
🌹HAPPY READING🌹
Setelah kedua gadis kecil itu pulang dari rumah Al. Mereka dengan hati riang saat ini tengah menghitung uang hasil bisnis mereka.
"Wah, sedikit lagi tiga puluh juta, Shasa," ucap Sela berbinar menatap dua amplop coklat yang cukup tebal. Masing-masingnya dilingkari kertas bertulisan sepuluh juta rupiah.
Pak Sopir yang mendengar itu terkekeh geli. "Nona benar-benar pintar, ya," ucap apak Sopir itu takjub dengan ide gila kedua gadis kecil itu.
"Harus gitu, Pak. Ayah bilang, kita nggak boleh cuma minta sama orang tua aja. Kan masih ada Kakek, Daddy, Papa sama Uncle Thomas. Jadi harus dibagi kerepotannya," jawab Sela senang yang langsung disetujui oleh Shasa.
"Pak Sopir," panggil Shasa yang duduk berdua dibelakang dengan Sela.
"Iya Nona," jawab Pak Sopir lembut.
"Setelah ini kita ke rumah Mama Tamara ya," ucap Shasa.
"Alias Uncle Thomas," ucap Sela memperjelas.
"Siap Nona-Nona Muda," jawab Sopir itu semangat. Dengan senang hati lelaki yang sudah tak muda itu menuruti keinginan anak majikanya. Beruntung tadi Al sudah mengirim lokasi rumah Thomas. Jadi dia tidak kerepotan jika harus mendengar arahan dari kedua nona muda ini.
.....
Tiga puluh menit, Mini Cooper itu sampai didepan sebuah rumah yang mewah. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun tidak menyurutkan niat kedua gadis kecil itu.
"Kami turun dulu, ya Pak," ucap Sela pamit.
"Iya Nona, hati-hati. Bapak akan menunggu dekat pos satpam," jawab Sopir lembut yang dibalas anggukan oleh Sela dan Shasa.
Sepasang kaki kecil itu melangkah memasuki teras rumah itu. Bunyi sepatu mereka saling bergantian memenuhi pendengaran.
"***-"
"MAU APA KAMU KEMARI?" terdengar teriakan dari dalam rumah hingga membuat Sela dan Shasa yang akan mengucapkan salam menghentikan perkataan mereka.
Shasa dan Sela saling pandang. "Kenapa bunyi ribut di dalam, Sel?" tanya Shasa.
"Apa kita akan tetap masuk? Nanti kalau Mama Tamara lagi dimarahin orang tuanya gimana?" tanya Sela juga ikut ragu.
"Kita harus selamatkan Mama Tamara," ucap Shasa semangat.
Sela ikut mengangguk. "Bagaimanapun juga, Mama Tamara adalah uncle kita," ucap Sela yakin.
"Ayo."
Dengan tangan saling bergandengan kedua gadis kecil itu memasuki rumah yang tidak terkunci. Di ambang pintu, mata kedua membola melihat Uncle kesayangan mereka terduduk di lantai dengan bibir yang berdarah. "UNCLE THOMAS!" teriak Sela dan Shasa berdua. Kaki mereka langsung berlari mendekati Thomas.
"Uncle Thomas kenapa?" tanya Sela cemas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak kuat melihat Uncle kesayangannya itu berdarah seperti ini. Begitu juga dengan Shasa. Anak itu memandang marah pasangan paruh baya yang menatap aneh sekaligus marah kepada mereka.
Dengan beraninya, Shasa bangun dan berjalan mendekati pasangan paruh baya itu. "Kenapa Kakek jahat pukul Uncle Thomas?!" tanyanya marah.
"Tidak usah ikut campur tikus kecil," ucap Lelaki tua itu sombong.
"Kakek dan Nenek ini pasti orang tuanya Uncle Thomas kan. Kalian jahat sekali mukul anaknya sendiri," lanjut Shasa dengan segala keberaniannya. Meskipun dalam hati, anak itu berharap cemas akan apa yang terjadi.
"Shasa, sini Sayang," ucap Thomas dengan terbata.
"Uncle," panggil Sela lirih yang masih memeluk Thomas dari samping.
Shasa yang mendengar dirinya dipanggil langsung berbalik dan berjalan mendekati Thomas.
"Uncle tidak apa-apa. Uncle dimarahi karena uncle nakal. Sama seperti Ayah dan Papa jika lagi marah sama kalian," ucap Thomas memberi pengertian.
"Tapi orang tua marah tidak pernah main tangan, Uncle. Bagaimanapun nakalnya, bagaimanapun salahnya kita, orang tua harus menasehati, bukan pukul Uncle begini," ucap Sela dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian anak kecil jangan sok dewasa. Kalian hanya anak ingusan yang tiba-tiba datang ke rumah saya," ucap lelaki paruh baya itu.
"Pa! Jangan omongan Papa. Mulut Papa jangan sampai mengotori kesucian kedua gadis kecil ini," ucap Thomas menatap nyalang lelaki paruh baya itu.
Wanita paruh baya yang berada di sebelah lelaki itu terenyuh menatap kedua gadis kecil itu. Kakinya melangkah mendekati Sela dan Shasa. "Bisakah kalian mengobati Uncle Thomas? Nenek mau bicara dulu dengan Kakek itu," ucap wanita itu menatap lembut keduanya.
"Nenek," panggil Sela lembut. Meskipun dia tidak kenal dengan siapa dia bicara, tapi Bundanya selalu mengajarkan untuk sopan dan ramah.
"Sela dan Shasa bukannya sok dewasa. Kami hanya tidak mau Uncle kesayangan kamu dipukul begini. Bagaimanapun kesalahannya, selalu ada maaf, Nek. Dulu Ayah Sela juga berbuat salah, tapi setiap orang berhak mendapat maaf. Nenek maafin kesalahan Uncle Thomas, ya. Jangan seperti Kakek itu. Jahat!" ucap Sela menatap tidak suka pada lelaki paruh baya itu.
"Mulut kecil yang sok bijak!" ketus lelaki paruh baya itu.
"Orang tua tak tau diri!" jawab Shasa menatap nyalang lelaki tua itu.
"Tapi kamu sama sopir, Uncle," jawab Sela.
"Kalau begitu Uncle numpang mobil kalian."
.....
"Lo kenapa bisa bonyok begini, Thom?" tanya Kenzo yang kaget melihat kedatangan sahabatnya bersama Sela dan Shasa.
"Ya Allah kak Thomas. Ayo obati dulu lukanya," ucap Zahra.
"No! Biar dia obati sendiri, Sayang. Kamu kasih P3K aja," ucap Kenzo memberi saran.
"Cemburuan!" cibir kedua gadis kecil yang masih berdiri di kedua sisi Thomas.
"Sela sama Shasa bersihin badan dulu, ya. Sebentar lagi Mama Kina dan Papa Aska akan datang, Bunda sudah hubungi mereka. Kalian pasti capek pergi entah kemana seharian ini. Ayo," ajak Zahra.
"Ayah," panggil Sela yang tidak menghiraukan ajakan Zahra. Anak itu masih sedih melihat Unclenya yang tadi dipukuli.
Kenzo yang bersimpuh menyamakan tinggi badannya dengan Sela. "Kenapa Nak?" tanya Kenzo lembut.
"Tadi Kakek dirumah Uncle Thomas jahat. Dia pukul Uncle sampai jatuh dan berdarah. Jadi, Sela dan Shasa tadi lawan Kakek itu. Sela dan Shasa tidak durhaka sama orang tua kan Ayah?" tanya Sela takut.
Kenzo tersenyum. "Kalian tidak durhaka. Apa yang Sela dan Shasa lakukan adalah hal yang tepat. Tidak ada pembenaran untuk kekerasan, Nak" ucap Kenzo dengan segala kebijaksanaannya.
Thomas yang mendengar itu mencibir. Sahabatnya itu sangat-sangat bisa menasehati tanpa pikir diri sendiri.
"Bunda," panggil Sela lirih.
"Iya Nak," jawab Zahra.
"Sela sama Shasa minta maaf karena udah nggak dengerin Bunda untuk tidak melawan orang tua. Sela sama Shasa siap terima hukuman, Bunda," ucapnya menunduk. Begitu juga dengan Shasa.
Zahra tersenyum dan mengusap kepala kedua gadis kecil itu. "Sekarang kalian ke kamar dan bersihin badan, ya. Hukumannya tambah hafalan kalian," ucap Zahra yang disambut senyum keduanya.
"Siap, Bunda," jawab Sela dan Shasa semangat. Setelahnya, kedua gadis itu berlari menaiki tangga untuk ke kamar Sela.
.....
"Ini kotak P3K nya kak," ucap Zahra memberikan kotak putih itu pada Thomas.
"Terimakasih, Zahra," jawab Thomas menerima kotak tersebut.
"Lo kenapa bisa begini?" tanya Kenzo lagi.
"Gue balik lagi kayak dulu," jawab Thomas singkat.
"Maksud Lo?" tanya Kenzo tak paham.
"Gue jadi Tamara," jawab Thomas singkat.
"Lo gila? Lo bilang udah berubah!" ucap Kenzo sedikit terkejut.
"Kadang kita harus menunjukkan kelemahan untuk mendapatkan yang tulus, Ken. Dan gue sedang mengusahakan itu," jawab Thomas.
"Terus Papa sama Mama Lo?" tanya Kenzo lagi.
"Ya gini. Mereka menuntut gue cepat menikah, tapi tidak terima cara gue."
"Boleh Zahra bilang sesuatu, Kak?" ucap Zahra menatap Thomas.
"Apa Zahra?" tanya Thomas.
"Terkadang, untuk mencari yang tulus tidak harus memperlihatkan kekurangan yang sudah ditutupi Allah, Kak. Wanita yang tulus cinta, akan menerima kita dengan segala kekurangan. Wanita yang tulus, akan semakin cinta saat mendengar kekurangan pasangannya dan menjadikan itu suatu keistimewaan yang tidak didapatkan perempuan lain. Dan wanita yang tulus, tidak akan pernah meninggalkan dengan cara apapun. Sikapnya akan memperbaiki kekurangan kita, cintanya akan menyempurnakan ibadah kita, Kak," ucap Zahra dengan sedikit pengetahuannya.
"Jika memang Kakak mengejar seorang wanita, maka lalui lah jalan yang sudah Allah tetapkan. Terkadang aib yang kita perlihatkan untuk mendapatkan ketulusan, adalah rahasia yang disembunyikan Allah untuk meninggikan derajat Kakak," sambung Zahra.
Kenzo dan Thomas terdiam mendengar penuturan Zahra. Zahra yang merasa suasana sedikit diam, tertawa garing. "Kata-kata Zahra bijaksana kan? Dan satu hal yang penting, Kak. Kakak tampan dan kaya, jadi setengah beban Kakak untuk mendapat pasangan sudah berkurang. Modal utama sudah kakak kantongi. Masa lalu? bisa dibicarain baik-baikkan?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏