
🌹HAPPY READING🌹
Tapi, saat melihat wanita itu mulai mengangkat tangan kepada anaknya, Kenzo langsung membelah kerumunan dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh anak sayang! Sekali tangan anda menyentuh kulit anak saya, maka saat itu bersiaplah menjadi manusia cacat!" ucap Kenzo tajam menatap nyalang Nita.
Sela yang tadinya menunduk dalam pelukan Zahra yang hendak melindunginya mengangkat kepala. "Ayah!" pekik Sela senang melihat Kenzo yang datang tepat waktu.
"Mas," panggil Zahra dengan senyum bangganya. Suaminya datang diwaktu yang tepat untuk melindungi sang buah hati.
"Beraninya anda menahan tangan saya!" ucap Nita yang tangannya masih berada dalam cengkraman Kenzo.
Kenzo menatap nyalang Nita dan menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.
"Akkhh," teriak Nita saat merasakan tangannya yang memerah dan sedikit nyeri karena cengkraman Kenzo.
"Berani sekali anda. Anda tidak tahu siapa saya?" tanya Nita dengan sombongnya.
"Anda? Anda hanya sampah di sekolah ini!" ucap Kenzo sarkas.
"Jangan ikut campur urusan saya dengan anak tidak tahu diri ini, ya!" ucap Nita berani menatap Kenzo marah.
"Siapa yang anda bilang tidak tahu diri?" tanya Kenzo.
"Dia anak tidak tahu diri yang mulutnya benar-benar tidak diajarkan baik oleh orang tuanya. Anak sama Ibu sama saja rendahnya!" jawab Nita dengan memutar bola mata merendahkan Sela dan Zahra.
Tangan Kenzo mengepal mendengar perkataan Nita. "Jika anda tidak menyukai anak saya, tolong jangan hina dia dan ibunya. Katakan pada saya!" ucap Kenzo.
"Anda siapa?" tanya Nita remeh.
"SAYA AYAH DARI ANAK YANG ANDA HINA, BAJINGAN!" teriak Kenzo marah tepat didepan wajah Nita.
"Mas," panggil Zahra lembut memperingati Kenzo. Zahra tahu, jika Kenzo marah, maka dia tidak akan memandang siapa lawannya. Mau wanita ataupun pria, siapapun yang mengganggu keluarganya, akan habis ditangan Kenzo.
Badan Nita gemetar mendengar bentakan Kenzo yang menggelegar. Para guru beserta kepala sekolah yang mendengar itu berjalan mendekat melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?" tanya kepala sekolah.
Kepala sekolah terkejut melihat Kenzo yang sedang marah-marah di area sekolah. "P-Pak Kenzo," ucap Kepala sekolah gugup.
"Siapa dia?" tanya Kenzo datar.
"Saya salah satu orang tua murid disini. Dan asal anda tahu, suami saya salah satu donatur disekolah ini," jawab Nita sombong. Kepala sekolah yang mendengar itu menutup mata malu mendengar jawaban Nita. Tidak tahukah Nita ini siapa lawan bicaranya.
"Berapa persen?" tanya Kenzo kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah yang langsung mengerti menjawab dengan jujur. "Delapan persen, Pak Kenzo," jawab Kepala sekolah.
"Keluarkan dia sebagai donatur. Uang saya masih bisa untuk membiayai sekolah ini. Dan jika sekali lagi dia berulah menghina anak saya, keluarkan anaknya dari sekolah ini!" ucap Kenzo tegas.
Kenzo mengangkat Sela kedalam gendongannya dengan satu tangan. Dan tangannya yang lain merangkul Zahra. "Bu kepala sekolah," panggil Kenzo lembut.
"I-iya, Pak," jawab Kepala sekolah.
"Tolong perkenalkan anak dan istri saya ini dengan baik," ucap Kenzo tegas.
"Sela adalah anak dari Pak Kenzo, pemilik sekolah ini. Dan ponakan dari Pak Albarra, donatur terbesar di sekolah ini. Dan ibu Zahra, adalah anak tengah dari keluarga Hebi," ucap Kepala sekolah yang sudah mengetahui jati diri Sela.
Semua mata menatap tak percaya pada Sela dan Zahra. Terdengar bisik kagum dari mereka semua yang mendengar itu. Ternyata selama ini, Sela menyembunyikan identitasnya sendiri. Kecuali Nita, wanita itu tetap saja tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan kepala sekolah. "Baru itu saja sudah sok berkuasa," ucap Nita remeh.
"Tolong bicara yang sopan, Bu Nita," ucap Kepala sekolah memperingati.
Nita hanya diam dengan tetap mengangkat dagunya angkuh.
Kenzo yang melihat itu dibuat naik pitan. Tapi dengan sekuat kesabarannya, Kenzo menahan amarahnya. "Sekali lagi hal ini terjadi, anak anda tidak akan bisa bersekolah dimanapun!" ancam Kenzo telak dan pergi membawa Sela dan Zahra.
Sela menolehkan kepalanya menatap Nita yang menatapnya kesal. Sela menjulurkan lidahnya mengejek Nita hingga membuat kemarahan wanita itu diubun-ubun.
Semua orang yang ada disana tertawa melihat tingkah Sela. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Nita dan berjalan menuju lapangan, tempat perlombaan akan diadakan.
.....
"Ayah," panggil Sela. Kini, anaknl itu sudah duduk diantara Ayah dan Bundanya di tempat duduk yang sudah ada di lapangan.
" iya, Nak," jawab Kenzo.
"Telimakacih, cudah datang tepat waktu," ucap Sela dengan senyum manisnya. Jilbab anak itu sudah nampak berantakan hingga beberapa helai rambut keluar dari jilbabnya.
"Ayah yang harusnya minta maaf karena terlambat, Nak," ucap Kenzo.
"Hem, iya juga," ucap Sela polos. "Untuk itu, nanti akan ada hukuman di rumah. Tapi untuk cekalang, kekecalan Cela cudah belubah jadi cenang. Jadi tetap telimakacih, Ayah," ucap Sela memeluk Kenzo dari samping.
"Sudah tanggung jawab Ayah, Nak," ucap Kenzo lembut mengusap hijab Sela.
"Cuaminya Zahla," celetuk Sela yang berada dalam rangkulan Kenzo.
Kenzo dan Zahra tertawa mendengar celotehan Zahra. Anaknya ini benar-benar cerewet akhir-akhir ini. Entah apa yang terjadi, yang pasti mulut Sela bagaikan peledak yang meledekan dan siap menyakiti siapapun yang mengganggu keluarganya.
Mendengar panggilan untuk memulai perlombaan, Kenzo dan Sela berjalan memasuki lapangan. "Pegangin jas aku ya, Sayang. Semangati kami dari sini. Jangan panas-panasan juga," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Zahra sambil mengambil jas Kenzo.
Kenzo menggulung lengan kemejanya hingga siku dan menggulung celananya agar tidak mengganggu. Kenzo juga membuka sepatunya agar lebih nyaman dalam berlari.
Suamiku memang tampan. Batin Zahra terpesona melihat suaminya itu.
"Aku memang tampan, Sayang. Jadi, kamu harus was-was jika nanti ada cabe yang gangguin aku," ucap Kenzo percaya diri.
Zahra hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Benar-benar mirip sekali dengan Sela.
Kenzo menggendong Sela memasuki lapangan. "Kita harus memang hari ini, Nak. Kita akan lari sekencangnya," ucap Kenzo.
"Halus, Ayah. Kita halus menang," ucap Sela semangat dengan tangan terkepal keatas.
Banyak diantara ibu-ibu yang bersorak histeris melihat Kenzo memasuki lapangan bersama Sela. Dan itu membuat Sela kesal. "Dacal mata kelanjang!" gerutu anak itu menatap sekitar lapangan.
"Kenapa mulut anak ayah jadi cerewet begini?" tanya Kenzo heran dengan tawa pelannya.
"Entah Ayah. Bawaan bayi."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏