
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo menggendong Sela memasuki lapangan. "Kita harus memang hari ini, Nak. Kita akan lari sekencangnya," ucap Kenzo.
"Halus, Ayah. Kita halus menang," ucap Sela semangat dengan tangan terkepal keatas.
Banyak diantara ibu-ibu yang bersorak histeris melihat Kenzo memasuki lapangan bersama Sela. Dan itu membuat Sela kesal. "Dacal mata kelanjang!" gerutu anak itu menatap sekitar lapangan.
"Kenapa mulut anak ayah jadi cerewet begini?" tanya Kenzo heran dengan tawa pelannya.
"Entah Ayah. Bawaan bayi," jawab Sela asal.
Kenzo tergelak mendengar perkataan Sela. Sungguh, anaknya ini benar-benar lucu jika jadi cerewet. Entah darimana anaknya belajar kata-kata seperti itu, yang pasti Kenzo menyukai anaknya yang seperti ini. Berani dan pandai membela dirinya sendiri.
"Sela dengerin Ayah," ucap Kenzo dengan Kepala sedikit menoleh ke belakang melihat Sela yang ada di gendongan punggungnya.
"Iya Ayah," jawab Sela mendekatkan pipinya pada pipi Kenzo.
"Sela harus berani berbicara dan mengajukan pendapat selagi apa yang Sela bicarakan benar. Sela boleh membela siapa saja selagi dia benar. Tapi ingat, jika sekali Sela berbuat salah, jangan lupa untuk mengatakan maaf, ya," ucap Kenzo menasehati.
Sela mengajukan ibu jarinya ke depan wajah Kenzo seraya berkata. "Siap, Ayah," ucap anak itu semangat.
.....
Kini anak dan Ayah sudah berdiri di garis start. Kenzo meregangkan ototnya yabg terasa sedikit pegal. Dia menatap Sela yang sejak tadi tersenyum menatap ke arah Zahra yang memberinya semangat.
Anak gue berat juga. Batin Kenzo memandangi tubuh berisi anaknya itu. Tidak nampak berisi, tapi tubuh Zahra terbilang padat.
"Sekarang, masing-masing Ayah silahkan menggendong putrinya," ucap Panitia menginstruksikan.
Kenzo yang mendengarnya langsung berjongkok. Begitu juga dengan Ayah siswa yang lain.
"Naik Sayang," ucap Kenzo yang langsung dituruti oleh Sela.
Kenzo menatap sebelah kiri dan kanannya. Dia merasa ngilu sendiri melihat beberapa bapak-bapak yang sudah berumur harus menggendong anaknya.
Makanya, nikah jangan kelamaan, lebih cocok jadi kakek kan kelihatannya. Batin Kenzo berseru senang. Itu artinya, lawan yang akan dia kalahkan sedikit berkurang.
"Minta semangat Bunda dulu, Nak," ucap Kenzo pada Sela.
Kenzo memutar tubuhnya menghadap Zahra. "I LOVE YOU, BUNDA!" teriak mereka berdua dengan senyum mengembangnya.
Zahra yang mendengar teriakan suami dan anaknya tersenyum senang dan mengepalkan tangan keatas, mengisyaratkan pada Kenzo dan Sela untuk tetap semangat.
Kini semua peserta telah bersiap. Mereka semua mengambil kuda-kuda untuk segera berlari.
"MULAI!" teriakan dari panitia membuat semua peserta berlari dengan sang anak yang berada di gendongannya.
"Ayo, Ayah, ayo, ayo, ayo!" teriak Sela dengan suara naik turun seirama dengan badannya yang bergoyang mengikuti larian Kenzo.
"AYO MAS, KAMU PASTI BISA!" teriak Zahra yang kini sudah berada di tepi lapangan agar suami dan anaknya bisa mendengar semangat darinya.
Kenzo mengeluarkan semua tenaganya untuk berlari mencapai garis finis. Berat badan anaknya dikalahkan oleh semangat membara untuk melihat senyum sang anak yang mengembang karena kehadirannya. Sungguh, Kenzo tidak menyesal meninggalkan pekerjaannya demi melihat kebahagiaan seperti ini.
"Priiiit, priiit, priiit," peluit dibunyikan tanda sudah ada peserta yang mencapai garis finis.
Zahra yang berada di pinggir lapangan langsung berlari mendekati Kenzo dan Zahra yang sudah dulu mencapai garis finis dari peserta lainnya. Ya, yang mencapai garis finis duluan adalah Kenzo dan Zahra. Meskipun tadi di acara menggambar dan mewarnai tidak mendapat kemenangan, kini bisa dipastikan dalam lomba 'Sayang Anak' ini, Kenzo dan Zahra mendapat peringkat pertama.
"Kamu menang, Mas," ucap Zahra tersenyum bangga.
"Yeay, kita menang Ayah," ucap Sela semangat.
Kenzo mengangguk. Dia masih sibuk mengatur nafas dan segera menurunkan Sela dari gendongannya. "Minum sayang," ucap Kenzo.
Zahra yang kegirangan karena anaknya menang, sampai lupa memberikan minum yang sejak tadi ada ditangannya pada Kenzo. "Eh, ini Mas. Minum yang cukup," ucap Zahra memberikan botol minum yang sudah dia buka terlebih dahulu tutupnya.
Kenzo mendelik menatap anaknya itu. "Kamu cuma gantungan dipunggung Ayah, mana ada capek," ucap Kenzo.
"Gantungan juga pakai tenaga, Ayah. Olang tadi Cela teliak-teliak cemangatin Ayah," jawabnya percaya diri.
"Kalau bukan kalena cemangat Cela, kalau bukan kalena bada Cela yang langcing ini, kita pasti kalah," lanjut Sela yang membingkai badannya sendiri layaknya model didepan Kenzo dan Zahra.
"Kita menang karena usaha Ayah, tau!" jawab Kenzo ketus.
"Emang harus Ayah usaha lah. Kan tugas Ayah bahagiain Cela. Iyakan, Buna?" tanya anak itu meminta dukungan Bundanya.
Zahra mengangguk yakin. "Tos dulu, Sayang," ucap Zahra menyodorkan telapak tangannya pada Sela dan langsung disambut oleh telapak tangan anak itu hingga menimbulkan bunyi yang membuat Kenzo kesal.
"Hiihhh, anak siapa sih?!" ucap Kenzo kesal melihat kelakuan anaknya itu.
Bukannya takut atau marah, Sela malah tertawa melihat wajah kesal Ayahnya. "Anak Ayah Kenzo lah. Ayah pikil anak ciapa?" tanya Sela polos.
"Anak monyet! Soalnya pintar banget gelantungan di punggung Ayah," jawab Kenzo.
Plak.
"Aw, sakit Sayang," keluh Kenzo yang baru saja mendapat pukulan keras di lengannya dari Zahra.
"Kamu bilang aku monyet? Aku ibunya kalau kamu lupa!" ucap Zahra garang.
"Hehe, becanda Sayang. Lagian mulut anak lemes banget sampai pengen karungin," jawab Kenzo menatap Sela yang sedang menampilkan senyum kemanangan nya.
"Jangan jadi bapak durhaka!" ucap Zahra ketus.
Tawa Sela semakin kencang mendengar sang Ayah yang diomeli oleh Bundanya. "Makanya Ayah, pelempuan jangan dilawan. Pacal catu nggak boleh lupa," ucap Sela disela tawanya meledek Kenzo.
.....
"Sela pulang sama Bunda, ya. Ayah harus balik ke kantor lagi," ucap Kenzo yang kini sedang pamit dengan anaknya.
Setelah semua acara selesai, dan pengumuman pemenang, Kenzo harus segera kembali ke kantornya. Pekerjaannya harus dia selesaikan sekarang juga.
"Cela ikut ke kantol Ayah, ya?" pinta anak itu memelas.
Kenzo menatap Zahra meminta bantuan. Karena kali ini, pekerjaan benar-benar menunggunya. Dalam hati kecilnya juga masih memikirkan kerja sama yang saat ini sedang berada di ujung tanduk. Ayah takut jauh lebih miskin dari Bunda kamu, Nak. Batin Kenzo memelas menatap anaknya itu. Benar saja, kekayaanya tidak ada apa-apa dibandingkan dengan harta sang istri, jadi dua harus lebih bekerja keras sekarang.
"Sayang, Ayah harus kerja. Sela kan busa pulang bareng Bunda. Nanti kita mampir dulu ke rumah Nenek," ucap Zahra membujuk Sela.
Wajah Sela berbinar. "Ayo Buna. Kita pulang, Cela mau main cama Chaca," ucap Sela girang. Karena sejak dimulai perlombaan, dia tidak bertemu sama sekali dengan Shasa dan Mama Kinanya. Semua itu karena jarak lokasi lomba mereka yang jauh karena berbeda kelompok.
"Mau ketemu Kakek juga, Ayo Buna," lanjut Sela menarik tangan Zahra.
"Astaga, Mas, aku pulang dulu, ya," ucap Zahra tergesa-gesa.
"Hati-hati, Sayang. Nanti aku jemput di rumah Abi," jawab Kenzo yang menyempatkan dirinya mengecup dahi Zahra.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Acalamu'alaikum, Ayah."
"Waalaikumsalam," jawab Kenzo menggelengkan kepala. "Giliran ada untungnya buat dia, baru mau. Anak gue tuh," gumam Kenzo tertawa tak jelas mengingat kelakuan anaknya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏