Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 27



🌹HAPPY READING🌹


Zahra sampai di rumah pukul tiga sore. Dia membawa koper yang tadi di ambil dari rumah Kenzo. Zahra memasuki rumah dan diikuti sopir dibelakangnya dengan menyeret koper miliknya.


Sampai di ambang pintu, Zahra mendengar suara ribut dari dalam rumah.


"Ini semua gara-gara kamu, Dee!" kata yang Zahra dengar.


"Bunda," ucap Zahra kaget dan langsung menjalankan kursi rodanya dengan cepat ke ruang keluarga.


Mata Zahra membulat melihat Sofia yang datang bersama Kevin, dan nampak kemarahan di wajah Sofia kepada Dee.


"BUNDA!" teriak Zahra ketika Sofia hendak menampar Dee.


Tangan Sofia menggantung di udara. Ibra dan Kevin yang juga ada di sana langsung menoleh kepada Zahra. Sedangkan Kina pergi ke kantor Aska dan Al bersama Bella untuk mengantar makan siang.


Zahra mempercepat laju kursi rodanya dan berhenti tepat di depan Sofia dengan posisi seperti melindungi Dee.


"Apa yang Bunda lakukan?" tanya Zahra tegas.


Sofia hanya diam sambil meredam emosinya.


"Bukan istri saya yang salah, Sofia!" ucap Ibra tegas memeluk Dee.


"Kalau saja Dee tidak meminta Zahra untuk tinggal disini, maka nasib buruk ini tidak akan terjadi pada anakku!" ucap Sofia tegas.


"Kendalikan emosimu, Sayang," ucap Kevin menenangkan Sofia.


Sejak mereka datang, Ibra memang menjelaskan semua yang telah terjadi pada Zahra. Sofia yang mendengar semua cerita tersebut langsung tersulut emosi. Dia tidak menyangka bahwa anak satu-satunya akan mengalami kehidupan yang sangat berat seperti ini.


"Bunda tidak boleh menyalahkan Umi," ucap Zahra membela Dee.


Dee hanya diam. Apa yang dikatakan Sofia benar. Andai saja dia tidak meminta Zahra untuk tinggal bersamanya disini, maka semua ini tidak akan terjadi pada Zahra.


"Tapi kamu akan lebih baik jika saja tidak tinggal disini, Nak," ucap Sofia.


Zahra menggeleng. "Zahra menemukan kebahagiaan Zahra disini," ucap Zahra.


Zahra memegang sebelah tangan Dee dan membawa kedalam dekapannya.


"Umi Zahra tidak akan melakukan hal buruk untuk Zahra. Dan Zahra percaya itu," ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca. Dia akan sangat lemah jika kembali melihat air mata yang keluar dari mata Dee.


"Bahkan anakku sendiri masih membelamu, Dee. Tapi karena kamu, dia harus menerima semua ini!"


"CUKUP BUNDA!" teriak Zahra marah mendengar setiap kata yang diucapkan Sofia.


"Zahra meneriaki Bunda hanya karena Umi Dee?" tanya Sofia tak percaya.


Zahra mengangguk yakin. "Umi panutan Zahra. Zahra sangat menyayangi Umi seperti Zahra menyayangi Bunda. Zahra mencintai Umi seperti Zahra mencintai Bunda," jawab Zahra.


"Tapi Nak-"


"Cukup Sofia. Istriku tidak bersalah!" ucap Ibra cepat memotong perkataan Sofia.


"Kalian semua memang tidak bisa menjaga anakku. Bahkan dia berkorban hanya karena dendam yang ditimbulkan anakmu, Ibra!" ucap Sofia menatap Ibra.


"Itu semua terjadi atas kehendak Allah, Bunda," ucap Zahra menjawab perkataan Sofia.


"Tapi Nak-"


"Tidak ada yang bisa melawan takdir, Bunda. Sampai kapanpun kita akan mengelak, dia pasti akan tetap kita temui. Termasuk kehidupan Zahra ini. Apa Bunda lupa? Bahkan kehadiran Zahra dulu tidak diharapkan oleh kedua orang gua Zahra."


"Zahra."


"Nak."


Seru mereka semua mendengar perkataan Zahra.


"Zahra tau, bahkan Zahra hadir bukan karena cinta. Zahra hadir hanya karena sebuah keterpaksaan dengan cara yang sangat dipaksakan," ucap Zahra sendu.


"Jadi dari lahir, memang takdir itu sudah menempel pada diri Zahra. Dan tidak ada kesalahan Umi didalamnya," lanjut Zahra.


"Maksud Bunda bukan begitu, Nak," ucap Sofia menggeleng.


Sofia hanya diam. Dia tidak tahu harus bagaimana bersikap sekarang. Mendengar apa yang terjadi pada anaknya membuatnya kalut dan tak bisa menahan emosinya.


"Mungkin ini semua adalah dampak dari masa lalu yang harus Zahra bayar di waktu sekarang, Bunda," ucap Zahra.


"Zahra, jangan bicara seperti itu lagi," ucap Dee mencegah setiap kata menyakitkan yang keluar dari mulut Zahra. Sedangkan Ibra dan Kevin hanya diam membiarkan Zahra memberi pengertian kepada Sofia.


"Bunda harus sadar, Umi," jawab Zahra.


Zahra memajukan kursi rodanya mendekati Sofia sambil menarik tangan Dee agar mengikutinya.


"Bunda lihat tangan ini?" tanya Zahra mengangkat tangan sebelah kanan Dee.


Sofia hanya diam dengan buliran kristal yang membasahi pipinya.


"Ini adalah tangan yang merengkuh Zahra sejak kecil. Meskipun tahu bahwa Zahra adalah anak dari wanita yang memberikannya luka, tapi tangan ini selalu tulus menghapus air mata Zahra. Tangan ini selalu tulus mengelus kepala Zahra. Tangan ini selalu tulus menyuapi Zahra makan," ucap Zahra dengan tangisnya. Dee yang mendengar segala penuturan Zahra tidak kuasa menahan air matanya.


Anak yang dia terima dengan lapang dada dulu, kini begitu membelanya lebih dari ibu kandungnya sendiri.


"Bunda lihat kaki ini?" tanya Zahra menunjuk kaki Dee.


Mereka semua menoleh kearah jari telunjuk Zahra dan kembali menatapnya.


"Ini adalah kaki yang dengan sigap berlari mengejar Zahra saat Zahra jatuh. Ini adalah kaki yang dengan sigap menggantikan kaki Zahra. Umi tidak pernah mengeluh mengenai Zahra. Umi bahkan memperlakukan Zahra layaknya anak kandung. Maafkan Zahra jika mengatakan ini kepada Bunda, tapi Umi adalah wanita hebat pilihan Zahra," ucap Zahra menunduk.


Sofia menutup mulutnya menahan tangis agar tidak keluar keras. Dia berlari keluar rumah dengan perasaan campur aduk. Kevin yang melihat itu ikut berlari mengejar istrinya.


"Zahra," panggil Dee lembut dengan suara bergetar.


"Iya Umi," ucap Zahra menampilkan senyumnya kepada Dee.


"Perkataan Zahra dapat melukai Bunda Sofia," ucap Dee.


"Lalu bagaimana dengan kesedihan Umi? Berhenti memikirkan Bunda, Umi. Sudah terlalu banyak.luka untuk Umi. Bunda Sofia memang Bunda kandung Zahra, tapi ikatan hati Zahra dengan Umi lebih kuat," jawab Zahra.


"Nak, ikatan darah itu sangat kental dan tidak terkalahkan oleh apapun, Nak," ucap Dee bersimpuh didepan kursi roda Zahra.


"Zahra tahu, Umi. Tapi sikap Bunda terhadap Umi adalah salah," jawab Zahra.


"Maafkan Umi, ya Nak," ucap Dee.


"Umi tidak salah. Umi selalu mengajarkan Zahra untuk menjadi wanita kuat, sabar dan ikhlas. Anugrah terindah dalam hidup Zahra adalah memiliki Umi sebagai orang tua Zahra juga," ucap Zahra.


Dee mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Zahra. "Nanti minta maaf kepada Bunda, ya. Umi tidak mau Zahra menyesal atas semuanya," ucap Dee menasehati.


Ini yang Zahra suka dari Umi. Selalu memikirkan perasaan orang lain. Batin Zahra kagum terhadap Dee.


Zahra mengangguk dan tersenyum. "Zahra akan minta maaf, Umi," jawab Zahra.


Ibra yang melihat itu menerbitkan senyum di bibir seksinya. Bidadari ku memang tidak pernah berubah. Ketulusan adalah kepribadiannya. Batin Ibra dengan segala cinta untuk Dee.


.....


Sedangkan di kediaman Kenzo. Arman datang dengan segala informasi yang diharapkan oleh Kenzo. "Semua yang anda inginkan ada disini, Tuan," ucap Arman yang kini berdiri di depan meja kerja Kenzo.


Ya, Kenzo memang tidak ke kantor lagi setelah kedatangan Zahra. Dia memilih melanjutkan pekerjaannya di rumah.


"Apa ini semua bisa dipercaya?" tanya Kenzo menerima map tersebut.


Arman mengangguk yakin. "Bahkan yang belum terungkap bisa anda ketahui disana, Tuan," ucap Arman.


"Kau boleh pergi, dan terimakasih," ucap Kenzo.


Arman mengangguk dan keluar dari ruang kerja Kenzo. Penyesalannya akan sangat menyakitkan untuk anda, Tuan. Batin Arman melihat Kenzo sebelum benar-benar menutup pintu.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz