Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 70



🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini adalah pagi yang begitu berbeda bagi Kenzo. Senyum tidak terbit dari lelaki tampan itu sejak tadi dia bangun dari tidur nyamannya. Hari ini, dia bangun dengan pemandangan yang sangat menyegarkan matanya setelah sekian lama.


Sela, gadis mungil itu menyejukkan mata dan hati Kenzo saat dia membuka matanya. Bayangan yang selama ini hanya jadi angan-angan Kenzo, akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Kenzo menciumi seluruh wajah Sela berniat membangunkan anak itu.


Karena Sela yang tidak kunjung bangun, Kenzo menggigit-gigit kecil pipi bulat Sela. Sela yang merasa terganggu dalam tidurnya akhirnya mulai membuka mata.


"Ayah," panggil Sela dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Kenzo tersenyum. "Akhirnya bangun juga," ucap Kenzo.


Sela merubah posisinya menjadi duduk. Anak itu memandang lama wajah lelaki yang merupakan Ayah kandungnya sendiri. Tangan mungil Sela terangkat untuk mengelus lembut pipi Kenzo.


"Telnyata Cela tidak mimpi," ucap Sela disertai dengan senyum manisnya.


"Ini kenyataan, Nak. Ayah ada untuk Sela," ucap Kenzo dengan tangan terangkat menggenggam tangan mungil Sela yang ada di pipinya.


"Mau sholat bersama Ayah?" tanya Kenzo.


Mata Sela berbinar. Anak itu mengangguk antusias mengiyakan ajakan Kenzo.


"Kita wudhu dulu, ya," ucap Kenzo menggendong tubuh mungil Sela dan membawanya ke kamar mandi.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kenzo dan Sela sedang menikmati sarapan mereka. Sela nampak lesu dan hanya menatap nasi goreng di depannya.


"Sela kenapa, Nak?" tanya Kenzo yang melihat raut wajah Sela.


"Buna cudah calapan belum ya, Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo. Dia takut, disini dia bisa sarapan enak, sedangkan Bundanya tidak sarapan karena sibuk mengurus donat-donat yang akan dibawa ke warung. Karena biasanya, Sela yang bersikeras memaksa Zahra untuk sarapan.


"Sela khawatir?" tanya Kenzo.


Sela mengangguk. "Buna celing lupa waktu kalau udah cama donat-donatnya, Ayah," jawab Sela yang mampu mengundang tawa Kenzo.


Sela yang mendengar tawa Ayahnya mengernyit heran. "Ayah kenapa teltawa?" tanya Sela.


Kenzo menggeleng. Kamu sangat polos, Nak. Batin Kenzo. Kenzo mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Tangan Kenzo nampak mengotak-atik ponselnya mencari sesuatu.


"Ini Bunda," ucap Kenzo memberikan ponselnya kepada Sela.


Mata Sela berbinar melihat video yang ada di ponsel Kenzo. "Ini datangnya dali mana, Ayah?" tanya Sela antusias melihat kegiatan Bundanya yang sedang sarapan bersama Bu Sari.


Kenzo tersenyum melihat keantusiasan anaknya. "Itu rekaman CCTV, nak," jawab Kenzo.


Sela nampak berpikir sebentar. Sepertinya di pernah mendengar kata-kata CCTV. "Itu cama kayak yang di cekolah Cela ya, Ayah?" tanya Sela. Karena seingat anak itu, di kelas juga ada kamera yang namanya CCTV.


Kenzo mengangguk. "Ayah pasang ini tanpa sepengetahuan Bunda, kameranya juga tersembunyi. Jadi, Sela jangan bilang-bilang Bunda, ya. Ayah pasang kamera biar bisa pantau Bunda dan Sela terus. Biar Ayah bisa jagain Sela dan Bunda," jawab Kenzo menjelaskan pada anaknya.


Sela hanya mengangguk menanggapi ucapan Kenzo. Perkataan Kenzo yang cukup panjang membuatnya harus berpikir untuk mencerna maksudnya.


"Ini ponsel Ayah," ucap Sela mengembalikan ponsel Kenzo. Kenzo menerima ponsel tersebut, dan Setelah itu mereka kembali melanjutkan sarapan.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Kenzo saat ini berada di mobilnya. Kenzo menyerahkan semua pekerjaannya kepada Arman. Karena saat ini, ada pekerjaan yang lebih penting baginya. Yaitu mencuri hati Zahra.


"Baiklah, judulnya sekarang adalah mencuri kembali hati istriku," gumam Kenzo sambil mengatur nafasnya. Kenzo sudah berada di parkiran toko kue tempat Zahra bekerja. Senyum terbit di wajah Kenzo saat melihat Zahra yang sedang melayani seorang pembeli wanita.


"Istriku memang cantik," ucap Kenzo. Namun senyum di wajah Kenzo luntur saat melihat seorang pria yang sedang berbicara dengan Zahra. Dan Zahra nampak sangat akrab dengan lelaki itu.


"Siapa dia?" tanya Kenzo pada angin di mobilnya. Wajahnya sudah sangat kesal melihat lelaki itu bicara dengan Zahra. Padahal mereka hanya bicara, tidak melakukan apapun.


"Dasar lelaki gatel," gerutu Kenzo turun dari mobil dan berjalan memasuki toko kue.


"Hai Sayang," ucap Kenzo tanpa malu memeluk pinggang Zahra posessive. Zahra yang mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu dari Kenzo terlonjak kaget.


Zahra menatap Kenzo dengan mata bulat yang menunjukkan raut wajah kesalnya. Tangan Zahra mencoba untuk melepaskan pelukan tangan Kenzo dari pinggangnya.


"Lepasin," ucap Zahra pelan namun terdengar sangat tegas ditelinga Kenzo. Zahra terus mencoba tersenyum kepada pengunjung. Semakin Zahra berusaha melepaskan tangan Kenzo, semakin erat Kenzo memeluk pinggang Zahra.


Lelaki yang menjadi pengunjung toko hanya tersenyum melihat itu.


Pemuda seumuran Kenzo tersebut mengangguk. "Anda beruntung sekali mendapat suami yang sangat mencintai anda, Nona," ucap Pemuda tersebut.


Zahra hanya tersenyum kaku dan mengangguk. Dia menatap Kenzo dengan tatapan permusuhan. Kenzo yang ditatap seperti itu hanya tersenyum tampan.


"Aku tunggu disana, ya Sayang," ucap Kenzo menunjuk sebuah kursi kosong di sudut ruangan toko.


Zahra tidak menjawab. Dia hanya diam melihat tingkah Kenzo. Kenzo yang melihat itu tersenyum geli. Menyenangkan juga melihat wajah istirnya yang nampak menggemaskan karena menahan kekesalan.


Cup


"Aku tunggu disana, ya," ucap Kenzo yang langsung pergi setelah mencuri sebuah ciuman di pipi Zahra. Zahra memegang mendapat perlakuan tiba-tiba Kenzo. Kekesalan begitu merasuki diri wanita itu karena tingkah Kenzo. Tangannya terangkat meraba pipi yang masih terasa basah karena dicium Kenzo.


Pipi Zahra merona karena malu. Sungguh, Kenzo benar-benar mengganggunya saat ini. Zahra memandang kikuk pada pengunjung didepannya. "Maaf atas perlakuannya, Tuan," ucap Zahra tak enak.


Pemuda tersebut hanya mengangguk. Setelah itu mereka kembali melanjutkan kegiatan jual beli yang tadi tertunda karena kedatangan dan keanehan Kenzo.


....


"Ngapain disini?" tanya Zahra ketua menghampiri Kenzo.


Kenzo yang sejak tadi asik dengan ponselnya menoleh. Dia tersenyum setelah melihat Zahra yang datang menghampirinya.


"Melihat istriku," ucap Kenzo.


Kenzo meraih tangan Zahra, namun Zahra menolak. "Duduk dulu, Sayang," ucap Kenzo lembut.


Dengan segala kekesalannya, Zahra duduk di kursi depan Kenzo yang dibatasi oleh sebuah meja. Kenzo melihat sekelilingnya, ada beberapa mata memperhatikan mereka. Kenzo tersenyum mengangguk menatap mereka semua. "Maaf, istri saya sedikit sensitive. Bawaan bayi," ucap Kenzo dengan santainya yang mampu menambah kekesalan Luar biasa pada diri Zahra.


"Dasar gila!" desis Zahra tegas.


Kenzo hanya menanggapi dengan tawa kecil yang keluar dari mulutnya.


"Aku rela gila demi cintamu, Sayang," jawab Kenzo.


Zahra yang mendengar itu mencoba meredakan emosinya. Ucapan Kenzo bisa-bisa membuatnya darah tinggi.


"Pergi dari sini," ucap Zahra.


Bukannya pergi, Kenzo malah mencoba meraih tangan Zahra. "Jangan sentuh saya!" tolak Zahra langsung.


"Jangan bersikap jijik dengan menyentuh wanita yang bukan siapa-siapa anda!" ucap Zahra memperingatkan Kenzo.


Kenzo tersenyum lembut. "Aku menyentuh istriku. Tidak ada yang salah," jawab Kenzo tenang.


"Jangan lupa, statusku adalah mantan istrimu!" ucap Zahra.


"Ayolah, Sayang. Jangan sering marah begitu, ingat anak kita," ucap Kenzo melihat kearah perut Zahra dan sedikit menaikan volume suaranya agar semua orang mengetahui apa yang dia katakan.


Kamu tetap istriku, Zahra. Surat cerai itu tidak pernah ketuk palu. Batin Kenzo.


Zahra yang merasa malu melihat sekelilingnya. Dan benar saja, banyak pengunjung yang melihat kearah mereka. "Astagfirullahalazim," ucap Zahra meredakan emosinya.


Kenzo yang melihat reaksi Zahra hanya tersenyum. Bagaimana jika Zahra tahu bahwa aku pernah mencium bibirnya. Bisa-bisa aku mati saat ini juga. Batin Kenzo membayangkan apa yang pernah dia lakukan.


Setelah tenang, Zahra berdiri dari duduknya. "Usahamu akan sia-sia!" ucap Zahra dan langsung pergi meninggalkan Kenzo sendiri.


Setelah kepergian Zahra, Kenzo menatap keluar jendela. Tidak terasa air mata jatuh dari sudut matanya. "Sesak sekali," gumam Kenzo memegangi dadanya. Dengan sekuat hatinya, Kenzo menerima setiap ucapan Zahra. Dia membuang malu untuk segala usahanya.


"Ini tidak sebanding dengan apa yang dulu aku lakukan padamu, Sayang. Tapi rasanya sudah se sesak ini," gumam Kenzo.


Aku bisa lebih gila dari ini jika kamu pergi. Usahaku tidak akan berhenti begitu saja. Kata-katamu tidak akan mengehentikan aku, Sayang. Batin Kenzo dengan segala tekad kuatnya.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya. Maaf jika aku tidak update beberapa hari ini.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘


Author akan usahakan update tiap hari teman-teman, walau hanya satu episode. Semoga kalian tidak bosan dan lari dari cerita aku ya 🤗😘🌹