
🌹HAPPY READING🌹
Sesuai perkataan mereka kemarin, Kini mereka semua sedang berada dalam penerbangan menuju Yaman, termasuk Kenzo. Ibra sudah mencegah agar Dee dan yang lainnya, tidak ikut, tapi jika melawan wanita rasanya percuma saja, akhirnya Ibra mengizinkan Dee dan Sofia untuk ikut menyusul ke Tarim.
"Kami adalah Ibunya!" kata-kata tegas yang keluar dari mulut Dee dan Sofia ketika Ibra dan Kevin melarang mereka untuk ikut.
Al, Bella, Kina dan Aska tidak diizinkan ikut oleh Ibra. Ibra meminta Al untuk tetap tinggal guna memantau keadaan perusahaan. Sedangkan Kina tidak diperbolehkan karena kehamilannya yang masih sangat rentan.
Kina tinggal bersama Aska, sang suami. Dee meminta Kina untuk banyak beristirahat. Masalah yang sangat berlarut-larut ini akan menganggu kehamilan Kina jika dia tidak bisa membatasi kegiatannya.
Setelah perjalanan yang sangat jauh, mereka semua sampai di Kota Tarim. Kota suci itu kini nampak sangat berantakan akibat bencana yang menimpa. Air banjir sudah mulai surut, namun sisa-sisa lumpur dan sampah masih berserakan.
"Selamat datang, Tuan," ucap Anak buah Ibra yang menyambut kedatangan mereka.
"Dimana pengungsiannya?" tanya Ibra tanpa basa-basi. Percayalah, hatinya saat ini dipenuhi kekhawatiran yang sangat dalam.
"Mari ikut kami, Tuan," ucap Anak buah Ibra.
Ibra mengangguk. Mereka semua berjalan mengikuti Anak buah Ibra untuk menuju tempat pengungsian.
Tangan Sofia menggenggam erat tangan Kevin selama perjalanan. Kevin menoleh dan mengusap lembut tangan istrinya. "Percaya pada hal baik, Sayang. Kamu seorang Ibu, pikiran dan perasaan baikmu sangat berguna untuk Zahra saat ini," ucap Kevin lembut.
Sofia mengangguk meskipun hatinya dipenuhi keraguan.
Kenzo melihat sekeliling jalan yang mereka lalui. Nampak sangat kumuh akibat banjir. "Maaf, boleh aku bertanya?" ucap Kenzo pada Anak buah Ibra yang berjalan di depan mereka.
Mereka semua menolah pada Kenzo. "Silahkan, Tuan," ucap Anak buah Ibra.
"Seberapa tinggi banjirnya?" tanya Kenzo.
Anak buah Ibra nampak menghela nafas pelan. Mereka semua juga menunggu jawaban yang akan dia berikan. "Dua centimeter di atas saya, Tuan," jawab Anak buah Ibra.
Kenzo menatap anak buah Ibra dengan pandangan berkaca-kaca dari atas sampai bawah. Tunggu hampir sama dengan Kenzo. Sedangkan Zahra, jika berdiri Zahra hanya akan sedada Kenzo. Apalagi Zahra menggunakan kursi roda, Kenzo tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
"Lanjutkan jalannya!" ucap Ibra tegas menyudahi pikiran khawatir mereka semua.
Anak buah Ibra mengangguk. Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju tempat pengungsian.
Sepuluh menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di pengungsian. Mata Dee terus bergulir mencari keberadaan Yana, sahabatnya. Semua wanita menggunakan cadar, termasuk Dee dan Sofia. Mereka menggunakan cadar saat baru keluar dari pesawat.
Beberapa detik mengedarkan pandangannya, mata Dee berhenti pada sosok wanita yang duduk di ujung tenda pengungsian dengan Al-Qur'an kecil yang tak lepas dari genggamannya.
Dee berjalan mengikuti pandangannya. Ibra dan yang lainnya hanya melihat apa yang akan Dee lakukan. Dee menepuk pelan bahu wanita tersebut.
Yana yang merasakan ada tepukan di bahunya menoleh.
"Yana," panggil Dee.
Air mata Yana jatuh begitu saja ketika dia mengenali suara seorang wanita yang dekat dengannya. "Dee," ucap Yana memeluk Dee erat.
"Maaf Dee. Aku lalai menjaga amanah mu," ucap Yana menyesal.
Ibra dan yang lainnya melihat semua itu. Mereka berjalan mendekati Dee dan Yana.
"Bukan salahmu, Yana. Kita harus berdoa agar Zahra baik-baik saja," ucap Dee.
"Bagaimana kamu dan Zahra bisa berpisah?" tanya Sofia lembut pada Yana.
Kenzo dengan sekuat tengah menahan air matanya. Dia mendekat ke arah Yana tapi sedikit memberi jarak untuk menghormati Yana sebagai seorang wanita. "Apa ada kemungkinan istriku akan selamat?" tanya Kenzo sendu.
"Istri?" beo Yana. Karena yang dia tahu, Zahra adalah seorang janda.
Kenzo dan yang lainnya mengangguk. "Aku adalah suami Zahra," ucap Kenzo menahan segala sesak di hatinya. Entah masih pantas atau tidak dia disebut sebagai seorang suami setelah apa yang dia lakukan.
"Bukankah Zahra seorang janda? Dia mengatakan padaku bahwa dia adalah seorang janda," ucap Yana memberitahu apa yang dia ketahui dari Zahra.
Kenzo menggeleng kuat. "Dia bukan janda, dia masih memiliki suami. Istriku hanya akan menjadi janda jika aku sudah tiada," ucap Kenzo dengan suara bergetar.
Ibra dan Kevin yang melihat ketulusan dari setiap ucapan Kenzo, hanya mampu mengusap sudut mata mereka yang sudah berair. Pria yang dulu arogan itu, apa benar sudah berubah? Atau ini hanya sementara? Pertanyaan yang sama muncul begitu saja dalam benak Kevin dan Ibra.
"Apa kau memiliki cinta yang besar untuk Zahra?" tanya Yana.
"Sangat. Bahkan aku mencintainya lebih dari apapun," ucap Kenzo mengangguk yakin.
"Teruslah berprasangka baik. Karena prasangka baikmu, itulah yang akan terjadi pada Zahra. Mau tahu satu hal yang Zahra katakan tentangmu?" ucap Yana sendu yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Kenzo.
"Ayah dari anak Zahra adalah orang bijaksana," ucap Yana mengulangi perkataan Zahra yang dia dengar saat Zahra dalam keadaan sendiri di dalam kamarnya.
"Itu adalah kata yang selalu Zahra ucapkan saat mengusap perutnya. Seolah-olah menyampaikan pada anaknya, bahwa kau adalah pria yang sangat baik," lanjut Yana yang mampu membuat hati Kenzo serasa dihujam ribuan jarum. Belati dan bilah bambu itu seakan menusuk dalam di jantungnya.
Bidadari yang sudah aku sia-siakan, aku mohon bertahanlah dan kembali pada pria bodoh ini. Aku mohon selamatlah, Zahra. Batin Kenzo sendu.
"Permisi Nyonya," ucap salah satu tim penyelamat wanita datang menghampiri Yana. Hanya Yana dan Dee yang mengerti bahasa mereka. Sedangkan dan yang lainnya tidak.
Saat berbicara dengan Kenzo tadi, Yana menggunakan keahliannya dalam berbahasa Indonesia, agar Kenzo mengerti apa yang dia sampaikan.
Yana mengusap air bening disekitar matanya. "Apa ada kabar baik?" ucap Yana dalam bahasa Yaman. Mereka semua yang ada disana diam menunggu jawaban yang akan mereka sampaikan.
"Kami menemukan kursi roda yang kau maksud?" ucap wanita tersebut.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Dee cepat dalam bahasa Yaman.
Tim penyelamat wanita tersebut menatap kearah Dee. "Keadaan kursi rodanya sudah hancur. Dan kami menemukan satu tasbih kecil yang masih utuh di pegangan tangan kursi roda tersebut," ucap wanita tersebut memberikan tasbih tersebut.
Mata mereka semua membulat sempurna. Itu adalah tasbih milik Zahra. Dee ingat betul, ini adalah tasbih yang dia berikan pada Zahra saat Zahra berulang tahun yang ke lima belas tahun.
"Dee," ucap Sofia mempertanyakan kebenaran semuanya.
Dengan air mata bercucuran, Dee memandang satu persatu keluarganya. "Mereka menemukan kursi roda Zahra sudah hancur, dan hanya tasbih ini yang masih utuh di pegangan tangan kursi roda Zahra, hiks," ucap Dee memberitahu mereka semua.
"Bisa kita ketempat itu sekarang, Umi?" tanya Kenzo sendu. Dia ingin memastikan semuanya sendiri. Hatinya kuat bahwa Zahra pasti akan selamat.
"Bisa kita ke tempat kau menemukan benda ini?" tanya Dee pada wanita tersebut.
Wanita tersebut mengangguk. Mereka semua berjalan meninggalkan tempat pengungsian dan berjalan menuju lokasi ditemukannya kursi roda Zahra dan tasbih tersebut.
......................
Akhirnya aku update lagi. Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz