Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 76



🌹HAPPY READING🌹


Kinzi mengangguk. "Aku mengerti, Zahra, bahkan itu sangat menyakitkan. Tapi-"


"Tapi apa Kak? Apa Kakak ngomong seperti ini agar Zahra memaafkan dan kembali menerimanya?" ucap Zahra melihat Kenzo yang berdiri di luar mobil.


Kinzi menggeleng menjawab pertanyaan Zahra. "Tidak pernah Kenzo meminta bantuanku untuk membuat kamu kembali, Zahra. Ini murni keinginanku, karena secara tidak langsung, semua ini terjadi karena aku Zahra. Andai aku sadar lebih cepat dari koma, mungkin keadaanya tidak seperti ini," jawab Kinzi sendu.


"Tapi Zahra berterimakasih, Kak. Karena semua ini membuat Zahra menjadi lebih dewasa. Pengalaman pilu yang Zahra lalui bersama Kak Kenzo merupakan pelajaran yang paling berpengaruh dalam hidup Zahra," ucap Zahra tulus.


"Zahra," ucap Kinzi lembut menggenggam tangan Zahra.


"Jangan memberi karma terlalu besar untuk Kenzo, Zahra. Aku menjadi saksi bagaimana sulit hidup yang dia jalani saat kamu pergi," ucap Kinzi serius.


"Lalu bagaimana dengan luka Zahra, Kak? Apa semua yang dilakukan Kak Ken pada Zahra itu tidak kejam? Apa yang dilakukan Kak Ken pada Zahra itu masih manusiawi? Apa yang dilakukan Kak Ken pada Zahra itu layak untuk seorang manusia, Kak?" tanya Zahra beruntun dengan mata berkaca-kaca menatap Kinzi.


"Setidaknya izinkan Kenzo memiliki waktu bersama anaknya, Zahra," pinta Kinzi memohon.


"Jika Zahra melarang Kak Ken bertemu Sela, mungkin setiap pagi Kak Ken tidak akan datang untuk menjemput Sela Kak," jawab Zahra.


"Bolehkah aku menyampaikan satu harapan, Zahra?" tanya Kinzi menatap lekat Zahra.


"Kita boleh egois, Zahra. Tapi tidak untuk kebahagiaan seorang anak," ucap Kinzi.


Zahra tersenyum kecut. Egois? Semua orang mengatakan dia egois.


"Semua orang mengatakan aku egois. Semua menilai Zahra egois dan tidak memikirkan Sela sama sekali. Tapi apa pernah mereka memikirkan bagaimana perasaan Zahra, Kak? Apa pernah mereka memikirkan bagaimana susahnya Zahra menahan segala trauma dalam diri Zahra? Apa pernah mereka memikirkan bagaimana Zahra menerima semua perlakuan Kak Ken dulu, Kak? Apa semuanya pernah memikirkan Zahra. Tidakkan! Mereka hanya memikirkan saat ini tanpa menoleh ke belakang," ucap Zahra panjang lebar dengan tangis yang tidak bisa dia tahan.


"Mulut Zahra mungkin mengatakan maaf, Kak. Tapi belum dengan hati Zahra. Keadaanya masih sangat berantakan, kaca bertebaran dimana-mana, Kak. Hati Zahra dalam keadaan tidak baik-baik saja, Kak," lanjut Zahra dengan tangan bergetar.


"Maafkan Zahra, Kak," ucap Zahra dan langsung keluar dari mobil.


Kenzo yang melihat Zahra keluar dari mobilnya langsung berlari mengejar Zahra. "Zahra tunggu," ucap Kenzo menahan pergelangan tangan Zahra.


"Saya harus pulang," ucap Zahra singkat.


"Aku antar, ya," ucap Kenzo.


Zahra berbalik dan menatap Kenzo. Dia menggeleng sambil mencoba tersenyum menatap Kenzo. "Saya bisa pulang sendiri, tidak usah khawatir. Lebih baik laksanakan tugas kamu sebagai Ayah untuk menjemput Sela di sekolah," ucap Zahra dengan menahan segala sesak di dadanya.


"Sayang," ucap Kenzo menggeleng.


"Sekali saja, biarkan saya pergi," ucap Zahra memohon pada Kenzo.


Kenzo mengangguk. "Untuk kali ini aku izinkan, tapi tidak untuk kali berikutnya," jawab Kenzo melepaskan tangan Zahra.


Kenzo memandangi Zahra yang berlari pergi menjauh keluar dari pekarangan rumahnya. Kenzo kembali berjalan menuju mobil dan mendekati Kinzi yang sudah berdiri di sebelah mobil.


"Kenapa Zahra bisa seperti itu, Kinzi?" tanya Kenzo menatap Kinzi tajam.


"Aku hanya meminta Kinzi untuk memaafkanmu, Kenzo," ucap Kinzi menunduk takut.


Kenzo mengusap wajahnya kasar. "Sudah berapa kali aku bilang. Aku mengizinkanmu bicara dengan Zahra hanya untuk minta maaf, bukan untuk meminta bantuan," ucap Kenzo frustasi.


"Maaf Kenzo. Aku hanya ingin kamu dan Zahra bersama kembali," ucap Kinzi tulus.


"Huff, kamu membuat semua kembali sulit, Kinzi," ucap Kenzo dan berlalu memasuki mobil. Di kembali menjalankan mobilnya untuk menuju sekolah Sela.


.....


"Hiks, Zahra tidak egois," ucap Zahra dengan membenamkan kepalanya di antara lipatan kedua lututnya.


Zahra memeluk tubuhnya sendiri dilantai sebelah kasurnya. Perkataan egois yang selama ini dia dengar benar-benar membuat hatinya kembali terluka, darah tak terlihat itu kembali memenuhi hatinya.


"Zahra tidak mungkin akan melukai Sela. Zahra tidak mungkin menyakiti anak Sela sendiri. Zahra tidak egois," ucap Zahra meremas kuat dadanya yang terasa sangat sesak.


"Maafkan Bunda Sela, bukan maksud Bunda egois, Nak. Hanya saja hati Bunda masih mengingat bagaimana sakitnya luka itu, maafkan Bunda, hiks," ucap Zahra menangis pilu mengingat air mata anaknya yang sudah keluar karena hubungannya dengan Kenzo yang tidak baik.


"Zahra,"sebuah suara lembut membuat Zahra menoleh kearah pintu kamarnya.


"Umi," ucap Zahra pilu dengan tangis yang masih keluar dari mulutnya.


Saat sebelum Kenzo pergi ke sekolah Sela, dia menelpon Dee terlebih dahulu untuk segera menemui Zahra. Kenzo yakin, wanitanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dan Kenzo percaya bahwa Dee adalah orang yang bisa memberi ketenangan untuk Zahra.


Dee yang melihat Zahra seperti langsung berlari dengan berjongkok untuk bisa memeluk tubuh Zahra yang bergetar karena tangis. "Kenapa, Nak?" tanya Dee.


"Dada Zahra sesak, Umi, hiks," ucap Zahra memukul-mukul dadanya.


Dee menggeleng menatap Zahra. Dia mencoba menghentikan tangan Zahra yang memukul-mukul dadanya sendiri. "Sudah, Nak. Nanti dadanya sakit," ucap Dee.


"Hiks, semua orang mengatakan Zahra egois, Umi," ucap Zahra pilu kepada Dee.


"Nak."


"Zahra hanya sedang memikirkan keadaan hati Zahra, Umi. Zahra hanya sedang berusaha memperbaiki hati Zahra. Zahra tahu sudah ada Sela yang harus Zahra pikirkan, tapi Zahra belum bisa, Umi. Waktunya masih belum cukup untuk memperbaiki semuanya," ucap Zahra mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.


Dee melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Zahra. "Lihat Umi, Nak," ucap Dee.


Zahra memberanikan diri menatap Dee dengan mata bengkaknya. Dee dapat melihat, sungguh banyak kesakitan dalam tatapan Zahra. Sungguh, tidak pernah Dee bayangkan bahwa Zahra akan mengalami sesuatu yang bahkan lebih sakit dari dirinya.


"Zahra hanya perlu berdamai dengan diri dan hati Zahra, Nak. Berdamai dengan semuanya. Umi tahu semuanya sulit, tapi Zahra pasti bisa," ucap Dee meyakinkan Zahra.


"Sulit Umi," ucap Zahra dengan nada bergetar.


"Tapi tidak ada yang tidak mungkin, Nak," jawab Dee meyakinkan Zahra.


"Jangan marahi Zahra juga ya, Umi," ucap Zahra memandang sendu Dee. Dia takut, Dee juga akan marah padanya karena belum bisa melupakan semuanya.


Dee menggeleng. "Umi tidak marah, hanya saja jangan pernah biarkan masa lalu menguasai hidup Zahra, ya. Jangan sampai masa lalu menghancurkan kebahagiaan di masa depan, Nak," ucap Dee.


Tanpa mereka sadari, ada sosok mungil yang mendengar semuanya. Dia tidak paham semua yang Dee dan Zahra katakan, tapi yang pasti, Bundanya sedang tidak baik-baik saja.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Sebentar lagi rencana Kenzo akan segera dijalankan, tunggu ya teman-teman 🤗


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘