Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 103



🌹HAPPY READING🌹


"Jangan terpengaruh olehnya, Nak," ucap Dee lembut mengingatkan Zahra.


Zahra memandang Dee. Menatap lekat wanita yang masih sekarang ini selalu menyayanginya.


Puas memandangi Dee. Zahra beralih menatap Sofia.


PLAK.


PLAK.


Dua tamparan melayang di pipi Sofia secara bergantian. "Aku tidak menyesal melakukan ini," ucap Zahra setelah menampar Sofia.


Sofia terkekeh kecil menerima tamparan dari Zahra. Pipinya sakit, tapi saat ini memancing emosi Zahra adalah yang terbaik untuk dia lakukan.


"Jadi seperti ini, ajaran wanita panutan mu ini? Kasar pada orang yang lebih tua, dan tidak punya rasa terimakasih seperti ini. Dasar sampah!" ucap Sofia memandang rendah Dee yang berdiri di sebelah Zahra.


"Tutup mulutmu!" ucap Zahra tegas menunjuk tepat wajah Zahra.


"Tamparan ku adalah hasil dari ajaran mu!" lanjut Zahra tegas.


Sofia memandang remeh Zahra dan Dee. Salah satu dari kalian harus ada yang mati. Batin Sofia senang dengan kedua tangannya yang entah sejak kapan lepas dari ikakatan tersebut, tapi dia masih menahannya seolah-olah dia masih terikat.


Mati kau.


"Akkhh," teriak Zahra ketika sebuah pisau menancap di telapak tangannya.


"ZAHRA."


"SAYANG."


Teriak mereka semua kaget yang ada disana ketika melihat pisau yang tiba-tiba menancap di telapak tangan Zahra. Dan Sofia, tangan gadis itu tiba-tiba lepas dari ikatan rantai tersebut.


"Tahan dia Al," ucap Kevin berteriak agar Al menahan Sofia yang hendak kembali menyakiti Zahra.


"Benar-benar wanita menyusahkan," ucap Al memegangi Sofia yang memberontak.


"Lepaskan aku, anak sialan!" ucap Sofia menatap Al nyalang.


"Lo yang sialan!" jawab Al nyolot tepat di wajah Sofia.


Sofia terus memberontak dalam pegangan Al yang kini dibantu Aska.


"Sakit Umi," ucap Zahra lirih menatap Dee yang meniup-niup telapak tangannya.


Tidak ada air mata yang keluar dari mata Zahra. Ini sakit, tapi lebih menyakitkan melihat Ibra yang nampak diam menyaksikan semuanya.


Dee mengangguk. Dia merobek sedikit pasminanya dan mengikatkannya pada telapak tangan Zahra agar darahnya berhenti mengalir.


"Tahan ya, Sayang," ucap Kenzo memeluk Zahra agar wanita itu lebih tenang.


Ibra, dia berjalan kesebuah lemari besar yang ada diruangan tersebut. Semua menoleh menatap apa yang Ibra lakukan.


"Mas," panggil Dee.


"Dia harus mendapat pelajaran, Sayang," ucap Ibra menatap Sofia yang masih ada dalam pegangan Al dan Aska.


Ibra membuka lemari tersebut. Nampak begitu banyak jenis cambukan berjejer di lemari tersebut. Ibra mengambil salah satu cambuk kesayangannya dan kembali menutup lemari tersebut.


"Lepasin dia, Al," ucap Ibra setelah berdiri di depan Sofia.


"Tapi Abi-"


"Lepasin, Al. Dia tidak akan lari. Kakinya masih terikat," ucap Ibra melihat kaki Sofia yang masih terikat kuat oleh borgol besi tersebut.


Al dan Aska saling pandang, hingga akhirnya mereka melepaskan Sofia hingga membuat wanita itu terduduk lemas.


CTAR.


"Akkhh."


CTAR.


"Akkhh."


CTAR.


"Akkhh."


Tiga cambukan mengenai tubuh Sofia. "Bunuh saja aku, Ibra," ucap Sofia lemah.


"Itu pasti. Tapi kita akan bermain terlebih dahulu," jawab Ibra menatap tajam Sofia.


Dee dan Zahra yang melihat itu memejamkan mata. Didalam hati kecilnya, Zahra sedih, sangat sedih. Dia tidak munafik, bagaimanapun dia juga menyayangi Sofia sebagai Ibunya.


"Kau mempermainkan rumah tanggaku bertahun-tahun, Sofia!"


CTAR.


"Kau membuat aku dan anakku berpisah!"


CTAR.


"KAU MEMBUAT ISTRIKU MENJADI JANDA DAN KAU MEMBUAT ANAKKU MENJADI YATIM, SOFIA!"


CTAR.


Ibra melampiaskan segala isi hatinya diiringi dengan cambukan yang mengenai tubuh Sofia. Sofia pasrah, tidak ada perlawanan yang bisa dia lakukan. Tubuhnya benar-benar lemas saat ini. Sekujur tubuhnya sakit akibat cambukan tersebut.


"Bunuh aku," lirih Sofia tak berdaya.


Sofia beralih menatap Kevin yang juga menatapnya dengan pandangan tak terbaca. "Mas Kevin," panggil Sofia sendu.


"Ini sakit," lanjutnya mengharap sedikit belas kasih dari Kevin dan menghentikan Ibra.


Kevin mengalihkan pandangannya. Sungguh, dia mencintai wanita itu, tapi segala perilaku Sofia memang tidak termaafkan.


"Mas," panggil Dee gemetar menghentikan kegiatan Ibra.


Dia tahu Ibra gila dalam menyiksa musuhnya, tapi dia tidak tahu jika Ibra juga akan seberani ini terhadap wanita. "Sudah, Mas. Dia sudah tak berdaya," ucap Dee menatap Ibra teduh.


"Ini tidak sebanding dengan perbuatan dia, Sayang," ucap Ibra tak terima.


"Biar polisi yang menghukumnya," ucap Dee.


Ibra menggeleng. "Aku harus menghukumnya lebih dulu," ucap Ibra kekeuh dengan tindakannya.


"Jangan Mas. Jangan buat kamu rendah karena menyiksa wanita seperti ini. Suamiku tidak menghajar wanita, Mas," ucap Dee membujuk Ibra.


Ibra menurunkan cambuk ditangannya dengan nafas berburu. "Thomas, panggil Polisi," ucap Ibra akhirnya setelah melihat Sofia yang sudah ta berdaya.


Thomas mengangguk dan segera menghubungi polisi. Al yang melihat Sofia seperti itu mendekati wanita tersebut.


"Apa tidak ada kata maaf keluar dari mulutmu, Sofia?" tanya Al pelan.


Sofia mengangkat kepalanya dan menatap Al. "Aku tidak menyesal atas kesenanganku," jawab Sofia lemah.


"Bangsat!" umpat Al kesal menendang kaki Sofia setelah mendengar jawaban wanita itu.


"Rasanya aku ingin mencabik-cabik tubuhmu," ucap Al terlanjur kesal dengan Sofia.


Selang beberapa menit, beberapa Polisi datang ke ruangan tersebut.


"Bawa dia segera," ucap Kevin pada Polisi tersebut.


Polisi tersebut mengangguk dan membantu Sofia berdiri. Mereka melepaskan ikatan pada Kaki Sofia agar wanita itu bisa berdiri dan memudahkan mereka untuk membawanya.


"Tunggu Pak Polisi," ucap Dee menahan Polisi.


Dee berjalan mendekati Sofia. "Aku tidak tahu apa alasanmu membenciku, Sofia. Aku bahkan dengan besar hati dulu melepas suamiku untuk bertanggung jawab terhadap anak yang kamu kandung, Sofia. Sebagai wanita, apa kamu tidak memiliki hati sedikit saja?" ucap Dee berbicara pada Sofia.


Sofia menggeleng. Wanita menunjukkan senyum iblisnya pada Dee. "Aku bahkan tidak menyesal sedikitpun," ucap Sofia.


"Tidak ada iblis lebih kejam darimu, Sofia," jawab Dee.


"Dan kau adalah manusia munafik, Dee," ucap Sofia tajam.


"Kau-" ucap Ibra marah mendengar perkataan Sofia. Tangannya mengepal di udara ketika Dee menahannya.


"Biar Polisi yang menghukum, Mas. Sudah cukup. Urusan kita dengan iblis ini sudah selesai," ucap Dee membawa Ibra menjauh.


Polisi membawa Sofia berjalan keluar kamar tersebut. Sofia melihat pistol yang melekat di ikat pinggang polisi. Dia menoleh ke belakang dan melihat Ibra yang memeluk Dee.


Zahra yang mengerti arah pandang Sofia langsung berlari dan


DOR


DOR


"ZAHRA."


......................


Kalian tim happy ending atau sad ending?


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘