
🌹HAPPY READING🌹
Siang ini Alan datang berkunjung ke perusahaan Al untuk membicarakan penyelidikannya.
"Uncle," ucap Al ketika melihat Alan yang memasuki ruangannya.
Tanpa aba-aba, Alan langsung saja duduk di sofa ruangan Al. Perusahaan orang lain bagai milik sendiri. Al ikut menyusul Alan yang duduk di sofa. "Bagaimana Uncle?" tanya Al tanpa basa-basi.
Alan terkekeh mendengar pertanyaan Al. Pria paruh baya itu nampak gagah dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. "Kau tidak menawariku minum atau cemilan terlebih dahulu?" ucap Alan tanpa menjawab pertanyaan Al.
"CK, Uncle buat sendiri di dapur," jawab Al.
"Benar-benar menyebalkan," ucap Alan kesal dengan jawaban anak dari sahabatnya itu.
"Katakan Uncle, bagaimana penyelidikannya?" tanya Al lagi.
Alan menghela nafas pelan. Wajahnya berubah serius dengan badan yang sudah duduk tegap di sofa. "Sangat sulit menyelidikinya, Al," ucap Alan.
"Maksud Uncle?" tanya Al bingung.
"Aku rasa suami Kinzi tahu bahwa aku mengikutinya tadi pagi. Dia lebih cerdik dari pada yang aku bayangkan," jawab Alan.
"Apa itu artinya ada yang tidak beres, Uncle?" tanya Al hati-hati.
Alan mengangguk. "Jika dia tidak berbuat sesuatu, maka dia tidak akan menghindar dariku," jawab Alan.
"Uncle," panggil Al pelan yang membuat Alan menatapnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Apa ini berarti ada yang tidak beres dengan Zahra? Apa Zahra dalam bahaya?" tanya Al takut.
Alan menggeleng. "Itu yang tidak bisa aku pastikan Al. Sangat sulit menyelidiki Kenzo. Dia punya banyak cara untuk menghindar. Dan satu hal, dia sepertinya curiga bahwa kita menyelidikinya," ucap Alan.
Al menghembuskan nafas pelan dan menyandarkan punggungnya lelah. "Apa Al harus turun tangan langsung jika sudah seperti ini?" tanya Al.
Alan menatap Al. "Memang apa yang kau khawatirkan, Al? Zahra menikah dengan Kenzo yang jelas-jelas adalah sahabatmu sendiri," ucap Kenzo bingung. Sebab Al tidak mengatakan penyebabnya meminta Alan untuk menyelidiki Kenzo. Al hanya mengatakan bahwa Alan harus menyelidiki kegiatan sehari-hari Kenzo dan Zahra.
"Ada satu hal yang membuat Al ragu, Uncle," ucap Alan.
"Apa?" tanya Alan penasaran.
Al menggeleng. "Biar Al memastikan sesuatu dulu, Uncle," jawab Al.
"CK, bersikap sok bisa," ucap Alan ketus mendengar jawaban Al.
"Uncle, hentikan saja penyidikannya, biar Al sendiri yang turun tangan. Al akan melangkah dengan cara Al sendiri," ucap Al menatap Alan serius.
Alan mengangguk. "Baiklah, tapi jika butuh bantuan, hubungi Uncle," ucap Alan.
Al mengangguk. "Uncle, boleh Al minta satu hal?" ucap Al.
"Katakanlah."
"Jangan beritahu ini kepada Abi dan Uncle Kevin. Biar ini jadi rahasia kita. Al mau melihat semuanya dengan jelas terlebih dahulu," ucap Al.
"Kau yakin?"
Al mengangguk pasti. "Ini demi Adik Al, Uncle," jawab Al yakin.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Zahra keluar dari rumah dan pergi ke halaman depan dengan kursi rodanya untuk menyiram bunga. Dengan bantuan Satpam, Zahra bisa menuruni tangga teras dengan baik.
Saat sedang asik dengan kegiatannya, tiba-tiba datang seorang pemuda yang nampak seusia dengan Zahra. "Assalamu'alaikum," ucap Pemuda tersebut ramah.
Dahi Zahra berkerut bingung. Pasalnya ini batu pertama kali dia melihat seorang pemuda yang ada di depannya. Pemuda itu nampak menenteng sebuah paper bag yang entah apa isinya, Zahra tidak tahu.
"Maaf, mencari siapa ya?" tanya Zahra lembut.
Pemuda itu nampak terkesima untuk beberapa saat melihat wajah manis Zahra yang tersenyum lembut kepadanya. Tapi cepat-cepat dia menutupinya dengan senyum manis, membalas senyuman Zahra.
"Saya mau menanyakan alamat ini," ucap pemuda tersebut menunjukkan sebuah kertas kepada Zahra.
Zahra yang melihat itu bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia juga baru disini. "Maaf, Saya tidak tahu alamat ini. Saya juga baru beberapa Minggu tinggal disini," ucap Zahra tak enak.
"Ah baiklah, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum," ucap pemuda tersebut pamit.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Diseberang jalan, Kenzo yang baru sampai di depan rumahnya langsung berhenti melihat Zahra yang sedang berbicara dengan seorang pemuda yang nampak.seusia Zahra.
Tangan Kenzo mencengkram kuat stir mobil melihat Zahra yang tersenyum kepada pemuda tersebut. "Berani-beraninya tersenyum pada istriku," ucap Kenzo tajam.
Kenzo melihat ke gerbang rumahnya dan tidak ada satpam disana. "Pantas saja dia bisa masuk. Lagian Satpam kemana sih?" ucap Kenzo kesal.
Melihat pemuda sudah pergi dengan motornya, Kenzo langsung menjalankan mobilnya untuk memasuki rumahnya.
Zahra yang melihat mobil Kenzo masuk langsung berjalan menuju kran air untuk mematikannya dan dengan segera menjalankan kursi rodanya agar tidak bertemu dengan Kenzo.
Zahra hanya takut, jika Kenzo melihatnya memakai kursi roda, Kenzo akan memaksanya untuk turun dari kursi roda.
"BERHENTI ZAHRA!" teriak Kenzo saat Zahra sudah hampir sampai di depan tangga teras rumah.
Zahra mengentikan kursi rodanya dengan badan gemetar. Dia tidak kuat jika harus menyeret dirinya untuk memasuki rumah saat ini.
Tapi apa yang Zahra pikirkan ternyata tidak terjadi. Zahra mengangkat kepalanya ketika merasakan kursi rodanya di dorong dari belakang dan sedikit di angkat ketika menaiki tangga teras.
"Ka-Kak Ken," ucap Zahra gugup menatap Kenzo yang sedang mendorong kursi rodanya.
Kenzo hanya diam dengan terus mendorong kursi roda Zahra. Sampai di ruang tamu, Kenzo melepaskan kursi roda Zahra dengan kasar hingga sedikit mengenai sofa.
"Sekali lagi aku melihatmu berbicara dengan laki-laki lain, jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang lebih menyakitkan dari kemarin malam, Zahra!" ucap Kenzo tegas menatap Zahra tajam.
Bukannya marah, bibir Zahra mengulum senyum tertahan diwajahnya. "Apa Kak Ken cemburu?" tanya Zahra.
Kenzo tersenyum remeh menatap Zahra. "Cemburu? Yang benar saja. Aku hanya tidak ingin pemuda tadi masuk ke dalam perangkap murahan mu!" jawab Kenzo tajam.
Zahra mencoba tersenyum. "Dia hanya menanyakan alamat kepada Zahra, Kak. Tidak ada hal lain," ucap Zahra menjelaskan.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun, jangan keluarkan sikap murahan mu itu kepada orang lain. Itu sangat memalukan!" ucap Kenzo dan langsung berjalan meninggalkan Zahra yang terdiam mendengar perkataan Kenzo.
"Kak Ken," panggil Zahra sedikit teriak yang dapat menghentikan langkah kaki Kenzo.
Kenzo berbalik dan menatap Zahra dengan tatapan dingin.
"Apa Zahra boleh menggunakan kursi roda?" tanya Zahra berani.
"Gunakan kursi roda jelek mu itu. Jangan kotorri lantai rumahku dengan bersentuhan dengan kulitmu," ucap Kenzo tajam dan langsung menaiki tangga.
Zahra hanya tersenyum mendengar jawaban Kenzo. "Secara perlahan, Malaikat dalam diri Kak Ken mengeluarkan kebaikannya meskipun dengan cara yang menyakitkan," gumam Zahra senang.
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz