Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 205



🌹HAPPY READING🌹


Pria itu mengangguk. Dia sudah tau cerita ini dari Kevin. Dia tahu semuanya. "Sekarang tidak akan ada lagi pengkhianatan, Nak," ucap pria tua itu pasti.


Zahra mengangguk. Pria itu berjalan meninggalkan Zahra dan berhenti tepat di depan Kenzo.


Kenzo yang melihat pria tua itu berhenti di depannya sontak berdiri. Kenzo tahu apa yang akan terjadi. Dengan yakin, Kenzo menggeser langkahnya ke belakang agar pria didepannya lebih leluasa untuk mengatur jaraknya.


BUGH


"BABA!"


"TUAN MURAT!"


"Eriye, bawa Sela ka kamarnya!" Eriye yang mendengar perintah tegas dari Tuanya langsung mengambil Sela Sari pangkuan Kevin. Sela sempat menolak, tapi karena sedikit paksaan, akhirnya anak itu menurut.


"Sudah aku bilang untuk tidak melakukannya di depan cucuku, Baba," ucap Kevin tegas.


Zahra yang melihat Kenzo jatuh tersungkur dengan kepala membentur meja langsung berlari mengejar sang suami. "Kakek kenapa pukul suami Zahra?" tanya Zahra kaget.


Murat, lelaki yang sejak tadi dipanggil Kakek oleh Zahra tidak mengindahkan perkataan cucunya itu. "Minggir Nak," ucap Murat.


"Zahra minggir!" ucap Murat lebih tegas lagi.


Zahra menggeleng. "Ini suami Zahra," ucap Zahra tidak kalah tegas.


Nende yang sejak tadi menyaksikan langsung mendekati Zahra dan menarik lembut tangan wanita itu untuk sedikit menjauh. "Ini hanya sedikit perkenalan, Nak," ucap Nende lembut.


"Tapi Bu Nende-"


"Ayo," ajak Bu Nende lagi.


Kenzo yang melihat tatapan khawatir Zahra tersenyum dan mengangguk. "Menjauh lah, Sayang. Ini hanya sebentar, dan tidak akan sakit," ucap Kenzo meyakinkan Zahra.


"Mas."


"Kemari Zahra," ucap Kevin lembut.


Dengan langkah berat, Zahra pasrah ditarik oleh Nende untuk menjauh dari Kenzo.


Murat menarik kerah baju Kenzo agar berdiri. Lelaki tua itu mendadak mendapat kekuatan banyak untuk salam perkenalannya ini.


BUGH


Satu pukulan tangan Murat kembali melayang di wajah Kenzo. Kali ini pria itu tidak terjatuh, tapi kepalanya terasa hampir berpisah dari tubuhnya.


"Ini untukmu yang dulu menyakiti cucuku!"


BUGH


"Ini untukmu yang merenggut kewanitaan cucuku dengan sangat menyakitkan!"


"Kakek berhenti!" histeris Zahra melihat sang suami yang terjatuh tak berdaya dilantai.


Murat diam. Dia terus melakukan apapun yang dia inginkan karena telah menahan diri selama ini.


BUGH


"Ini untukmu yang menceraikan cucuku setelah mendapat surga duniamu!"


BUGH


Dee yang melihat Kenzo hanya pasrah tidak bisa menahan lagi. Dia hendak melangkah membantu Kenzo. Namun Ibra segera menahannya. "Biarkan Sayang," ucap Ibra.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Mas," ucap Dee tak terima.


"Memang begini cara lelaki saat berkenalan," jawab Ibra.


"Mas!"


"Diam dan lihat saja," tegas Ibra.


Dee menghela nafas pasrah. Dia menatap ngilu melihat wajah Kenzo yang sudah memar dan darah yang mengalir disudut bibir, tulang pipi dan juga hidungnya. Serta pelipis lelaki itu yang sedikit sobek dan memperlihatkan daging segar berwarna pink nya.


"Ini untuk dirimu yang membuat air mata cucu buyut ku menjadi anak yatim!"


BUGH


"Dan itu, untuk semua air mata cucuku!" tegas pria tua itu menunjuk wajah Kenzo yang sudah penuh darah.


"Kakek cukup, hiks. Jangan keterlaluan!" teriak Zahra dengan terus berusaha melepaskan pegangan tangan Nende pada tangannya.


Mendengar tangis Zahra, Murat menghentikan tangannya yang akan kembali melayangkan tinjunya ke wajah Kenzo. Murat membantu Kenzo berdiri dan merapikan kerah baju yang sudah terkena noda darah itu.


Murat menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan. Senyum terbit di wajahnya begitu melihat Kenzo yang juga tersenyum kepadanya. "Kau tentu tahu kenapa aku melakukan itu, bukan?" tanya Murat.


Kenzo mengangguk lemah. "Makanya aku tidak melawan sedikitpun. Aku menerima semuanya," jawab Kenzo.


Murat mengangguk. Tanpa ngilu sedikitpun, pria tua itu menampar pelan tulang pipi Kenzo yang terluka. "Jadilah pria sejati dengan cinta dan tanggung jawabnya!" ucap Murat tegas.


Kenzo sedikit meringis. Namun dia tetap mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Murat.


"Cara kalian sangat tidak bisa dibenarkan, Paman," ucap Dee kesal.


Murat terkekeh pelan. "Sebelum kalian sampai disini, aku sudah menyampaikan apa yang akan aku lakukan pada Kevin, Ibra, dan juga cucu mantuku ini, Nak Dee. Jadi kamu tidak usah khawatir," jawab Murat santai.


Dengan tenangnya, lelaki itu berjalan mendekati sofa singel dan duduk disana. "Wajahmu cukup keras juga," ucapnya meregangkan telapak dan punggung tangannya yang terasa sedikit kebas.


Kenzo berdecak kesal. "Tangan Kakek yang sudah tua," jawabnya seraya duduk kembali di sofa yang semula memang dia duduki.


Zahra yang melihat itu langsung berlari setelah Nende benar-benar melepaskan tangannya.


"Kakek keterlaluan!" ucap Zahra kesal setengah mati. Bisa-bisanya lelaki tua itu melakukan kekerasan saat dirinya dan Dee ada di depan mereka.


"Itu hanya sebuah salam perkenalan, Sayang," jawab Murat santai.


"Burası tıp şehri hanımefendi (Ini kotak obatnya, Nyonya)," ucap seorang pelayan datang dengan kotak berwarna putih ditangannya.


"Tahan sedikit ya, Mas," ucap Zahra khawatir.


Kenzo tersenyum. "Iya Sayang," jawab Kenzo lembut dengan pandangan mengejek kepada Murat.


Murat yang melihat itu memutar bola mata malas. Benar apa yang dikatakan Kevin, cucu menantunya itu benar-benar handal dalam membuat orang kesal dan darah tinggi. Jadi tidak heran, jika cucu buyutnya juga begitu.


"Untuk suami Zahra ganteng, jadi wajahnya tetap ganteng walau Kakek pukul sekeras apapun," ucap Zahra.


"Masih gantengan Kakek waktu muda," jawab Murat percaya diri.


"Dasar tua!" kompak Ibra dan Kevin mencibir Murat yang hanya terkekeh melihat mereka semua.


Melihat Zahra yang nampak serius mengobati luka Kenzo, Murat beralih menatap Dee.


"Dee," panggil Murat pelan.


Mereka semua yang mendengar panggilan Murat beralih serentak menatap Dee.


"Iya, Paman," jawab Dee lembut.


"Panggil Baba saja," ucap Murat.


Dee tersenyum. "Iya Baba," jawab Dee.


"Terimakasih atas ketulusan yang kamu berikan untuk cucuku, Dee," ucap Murat tulus.


Dee menggeleng. "Memang tugas seorang Ibu memberikan kasih sayang untuk anaknya, Baba," jawab Dee.


Zahra yang mendengar jawaban Uminya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Perempuan hebat Zahra. Batin Zahra haru.


"Terlepas dari apapun itu, aku sangat pantas untuk berterimakasih pada mu, Dee. Terimakasih telah mengajarkan hidup dan membesarkan cucuku dengan sepenuh hati," ucap Murat lagi.


Dee hanya mengangguk. Bagaimanapun dia menjawab, lelaki tua itu akan tetap kekeuh mengatakan terimakasih.


"Boleh saya tanya sesuatu, Baba?" tanya Dee lagi.


"Tanyakan lah, Nak," jawab Murat.


"Setelah saya melihat semua ini, Baba seperti sudah dekat dengan suami saya dan juga Kenzo. Padahal kan ini baru pertama kali kalian bertemu," ucap Dee bingung.


Murat tersenyum. "Kami sudah bertemu beberapa kali melalui panggilan video, Dee. Hanya saja kamu tidak mengetahui. Meskipun pertemuan kami tidak langsung dan intens, tapi aku senang bisa berkenalan dengan lelaki hebat yang selalu melindungi cucuku," jawab Tuan Murat menjelaskan.


"Jadi kamu juga udah tahu semua ini, Mas?" tanya Zahra pada Kenzo setelah mendengar jawaban Murat.


Kenzo mengangguk tersenyum. "Maaf Sayang. Kakek kamu yang meminta untuk merahasiakannya," jawab Kenzo yang tidak mau dirinya disalahkan sendiri.


"Kakek mau kasih kejutan, Nak. Dengan bantuan Atau juga," jawab Murat mengikut sertakan Kevin.


Kevin yang mendapat tatapan dari Zahra berusaha tenang. Meskipun tatapan anaknya itu nampak sangat kesal sekali. "Ayah hanya menjalankan kemauan Kakek untuk memberi kejutan, Nak. Lagi pula semua kejutan ini juga atas ide Abi mu," jawab Kevin menatap Ibra.


Ibra menatap kesal Kevin yang membawa-bawa namanya. "Sesekali kasih kejutan tidak akan rugi juga kan, Sayang, Nak," ucap Ibra tenang.


"Tapi besok-besok jangan main pukul lagi, ya," ucap Zahra lembut.


"Kakek nggak lihat tadi Sela sampai ketakutan melihat Ayahnya dipukul. Nggak baik," ucap Zahra mengomel.


"Yang penting suami kamu itu belum mati, Nak," jawab Murat santai.


Zahra mendengus kesal. "Kenapa lelaki di hidup Zahra Zahra selalu jago dalam membuat orang kesal. Tidak ayah, suami, Abi, sekarang ketemu Kakek juga sama kelakuannya!" ucap wanita itu terus mendumel.


"Awws, sakit Sayang," rengek Kenzo ketika Zahra menekan sedikit luka pelipisnya.


Setelah selesai membersihkan luka Kenzo. Zahra membersihkan kembali sampah dan memasukkan kembali peralatan kesehatan itu kedalam kotaknya.


Setelah itu, pandangan Zahra beralih pada Bu Nende yang sejak tadi duduk di Sofa seberangnya bersama seorang lelaki paruh baya. Kira-kira beberapa tahun diatas Kevin.


"Bu Nende," panggil Zahra lembut.


"Ibu,,,"


"Dia adik dari Ibu kamu, Nak," ucap Murat membuka suara menjawab kebingungan Zahra.


Zahra menatap Bu Nende dengan wajah terkejut dan berbinar nya. "Hala," panggil Zahra pelan pada Bu Nende.


Bu Nende mengangguk haru dengan mata berkaca-kaca. "Kemari, Nak," ucap Bu Nende merentangkan tangan meminta Zahra untuk memeluknya.


Tanpa pikir dua kali, Zahra langsung berhamburan ke pelukan Bu Nende. "Hala," panggil Zahra lagi dengan suara bergetar.


Mendengar Zahra yang memanggilnya dengan panggilan 'Bibi' atau 'Hala' dalam bahasa Turki membuat Nende senang tak terkira. Akhirnya di bisa memeluk erat keponakannya itu.


"Halo pak Lukman," sapa Kenzo pada lelaki yang duduk sambil tersenyum disebelah Bu Nende.


"Aku kira kamu akan lupa, Nak," ucap Pak Lukman.


Masih ingat Pak Lukman, bukan? Ya dia adalah lelaki yang menyamar menjadi pekerja di pembuatan kandang kambing milik Sela.


Kenzo tersenyum. "Aku tidak akan mungkin lupa dengan lelaki yang menasehati untuk selalu memuliakan istrinya, Amca dayı," jawab Kenzo sambil terkekeh pelan.


Dee yang melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah Zahra ikut bahagia. Akhirnya kamu merasakan pelukan dari yang namanya saudara kandung, Nak. Batin Dee senang.


Ibra yang melihat istrinya menatap penuh bangga pada Zahra segera merangkul pinggangnya. "Semua ini karena kamu berhasil mendidiknya, Sayang," ucap Ibra berbisik pelan.


Dee mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih banyak, Dee," ucap Tuan Murat ikut mendengar apa yang Ibra katakan.


"Kamu memang wanita hebat untuk cucuku."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏