
🌹HAPPY READING🌹
Arman menetralkan deru nafasnya. Dia berjalan ke samping kursi kerja Kenzo dan menunjukkan tab itu kepada Kenzo.
"Ini Tuan," ucap Arman membuka salah satu pesan masuk ke email perusahaan.
"Kerja sama?" tanya Kenzo berbinar.
"Iya Tuan," jawab Arman.
"Perusahaan apa?" tanya Kenzo.
"Bukalah sendiri, Tuan," ucap Arman mempersilahkan Kenzo untuk menekan email masuk tersebut
Jari telunjuk Kenzo bergerak menekan layar tab tersebut. Matanya dengan serius menatap pesan yang sudah dibuka itu. "Türk Mücevher," gumam Kenzo menatap Arman yang langsung mengangguk.
"Sejak kapan email ini masuk?" tanya Kenzo lagi.
"Setengah jam yang lalu, Tuan," jawab Arman.
Kenzo terdiam dan seperti sedang berpikir. Hatinya ragu untuk menerima kerjasama itu, namun pikirannya memaksa untuk memperbaiki kondisi perusahaan.
"Apa kita harus menerimanya, Arman?" tanya Kenzo meminta pendapat asistennya itu.
Arman mengangguk mantap. "Keuntungan kerjasama dengan Türk Mücevher bukan hanya dari segi materi, Tuan. Tapi semua perusahaan yang bekerja dengan Tur Mücevher akan memiliki nama baik dan pengakuan dunia, Tuan. Perusahaan kita akan semakin dipertimbangkan dikancah Internasional," ucap Arman menjelaskan pada Kenzo.
Kenzo mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Arman. Tapi kenapa aku ragu begini? Batin Kenzo bertanya-tanya. Entah kenapa, kali ini hati dan pikirannya tidak berjalan seiringan. Ini semua sama seperti saat dia melakukan dendam kepada Zahra dulu. Hingga akhirnya penyesalan yang dia dapatkan karena kebodohannya itu.
"Besok aku akan berikan balasannya, Arman," ucap Kenzo.
Arman mengangguk. "Baiklah, Tuan. Berikanlah keputusan bijak yang menguntungkan perusahaan. Karena banyak hidup karyawan yang menjadikan perusahaan sebagai tempat mereka mencari makan," ucap Arman yang dianggukki Kenzo.
"Keluarlah, Arman. Aku ingin sendiri untuk saat ini," ucap Kenzo.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Tuan," ucap Arman pamit dan sopan.
Setelah kepergian Arman. Kenzo menimbang-nimbang kerjasama tersebut. "Kenapa kebetulan seperti ini? Apa ini disengaja?" gumam Kenzo bertanya-tanya.
"Al," ucap Kenzo setelah mengingat sahabat sekaligus Abang iparnya itu.
Kenzo mengeluarkan ponsel yang ada disaku jasnya. Lelaki itu mencari kontak Al yang tersimpan di benda pipih itu.
"Halo," jawab Al yang terdengar di telinga Kenzo setelah panggilan diangkat.
"Al, ada sesuatu yang mau gue tanyain sama Lo," ucap Kenzo.
"Ada apa Ken? Adek gue baik-baik aja kan? Nggak Lo siksa lagi kan?" tanya Al beruntun yang sekalian menyindir Kenzo. Memang, lelaki keluarga Hebi memang sangat ahli dalam hal sindir menyindir. Berbeda dengan wanita yang nampak lebih pendiam.
"Gue serius," ucap Kenzo ngegas.
"Santai elah. Mau tanya apa?" tanya Al dengan mode sedikit seriusnya.
"Apa Lo memberitahu Zahra mengenai identitasnya?" tanya Kenzo.
"Tahu darimana Lo kalau gue tahu juga?" ucap Al yang lebih mementingkan penasaran dalam otaknya yang tiba-tiba muncul setelah mendengar pertanyaan Kenzo.
"Kita berteman bukan sehari dua hari. Jadi gue pasti tahu kebiasaan Lo," ucap jawab Kenzo.
Al yang mendengar itu hanya mengangguk ditempatnya. "Terus Lo mau nanya apa?" tanya Al.
Kenzo berdecak dan menghela nafas banyak mendengar perkataan Al. Jika bukan melalui telepon, dia sudah tendang Al saat ini juga. Benar-benar ahli membuat orang kesal. Kenzo sakit dengan Bella dan Umi Dee, karena mereka berdua wanita hebat yang mampu menerima kedua lelaki gila menurutnya itu. Tapi sayangnya, lelaki gila itu adalah mertua dan Abang iparnya. Mau tak mau, Kenzo harus menerima, bukan? Kenzo tidak sadar saja, kalau dia jauh lebih gila, bahkan kejam.
"Apa Lo udah beritahu Zahra mengenai identitasnya ini?" ucap Kenzo lagi mengulang pertanyaanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Al lagi.
"Bukan apa-apa. Gue tutup dulu," ucap Kenzo yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ayah Kevin dan Abi Ibra tidak mungkin memberitahu ini. Apa kerjasama ini benar-benar dari Ayah Kevin?" gumam Kenzo.
Karena ini benar-benar sangat kebetulan dengan keadaan perusahaanya yang sedang tidak baik-baik saja. Dan tambah lagi, Zahra mengetahui keadaan perusahaanya ini. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah di mata istrinya karena menyelesaikan ini saja tidak bisa.
"Apa aku harus menerima kerjasama ini?" tanya Kenzo lagi.
Kenzo menggeleng. "Tidak, jangan dulu. Aku harus memastikan sesuatu lagi," ucap Kenzo. Ada sesuatu yang harus dia pastikan nanti malam.
.....
Sela dan Shasa memasuki rumah Nenek mereka dengan tak bersemangat. Mereka pulang bersama Kina yang hari ini memang menunggui mereka di sekolah.
Zahra sudah memberitahu Kina untuk membawa Sela ikut pulang bersamanya, karena sekarang dia masih berada di rumah Ibra. Sedangkan Kevin? Lelaki itu sudah kembali ke Turki lagi. Benar-benar seenaknya saja, selesai semuanya, dia langsung pulang dengan alasan pekerjaan. Meskipun itu benar, tetap saja itu membuat Dee dan Zahra kesal. Bahkan Kevin tidak menyempatkan untuk makan bersama mereka. Keterlaluan memang. Orang kaya naik pesawat sesuka hatinya saja.
"Eh, anak-anak Bunda kenapa?" tanya Zahra melihat Sela dan Shasa yang memasuki ruang tamu.
Kedua gadis cilik itu meletakkan tas sekolah mereka dengan tali di sudut sofa. setelah itu membuka jilbab yang sudah membuat mereka merasa sedikit gerah. Buktinya, ada beberapa rambut mereka yang keluar dari jilbab.
Zahra duduk bersama Dee si ruang tamu. Sedangkan Ibra masih diruang kerjanya entah mengerjakan apa.
"Mereka kenapa, Nak?" tanya Dee pada Kina.
Kina menggeleng. "Entah Umi. Sejak pulang, mereka sudah cemberut. Saat Adek tanya jawabnya hanya gelengan," jawab Kina.
"Kakak nginap ya," pinta Kina yang kini duduk disebelah Dee. Sedangkan kedua cucu Dee duduk di karpet berbulu dengan televisi yang sudah berganti tayangan.
Zahra yang melipat jilbab Sela dan Shasa sambil duduk menggeleng. "Weekend Kakak akan menginap disini bareng Sela san Mas Kenzo juga, Dek," jawab Zahra.
Kina mengangguk meskipun dia sedikit kecewa. Rasanya, dia ingin Abang dan Kakaknya tinggal disini bersama keluarga kecil mereka juga, tapi itu tidak mungkin. Mereka sudah memiliki hak sendiri untuk memutuskan.
"Cucu-cucu Umi kenapa?" tanya Dee. Karena sejak tadi, mereka hanya menekan-nekar remote TV dengan bergantian.
Sela dan Shasa berdiri dan duduk di sebelah Dee menggeser Zahra dan Kina. "Banyak kursi kosong," celetuk Kina.
"Senyaman kami, Mama," jawab Shasa. Kina hanya mengelus dada sabar menghadapi anaknya ini. Dia tidak bisa marah, karena Shasa sekarang adalah cerminan dia kecil dulu.
"Cela cama Chaca cedih, Nenek," ucap Sela akhirnya menjawab.
"Kenapa?" tanya Kina penasaran. Karena jarang-jarang sekali asa kata sedih di kamus dua gadis licik menurutnya ini.
"Kyel pindah sekolah," jawab mereka barengan dengan nada lemah.
"Kyel siapa?" Dee.
"Anaknya Tante bedak lima centi, Nek," jawab Sela.
"APA?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏