
🌹HAPPY READING🌹
Seperti perkataan Kenzo tadi pagi, saat ini Zahra sedang bersiap di depan cermin kecil miliknya. Memandangi wajah yang masih polos tanpa bedak itu. Zahra berbalik dan mendorong kursi rodanya menuju ranjang. Di sana sudah terdapat beberapa gamis indah milik Zahra. Tentu saja dengan harga yang sangat fantastis.
"Ara pakai yang baby blue aja kali, ya," gumam Zahra melihat gamis biru lembut di depannya.
Zahra mengambil gamis tersebut dan menyesuaikan dengan badannya. "Benar ternyata, orang cantik akan tetap cantik," ucap Zahra dengan percaya dirinya. Inilah kepribadian Zahra yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Percaya diri yang tinggi merupakan modal utama Zahra untuk berani menghadapi dunia.
"Udah pukul lima sore, aku siap-siap aja dulu," ucap Zahra ketika melihat jam bulat yang ada di dinding kamar kecil tersebut.
Zahra turun dari kursi rodanya dan duduk di kasur. Dengan segala kelihaiannya, Zahra mengganti pakaian yang melekat di tubuhnya dengan gamis yang sudah menjadi pilihannya.
Zahra kembali naik ke kursi roda dan segera pergi ke depan cermin dengan jilbab dan kotak make up yang ada di pahanya.
"Cantik untuk suami adalah pahala. Jadi, Zahra harus membuat Kak Ken terpesona. Mana tahu langsung jatuh cinta," gumam Zahra senang. Hari ini adalah hari pertamanya pergi ke rumah orang tua Ken setelah mereka menikah. Zahra berharap, orang tua Kenzo memiliki hati yang tulus, berbeda dengan Kenzo.
Setengah jam merias diri, Zahra sudah selesai dengan pasmina senada dengan gamisnya. Zahra tersenyum senang. Akhirnya peralatan make up yang dia beli sendiri bisa terpakai juga. Tidak sia-sia dia rajin menonton tutorial make up dulu sebelum menikah bersama Kina. Tidak bisa dipungkiri, sebagai wanita muda, Zahra sangat tertarik dengan dunia kecantikan.
Saat asik memandangi wajahnya dari cermin, terdengar suara mobil dari luar. "Kak Ken," ucap Zahra senang.
Tapi sedetik kemudian senyum itu luntur. Zahra segera turun dari kursi roda dan duduk diam di kamarnya. Karena tidak mungkin dia menyeret dirinya dengan pakaian yang sudah bersih dan rapi.
Kenzo memarkirkan mobilnya tepat di depan teras rumah. Dia menghirup nafas pelan sebelum memasuki rumah.
Kenzo mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Zahra. Tapi yang di cari tak kunjung nampak. "Dimana dia?" tanya Kenzo entah pada siapa.
Kenzo berjalan menuju kamar Zahra. Tidak berapa lama, dia sampai di depan pintu dan melihat Zahra yang menyambutnya dengan senyum manis.
Kenzo mengalihkan pandangannya menghindari tatapan dan senyum Zahra. "Cepatlah, aku tunggu di luar," ucap Kenzo segera membalikkan badannya.
"Kak Ken," panggil Zahra.
"Hem," jawab Kenzo dingin.
"Boleh Zahra pakai kursi roda kali ini?" tanya Zahra ragu.
"Pakailah, aku tidak mau Papa dan Mama tambah kasian melihat wanita cacat sepertimu," jawab Kenzo.
Sakit? Tentu saja. Tapi Zahra tetap mencoba tersenyum. "Bisa bantu Zahra naik ke kursi roda, Kak Ken?" pinta Zahra berani.
"Jangan macam-macam, Zahra!"
"Zahra tidak macam-macam. Kalau Zahra ngesot, nanti pakaian Zahra kusut. Kalau Mama dan Papa melihat pakaian Zahra kusut, pasti mereka heran, Kak Ken," ucap Zahra memberi alasan.
Kenzo mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Zahra. Benar juga. Batin Kenzo membenarkan alasan yang disampaikan Zahra.
Kenzo berjalan mendekati Zahra. Tanpa aba-aba Kenzo menggendong Zahra ala bridal style dan membawanya ke kursi roda.
Zahra dapat melihat wajah Kenzo dengan sangat dekat. Suami Ara tampan banget. Batin Zahra senang. Hingga akhirnya kenikmatan Zahra memandangi wajah Kenzo hilang saat Kenzo meletakkannya di kursi roda dengan sedikit kasar.
"Terimakasih, Suami," ucap Zahra tersenyum.
"Cepatlah! Aku tunggu di luar!" ucap Kenzo dingin dan segera keluar dari kamar Zahra.
.....
Senyum tidak hentinya terbit dari bibir mungil Zahra. Hari ini, dua kali Kenzo menggendongnya. Pertama saat dikamar, ke dua saat akan naik mobil tadi. Zahra benar-benar memiliki akal yang banyak. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Satpam. Kenzo yang tidak ingin mencari masalah, akhirnya membantu Zahra menaiki mobil. Semua orang yang melihat itu pasti akan mengira bahwa merek adalah sepasang suami istri yang saling menyayangi.
"Berhentilah tersenyum. Kau terlihat sangat menjijikan dengan senyum jelekmu itu," ucap Kenzo ketus kepada Zahra. Ternyata Kenzo sangat buta hingga tidak bisa melihat betapa manisnya senyum Zahra. Merugilah kamu Kenzo.
Zahra menghiraukan perkataan Kenzo. Dia hanya memandang keluar jendela dengan senyum manis di bibirnya.
Lima belas menit, mobil Kenzo sampai di depan sebuah rumah mewah yang tak kalah mewah dari rumah Ibra. Kenzo membunyikan klakson mobilnya hingga penjaga membukakan pagar, memberi akses kepada Kenzo untuk memasuki kediaman orang tuanya.
"Turun!" ucap Kenzo setelah memarkirkan mobilnya.
"Kak Ken mau Mama sama Papa tahu semuanya? Zahra nggak mungkin ngesot disini," ucap Zahra dengan senyum manisnya. Kesempatan ini sungguh tidak akan datang dua kali. Zahra akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Kenzo mendengus kesal. Harusnya dia yang menyiksa Zahra, tapi ini kenapa malah dia yang merasa tersiksa.
"Kau tunggu pembalasanku," ucap Kenzo tajam.
Zahra hanya mengangguk polos dengan senyum manisnya. Kenzo turun dari mobil dan mengitari mobil untuk membuka pintu bagian Zahra.
Zahra merentangkan tangannya dengan senang hati. Kenzo yang melihat itu mendengus kesal dan dengan kasar menggendong badan Zahra.
"Pa, Ma!" teriak Kenzo setelah sampai di ruang tamu dan meletakkan Zahra di sofa.
Nampak Anggara dan Melani yang baru turun dari tangga. "Menantu Mama sudah datang," ucap Melani berlari mendekati Zahra.
Melani memeluk Zahra erat. Melihat Zahra, serasa dia melihat Kinzi. Walaupun mereka tak seumuran, tapi gaya berpakaian Zahra hampir sama dengan Kinzi.
"Apa kabar, Nak?" tanya Melani lembut.
Zahra tersenyum senang. "Baik, Ma," jawab Zahra.
Anggara duduk di sebelah Kenzo yang sudah terlebih dahulu duduk di depan sofa yang di duduki oleh Mai dan Zahra.
"Sehat-sehat Zahra?" tanya Anggara pada menantunya.
Zahra mengangguk dan tersenyum. "Sehat, Pa," jawab Zahra.
"Apa Kenzo memperlakukanmu dengan baik, Nak?" lanjut Anggara. Ada sedikit keganjalan dalam hati Anggara mengingat bagaimana Kenzo.
Zahra menatap dalam Kenzo yang juga tengah menatapnya dengan pandangan dingin namun tajam. Zahra tersenyum lembut menatap suaminya. "Kak Ken memperlakukan Zahra dengan sangat baik, Pa. Bahkan Kak Ken tidak membiarkan Zahra menggunakan kursi roda," ucap Zahra yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kenzo.
"Maksud kamu, Nak?" tanya Melani.
Zahra mengalihkan pandangannya kepada Melani. "Kak Kenzo selalu menggendong Zahra, Ma. Dia menggantikan kaki Zahra yang lumpuh dengan gendongannya."
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗