Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 185



🌹HAPPY READING🌹


Arman menatap sekeliling ruangan Kenzo. Mata Arman membola melihat lantai yang menjadi pintu penghubung ruang rahasia dengan ruangan Kenzo terbuka.


"Tuan."


"Biar saya yang tangani. Tolong temani Sela," ucap Kenzo berusaha tenang.


Arman mengangguk patuh. Lelaki itu membawa Sela keruanganya untuk makan bersama.


Setelah Sela pergi bersama Arman, Kenzo langsung menuruni tangga ruang rahasia itu dengan langkah cepat.


Lima belas tangga terakhir, Kenzo melihat Zahra yang berdiri mematung.


"Sayang!" panggil Kenzo berteriak pada Zahra.


Zahra tidak mengindahkan panggilan Kenzo. Kakinya terus melangkah mendekati ruangan jeruji besi yang digembok itu. Kedua tangan Zahra gemetar takut, tapi entah kenapa dia tetap mau mendekat.


Kenzo yang melihat Zahra tidak mengindahkan panggilannya mempercepat langkahnya.


"Itu bahaya, Sayang!" ucap Kenzo ketika tangan Zahra sudah akan menyentuh jeruji besi itu.


"Tapi ini sedikit lucu, Mas," ucap Zahra. Meskipun wajahnya tegas, tapi nampak raut penasaran dalam dirinya.


Sesuatu yang berada dalam kandang besi itu menggaung. Dia yang awalnya tidur seketika terbangun mendengar suara dua manusia yang mendatanginya.


"Hai," sapa Zahra.


"Jangan Sayang!" larang Kenzo dan langsung menari tangan Zahra yang akan dia masukan ke kandang besi itu melalui celah yang ada antara jeruji besinya.


"Ih, dia lucu Mas. Aku mau pegang," ucap Zahra memohon.


"Kamu mau dimakannya?" tanya Kenzo menakuti.


"Dia tahu mana orang baik dan mana yang bukan," jawab Zahra tak mau kalah. Sungguh, saat ini dia sangat ingin mengusap rambut halus milik makhluk didepannya itu. Nampak sangat bersih dan lembut.


Kenzo menatap makhluk di depannya dan memberi kode. "Kemari, King," ucap Kenzo.


"Wah, nama yang bagus," ucap Zahra kegirangan mendengar Kenzo memanggil makhluk itu.


"Halo," ucap Zahra mengusap lembut kepala makhluk itu dari luar. Benar apa kata Zahra, makhluk didepannya itu tahu mana yang tulus dan yang tidak. Seakan nyaman, makhluk itu memejamkan mata ketika tangan lembut Zahra menyentuh bulu-bulunya.


"Kamu beli dimana singa putih ini, Mas? Aku suka," ucap Zahra bertanya dengan ekspresi kagumnya.


Ya, makhluk yang membuat Zahra takut dan menegang tadi adalah singa putih milik Kenzo. Singa ini memang nampak imut, tapi jika seseorang tahu kegunaan singa ini, maka keimutan itu akan hilang seketika.


"Sudah sayang. Ini bahaya, ayo kita balik ke atas," ucap Kenzo membujuk Zahra.


"Anak kamu masih mau usap-usap King, Mas," cemberut Zahra tak mau kembali ke ruangan Kenzo.


Kenzo menaikkan sebelah alisnya. "Anak aku nggak mungkin ngidam yang membahayakan dirinya, Sayang," jawab Kenzo.


"Tapi King sepertinya nyaman sama aku. Buktinya, dia anteng waktu aku usap. Iya kan King?" tanya Zahra beralih pada singa putih itu.


Singa putih itu menjawab dengan sedikit menggaung ringan dan menggerak-gerakkan kepalanya.


"Tuh, dia tahu banget mencari kenyamanan sama perempuan," ucap Zahra senang.


Kenzo menatap datar singa dan istrinya itu. Dia takut Zahra akan trauma atau takut dan berakhir pingsan karena melihatnya, tapi dugaannya salah. Zahra tampan sangat menyukainya. Tapi jika berlama-lama diruangan ini, bisa berakibat buruk untuk Kenzo sendiri. Zahra bisa mengetahui semuanya.


"Sayang!" panggil Kenzo dengan suara yang tegas.


Zahra yang mendengar panggilan Kenzo seketika tersenyum tanpa dosa. "Iya, Mas. Tunggu aku pamit dulu sama King," ucap Zahra.


"King, aku pergi dulu, ya. Semoga nanti, kamu dan anak aku yang akan lahir bisa berteman, dan pastinya aku doakan kamu panjang umur," ucap Zahra sambil mengusap-ngusap bulu badan King.


"Ayo," ajak Kenzo dan langsung membawa Zahra berjalan menuju tangga.


Saat berada di anak tangga pertama, telinga Zahra mendengar suara rintihan. Seperti rintihan manusia. Batin Zahra menghentikan langkahnya.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Kenzo.


Zahra tidak mempedulikan pertanyaan Kenzo. Dia semakin menajamkan telinganya. Dan ya, dia mendengar seseorang merintih meminta tolong dengan sangat pelan.


Zahra membalikan badannya dan mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga. "Mas, ini tempat apa sebenarnya?" tanya Zahra menatap Kenzo serius.


"Ya kandang King, Sayang," jawab Kenzo berusaha santai. Sejak tadi, telinga Kenzo juga menangkap suara rintihan tahanannya. Tapi dia berpura-pura tidak tahu agar Zahra tidak ikut mendengar.


Zahra mengedarkan pangannya ke segala arah. Hingga matanya menangkap sesuatu yang aneh disebelah kandang King. "Mas, itu pintu apa?" tanya Zahra yang baru sadar ada pintu disana. Karena asik dengan king, jadi Zahra tidak memperhatikan sekitarnya.


"Bukan apa-apa, Sayang," jawab Kenzo lembut. Padahal jantungnya sudah ingin keluar dari tempatnya saat ini. Kalau begini, tidak ada jalan untuk mengelak dan menyembunyikan semuanya lagi.


Zahra tidak percaya. Dia berjalan meninggalkan Kenzo ditempatnya.


"Buka Mas!" ucap Zahra. Dua semakin yakin, karena suara itu semakin jelas terdengar dari balik pintu.


"Sayang-"


"Tidak dan kita kembali ke atas," ucap Kenzo dan meraih tangan Zahra. Namun sayang, Zahra menghentakkan tangan Kenzo dengan kasar hingga terlepas.


"Buka Mas!" ucap Zahra lagi.


Kenzo menghela nafas kasar dan mengusap rambutnya frustasi. "Sidik jari kamu di pintu itu," jawab Kenzo. Ya, selain sidik jarinya, sidik jari Zahra dan Sela juga bisa digunakan untuk membuka pintu itu. Tidak sulit untuk Kenzo mendapat sidik jari anak dari istrinya itu. Selain sidik jari, pintu juga bisa dibuka dengan kata sandi yang sudah dibuat oleh Kenzo.


Zahra mendekatkan jari telunjuknya.


Klik.


Bisa, pintu terbuka dengan sendirinya.


DEG


"To-tolong," rintih seseorang yang Zahra liat digantung dengan kedua tangan diikat ke atas dan kaki menggantung.


Zahra menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Mas," panggil Zahra menatap Kenzo tak percaya.


Para penjaga dan bodyguard yang ada berada dirumahnya juga dibuat kaget karena kedatangan Tuan mereka bersama wanita yang mereka ketahui adalah istri tuannya.


"Dia begitu karena kesalahannya, Sayang. Jangan minta aku untuk melepaskannya," ucap Kenzo tegas.


"Tapi tidak dengan begini, Mas," ucap Zahra tak percaya menatap lelaki yang kini tak berdaya dengan hidupnya sendiri.


"Siapa dia, Mas?" tanya Zahra.


Kenzo menghela nafas pelan. Dia menggandeng tangan Zahra dan melangkah agar lebih mendekati lelaki itu.


"Seseorang yang membuat perusahaan rugi besar. Penghianat pantas mendapatkan ini!" ucap Kenzo datar.


Zahra yang mendengar itu mengusap perutnya. Hatinya mengatakan tindakan suaminya tidak baik, tapi keinginannya ingin sekali menampar lelaki yang sangat malang itu. Nak, kamu jangan meniru Ayah dong. Batin Zahra sambil tetap mengusap tangannya.


"Ke-keluarganya bagaimana, Mas?" tanya Zahra ragu.


"Anak dan istrinya bagaimana?" tanya Zahra lagi.


"Istrinya sudah diberi modal oleh perusahaan untuk membuka usaha. Sedangkan untuk anak-anaknya, biaya pendidikan mereka akan ditanggung perusahaan sampai selesai," jawab Kenzo.


Zahra menghela nafas pelan. Setidaknya, suaminya masih memiliki hati. Ya, meskipun sedikit.


Kenzo menaikkan alisnya bingung melihat reaksi Zahra. Dia kira Zahra akan histeris dan memohon untuk melepaskan lelaki itu. Dia kira, Zahra akan menamparnya atau mencaci makinya atas semua ini. Tapi ini, Zahra nampak biasa saja.


"Dia mengambil uang perusahaan untuk judi online dan bermain perempuan. Menghidupi wanita lain dan menelantarkan istri serta anaknya," ucap Kenzo menjelaskan lebih detail kesalahan lelaki ini.


Zahra berjalan mendekati lelaki itu. "Turunkan dia sedikit," ucap Zahra pada para bodyguard suaminya.


"Sayang," protes Kenzo tak terima.


"Turunkan sedikit, Mas," ucap Zahra lagi.


Kenzo menghela nafas pelan. Dia memberi kode para anak buahnya agar menurunkan lelaki itu sedikit sehingga kakinya menapaki lantai.


Zahra memandang dari atas hingga kebawah lelaki tersebut.


PLAK


Satu tangan Zahra menampar kuat lelaki itu dengan sangat kuat, dan satu tangannya lagi mengusap perutnya. Kenzo yang melihat tindakan istrinya tentu sangat terkejut akan hal ini. Ini benar-benar diluar dugaannya sekali.


"Itu untuk kamu yang sudah menyakiti dan mengkhianati wanita dengan bermain api bersama wanita lain. Itu juga untuk segala sakit hati anakmu yang tidak tahu bagaimana kelakuan bapaknya. Aku tidak menamparmu karena merugikan perusahaan suamiku. Tapi aku menamparmu karena menyakiti hati wanita dan darah daging mu sendiri!" ucap Zahra tegas menunjuk wajah lelaki itu.


Zahra menghela nafas pelan dan berjalan mundur setelah puas dengan apa yang dia lakukan. Kamu sudah puaskan, Nak. Batin Zahra mengusap perutnya.


"Lelaki memang bisanya menyusahkan wanita," gerutu Zahra yang membuat semua bodyguard dan juga Kenzo menatapnya tak terima.


"Apa? Memang kenyataannya begitu. Kalian tidak terima? Iya?!" ucap Zahra garang dan melotot menatap mereka semua.


"Tapi aku tidak, Sayang," ucap Kenzo membela diri.


"Sama saja, Mas. Hanya saja kamu tidak separah dia," ucap Zahra dan langsung berlalu keluar ruangan itu.


Kenzo dibuat melongo karena tingkah istrinya itu. Menggemaskan sekali. Batin Kenzo.


"Kau membuat kaum lelaki ternoda!" ketus Kenzo dan berjalan menyusul Zahra.


"Lanjutkan hukumannya!" ucap Kenzo pada para bodyguard nya sebelum benar-bener keluar.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏