedih," ucap Dee.


"Kalau begitu gue ke kamar lebih dulu, Ib, Dee," ucap Kevin pamit pada Dee dan Ibra.


Ibra dan Dee mengangguk mengiyakan ucapan Kevin. Kini tinggal Ibra dan Dee di ruang tamu. "Gimana hasilnya, Mas? Zahra baik-baik aja kan?" ucap Dee bertanya setelah kepergian Kevin.


Ibra menghela nafas pelan. Dia berjalan duduk di sofa dan disusul oleh Dee. "Rumah tempat Zahra tinggal adalah kawasan paling parah terkena banjir, Sayang," ucap Ibra sendu.


Dee sudah bisa menebak ini. Dia sudah mempersiapkan hati untuk mendengar semua yang akan disampaikan oleh Ibra.


"Apa Zahra ada di tempat pengungsian, Mas?" tanya Dee ragu.


Ibra memandang Dee yang duduk di sebelahnya. Dia memeluk erat wanita yang selalu memberi ketenangan untuknya.


"Zahra tidak bersama Yana, Sayang," ucap Ibra sendu.


Ibra menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dee. Meredam tangis pilu yang akan keluar karena semua hal yang menimpa anaknya.


Dee memejamkan mata sebentar meredam kepiluannya. Tangannya dengan mengusap lembut punggung Dee. "Mas, nggak boleh cengeng," ucap Dee mencoba tersenyum namun dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.


"Sungguh tidak pernah aku bayangkan, Sayang. Kesalahan masa lalu ini sangat membuat salah satu anakku menderita," ucap Ibra sendu.


"Mas, bisakah tidak mengungkap masa lalu? Itu akan menyakiti kita semua," ucap Dee lembut.


"Hiks, aku Ayah yang gagal untuk anak-anakku, Sayang," ucap Ibra menangis layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya.


Tak kuasa melihat suaminya seperti ini, Dee memeluk Ibra dengan sangat erat. Trauma yang dialami Ibra mengenai masa lalu dan segala kesalahannya masih sangat membekas dihatinya. Dan jika keadaan seperti ini, rasa bersalah itu pasti akan selalu ada. Penyesalan itu ternyata belum sepenuhnya hilang.


"Andai kesalahan itu tidak ada, Zahra tidak akan mengalami hidup yang seperti ini. Cacat dari lahir, hidup diasingkan dari teman-teman karena kekurangannya, dan hidup dengan suami yang bahkan memperlakukannya bagai seorang binatang. Anakku tidak sehina itu kan, Sayang?" ucap Ibra dengan suara bergetar.


"Zahra bagaikan seorang anak yang lahir hanya untuk menerima karma atas segala kesalahan aku, Sayang. Zahra tidak harusnya seperti ini. Hidupnya harus bahagia, bukan?" ucap Ibra menangis dalam pelukan Dee.


"Mas, tidak ada anak yang lahir hanya untuk menerima keburukan, Mas. Pasti ada hikmah besar dibalik semua ini," ucap Dee meyakinkan Ibra.


Ibra melepaskan pelukannya pada Dee. "Mengapa Allah tidak selalu bersama Zahra, Sayang. Dia seolah meninggalkan Zahra dengan segala nasib buruk. Bolehkah aku mempertanyakan keberadaanya untuk anakku, Sayang?" tanya Ibra sendu menatap dalam mata Dee.


"Istighfar, Mas, banyaklah berucap. Tidak pantas kamu bicara seperti itu," ucap Dee memperingati Ibra akan segala prasangka buruk kepada penciptanya.


"Zahra saja tidak pernah mengeluh dengan segala yang dia lalui, Mas. Lalu mengapa kamu yang mempertanyakan keberadaan Allah untuk Zahra? Bahkan keyakinan Zahra saja lebih besar dari pada kamu, Mas," lanjut Dee tegas. Dia tidak suka dengan segala ucapan Ibra yang terdengar seperti meragukan Pencipta mereka.


"Rasanya aku sudah tidak sanggup jika menyaksikan segala kesakitan Zahra, Sayang. Jika mungkin, limpahkan semuanya padaku, bukan Zahra," ucap Ibra sendu dengan kepala menunduk dalam meredam suara tangisnya agar tidak menganggu anggota keluarga lainnya.


"Mas, itu artinya Zahra adalah anak yang kuat. Zahra adalah hamba pilihan yang diberikan derajat lebih tinggi di atas kita. Segala ujian dan cobaan yang ada, Zahra berhasil melewatinya dengan sangat sabar, ikhlas dan tegar Mas. Kita harus percaya, untuk saat ini pasti Zahra akan baik-baik saja. Zahra selalu berada dalam lindungan Allah, Mas," ucap Dee.


Ibra kembali memeluk Dee dengan sangat erat. "Rasanya sungguh sangat menyakitkan, melihat anak perempuan yang sangat tangguh itu harus mengalmi ujian hidup seperti ini. Sangat menyakitkan, Sayang," ucap Ibra pilu.


Tanpa mereka sadari, Al dan Bella menyaksikan semuanya dari arah dapur. Kegiatan makan mereka terhenti ketika mendengar suara tangis Ibra yang sedikit teredam. Bahkan Al sudah tak bisa menahan tangisnya pada Bella. "Zahra, Sayang," ucap Al sendu.


Siapapun yang menyaksikan semua ini pasti akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Suami yang selalu membahagiakannya dan membuatnya tersenyum, kini merasa sangat terpukul atas segala yang terjadi.


"Mas, kamu harus kuat untuk keluarga kita. Jika kamu seperti ini, maka siapa yang akan menguatkan orang tua dan adik kita?" tanya Bella mencoba menenangkan Al.


"Kita akan selalu berdoa untuk keselamatan Zahra, Mas. Sekarang kita ke kamar, ya. Nanti Abi dan Umi tahu jika kita mendengar semuanya," ucap Bella mengajak Al untuk segera pergi dari dapur.


Al mengangguk. Dia menghapus air matanya dan segera menggandeng Bella untuk kembali ke kamar mereka.


.....


Yana duduk dengan cemas di tempat pengungsian perempuan. Sedari tadi air matanya tak henti membasahi pipi mengingat keadaan Zahra.


"Apa anak saya sudah ditemukan?" tanya Yana dengan bahasa Yaman kepada salah satu tim penyelamat.


"Maaf, kami tidak menemukan tanda-tanda seorang wanita dengan ciri-ciri seperti yang kau jelaskan tadi. Akan sangat sulit menemukannya jika memang dia terseret arus banjir yang cukup serasa. Kecil kemungkinan dia akan selamat," ucap salah satu tim penyelamat wanita itu.


Yana menggeleng kuat membantah setiap perkataan wanita tersebut. "Kamu bukan Allah yang menentukan nyawa seseorang, kan. Aku yakin Allah menyelamatkan anakku. Dia hamba yang istimewa, dia hamba yang spesial. Tolong, jangan berhenti mencari keberadaan anakku," ucap Yana sendu dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Tim penyelamat wanita tersebut mengusap lembut bahu Yana. "Kamu benar, hanya Allah yang menarikan nyawa seseorang. Kami akan terus mengupayakan pencarian untuk anakmu. Semoga kami bisa menemukannya dalam keadaan baik-baik saja," ucap Wanita tersebut dengan kepedulian yang sangat dalam.


"Terimakasih," ucap Yana tulus.


......................


Akhirnya aku update lagi. Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz