Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 159



🌹HAPPY READING🌹


Kinzi sampai di bandara setelah beberapa menit berada di mobil. Air matanya terasa sangat kering karena menangis didalam taksi. Sopir taksi yang melihat itu tersenyum memberikan semangat kepada Kinzi.


"Percayalah, Nona. Seberat apapun yang anda lalui kini, pasti akan ada kebahagiaan setelahnya. Saya memang tidak tahu seberapa berat masalah yang anda alami. Tapi percayalah, Nona adalah orang pilihan yang diberikan kekuatan lebih oleh Allah, Nona," ucap Sopir taksi tersebut.


Kinzi tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih banyak, Pak," ucap Kinzi tulus sambil memberikan beberapa lembar uang untuk membayar tarif taksinya.


Kinzi turun dari taksi dan berjalan menyeret kopernya. Kinzi menyeret kopernya kebagian ujung bandara, tempat itu cukup sepi untuknya saat ini. Sampai di depan sebuah bak sampah, Kinzi membuang dompet dan segala kartu identitasnya.


Kinzi mengeluarkan ponselnya. Tangannya bergerak mengeluarkan SIM card dan merusaknya. Setelah itu, Kinzi membuang ponselnya kedalam bak sampah tersebut. "Selamat tinggal," ucap Kinzi lirih.


Setelahnya, gadis itu menyeret kopernya untuk pergi dari bandara. Saat ini, yang dia andalkan hanya uang tunai yang ada di dalam kopernya. Ini lah pilihannya, memulai hidup baru dan melupakan semuanya. Termasuk meninggalkan dunia model yang menjadi impiannya sejak lama.


"Sembunyi dari dunia akan lebih baik untuk sekarang ini," gumam Kinzi menyemangati dirinya dengan mencoba menerbitkan senyum manisnya.


.....


Kenzo dan Zahra sampai di rumah mereka saat waktu sudah menjelang sore.


"Ayah, Buna," teriak suara lantang yang datang dari dalam rumah.


Kenzo tersenyum melihat anaknya yang berlari dengan pakaian penuh noda coklat. "Sela tadi pulang sama siapa?" tanya Kenzo menggendong anaknya.


"Tadi diantal cama Mama Kina, Yah," jawab Sela memeluk erat leher Kenzo. Nampaknya, kedua Ayah dan Anak itu nampak akur saat ini. Zahra yang melihat itu hanya ikut tersenyum. Karena jika tidak, maka hari-hari di rumahnya akan dipenuhi oleh adu debat antara Kenzo dan Sela.


Kenzo mengernyit heran saat memeluk anaknya itu. Bau badan anaknya tidak seperti biasa. Ada yang aneh dengan bau badan anaknya. Ah, mungkin keringat karena bermain. Batin Kenzo.


"Sela berani sendiri di rumah? Kan Nenek lagi ke panti? Kenapa nggak di rumah Nenek Dee dulu?" tanya Zahra heran dengan anaknya itu.


"Kata ciapa Cela cendili, Buna?" tanya Sela.


"Kalau nggak sendiri, memang kamu sama siapa? Rumah juga sepi kayaknya," ucap Zahra celingukan melihat sekeliling rumahnya.


"Iya, rumah sepi, Sayang," ucap Kenzo ikut menimpali.


"Ayo kita ke taman belakang, Ayah, Buna," ajak Sela turun dari gendongan Kenzo.


Zahra dan Kenzo berjalan mengikuti langkah kaki mungil Sela. Entah mengapa, Kenzo merasa was-was dengan kejutan apa yang akan diberikan oleh anaknya itu. Hatinya merasa tiba-tiba tak tenang melihat senyum dari gadis kecilnya.


"TARAAAA."


"ASTAGFIRULLAHALLZIIM, SELA KAMBING-KAMBING SIAPA ITU?" tanya Kenzo emosi setelah melihat kejutan yang di maksud oleh anaknya itu.


Sela tersenyum senang. Anak itu menatap antusias Ayah dan Bundanya yang nampak sangat lesu.


"Lumah kita lame cekalang," ucap Sela senang.


Kenzo frustasi. Bagaimana tidak, dia melihat para bodyguard yang dia tugaskan untuk menjaga rumah , malah menjadi tukang kambing sekarang. Halaman belakang rumahnya yang tadi dipenuhi oleh bunga-bunga mahal, kini habis dimakan oleh kambing-kambing tersebut.


"Sayang, aku mau pingsan," ucap Kenzo lemas. Lelaki itu bahkan tak kuat dengan bau yang sangat menyengat dari peliharaan anaknya itu.


"Sela, ini semua kambing siapa, Nak?" tanya Zahra syok.


"Kambing Cela, Buna. Cela mau pelihala kambing boleh, ya? Boleh ya Buna? Boleh ya Ayah?" tanya Sela menatap penuh harap kedua orang tuanya itu. Kepala Sela miring sedikit dengan gaya anak itu yang mengerjapkan matanya lucu berkali-kali, bersamaan dengan kedua tangan memohon di depan dadanya.


"Ini kambing siapa dulu, Nak?" tanya Zahra lagi.


"Kambing Cela, Buna," jawab anak itu semangat.


"Dapat darimana?" tanya Zahra. Karena ini sungguh sangat membingungkan. Ada sepuluh kambing di taman belakang rumahnya. Tidak mungkin anaknya bisa membeli kambing sebanyak itu dengan tabungannya sendiri.


"Hehe, Cela pake kaltu Ayah," ucap anak itu tanpa dosa sambil menunjukkan kartu yang dia simpan di saku celana rumahnya.


Kenzo langsung mengeluarkan dompetnya. Dan benar saja, salah satu ATM nya tidak ada di dalam dompet tersebut.


"Sayang," rengek Kenzo pada istrinya. Dia ingin menangis saja rasanya. Dia tidak masalah Sela memakai uang berapapun. Tapi hidup bersama kambing? Rasanya lebih baik pingsan daripada menyatu dengan binatang-binatang itu.


"Sela dapat kartunya darimana?" tanya Zahra lagi.


"Ambil Dali dompet Ayah, Buna. Dalimana lagi? Kan Ayah juga pelnah bilang, kalau Cela mau jajan, Cela boleh ambil kaltu di dompet Ayah," jawab anak itu enteng.


"Tapi nggak buat beli kambing juga, Nak," ucap Kenzo gemas dengan pengakuan anaknya itu.


Kenzo tak habis pikir, kenapa anaknya ini memiliki pikiran yang benar-benar diluar kendalinya. Benar-benar susah sekali untuk ditebak. Kemarin saja, dia selalu membuat Kenzo terharu, dan sekarang dia malah membuat Kenzo spot jantung.


"Siapa yang bantu Sela beli kambing?" tanya Zahra lagi.


Kenzo menghela nafas berat. "Kamu jadi bau kambing begini, Nak," ucap Kenzo menutup hidungnya.


"Hehe, tadi Cela kacih coklat cama kambing-kambing Cela," jawab anak itu polos.


"YA ALLAH YA TUHAN, ANAK SIAPA INI?" ucap Kenzo frustasi dengan tingkah anaknya itu.


Zahra terkekeh geli melihat suaminya itu. "Zahra boleh pelihara kambing, tapi bener-bener di urus, ya. Jangan sampai nggak dikasih makan, Nak," ucap Zahra mengizinkan.


"Sayang," protes Kenzo.


Zahra mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit itu. "Anak kita juga mau lihat kambing setiap hari, Mas," jawab Kenzo.


"Ayah kenapa plotes sih? Kan kambing juga ciptaan Tuhan," ucap Sela sok bijak.


"Siapa bilang ciptaan kamu?" tanya Kenzo ketus.


"Nggak ada cih," jawab Sela pelan menggaruk keningnya yang gak gatal.


"Tapi Ayah halus izinin kambing tinggal dicini, ya. Meleka juga punya hak untuk hidup," lanjut anak itu mengemukakan pendapatnya yang sangat bijak menurutnya itu.


"Terserah kamu. Ayah lelah," ucap Kenzo frustasi dan berlalu pergi meninggalkan anak dan istrinya. Barubtsdi dia sedikit lega dengan masalah Kinzi, kini anaknya itu sudah kembali berulah dengan menguji kesabarannya.


Wajah Sela berbinar melihat kepergian ayahnya itu. "TELIMAKACIH BANYAK, AYAH," teriak Sela dengan nada suara yang sangat menunjukkan kebahagiaan.


Zahra tertawa dalam hati melihat semuanya. Entahlah, dia juga sangat senang melihat wajah tersiksa suaminya seperti tadi.


Sepertinya kamu benar-benar kompak banget sama Kakak buat ngerjain Ayah, Nak. Batin Sela dengan tangan mengusap-ngusao lembut perutnya.


"Bunda ke kamar dulu, ya Nak. Sela lanjut main sama kambingnya. Jangan lupa mandi abis itu, ya," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh Sela.


Sela meloncat girang setelah kepergian Zahra.


"Yeay, akhilnya punya kebun kambing," ucap anak itu riang dengan berlari mendekati kambing-kambingnya.


.....


Keluarga kecil itu menghabiskan waktu makan malam dengan nikmat. Bu Sari nampak absen dalam makan malam kali ini. Wanita paruh baya itu tidur di panti karena rindu dengan suasana panti dan anak-anak disana.


Sela menghabiskan makan malamnya dengan lahap. Setelah selesai, anak itu nampak berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan semua sayuran yang ada di kulkas.


"Kamu ngapain, Nak?" tanya Zahra bingung melihat tingkah anaknya itu.


"Kacih makan kambing-kambing Cela, Buna," ucap anak itu sibuk memasukan segala macam sayuran yang dia lihat ke dalam plastik yang sudah dia siapkan.


"Nggak ada nggak ada. Apa-apaan kambing dikasih makan sama kayak kita. Nggak boleh," ucap Kenzo protes.


"Kan ini cayul punya Buna, bukan punya Ayah," ucap Sela.


"Kan bukan punya kamu juga," ucap Kenzo tak mau kalah.


"Yacudah, bunga Ayah di taman juga macih banyak," ucap Sela enteng.


"Sayang," rengek Kenzo meminta bantuan pada Zahra.


Zahra menghela nafas pelan. Dia berharap, anaknya tidak akan seperti kakak dan suaminya yang sangat jahil satu sama lain.


"Sela kasih sayur itu, ya. Mulai besok, kita akan beli makanan tetap untuk kambingnya," ucap Zahra.


"Telimakacih, Buna," ucap Sela dan langsung kabur membawa kantong plastik itu dengan sedikit kesusahan.


"Sudah malam, Sela minta bantuan Bodyguard saja, ya," ucap Kenzo masih khawatir. Bagaimanapun kesalnya, dia tetap khawatir dengan anaknya itu. Tidak mungkin sendirian ke taman belakang. Meskipun taman belakang rumahnya terang karena cahaya lampu dan rembulan, tetap saja dia khawatir.


Melihat Ayahnya yang khawatir, Sela mengangguk dan memutar arah jalan kakinya menuju depan rumah untuk meminta bantuan beberapa om bodyguardnya.


......................


Kisah Kevin dan Kinzi berlanjut atau tidak, ya????? Menurut kalian bagaimana????


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏