
🌹HAPPY READING🌹
"D, i, Di, tambah a jadi Dia, l, y, ly, dialy. Z, a, Za, tambah h, Zah, l, a, La, Zahla. Dialy Zahla," gumam Sela mengeja apa yang tertulis di sampul buku kecil itu.
"Zahla? Buna?" tanya Sela bingung pada dirinya sendiri.
"Apa ini punya Buna?" tanya Sela lagi.
Sela mengambil diary tersebut dan menyimpan kedalam tasnya. Yang dia tahu, diary adalah curahan hati seseorang, berarti dalam buku kecil itu ada isi hati Bundanya. "Pati dulu Buna bahagia cama Ayah," gumam Cela senang melihat sekeliling kamar tersebut.
"Chaca," panggil Sela pada Shasa yang sibuk melihat berbagai macam ikan cantik di dalam akuarium kecil.
"Iya Sela," jawab Chaca.
"Kita kelual, yuk. Nanti Ayah nyaliin," ajak Sela.
Shasa mengangguk. Kedua anak itu saling bergandengan tangan keluar dari kamar kecil yang indah tersebut.
.....
"Kenapa lama, Nak?" tanya Kenzo pada Sela dan Shasa yang baru datang di dapur.
Sela dan Shasa saling pandang. Kedua anak itu meletakkan tas mereka asal di atas kursi meja makan dan berjalan mendekati Kenzo. "Tadi Shasa juga pipis, Papi. Makanya lama," jawab Shasa. Anak itu sangat pandai mencari alasan. Karena jika mereka menjawab jujur, maka bisa saja Kenzo marah akan tindakan mereka.
Sela yang mendengar perkataan Shasa tersenyum senang. Anak itu seolah saling memberi kode bahwa mereka tidak akan ketahuan.
"Yasudah, Papi sudah masak makanan buat kalian. Sekarang kita makan, dan setelah itu kita berenang bersama, kalian mau?" tanya Kenzo.
Mata indah Shasa dan Sela berbinar mendengar ajakan Kenzo.
"Mau Ayah."
"Mau Papi."
Dengan senang hati Sela dan Shasa mengiyakan ajakan Kenzo. Apalagi Sela, dia sama sekali tidak pernah berenang di kolam renang yang besar dan indah seperti yang ada di rumah Kenzo.
"Sekarang kalian duduk, Papi siapkan dulu, ya," ucap Kenzo. Shasa dan Sela mengangguk patuh. Kedua anak umur itu duduk dengan sedikit kesusahan menaiki kursi meja makan. Setelah itu, mereka makan bersama masakan Kenzo yang nikmat.
.....
"Hahaha, lagi Ayah!" jerit Sela ketika Kenzo mengangkat anak itu mengudara lalu menjatuhkannya ke dalam kolam renang.
Tawa menggelegar juga terdengar di tepi kolam. Ada Shasa yang tertawa melihat Sela berpose di udara layaknya duyung yang tertidur. Siapa sangka, Sela yang baru pertama menginjakkan kakinya di kolam renang langsung beradaptasi baik dengan air di kolam.
Kenzo kembali mengangkat Sela. Sela benar-benar menjadi dirinya sendiri saat ini. Anak itu benar-benar melepas segala kebahagiaan bersama sang Ayah dan saudara sepupunya.
"Hahaha, ini menyenangkan, Ayah!" jerit Sela senang.
Melihat kebahagiaan Sela membuat senyum puas tak luntur dari bibir Kenzo. Mulai sekarang hanya ada senyum di dunia kamu, Nak. Batin Kenzo melihat anaknya.
Kenzo mengambil pelampung dan memberikannya pada Sela. Dia membiarkan Sela berenang ke tepian sendiri, sesuai dengan keinginan anak itu.
"Chaca kenapa cepat kelual sih? Selu tau," ucap Sela saat sudah sampai dipinggir kolam. Kenzo membantu Sela naik dan melepas pelampung bebeknya.
"Dingin, Sela. Lagian nanti bisa berenang di rumah juga sama Papa," jawab Shasa.
Kedua anak itu nampak sangat manis dengan baju renang yang diberikan oleh Kenzo. Sela dengan baju renang seksi berwarna abu-abu, sedangkan Shasa berwarna hitam.
Kini mereka bertiga duduk di pinggir kolam dengan kaki menjuntai ke air.
"Papi," ucap Shasa.
"Iya sayang," jawab Kenzo.
"Shasa mau telfon Papa," ucap anak itu tiba-tiba merindukan Aska.
Kenzo mengangguk. "Ambil ponsel Papi di meja makan. Shasa bisa cari kontak Papa kan?" tanya Kenzo.
Shasa mengangguk. Anak itu langsung berdiri dan berlari pelan memasuki rumah.
"Ayah," panggil Sela.
"Iya, Anak Ayah," ucap Kenzo membawa Sela duduk kepangkuannya.
"Jangan belikan kebahagiaan cepelti ini kepada olang lain, ya Ayah," ucap Sela menatap Kenzo. Entah kenapa, mata anak itu sudah nampak berkaca-kaca.
Sela menggeleng. "Cela takut kehilangan Ayah. Ayah cuma milik Cela cama Buna, kan?" tanya Sela memastikan sesuatu yang meragukan hatinya.
Kenzo mengangguk. "Sela hanya punya Ayah dan Bunda. Tidak ada yang lain, Sayang," jawab Kenzo.
"Jangan bialkan anak lain memanggil Ayah kepada Ayah Sela," ucap Sela menatap Kenzo sendu.
"Shasa?" tanya Kenzo.
"Chaca itu cahabat cekaligus caudala Cela. Cela akan belikan apapun untuk Chaca, telmasuk nyawa. Tapi tidak dengan Ayah, ya. Bial Chaca manggilnya Papi aja," ucap Sela menatap Kenzo.
Kenzo tersenyum dan merapikan rambut Sela yang basah dan sedikit menutupi pipinya. "Iya Nak. Tidak akan ada wanita lain selain Bunda. Tidak akan ada darah daging lain selain kamu dan adik-adik kamu nanti," ucap Kenzo.
"Adik?" tanya Sela.
Kenzo mengangguk. "Sela harus selalu bantu Ayah untuk kembali pada Bunda, ya?" tanya Kenzo.
Sela mengangguk senang. "Doa Cela celalu buat Ayah dan Buna," jawab Sela.
Kenzo memeluk erat anaknya. Sungguh, kehadiran Sela memberikan kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan oleh Kenzo sebelumnya.
.....
Zahra, Dee dan Ibra masih berada di toko kue tempat Zahra bekerja.
"Abi, Umi," panggil Zahra lembut.
"Iya Nak," jawab Dee dan Ibra bersamaan.
"Bagaimana keadaan Bunda dan Ayah?" ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca menanyakan Sofia dan Kevin.
Dee dan Ibra saling pandang. "Bunda Ayah kenapa, Umi? Abi?" tanya Zahra lagi melihat Ibra dan Dee yang hanya diam.
"Ayah baik-baik saja, Nak. Begitu juga dengan Bunda Sofia," jawab Dee.
"Alhamdulillah," ucap Zahra senang. Dia bersyukur mendengar kabar Ayah dan Bundanya baik-baik saja.
Zahra memandangi wajah Dee yang nampak sangat teduh dengan lekat. Dia memang anak Sofia, tapi kasih sayangnya kepada Dee tidak bisa diukur dengan apapun. Jika ditanya, Zahra akan menjawab banyak dia lebih menyayangi Dee.
"Kenapa, Nak?" tanya Dee heran melihat Zahra.
"Apa di wajah Umi ada sesuatu?" tanya Dee meraba-rba wajahnya.
Zahra menggeleng. Tangannya terulur menggenggam lembut tangan Dee. "Umi adalah malaikat dalam hidup Zahra," ucap Zahra tiba-tiba yang membuat Ibra dan Dee terdiam.
"Disaat wanita lain tidak akan menerima anak lain suaminya dari wanita lain, Umi menerima Zahra dengan menahan segala ego dalam diri Umi. Disaat wanita lain tidak akan memaafkan pengkhianatan, Umi memberi seribu kesempatan Abi untuk memperbaiki semuanya. Bagaimana bisa seorang manusia memiliki hati yang se baik dan se sabar Umi. Bahkan Umi memberi kasih sayang yang tulus untuk Zahra, seperti Umi menyayangi Abang dan Adek," ucap Zahra memandang Dee.
Mata Dee berkaca-kaca mendengar penuturan Zahra. "Umi ikhlas, Nak. Tidak ada kesalahan karena kehadiran seorang anak. Yang salah itu adalah perbuatan orang tuanya," ucap Dee yang menyentil hati kecil Ibra.
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud mengingatkan kembali," ucap Dee menatap Ibra dengan raut penyesalan.
Ibra tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang," jawab Ibra lembut.
"Zahra, boleh Umi minta satu hal, Nak?" ucap Dee.
Zahra mengangguk.
"Jangan egois seperti Bunda kamu, Nak. Ada Sela yang harus kamu pertahankan kebahagiaanya. Dia memiliki keluarga lengkap. Bahkan dia terlahir dari keluarga terpandang," ucap Dee.
Zahra menunduk mendengar perkataan Dee. "Bukanya Zahra tidak mau, hanya saja semuanya terasa menyakitkan," ucap Zahra dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Berikan sedikit perjuangan, Nak. Kamu akan melihat ketulusan perjuangan Ayah dari anak kamu, Nanti," ucap Dee memberi nasehat Zahra.
Ibra yang mendengar itu tidak henti bersyukur dalam hatinya. Pertemukan aku dengan wanita ini lagi di kehidupan berikutnya, Ya Allah. Batin Ibra menatap penuh cinta kepada Dee.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘