Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 36



🌹HAPPY READING🌹


Zahra mengangguk senang dengan senyum mengembangnya. Hingga akhirnya senyum itu hilang saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu yang juga menatapnya dari layar ponsel. Tubuh Zahra seakan menegang melihatnya.


Mereka semua yang melihat perubahan ekspresi Zahra menoleh kebelakang.


DEG


"Kenzo," ucap mereka semua terkejut melihat Kenzo yang sudah berdiri di ambang pintu, dengan mata yang tak lepas dari ponsel Dee yang menampilkan wajah Zahra.


Seperti terpaku dengan kedatangan Kenzo, Zahra diseberang sana bahkan hanya bisa melihat layaknya patung.


"Zahra," panggil Kenzo lirih dengan tatapan sendu memandang Zahra.


Zahra yang tersadar dengan semua itu langsung menekan tombol merah, hingga panggilan video mereka terputus.


"ZAHRA!" teriak Kenzo mengambil ponsel Dee.


"Umi, dimana keberadaan Zahra, Umi? Kenzo mohon beritahu Kenzo," ucap Kenzo dengan nada sendu.


"Sejak kapan kamu datang Kenzo?" tanya Ibra tanpa mengizinkan Dee menjawab pertanyaan Kenzo.


"Tidak penting sejak kapan Kenzo datang, Abi. Sekarang Kenzo ingin tahu dimana keberadaan istri Kenzo, Abi," ucap Kenzo.


"Kamu tidak perlu tahu keberadaan Zahra," ucap Dee menjawab pertanyaan Kenzo.


"Tapi dia istri Kenzo, Umi," jawab Kenzo sendu.


Dee tertawa sumbang mendengar perkataan Kenzo. "Istri kamu bilang? Kemarin ini kamu kemana saja, Kenzo? Saat anakku mengemis cinta untukmu, kamu kemana?" ucap Dee tegas menatap Kenzo.


"Umi, setiap orang punya kesempatan kedua, bukan?" tanya Kenzo lirih.


Dee mengangguk. "Kamu benar, setiap orang punya kesempatan kedua. Anakku sudah memberikan banyak waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tapi kamu tetap menyia-nyiakannya. Dan sekarang kamu masih bertanya tentang kesempatan kedua?" ucap Dee tak percaya dengan apa yang Kenzo bicarakan.


"Bahkan Zahra menurunkan harga dirinya sendiri untuk mendapat cinta dan perhatianmu, Kenzo," lanjut Dee tegas.


"Sekarang pergilah, Kenzo," ucap Ibra meminta Kenzo untuk pergi. Dia tidak ingin suasana yang tadinya hangat berubah menjadi tegang seperti ini.


"Kenzo tidak akan pergi sebelum menemukan keberadaan istri Kenzo, Abi," ucap Kenzo kekeuh tidak ingin pergi dari ruangan Al.


"Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dengan tetap berada disini," jawab Ibra.


Kenzo menatap Ibra dengan pandangan sendunya. Begitu besarkah kesalahannya hingga semua orang menolak untuk membantunya?


"Bukankah Abi tahu ditinggalkan oleh istri yang sangat kita cintai itu tidak enak? Lalu kenapa sekarang Abi kembali membuatkan orang lain merasakan kesakitan yang dulu Abi rasakan?" ucap Kenzo sendu.


Mereka semua yang ada disana menatap intens Kenzo setelah mendengar apa yang tadi Kenzo katakan. "Lo nggak berhak membuka masa lalu keluarga gue, Ken," ucap Al yang tidak suka dengan apa yang Kenzo ucapkan.


"Gue nggak membuka masa lalu, Al. Gue cuma mau tau keberadaan Zahra. Tapi jika dengan seperti ini gue bisa mengetahui keberadaanya, maka akan gue lakukan," ucap Kenzo menatap Al.


"Suamiku dan kamu itu berbeda, Kenzo!" ucap Dee tegas menentang apa yang Kenzo katakan.


"TUTUP MULUT KAMU, KENZO!" ucap Dee tegas. Dia takut apa yang Kenzo katakan akan kembali berpengaruh kepada mental Ibra yang sering tidak tenang jika membahas hal sensitive seperti ini.


Sedangkan Ibra hanya mampu terdiam dengan apa yang Kenzo katakan. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan untuk menyanggah itu. Karena apa yang Kenzo ucapkan adalah benar adanya.


"Umi, Umi pernah merasakan bagaimana tidak enaknya ditinggalkan oleh suami sendiri. Umi pernah merasakan bagaimana hidup tanpa seorang suami kan, Umi. Lalu kenapa sekarang Umi membiarkan Zahra juga merasakannya? Tolong jangan persulit jalan Kenzo untuk bertemu Zahra, Umi," ucap Kenzo sendu.


"Apa Umi pernah melarangmu untuk mencari keberadaan Zahra? Tidak bukan. Umi hanya tidak memberitahu dimana keberadaan Zahra, Kenzo. Kamu punya banyak kekuasaan untuk melakukan pencarian itu. Dimana usahamu?" tanya Dee yang membuat Kenzo terdiam.


"Dan satu lagi, Kenzo," lanjut Dee berjalan maju sambil terus menggenggam erat tangan Ibra.


"Ditinggalkan suami memang sangat tidak enak. Tidak dipercaya suami memang sangat tidak enak, Kenzo. Dan bahkan dibenci oleh anak sendiri itu sungguh menyakitkan. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, tangan lelaki yang saya genggam ini adalah tangan yang selalu menghapus air mata saya saat dia mengetahui bahwa saya selalu menangis dalam diam. Sekalipun tangan ini tidak pernah menyakiti fisik saya. Meskipun hati saya sakit saat itu, tapi perjuangannya mampu membuat saya untuk kembali membina bahagia bersamanya, Kenzo," ucap Dee tegas. Sedangkan Ibra hanya bisa menahan air matanya agar tidak keluar saat itu juga. Melihat bagaimana Dee membela martabatnya sebagai seorang suami, seorang Ayah dan seorang lelaki, Ibra sangat bersyukur atas itu.


"Bukankah hamil tanpa suami itu menyakitkan, Umi?"


DEG


Pertanyaan Kenzo membuat mereka semua menatapnya dengan pandangan terkejut.


Kenzo menatap Dee dengan pandangan sendunya. Dia mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang ada dalam benak Dee. "Kenzo tahu, Zahra sedang mengandung anak Kenzo kan, Umi. Biarkan Kenzo melimpahkan kasih sayang untuk anak dan istri Kenzo, Umi," ucap Kenzo memohon dengan suara lirihnya.


"Istri Kenzo bukan seorang janda yang harus membesarkan anak kami seorang diri. Masih ada Kenzo sebagai suaminya, Umi. Kenzo mohon," ucap Kenzo dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap Dee.


Kenzo beralih menatap Ibra dan Al secara bergantian. "Abi, Abi pasti mengerti perasaan Kenzo kan, Abi? Dan lo pasti pernah merasakan bagaimana tidak enaknya hidup tanpa Ayah kan, Al? Gue mohon, jangan biarkan anak gue merasakannya juga, Al," ucap Kenzo sendu. Siapa sangka, lelaki yang tega menyiksa istirnya itu kini menangis di depan mereka semua. Tidak peduli dengan harga dirinya, Kenzo hanya ingin tahu keberadaan Zahra.


"Banyak keluarga yang akan memberikan kasih sayang untuk Zahra, Ken," ucap Al tanpa menatap Kenzo. Hatinya dibuat ragu saat mendengar perkataan Kenzo.


"Tidak ada keluarga manapun yang bisa menggantikan kehadiran seorang Ayah, Al," ucap Kenzo. Setelah mengucapkan itu, Kenzo beralih menatap Dee. "Please, beritahu Kenzo, Umi," ucap Kenzo memohon dengan nada bergetar.


"Datang ke rumah Umi nanti malam Kenzo!" ucap Dee dan langsung keluar sambil menarik tangan Ibra untuk ikut keluar dari ruang Al setelah mengucapkan hal tersebut.


Jujur saja, tidak ada Ibu yang rela jika nasib buruk yang dia alami kini juga dialami oleh anaknya, meskipun itu bukan anak kandungnya sendiri. Tapi tidak akan semudah itu bukan?


.....


Sedangkan di tempatnya, Zahra terdiam dengan tangan yang senantiasa mengusap lembut perut yang masih rata itu. Melihat wajah Kenzo tadi membuat tubuh Zahra terasa gemetar dan panas dingin. Ada rasa tidak berani dan takut ketika matanya bersitatap dengan mata Kenzo.


"Maaf, Nak. Bunda tidak bisa memberitahu Ayahmu. Bunda belum siap untuk bertemu kembali dengan nya. Bunda takut akan kemarahannya jika nanti mengetahui kehadiranmu, Nak," ucap Zahra sendu.


"Semoga kamu bisa kuat di dalam sana, ya Nak."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Kalian tim mana nih teman-teman? Tim Kenzo dan. Zahra bersatu atau Zahra dan Kenzo berpisah? Kira-kira Kenzo dan Zahra ketemu tidak ya? tunggu kelanjutannya ga teman-teman.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz