
🌹HAPPY READING🌹
"Sebutkan satu alasan yang membuat Zahra tidak bisa pergi dari Kak Ken?" ucap Zahra menatap Kenzo.
"Jangan terlalu banyak bicara Zahra!" ucap Kenzo.
"Zahra harus bicara agar Zahra tahu, kenapa Kak Ken bersikap seperti ini kepada Zahra," jawab Zahra berani.
Kenzo turun dari sofa dan menengadah mendekatkan wajahnya dengan Zahra. "Karena kau jalan satu-satunya untuk aku membalaskan semuanya!" ucap Kenzo tajam didepan wajah Zahra.
DEG.
Jantung Zahra berdetak cepat melihat tatapan Kenzo yang penuh dengan marah dan benci. Zahra tidak buta untuk bisa melihat arti tatapan itu.
"Apa salah Zahra?" tanya Zahra berani. Padahal didalam sana, jantungnya sudah berdetak tak karuan. Andai jantung bisa mengeluarkan suara dan berbicara, mungkin suara jantung Zahra yang paling banyak berbicara dan menyampaikan segala sesaknya.
"Kamu memang tidak bersalah, tapi Abang kesayanganmu itu telah menyebabkan orang yang aku sayangi menderita, Zahra!" jawab Kenzo.
"Abang Zahra tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan Zahra," ucap Zahra.
"Tapi semua itu terjadi karena Al, Zahra. AL MERENGGUT ORANG YANG AKU SAYANGI!" teriak Kenzo marah.
Zahra memejamkan matanya mendengar suara Kenzo yang memenuhi ruang tamu.
"Karena Al, kembaranku Kinzi harus menderita. Karena Al, hidup Kinzi dalam bahaya Zahra!" lanjut Kenzo.
"Tapi Abang tidak akan menyakiti wanita, Kak Ken! Abang sangat menghormati wanita!" ucap Zahra tak terima ketika Kenzo menyalahkan Al.
"Tidak menyakiti wanita kau bilang? Asal kau tahu, karena Al, Kinzi harus Koma sampai berbulan-bulan. Karena Al, hidup Kinzi tergantung pada alat-alat rumah sakit Zahra!" jawab Kenzo.
"Abang nggak mungkin melakukan itu," ucap Zahra lirih.
"Tapi itu kenyataannya, Zahra! Karena Al menolak perjodohan mereka, harapan yang selama ini Kinzi simpan hancur begitu saja. Apa kau tahu? Sejak kecil Kinzi menyimpan perasaanya pada Al. Tapi apa? Al memilih wanita lain daripada kembaranku yang pasti jauh lebih baik dari istrinya itu!" ucap Kenzo.
"Hati tidak bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh, Kak. Abang memiliki pilihannya sendiri. Abang berhak bahagia dengan cintanya sendiri," ucap Zahra.
"Kau benar, hati memang tidak bisa memilih. Tapi karena Al, kembaranku harus menderita seperti itu. Aku kehilangan separuh jiwaku melihat kembaranku yang terbaring lemah, Zahra!" ucap Kenzo.
"Hanya karena itu, Kak Kenzo menikahi Zahra? Hanya karena melampiaskan dendam, Kak Kenzo meminang Zahra menjadi istri? Apa benar-benar tidak ada rasa cinta dan sayang untuk Zahra? Setidaknya rasa kasian Kak Ken kepada Zahra," tanya Zahra sendu.
Kenzo menggeleng sambil tersenyum remeh. "Tidak ada lelaki manapun yang ingin meminang gadis cacat sepertimu dengan tulus Zahra!" jawab Kenzo.
Tidak tahukah Kenzo, jawaban yang dia berikan memberikan luka yang sangat besar pada hati Zahra.
"Lalu kenapa harus Zahra?" tanya Zahra.
Kenzo tersenyum sumbang. "Karena kau adalah anak kesayangan Ibra dan Dee. Karena kau adalah adik kesayangan Al. Jika kau menderita, maka Al akan ikut sedih. Jika nanti tujuanku tercapai dan puas untuk membuatmu menderita, maka aku akan membuangku kembali kepada keluarga sialanmu itu!"
"Masih ada Kina, bukan?" ucap Zahra memancing Kenzo. Bukan maksud apa-apa, Zahra hanya ingin menanyakan mengapa Kenzo melampiaskan semuanya kepada Zahra.
"Kau ingin tahu satu hal bodoh yang aku lakukan, Zahra?"
"Karena sialnya, aku mencintai Kina."
DEG.
Jantung Zahra berdetak cepat. Lagi-lagi orang lelaki yang dia sayangi memilih Kina.
"Tapi Kina sudah bahagia dengan suaminya," ucap Zahra.
Kenzo mengangguk. "Aku tidak akan sanggup menyakiti wanita yang aku cintai. Aku senang, Kina mendapat lelaki baik seperti Aska. Aska lebih baik untuk Kina dari pada aku. Aku merelakan cintaku asalkan bisa membalaskan dendam yang sangat membara ini melalui mu, Zahra!" ucap Kenzo.
Sungguh, hati Zahra sakit mendengarnya. Tapi dia harus berusaha tenang.
"Kak Ken," panggil Zahra sendu.
Kenzo menatap Zahra dengan mata elangnya. "Tolong jangan libatkan siapapun dalam hal ini. Balaskan saja kepada Zahra," ucap Zahra lirih.
Terdengar tawa mengejek dari bibir Kenzo. "Itu sudah pasti, Zahra. Karena jika kau menderita, maka Al akan hancur dan anak kesayangan keluarga Hebi akan menderita ditanganku," ucap Kenzo. Setelah itu Kenzo berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Zahra yang menatap kepergiannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan sampai Kak Ken tahu bahwa Zahra adalah anak Bunda Sofia. Jika sampai Kak Ken tahu, keselamatan rumah tangga Abang dan Adek pasti akan terancam," gumam Zahra dengan air mata yang tidak mampu lagi dia tahan.
"Kenapa rasanya sesak sekali," ucap Zahra memukul-mukul dadanya sendiri.
"Mungkin ini adalah balasan dari air mata Umi dan Abang yang dulu jatuh karena kehadiran Bunda. Mungkin ini semua karma yang harus Ara terima. Hiks, hanya satu pinta Ara, Tuhan. Beri Ara kekuatan lebih untuk menerima semuanya," harap Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra mengusap kasar air matanya. Dia berbalik dan memungut kaos kaki serta sepatu Kenzo yang tertinggal di sana. Zahra membawa kaos kaki dan sepatu Kenzo untuk meletakkannya pada rak sepatu.
"Ara percaya, masih ada ruang untuk Ara menghidupkan cinta di hati Kak Ken. Masih ada harapan agar perjuangan Ara ini tidak akan sia-sia," gumam Zahra memandangi lantai dua, dimana kamar Kenzo berada.
.....
Kenzo menghempaskan tubuhnya di ranjang king size miliknya. Emosinya hari ini benar-benar terasa dipermainkan. Marah, sedih, kecewa menjadi satu dalam hatinya.
Tadi siang, dia ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kinzi. Ya, Kinzi memang mengalami koma sejak beberapa bulan yang lalu. Hal itu terjadi karena Kinzi yang mengalami kecelakaan setelah dia bertemu dengan Al disebuah Cafe untuk membahas rencana perjodohan mereka.
Keputusan yang diberikan Al membuat Kinzi hancur, hingga tanpa sengaja dia hilang kendali hingga mobilnya mengalami kecelakaan besar.
Dokter mengatakan keadaan Kinzi yang tidak mengalami perubahan. Dan hal itu membuat Kenzo sedih sekaligus marah. Kemarahan Kenzo semakin bertambah saat dia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zahra. Hingga akhirnya Kenzo harus menyampaikan semua dendamnya kepada Zahra.
Kenzo memandang foto yang ada di nakas sebelah ranjangnya. Itu adalah fotonya bersama dengan Kinzi. Itu juga foto yang tadi dipegang oleh Zahra yang menyebabkan amarah Kenzo semakin naik.
"Cepatlah sadar, Kinzi. Bantu aku menjadi orang jahat dalam hal ini, Kinzi," gumam Kenzo sendu.
"Semoga saat sadar nanti, kamu akan mendukung apa yang aku lakukan, Kinzi."
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗