Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 166



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo menendangi pintu ruangan yang sudah tertutup. Dia menghela nafas kasar dan menghempaskan file ditangannya dengan sedikit keras.


"Kamu tidak seharusnya seperti itu, Kenzo!" ucap Anggara yang tiba-tiba sudah berada diambang pintu ruangan Kenzo.


Kenzo mengangkat kepalanya. "Papa," ucapnya pelan.


"Apa yang kamu lakukan pada Zahra?" tanya Anggara tanpa basa-basi.


"Ini masalah Kenzo, jadi Papa tidak usah ikut campur," jawab Kenzo mengalihkan pandangannya. Begitu banyak link Anggara, hingga lelaki paruh baya itu langsung mengetahui semua yang terjadi.


"Tapi kamu melukai menantuku!" ucap Anggara tegas menatap tajam Kenzo.


Kenzo menetralkan ekspresinya. Dia berdeham sebentar mengabaikan peringatan dari Anggara. Kenzo tetap melanjutkan pekerjaannya untuk mengalihkan segala perkataan Anggara.


Anggara menghela nafas pelan melihat tingkah Kenzo. Bukannya semakin bijak, anaknya itu malah semakin bodoh dan kekanakan.


Saat Kenzo mengamuk diruanganya sejak dia datang tadi pagi, Arman langsung menelpon Anggara dan memberitahu semuanya yang dia ketahui tanpa ada yang ditambah dan dikurangkan. Hingga tanpa pikir panjang, Anggara langsung menemui Kenzo. Dan siapa sangka, tadi saat akan keluar dari lift, dia berpapasan dengan Zahra yang sudah berlinang air mata.


Anggara berjalan semakin mendekati meja kerja Kenzo. tangannya terulur menarik sedikit kursi untuk memberinya ruang menduduki kursi tersebut.


"Jangan ulangi kesalahan yang sama, Kenzo," ucap Anggara lembut.


"Jika bukan urusan kerjaan, Papa boleh pergi. Maaf, Kenzo bukannya mengusir, hanya saja Kenzo banyak pekerjaan," ucap Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari file yang ada di genggamannya.


"Ini lebih penting dari pekerjaan kamu," ucap Anggara telak.


Kenzo menatap dalam Anggara. Dia menghela nafas dan menjatuhkan file yang tadi dia genggam ke meja begitu saja.


Decitan kursi dan lantai terdengar ketika lelaki itu berdiri dan berjalan kearah jendela kaca besar yang ada diruanganya. "Ini urusan Kenzo, Pa. Jadi biar Kenzo yang atasi," ucap Kenzo pelan.


"Papa takut usaha kamu itu merugikan kamu, Kenzo," jawab Anggara.


"Saat dulu kamu menyelesaikan dendam tidak beralasan itu, apa yang terjadi? Kamu malah merugikan banyak orang. Kamu membuat anak harus terpisah dari orang tuanya. Kamu membuat seorang Ibu menangis karena kehilangan anaknya. Kamu membuat seorang kakak kehilangan adiknya. Kamu membuat seorang adik kehilangan kakaknya. Kamu membuat seorang Ayah kehilangan wanita kecil kesayangannya. Dan yang paling menyakitkan, kamu membuat darah daging mu sendiri hidup sebagai seorang anak yatim, Kenzo," lanjut Anggara panjang lebar mengeluarkan segala yang ada dipikirannya untuk menyadarkan Kenzo.


"Dulu itu memang kebodohan, Pa. Kenzo akui itu, Kenzo sangat bodoh, pengecut, brengsek, dan tidak punya hati. Tapi kali ini, semua itu tak akan terjadi," ucap Kenzo dengan pandangan lurus menatap jalanan yang nampak padat dengan berbagai benda besi bergerak silih berganti.


"Menantuku hanya berniat membantu mu, Kenzo," ucap Anggara mengingatkan lagi.


Kenzo mengangguk. Dia menyetujui apa yang Anggara katakan, tapi bukan itu yang bukan menjadi alasan kemarahannya. Kebohongan. Mengapa harus disembunyikan jika memang ingin membantunya? Bukankah dengan saling terbuka itu lebih baik? Banyak pertanyaan yang kini hadir dalam pikiran Kenzo.


"Lalu apa yang salah? Tidak ada yang salah jika seorang istri membantu suaminya, Kenzo!" ucap Anggara yang mulai tak sabar dengan tingkah Kenzo.


"Jika Papa tidak mengetahui apa yang terjadi, lebih baik tidak usah ikut campur, Pa," ucap Kenzo tegas.


"Melihat menantuku menangis keluar dari ruangan suaminya sendiri, membuatku rasanya tidak ikhlas, Kenzo. Air matanya, lebih berharga dari apapun," ucap Anggara.


"Bahkan dia sangat berharga, Pa," jawab Kenzo.


"Lalu kenapa kamu bersikap seperti itu padanya? Menghancurkan ruang kerjamu dan mendiamkannya, apa itu sebuah solusi?" tanya Anggara tak percaya dengan apa yang Kenzo lakukan.


"Papa mohon jangan begini, Kenzo. Ingat, istrimu sedang mengandung. Jangan sampai terjadi apa-apa pada kandungannya hanya karena semua ini," ucap Anggara lembut.


"Papa tahu, kamu boleh mempertahankan harga dirimu. Tapi kamu ingat, niat baik seorang istri tidak mungkin merugikan suaminya. Tidak ada istri yang ingin mempermalukan harga diri suaminya, Kenzo. Papa harap kamu mendengarkan apa yang Papa katakan, sebelum semuanya bertambah rumit," ucap Anggara dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kenzo.


Kenzo menjambak rambutnya sendiri setelah kepergian Anggara. Sungguh, dia merasa harga dirinya sedikit terluka saat ini. Dia bagaikan orang bodoh didepan istrinya, dan juga Kevin sebagai mertuanya.


Harga diriku sedikit terluka, Pa. Batin Kenzo sedih menatap sendu apa yang ada didepannya.


.....


Disinilah Kenzo sekarang. Didepan seorang lelaki yang sudah tak berdaya dengan keadaan mengenaskan. Kaki dan tangan diikat rantai, serta tubuh yang penuh luka dan lebam.


Kenzo melampiaskan semua sakit hati dan kesalnya pada dalang dari semuanya. Pada seseorang yang menyebabkan perusahaannya rugi besar hingga kini berakhir dengan masalah dengan Zahra.


"Tuan, dia bisa mati jika kau terus menghajarnya," ucap Arman memperingati Kenzo.


Kenzo mengatur nafasnya yang tak beraturan. Matanya merah padam dengan pandangan tajam menakutkan. "Kau tidak boleh mati. Kau hanya akan mati jika semuanya sudah membaik, bajingan!" ucap Kenzo menendang wajah lelaki itu.


Kenzo menjauhkan dirinya dan membenarkan jas yang tadi berantakan. Mengelap sedikit debu yang menempel di jas dan kemejanya. "Jangan lupa beri dia makan!" ucap Kenzo pada anak buahnya. Setelah itu, Kenzo berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu.


.....


Zahra berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Matanya terus menatap keluar celah gorden melihat mobil suaminya. Sudah pukul dua belas malam, namun Kenzo tak kunjung pulang. Pandangan Zahra beralih pada Sela yang tidur di sofa ruang tamu. Anak itu bersikeras untuk menemaninya menunggu Kenzo pulang.


Zahra duduk di sofa dekat kepala Sela dan mengusap rambut anak itu. "Kamu begitu tahu perasaan Bunda, Nak," ucap Zahra dengan senyum sendunya.


Setelah itu, dia menatap ponsel berharap Kenzo akan memberi pesan atau kabar kepadanya. Namun nihil, tidak ada pesan apapun yang mengunjungi aplikasi hijaunya.


Zahra mendapat ide, dia memfoto Sela yang sedang tidur dan mengirimkan pada Kenzo.


Meskipun tidak untukku, setidaknya ayo pulang untuk Sela dan calon anak kita.


Begitulah bunyi pesan yang dikirim Zahra beserta foto Sela yang tertidur, dia harap, Kenzo bisa sedikit mengingat anak mereka.


.....


Di perusahaan, Kenzo masih sibuk dengan banyak file di mejanya. Matanya sudah sedikit berair dan merah karena laptop yang terus menyala, namun dia harus segera menyelesaikan ini untuk kerjasama yang akan dia lakukan dengan perusahaan lain.


Saat asik dengan kegiatannya, notifikasi di ponsel mengalihkan perhatian Kenzo. Kenzo mengambil ponselnya dan membuka aplikasi hijau. Hatinya sedikit tercubit melihat Sela yang tidur di sofa, dan tidak lupa perut sang istri yang nampak sedikit membuncit dari luar bajunya. Kenzo akui, Zahra sangat pintar dalam mengambil gambar untuk menyentuh hatinya.


"Maafkan Ayah, Nak."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏