
🌹HAPPY READING🌹
Bagaimana naik balon udaranya, Nak?" tanya Zahra.
"Seru sekali, Bunda," jawab Sela.
"Tapi kok wajahnya sedikit cemberut gitu?" tanya Kenzo memperhatikan wajah sang anak.
"Kok kita nggak ketemu Raya sama Mami Kinan?" tanya Sela merajuk dengan kedua tangan di lipat di dadanya.
"Astaghfirullah," gumam mereka semua yang tak habis pikir dengan pemikiran anak itu.
"Sayang, dengerin Bunda," ucap Zahra lembut.
Sela menengadah melihat Bundanya karena Zahra sangat susah untuk menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu, terhalang oleh perut wanita itu yang sudah cukup besar.
"Kina dan Raya itu hanya sebuah tokoh fiksi dalam cerita yang dijadikan sebuah film, Nak. Jadi nggak ada di dunia ini," ucap Zahra.
"Tokoh fiksi apa, Bunda?" tanya Sela.
"Tokoh dalam cerita yang karakternya ditulis oleh manusia," jawab Zahra.
Sela nampak berpikir. "Jadi Raya dan Mami Kinan itu bohongan, Bunda?" tanya Sela lagi.
Zahra mengangguk. "Yang ada itu hanya kisah mereka, Nak," jawab Zahra.
Sela menghela nafas kecewa. Dia kira dia akan bertemu dengan Kinan dan Raya disini, tapi nyatanya imajinasi anak itu terlalu tinggi.
"Lagian Nak, yang kesini itu Lidya sama Papinya Kinan," tambah Dee.
"Pelakor itu ya?" tanya Sela polos.
"Heh! dapat kata itu darimana?" tanya Kenzo tak habis pikir dengan kosa kata anaknya yang semakin hari semakin bertambah aneh.
"Makanya Ayah nonton Tiktok. Masa setiap hari bacanya garis-garis berwarna yang nggak jelas!" jawab Sela ketus yang sepertinya akan memulai perang dengan sang Ayah.
"Itu penunjang hidup buat beli beras, Nak!" jawab Kenzo tak mau kalah.
Sela yang kesal dengan Kenzo memainkan bibirnya meledek Kenzo. Zahra yang melihat Kenzo akan kembali mengeluarkan suaranya, langsung mengalihkan pembicaraan. "Sekarang ayo kita cari makan. Sela pasti laparkan?" tanya Zahra.
"Lapar Bunda," rengeknya mengelus perut yang cukup buncit itu.
"Kalau begitu ayo kita semua makan," ajak Murat. Mereka semua mengangguk dan mengatakan kepada operator bahwa saat ini mereka akan family time, jadi Kenzo memberikan uang lebih kepada operator saat itu atas tugasnya yang sudah mendampingi mereka untuk naik balon udara.
"Teşekkür ederim amca," ucap Sela sedikit belepotan, namun masih bisa dimengerti. Anak itu membungkukkan badannya untuk menghormati operator tersebut.
Operator itu mengangguk dan tersenyum lembut. "Sama-sama, anak manis," jawabnya sopan.
Setelah itu, operator pamit memisahkan diri dengan mereka semua.
.....
Saat ini Kevin sibuk dengan laptop ditangannya. Lelaki itu nampak tak terganggu sedikitpun dengan seseorang yang masuk ke ruangannya.
Emre yang baru saja memasuki ruangan Kevin menghela nafas pelan. Sahabatnya itu tetap saja tak mau berhenti meskipun sekarang sudah menunjukkan jam makan siang.
"Vin," panggil Emre. Namun Kevin masih tetap diam tidak mendengar.
"Tuan Kevin yang terhormat!" panggil Emre lagi dengan suara yang lebih keras.
"Hem," jawab Kevin singkat.
"Serius sekali bapaknya," ucap Emre langsung duduk di kursi seberang meja kerja Kevin.
"Jam makan siang, Vin. Pikirkan kesehatan kamu. Pengalihan pikiran boleh, tapi sisakan kesehatan untuk hal lainnya," ucap Emre.
Kevin menghela nafas pelan dan mengangguk. Kevin menyimpan pekerjaannya terlebih dahulu setelah itu baru menutup laptopnya.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Saatnya makan siang," jawab Emre.
"Aku masih belum lapar, Emre," jawab Kevin.
Kevin mengangguk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. Kepalanya menengadah ke atas dengan mata tertutup.
"Ada apa?" tanya Emre melihat sahabatnya itu. .
"Kamu tahu aku kenapa, Emre," jawab Kevin tersenyum kecut.
Emre menghela nafas pelan. "Sudah dari dulu aku katakan untuk menuruti kata hatimu. Tapi tetap saja kau tidak melakukannya," ucap Emre.
"Posisiku sangat tidak menguntungkan, Emre," jawab Kevin sendu.
"Dan sekarang nikmatilah penyesalan itu," ucap Emre.
Kevin mengangguk menyetujui perkataan Emre. Yang bisa dia lakukan sekarang ada berusaha mencari Zahra yang diiringi dengan penyesalan yang semakin hari semakin menggerogoti hatinya. Hingga saat ini, penyesalan menjadi sahabat dalam hidup Kevin.
"Kamu tahu, Emre. Dia adalah gadis kecil yang membuat aku merasa diperjuangkan. Dia adalah gadis kecil yang membuat aku merasakan yang namanya cinta. Dia adalah gadis kecil yang membuat aku tahu bagaimana rasanya diperhatikan dengan tulus, meskipun itu hanya hal-hal kecil. Dan satu hal yang pasti, menikah bertahun-tahun dengan Sofia, namun gadis kecil itu yang mengandung anakku," ucap Kevin sendu.
Emre mendengar perkataan sendu sahabatnya itu. Emre memang sudah mengetahui mengenai kehamilan itu. Karena memang Kevin yang menceritakannya sendiri.
"Makanya Om ganteng, kalau diperjuangkan itu tahu diri, ya," ucap Emre mengatai Kevin.
"Bukannya kasih semangat malah ngatain!" gerutu Kevin.
"Terus sekarang Lo mau ngapain?" tanya Emre.
"Apa dua Minggu lagi ada kerjasama yang sangat penting?" balik Kevin bertanya.
"Ada. Tapi tidak terlalu," jawab Emre.
"Gue bakal ikut nyari Kinzi kemanapun itu. Darimanapun gue mulai, semoga itu adalah langkah yang baik," ucap Kevin.
Emre mengangguk. "Itu terdengar lebih baik, Kevin. Aku selalu mendukungmu," ucap Emre tulus.
"Untuk saat ini, setiap melihat wajah Kenzo, aku selalu mengingatnya," tambah Kevin. Karena memang, Kinzi adalah Kenzo versi perempuan.
"Jangan sampai belok," celetuk Emre.
"Aku akan belok jika memang Kinzi sudah tidak ada di dunia ini," ucap Kevin menatap jahil Kenzo.
Emre menatap was-was Kevin. "Lo jangan becanda, Vin. Gue berhenti jadi sahabat Lo kalau gitu," ucap Emre ngeri.
"Jadi Lo pilih-pilih sahabat?" tanya Kevin berdiri dan berjalan dengan perlahan mendekati Emre.
"Gue bukannya milih-milih teman. Tapi kalau memang urusan belok-belok ini, gue angkat tangan," ucap Emre mengangkat kedua tangannya menyerah.
Kevin terus menatap Emre dengan tatapan jahilnya. Emre yang melihat Kevin semakin mendekat langsung berdiri. Dan tanpa aba-aba, lelaki itu berlari meninggalkan ruangan Kevin tanpa mengingat usianya.
Kevin yang melihat itu langsung mengeluarkan tawanya.
Setelah melihat Emre yang benar-benar hilang dari pandangannya, Kevin menekan tombol yang ada di meja kerjanya untuk menutup pintu secara otomatis.
Tawa yang tadinya menggelegar itu, kini berubah menjadi tangis dalam diam Kevin. Tangan Kevin terangkat mengusap lembut sudut matanya yang sedikit berair. Lama-kelamaan, bahu pria itu nampak bergetar pelan. "Aku sungguh merindukanmu, Kinzi."
.....
Sedangkan dibelahan negara lain, tepatnya disudut kota kecil, desa yang sangat terpencil, seoang wanita muda dengan perut besarnya sedang menikmati kegiatan mengajinya dengan tangan yang terus mengelus perut buncitnya.
"Kamu yang sehat di dalam sana ya, Nak. Tidak apa-apa Ayah kamu tidak mengetahui kehadiran kamu, Nak. Tapi yang penting, dia memberikan kamu sebagai hadiah untuk Mama," ucap gadis itu lembut.
"Papa kamu itu baik. Dia memang tidak menginginkan mama, tapi dia memberikan kamu sebagai anugerah yang tidak pernah Mama harapkan sebelumnya. Tapi sekarang, kamu adalah sumber kehidupan Mama, Nak," sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
Tatapannya beralih pada sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja yang berada di depannya. "Semoga kamu memang bahagia dengan segala pilihanmu, Ayah dari anakku."
......................
Hai teman-teman, cukup sampai disini kisah Kevin dan Kinzi di novel ini. Untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Perjuangan dan segala emosi akan ada di novel sebelah, semoga kalian suka dan menikmati kisahnya 😉
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍