Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 124



🌹HAPPY READING🌹


Zahra, Sela dan Shasa sedang dalam perjalan pulang dari sekolah. Sejak tadi, Zahra hanya diam memikirkan apa yang diucapkan oleh Ibu Nita. Salah satu wali murid yang ada di sekolah Sela dan Shasa.


Sela dan Shasa yang duduk di kursi belakang saling pandang. Karena sejak tadi, mereka tidak mendengar sedikitpun suara Zahra. Hanya ada suara mereka berdua yang kadang bernyanyi tak jelas. Saat mereka bertanya ataupun memanggil Zahra, maka hanya kebisuan yang mereka dapatkan.


Begitu juga dengan sopir yang ada di sebelah Zahra. Mereka bertiga saling lirik.lewat kaca depan mobil. Zahra memang sering diam, tapi sesekali pasti wanita itu akan bicara dan menanggapi celotehan receh dari Sela dan Shasa. Tak jarang, Zahra juga pasti tertawa mendengar celotehan mereka.


Apa Buna kepikiran yang tadi, ya? Batin Sela bertanya-tanya. Jika memang karena itu, Sela tidak akan mau lagi jika Zahra yang menungguinya di sekolah.


Pasti Bunda Zahra kepikiran karena perkataan si bedak tebal Nita. Kalau Papi atau Daddy tahu tentang hal ini, pasti si bedak tebal Nita akan habis. Batin Shasa melihat Zahra murung.


Sela dan Shasa saling pandang. Mereka berdua tersenyum saat pikiran kecil mereka yang cerdik memikirkan hal yang sama. Mengadu pada Kenzo, Al, Aska, Kevin dan Ibra. Ide cemerlang terlintas di benak kecil kedua gadis cilik ini.


"Sela, Shasa," akhirnya suara Zahra menghentikan kekompakan pikiran ke dua saudara itu.


"Iya Bunda," jawab Sela dan Shasa bersamaan dengan senyum mereka. Sela dan Shasa mencondongkan sedikit tubuh mereka ke depan agar lebih dekat dengan Zahra.


"Boleh Bunda tanya sesuatu?" ucap Zahra.


"Boleh, Buna," jawab mereka serempak dengan semangat penuh senyuman menatap Zahra.


Zahra ikut tersenyum menatap keduanya. Mereka nampak lucu dengan ikat rambut kembar yang menghiasai kelapa mereka. Meskipun, rambut itu sudah tidak rapi karena mereka baru membuka jilbab saat sudah berada di dalam mobil.


"Apa Ibu Nita sering bicara seperti pada Sela?" tanya Zahra menatap keduanya.


"Iy-"


"Tidak Buna. Ini balu peltama kali," ucap Sela cepat memotong perkataan Sela yang akan mengatakan iya. Bukan apa-apa, Sela hanya tidak ingin Bundanya semakin kepikiran mengenai apa yang sudah dia alami di sekolah.


"Shasa?" tanya Zahra menatap Shasa setelah mendengar jawaban Sela.


Shasa ikut mengangguk. "Seperti yang Sela katakan, Buna," jawab Shasa bijak. Dia tidak membenarkan ataupun menyalahkan apa yang dikatakan Sela, namun dia hanya mencoba untuk memberi jawaban terbaik menurutnya. Selagi dia tidak berbohong, berarti itu tidak dosa, bukan?


Sela yang mendengar perkataan Shasa bernafas lega. Maaf, Buna. Bukannya Cela bohong, Cela cuma nggak mau Bunda kepikilan. Batin Sela bersalah menatap Zahra karena sudah berbohong.


Zahra menatap Sela dan Shasa secara bergantian. Dia tahu, Sela hanya memberikan jawaban yang akan membuatnya senang. "Baiklah, mulai sekarang, Bunda yang akan menemani kalian di sekolah. Setiap hari!" tekan Zahra pada akhir kalimatnya.


"Tapi Buna-"


"Tidak ada tapi-tapian, itu sudah keputusan Bunda. Dan satu lagi," ucap Zahra menjeda ucapannya sehingga Sela dan Shasa memandang penasaran kepadanya.


"Jangan beritahu siapapun tentang kejadian tadi di Sekolah, ya," ucap Zahra.


"Tidak ada protes!" ucap Zahra lagi ketika melihat kedua gadis kecil hendak memprotes apa yang dikatakan Zahra.


Sela dan Shasa menghela nafas pelan. "Iya Bunda," jawab mereka serentak. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah sang Ibu Ratu.


.....


Di gedung pencakar langit itu, di lantai teratas, Kenzo merebahkan tubuhnya di kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya. Meeting sejak pagi hingga jam istirahat, membuat tubuh Kenzo lelah. Oleh karena itu dia lebih memilih untuk tidur sebentar dan akan makan nanti saat terbangun.


Dalam tidurnya, kadang terbit senyum di bibir Kenzo, dan terkadang kerutan dan air mata membasahi ujung mata hingga jatuh ke telinganya.


"Halo Ayah," sapa seorang anak lelaki mungil yang berjalan mendekatinya.


Kenzo yang tadinya berdiri membelakangi berbalik begitu mendengar suara imut yang memanggilnya.


Anak lelaki itu berlari mendekati Kenzo dan tanpa aba-aba langsung saja memeluk kedua kaki Kenzo.


Dahi Kenzo mengernyit heran. Kenapa anak lelaki ini memeluknya erat seolah melepaskan rindu yang sangat lama.


Kenzo melepaskan pelukan anak laki-laki itu dan bersimpuh untuk menyamakan tinggi badan mereka.


DEG


Jantung Kenzo berdetak kencang begitu melihat wajah lelaki yang begitu mirip dengannya. Sekarang Kenzo tahu, anak lelaki yang memanggilnya Ayah adalah anak yang belum pernah dia lihat keberadaanya. Ada sebongkah kebahagiaan yang Kenzo rasakan saat ini. Kebahagiaan itu rasanya begitu memenuhi hati dan jantungnya.


"Akbar Gantari Kenzar," gumam Kenzo menyebut nama lengkap anak lelaki itu sambil mengusap lembut sebelah pipinya.


Anak lelaki itu tersenyum. "Ayah tahu nama Akbar?" tanya Akbar bahagia.


"Bahkan Ayah tahu semua tengang Akbar," jawab Kenzo.


"Akbar datang ingin mengucapkan selamat, Ayah," lanjut Akbar.


"Selamat?" beo Kenzo yang tak mengerti.


Akbar mengangguk. Anak lelaki dengan pakaian serba putih itu senantiasa mempertahankan senyum di wajahnya.


"Selamat, karena Ayah berhasil mempersatukan keluarga kita. Ayah berhasil kembali menjadikan Bunda bidadari, dan Sela sebagai malaikat Ayah," jawab Akbar.


"Dan Akbar adalah pangeran Ayah," ujar Kenzo tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sungguh saat ini Kenzo sangat bersyukur bisa bertemu dengan anak yang selama ini dia rindukan.


"Apa ginjal Akbar bekerja dengan baik, Ayah?" tanya Akbar dengan penuh semangat.


Kenzo mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Sangat, Nak. Terimakasih banyak, Sayang," jawab Kenzo sambil mengusap kepala Kenzo.


Akbar hanya mengangguk menanggapi perkataan Kenzo. Setalah itu, nampak Akbar yang memandang lekat wajah Kenzo mulai dari dahi, mata, hidung, pipi, bibir, hingga dagunya. "Ada apa, Nak?" tanya Kenzo.


"Memotret wajah Ayah," jawab Akbar.


"Boleh Ayah memelukmu, Nak?" pinta Kenzo.


"Apa harus diminta dulu, Ayah?" ucap Akbar yang membuat Kenzo tersenyum dan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh mungil itu begitu erat.


"Akbar sayang Ayah," ucap Akbar dalam pelukannya. Sama sekali tidak ada air mata dari anak itu. Yang ada hanya senyum puas dan bahagia karena bertemu Ayahnya.


"Sudah, Ayah," ucap Akbar melepaskan pelukan mereka.


"Ayo kita pulang, Nak," ucap Kenzo.


Akbar langsung menahan tangan Kenzo dan menggeleng. "Alam kita sudah berbeda, Ayah. Kita sudah tidak sama sekarang," jawab Akbar tenang.


"Tapi Nak-"


"Akbar lebih bahagia disini, Ayah," ucap Akbar cepat yang membuat Kenzo terdiam.


"Boleh Akbar minta sesuatu, Ayah?"


"Katakanlah, Nak."


"Sesekali, lihatlah Akbar di gundukan tanah yang ada nama Akbar diatasnya. Sudah lama Ayah dan Buna tidak berkunjung. Jika bisa, perkenalkan Akbar juga sama keluarga besar kita ya, Ayah. Akbar memang sudah tidak bersama kalian, tapi dari sini, Akbar selalu melihat kebahagiaan semuanya. Bagaimanapun juga, Akbar bagian dari Ayah dan Buna," ucap Akbar dengan senyum tulusnya.


Kenzo mengangguk. Lelaki itu memang jarang mengunjungi makam anaknya karena masalah akhir-akhir ini yang terus-menerus menghadang mereka.


"Tapi kali ini, Akbar ikut Ayah, ya," ucap Kenzo mengajak Akbar.


Akbar menggeleng. "Tugas Akbar di dunia hanya memberikan kehidupan untuk Ayah. Selanjutnya, tugas Ayah membahagiakan Sela dan Bua. Akbar pamit, Ayah. Akbar sayang Ayah," ucap Akbar dengan tubuhnya yang semakin menjauh dari Kenzo.


"Akbar!"


"Akbar!"


"Akbar!"


Kenzo terbangun dari tidurnya dengan mata bengkak dan air mata di sudut matanya. Setelah sadar, Kenzo menghela nafas pelan. "Andai bukan mimpi," ucap Kenzo.


"Kamu adalah pahatan sempurna pangeran surga, Nak," gumam Kenzo pelan membayangkan bagaimana tampannya Akbar saat tadi dia lihat di mimpi.


Tanpa menunda waktu, Kenzo menghapus kasar air matanya dan segera keluar dari ruangannya. "Arman, saya akan pergi dan tidak akan kembali ke perusahaan. Kamu urus semuanya hingga sore ini," titah Kenzo setelah keluar dan melihat Arman yang duduk di ruangannya yang berada di depan ruangan Kenzo .


"Anda akan kemana, Tuan?" tanya Arman.


"Rumah Akbar."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏