Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 129



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo membawa nampan ke kamar dan meletakkan di meja kecil yang ada di sebelah lemari. Dia menatap istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Kenzo kembali berbaring dan mengecup seluruh wajah Zahra. Setiap incinya tidak lepas dari kecupan Kenzo.


Melihat Zahra yang sama sekali tidak terusik, Kenzo menggigit kecil pucuk hidung Zahra. Ada senyum diwajahnya ketika melihat Zahra menggeliat karena ulahnya.


"Bangun, Sayang," bisik Kenzo lembut.


"Lima menit, Mas," gumam Zahra masih dengan menutup matanya.


"Udah siang, Sayang. Sarapan dulu," ucap Kenzo pelan.


"Jam berapa?" tanya Zahra serak.


"Jam delapan lebih tiga puluh," jawab Kenzo.


Dengan perlahan, Zahra membuka matanya dan menatap Kenzo. "Selamat pagi," ucap Zahra dengan senyum manisnya.


Cup.


"Morning kiss, Sayang," ucap Kenzo setelah mencuri kecupan singkat di bibir Zahra.


Entah mengapa, perlakuan Kenzo masih saja membuat Zahra malu. Padahal semalam dia sudah melupakan rasa malu untuk meraih kenikmatan. Tapi, Zahra menutupi malunya dengan senyum manis yang dia berikan pada Kenzo. "Mas sudah sarapan?" tanya Zahra.


Kenzo menggeleng. "Kita sarapan bareng, Sayang," jawab Kenzo.


Zahra melepaskan lilitan tangannya pada pinggang Kenzo dan mendudukkan tubuhnya. "Kita ke kamar mandi dulu, Mas," ucap Zahra yang ingin mengajak Kenzo mencuci muka dan menggosok gigi.


Kenzo mengangguk. Dia ikut bangun dan mereka berdua pergi ke kamar mandi yang ada di kamar kecil tersebut. Hanya itu yang berubah saat ini. Di kamar kecil itu sudah terdapat kamar mandi yang sengaja dibangun oleh Kenzo. Karena, saat Zahra tidak ada, Kenzo lebih sering menghabiskan waktu di kamar ini untuk melepaskan rindunya.


Tiga puluh menit, mereka berdua keluar dari kamar mandi. "Kita makan disini, Sayang?" tanya Kenzo.


Zahra mengangguk. Dia mengambil nampan berisi makanan dan segera duduk di lantai sebelah kasur. "Ayo makan, Mas," ajak Zahra.


Kenzo tersenyum dan ikut mendudukkan dirinya di depan Zahra. Mereka berdua mengucap doa dan mulai menyantap sarapan yang sudah ada.


"Umi sama Abi masih disini kan, Mas?" tanya Zahra disela suapannya.


Kenzo mengangguk. "Mereka di ruang makan tadi, Sayang. Nggak tahu kalau sekarang," jawab Kenzo yang dibalas anggukkan oleh Zahra. Setelahnya, tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Hanya suara dentingan sendok yang memenuhi kamar kecil itu.


.....


"Umi, Abi, Ayah," panggil Zahra kepada para orang tua yang kini sedang duduk di ruang keluarga yang dibalas senyuman oleh mereka.


Dengan senyum sumringahnya, Zahra menghampiri mereka semua dan diikuti Kenzo dibelakangnya.


"Kamu tidak ke kantor, Ken?" tanya Dee.


Kenzo menggeleng. "Tidak Umi. Lagi pula tidak ada pekerjaan penting untuk hari ini," jawab Kenzo sambil mendudukkan dirinya disebelah Ibra.


Zahra mendudukkan dirinya di sebelah Dee. Dahi mengernyit heran melihat Kevin yang sudah sangat rapi dan ada koper di sebelah lelaki itu. "Ayah mau kemana?" tanya Zahra bingung.


Kevin menoleh. Lelaki itu tersenyum lembut pada anaknya. "Ayah harus segera pergi ke Turki, Nak. Pekerjaan benar-benar menunggu Ayah disana," ucap Kevin.


"Tapikan masih harus besok, Ayah," ucap Zahra sedikit protes.


Kevin menggeleng. "Kali ini benar-benar tidak bisa ditunda, Nak. Izinkan Ayah balik ke Turki, ya. Nanti pasti Ayah akan sering berkunjung kesini," ucap Kevin.


"Tapi Ayah belum izin sama semuanya," ucap Zahra lagi.


"Tadi pagi, Ayah sudah izin pada semuanya. Ayah sengaja menunggu kamu bangun, Nak," jawab Kevin memberitahu. Benar, saat sarapan bersama tadi, Kevin izin pada semuanya untuk kembali ke Turki. Tentu itu mendapat protes keras dari kedua gadis kecil Sela dan Shasa. Tapi karena bujukan mereka meyakinkan Sela dan Shasa bahwa Kevin pasti akan balik lagi, akhirnya kedua gadis kecil itu mengizinkan.


"Kalau begitu Zahra tidak bangun saja tadi," ucap Zahra tidak ikhlas jika Kevin harus segera pergi.


"Tidak boleh begitu, Zahra. Jangan membuat Ayah Kevin semakin berat untuk pergi, ya. Ada tangung jawab yang harus dia selesaikan disana," ucap Dee menasehati Zahra.


Zahra menghela nafas pelan. Dia mengangguk menatap Kevin. "Kalau begitu Zahra antar Ayah ke Bandara," ucap Zahra akhirnya mengizinkan.


"Iya, Nak. Kita akan antar Ayah Kevin ke Bandara," ucap Ibra yang ikut menimpali.


"Sekarang Ayah?" tanya Zahra pada Kevin.


.....


Setelah kembali dari Bandara, Zahra hanya diam sembari menatap ke luar jendela mobil. Mereka menggunakan mobil yang berbeda dengan Ibra dan Dee. Karena Ibra dan Dee masih ada urusan yang harus mereka lakukan..


Kenzo yang melihat istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu memegang sebelah tangan Zahra.


Merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggung tangannya, Zahra menoleh. "Ada apa, Sayang?" tanya Kenzo.


"Hanya memikirkan Ayah saja, Mas," jawab Zahra jujur.


"Ayah kenapa? Doakan semoga perjalanan Ayah ke Turki lancar dan selamat sampai tujuan.


Zahra mengangguk mengiyakan perkataan Kenzo. Tanpa diminta, dia pasti akan mendoakan Kevin. "Bukan itu, Mas," jawab Zahra.


"Lalu apa Sayang?" tanya Kenzo lagi.


"Siapa yang akan mengurus Ayah disana? Ayah pasti kesepian disana," jawab Zahra sendu.


Kenzo tersenyum. "Sayang, Ayah bukan lelaki lemah, Sayang. Ayah bukan lelaki pengangguran yang setiap waktu hanya akan berdiam diri memikirkan nasibnya," ucap Kenzo mencoba memberi pengertian pada Zahra.


"Iya, Mas. Aku tahu. Tapi tetap saja kepikiran," ucap Zahra.


"Nanti kamu bisa perhatiin Ayah dari sini, Sayang. Mengingatkan Ayah untuk makan dan yang lainnya lewat telfon," ucap Kenzo memberi solusi.


Zahra menatap Kenzo. Kenapa dia tidak berpikir begitu sejak tadi. Kesedihan selalu saja membuat otak Zahra tidak bisa berpikir normal.


"Kamu benar, Mas. Jika aku seperti ini, maka Ayah pasti akan kepikiran disana dan mengganggu pekerjaannya," ucap Zahra.


Kenzo mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan Zahra. Istrinya ini terkadang seperti Sela yang harus dipancing dulu pemikiran dewasanya agar tidak larut dalam dilemanya.


"Mau langsung pulang?"


"Kita jemput Sela aja yuk, Mas. Setelah itu kita ke tempat Akbar," ucap Zahra menatap Kenzo memohon.


Kenzo mengangguk. Dia harus memenuhi janjinya satu persatu pada Akbar untuk membawa semua keluarga mengunjunginya.


.....


"Buna, Ayah!" teriak Sela berlari melihat Kenzo dan Zahra yang sudah menunggu di gerbang sekolahnya.


"Anak Ayah," ucap Kenzo yang langsung menggendong Sela setelah sampai di depan mereka.


"Bu, maaf ya. Tadi Zahra ketiduran," ucap Zahra tak enak pada Bu Sari.


"Tidak apa, Nak. Ibu sangat paham," ucap Bu Sari yang membuat Zahra malu.


"Shasa mana, Sayang?" tanya Zahra.


"Mama Kina ada pelu cama temannya, jadi halus cepat pulang, Buna. Jadi, tadi Chaca pulang duluan cama Mama," ucap Sela menjelaskan.


Zahra hanya mengangguk mendengar jawaban Sela. "Ya sudah, sekarang kita masuk mobil, ya," ajak Zahra yang langsung dituruti oleh mereka semua.


"Ayah, Buna," panggil Sela setelah mereka berada di dalam mobil. Mobil Kenzo melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota.


"Cela dapat culat ini. Katanya, cetiap kedua Olang tua halus hadil," ucap Sela memberikan surat itu pada Zahra.


Zahra membaca dengan seksama. "Lomba orang tua dan anak," eja Zahra membaca nama acara tersebut.


Sela mengangguk semangat. "Ayah dan Buna halus datang, ya."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏