
Hai teman teman semua. Jumpa lagi sama kisah ini, ya. Setelah sekian purnama, sekian musim.kita lewati akhirnya author berjumpa lagi dengan reader setia. Terimakasih untuk selalu ada dan mengikuti kisah Zahra dan Kenzo. Maaf jika terlambat, semoga ini mengobati rindu diantara kita yaaaa
🌹HAPPY READING🌹
"Nyonya Zahra harus kembali melakukan operasi untuk transplantasi ginjal. Kita butuh donor ginjal untuk Nyonya Zahra," ucap Dokter tersebut.
Mereka semua terdiam. Kenzo mengusap kasar wajahnya mendengar perkataan Dokter.
"Ambil ginjal saat, Dokter," ucap Kenzo.
"Jangan gila, Kenzo!" ucap Dee dan Melani secara bersamaan memperingati Kenzo.
"Tapi, Ma, Umi-"
"Jangan gila Kenzo. Ginjal mu itu hanya satu, jangan membuat Zahra semakin marah karena ini," ucap Melani memperingati Kenzo.
"Zahra butuh ini, Umi. Zahra harus hidup," ucap Kenzo lirih.
"Pasti ada cara lain. Kita akan cari pendonor untuk Zahra, Nak," ucap Kevin menenangkan Kenzo.
"Periksa ginjal saya."
Seseorang yang sejak tadi berdiri dibelakang mereka sambil terus menggumamkan kata maaf itu mengatakan sesuatu keputusan yang membuat mereka semua yang ada disana terkejut.
"Mas."
"Abi."
"Ib."
"Tuan Ibra."
Ibra maju mendekati Dokter dan sedikit menabrak bahu Al pelan.
"Mas," ucap Dee menggeleng berusaha memegang tangan Ibra untuk mencegah lelaki tersebut.
Jujur saja, Dee takut Ibra akan melakukan hal yang nekat. Bukannya Dee tidak rela, tapi kesehatan Ibra saat ini tidak memungkinkan dia untuk menjadi pendonor Zahra.
"Periksa ginjal saya, Dokter," ucap Ibra setelah sampai di depan Dokter.
"Enggak, Mas!" ucap Dee tegas mencegah Ibra.
"Sayang," ucap Ibra lirih berbalik menatap Dee.
Dee menggeleng. "Jangan gila, Mas. Kesehatan kamu saat ini tidak memungkinkan untuk menjadi pendonor. Lagi pula, Zahra pasti tidak senang dengan semua ini. Ingat Mas, pengorbanan kamu nanti akan menjadi kesedihan untuk Zahra dan banyak orang. Bukannya memberi bahagia, tapi itu akan memberi air mata, Mas," ucap Dee menjelaskan kepada Ibra.
Ibra terdiam. Dia tidak menjawab perkataan Dee dan berbalik menatap Dokter. "Dokter," panggil Ibra menatap Dokter tersebut.
"Iya, Tuan Ibra," jawab Dokter ramah.
"Apa dampak yang akan terjadi jika saya mendonorkan ginjal saya?" tanya Ibra menatap serius dokter tersebut.
"Kekuatan tubuh akan berkurang, Tuan, mudah lelah, menyebabkan penyakit lain kepada pendonor. Dan lebih parah lagi, bisa menyebabkan kematian," ucap Dokter menjelaskan.
"Jangan, Mas," ucap Dee lirih.
"Abi," ucap Al dan Kina berbarengan sambil menggeleng menatap Ibra.
"Tapi pasti ada pendonor yang tidak kenapa-napa kan, Dokter?" tanya Ibra.
Dokter mengangguk. "Jika pendonor memang cocok dan sehat, maka pendonor tidak akan kenapa-napa, hanya akan berpengaruh pada imun tubuhnya. Dan juga, banyak diantara pendonor ginjal yang selamat, Tuan," jawab Dokter tersebut yang membuat Ibra terdiam sebentar.
Meskipun begitu, meskipun Nyawa taruhannya, Ini adalah bentuk kasih sayang Abi pada Zahra, Nak. Batin Ibra memejamkan mata sejenak.
Ibra menghirup udara banyak menetralkan perasaanya. "Cek kecocokan ginjal saya, Dokter," ucap Ibra yakin.
"Ib," ucap Kevin tak percaya.
"Anak gue harus selamatkan, Vin," ucap Ibra menatap sendu Kevin.
Ibra berjalan mendekati Kenzo yang terdiam mendengar semuanya. "Kenzo," panggil Ibra lirih.
"Jangan, Abi. Kita bisa mengusahakan pendonor lain untuk Zahra. Abi tenanglah dulu, jangan terburu-buru," ucap Kenzo sendu. Kemarahan yang tadi sangat di ubun-ubun kepada Ibra, kini lenyap setelah melihat betapa tersiksanya Ibra atas semua ini. Bukannya hanya korban, Ibra secara tidak sadar dijadikan pelaku oleh Sofia untuk semua kejahatannya. Kenzo paham, Ibra dan Zahra adalah orang yang paling tersiksa disini.
"Abi tidak akan mati hanya karena mendonorkan ginjal Abi untuk Zahra. Dan jikapun mati, Abi tidak mati dalam penyesalan, Nak," ucap Ibra menatap Kenzo.
"Zahra akan marah pada kami jika membiarkan ini terjadi, Abi," ucap Kenzo mengatupkan kedua tangannya di dada memohon kepada Ibra.
Ibra menggeleng. Dia memandang semua orang yang ada disana secara bergantian. Hingga pandangan terakhirnya jatuh kepada seorang wanita yang sangat dia cintai. Dalam diamnya, Ibra memandang lama wajah Dee yang memohon kepadanya.
"Ayo kita periksa, Dokter," ucap Ibra setelah puas melihat Dee dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun mengikuti Dokter.
"Hiks," tubuh Dee merosot ke lantai melihat kepergian Ibra dan Dokter. Dee terisak pelan melihat punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Nenek," panggil Sela lembut yang berdiri didepan Dee.
"Jangan menangis," ucap Sela menggeleng.
"Kenapa cemua orang dewaca menangis?" ucap Sela bertanya pada Dee dan menatap sekelilingnya.
"Cela cama Chaca udah tidak menangis lagi," lanjut Sela sambil menunjuk dirinya dan Shasa. Shasa mengangguk mengiyakan perkataan Sela. Gadis kecil itu ikut memeluk Dee bersama Sela.
"Kami sayang Nenek."
"Kami cayang Nenek."
Ucap Sela dan Shasa bersamaan memeluk Dee yang terisak dalam pelukan kedua cucunya itu.
.....
"Bagaimana Aska?" tanya Kevin.
"Sofia akan disidang Minggu depan, Uncle," jawab Aska yang mengerti akan pertanyaan Kevin.
Kevin mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding dan menengadah menatap langit-langit rumah sakit. Sungguh, berat sekali ujian mereka.
"Aku nggak nyangka, Kak," ucap Dee yang tiba-tiba duduk disebelah Kevin. Mereka masih menunggu Ibra keluar dari ruang pemeriksaan.
Kevin mengangkat kepalanya. Dia menoleh menatap Dee yang memandang lurus ke depan pintu ruang pemeriksaan.
"Tidak menyangka apa, Dee?" tanya Kevin.
"Kita sekuat ini hingga diberi cobaan yang bahkan jika dibayangkan, rasanya sangat tidak mungkin terjadi," ucap Dee sendu.
"Dee-"
"Rasanya takdir begitu mengutuk kita, Kak. Zahra, Mas Ibra, semuanya tersakiti," ucap Dee cepat memotong perkataan Kevin.
Al yang mendengar perkataan Uminya langsung memberikan Sela yang tadi tidur di pangkuannya kepada Kenzo. Setelah itu, dia berjalan dan bersimpuh tepat di depan Dee.
"Umi," panggil Al lembut.
Dee mengalihkan pandangannya menatap Al. Mulutnya tertutup rapat tidak menjawab panggilan Al.
"Bukankah berdoa adalah senjata terbaik kita untuk menghadapi ujian ini?" ucap Al menggenggam kedua tangan Dee yang ada di lututnya.
"Doa Umi rasanya tidak pernah terkabul, hiks," ucap Dee menunduk menahan tangisnya agar tidak pecah didepan mereka semua.
Al menggeleng. "Jangan bicara seperti itu, Umi. Kita tidak boleh meragukan keberadaan Pencipta kita, Umi," ucap Al.
Dee mengangguk dengan kepala menunduk. Dia melepaskan tangan Al dan menghapus air mata yang tak dapat dia cegah. "Umi tidak sanggup jika kehilangan anak dan suami Umi," ucap Dee mengingat Zahra dan Ibra.
"Kita harus berdoa, Umi," ucap Al meyakinkan Dee.
Kina yang melihat itu semua hanya bisa memeluk Aska. Dia tidak ingin menangis, tapi semua ini memaksa air bening keluar dari matanya. Aska mengusap-ngusap lembut lengan Kina menenangkan istirnya.
Ceklek.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. "Bagaimana Dokter?" tanya Kevin langsung berdiri menghampiri Dokter.
Dokter tersebut menatap mereka semua sebelum membuka suaranya.
"Dokter?" panggil Kevin lagi.
Dokter itu menghela nafas pelan. "Ginjal Tuan Ibra, cocok dengan Nona Zahra," ucap Dokter tersebut.
Mereka semua diam. Entah senang dan sedih, tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus mereka keluarkan saat ini. Hanya air mata yang mewakili semuanya.
"La-lalu bagaimana, Dokter?" tanya Dee.
"Tuan Ibra mengatakan, dia ingin segera operasi donor ginjal segera dilakukan, Nyonya," jawab Dokter tersebut.
"Tidak adakah pendonor lain, Dokter?" tanya Dee sendu.
Dokter menggeleng. "Bukannya tidak ada, Nyonya. Tapi itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencari pendonor baru. Sedangkan kesehatan Nona Zahra menuntut kita untuk segera melakukan donor ginjal," jawab Dokter memberi penjelasan kepada Dee.
"Hiks," hanya tangis yang bisa Dee keluarkan saat ini. Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa melihat anaknya kesakitan. Sebagai seorang suami, Dee tidak rela kehilangan Ibra.
Melani dan Bu Sari yang ada disana memeluk Dee dari belakang. Sesama wanita, mereka mengeri bagaimana perasaan dan dilema yang Dee alami saat ini. Dee mencoba menenangkan dirinya dan menghirup udara banyak.
"Dokter," panggil Dee setelah dirasa dirinya tenang dan terkendali.
"Lakukan operasinya. Maaf jika saya memaksa ini, tolong selamatkan anak dan suami saya. Terimakasih Dokter," ucap Dee dan langsung pergi dari sana untuk menenangkan kembali hatinya.
"Umi," panggil Kina melihat Dee meninggalkan mereka semua.
"Adek susul Umi dulu," ucap Kina pada mereka semua dan segera menyusul Dee.
.....
"Dokter, pasien mengalami pendarahan," ucap seorang suster kepada Dokter yang masih menjalani operasi.
"Segera ambil penangan khusus," ucap Dokter kepada Dokter yang lainnya.
Terdapat empat orang Dokter yang melakukan operasi dan dibantu oleh tujuh orang suster.
"Kedua pasien seperti menyerah," ucap Dokter lainnya melihat kedua tubuh manusia berbeda usia itu mengalami kejang.
"Pendonor kehilangan detak jantung, Dokter."
Sedangkan di taman rumah sakit, Dee duduk dengan mata terpejam. Air mata yang keluar dari sudut matanya menandakan kesedihan yang sangat mendalam di hatinya. Tangannya tak henti menggulir butir sajadah diikuti dengan mulut yang tak hentinya mengucap zikir.
Kuatlah untuk aku, Mas. Bertahan untuk Umi, Zahra. Batin Dee berdoa untuk Ibra dan Zahra yang sedang bertarung nyawa di ruang operasi.
......................
Maaf jika mengenai operasi, kedokteran dan kesehatan lainnya kurang tepat teman-teman, soalnya author bensr-benar minim mengenai dunia kedokteran 🙏🙏
Maaf baru update setelah beberapa hari dan tanggal tidak muncul teman-teman. Ada beberapa kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘