
🌹HAPPY READING🌹
"MBEEEKKKK, MBEEEKKK, MBEEEKK," suara itu saling bertautan mengganggu pendengaran sang tuan rumah dalam tidurnya.
Kenzo berguling-guling dalam tidurnya ke kanan dan ke kiri. Mencari kenyamanan agar matanya bisa terpejam dengan sangat nyaman. Suara bising dari arah taman belakang membuat pendengaran Kenzo terganggu, hingga lelaki itu tidak bisa nyenyak dalam tidurnya.
Kenzo menghela nafas dan mendudukkan dirinya. Dia menatap Zahra yang tidur dengan nyenyak. Mulut mungilnya yang sedikit terbuka membuat Kenzo salah fokus. Bibir merah ceri itu selalu saja bisa menggodanya.
"Sayang," panggil Kenzo pelan.
Zahra melenguh. Wanita itu dengan perlahan membuka matanya. "Kenapa nggak tidur, Mas?" tanya Zahra pelan.
Zahra dengan perlahan mendudukkan dirinya. Dia ikut bersandar di kepala ranjang mencari kenyamanan.
Kenzo menggeleng. "Suara kambing, Sayang. Nggak bisa tidur," rengek Kenzo manja.
Zahra menajamkan pendengarannya. Ternyata benar, peliharaan Sela mengeluarkan suaranya entah karena apa.
"Kok berisik banget ya, Mas?" tanya Zahra bingung.
Zahra bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkon. Dari balkon kamar dia bisa melihat, para kambing yang melakukan kegiatan entah apa. Mereka terdengar sangat berisik dan mengganggu.
Mata Zahra memicing saat matanya tak sengaja menangkap sosok mungil yang sedang duduk di taman bersama kambing tersebut. Seorang bodyguard berdiri di belakang sosok mungil tersebut mengawasi nona mereka.
"Astaga Sela," gumam Zahra tak percaya melihat anaknya.
Zahra langsung berbalik memasuki kamar untuk menemui suaminya. "Ayo kita ke taman belakang, Mas," ucap Zahra yang langsung menyeret tubuh Kenzo yang masih sedikit terhuyung.
"Kenapa sih Sayang?" tanya Kenzo mengikuti langkah istrinya. Zahra hanya diam dengan terus menyeret tangan suaminya.
Sedangkan di taman belakang, Sela berbicara dengan lara kambingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun gadis kecil itu masih belum mengantuk dan masih betah dengan cerita bersama kambing-kambingnya.
"Kalau bica, Cela bakal bawa kalian ke kamal. Tapi nanti kalau dibawa, Ayah pasti bakal lebih malah. Kacian Ayah udah tua," ucap Sela cekikikan dengan nada berbisik berbicara pada dua kambing yang ada dihadapannya. Anak itu duduk di teras, sedangkan kambing yang lain merebahkan tubuhnya dibelakang.
"Nona, selimutnya harus dipasang. Nanti Nona muda masuk angin," ucap Bodyguard tersebut khawatir. Karena jika nanti nona mudanya sakit, maka dia yang akan kena amukan bos besarnya.
Sela berdecak kesal. Tapi tak ayal tangannya menaiki selimut yang sedikit melorot menutupi tubuhnya.
"Kambing jangan ikut kecal, ya. Om botak memang celewet! Cama kayak Ayah," ucap Sela pada kambingnya. Bagaikan mengerti apa yang dikatakan oleh majikannya, kambing itu menjawab dengan suara khasnya.
Saat sedang asik bercerita dengan kambingnya, suara sang Bunda mengagetkan Sela. "Sela!" panggil Zahra tegas.
"Eh, Buna," ucap Sela berbalik dengan menampilkan senyum manis tanpa dosanya.
"Sela kamu belum tidur, Nak?" tanya Kenzo cengo. Yang benar saja, anaknya itu masih nampak sangat segar dengan mata bulatnya yang nampak bersinar.
"Cela mau ngobrol dulu cama kambing, Ayah," jawab Sela santai.
"Ayah cama Buna mau ikut?" lanjut anak itu bertanya dengan polosnya.
Zahra menarik lembut tangan anaknya. "Sela, kambing harus tidur dulu. Sama kayak kita, Kambing juga butuh istirahat, Nak. Nanti kalau Sela ajak ngobrol terus, Kambingnya nggak bisa istirahat, Sayang. Kalau Kambingnya sakit, nanti Sela pasti sedih kan?" tanya Zahra lembut mencoba memberi pengertian kepada anaknya itu.
Sela nampak berpikir sejenak. Dia memutar tubuhnya dan menatap semua kambingnya. "Kambing-kambing, Cela tidul dulu, ya. Kambing cemua juga tidul, ya. Nanti kita culhat lagi, oke," ucap Sela seakan kambingnya mengerti dengan apa yang dia sampaikan.
"Ayo kita masuk, Buna, Ayah," ucap Sela mengajak Zahra dan Kenzo untuk masuk.
"Akhirnya bisa tidur nyenyak," gumam Kenzo lega. Karena benar saja, kambing-kambing itu langsung diam begitu Sela pergi dari taman belakang.
.....
"Sela," panggil Kenzo.
"Iya Ayah," jawab Sela dengan mulut penuh akan sereal nya.
Keluarga kecil itu saat ini tengah menikmati sarapannya. Setelah hal konyol yang dilakukan oleh anaknya tadi malam yang curhat dengan kambing-kambingnya, akhirnya Kenzo bisa tidur nyenyak. Walaupun tadi, setelah sholat subuh, dia dipaksa oleh Sela untuk membantunya memberi makan kambing peliharaanya itu. Dan dengan sangat terpaksa, Kenzo menuruti keinginan anaknya itu. Karena jika tidak, akan ada gempa lokal dirumahnya karena tangis Sela.
"Ayah sama Bunda sudah memutuskan untuk membuatkan rumah kambing-kambing kamu, Nak," ucap Kenzo lembut.
Mata Sela menatap berbinar Ayahnya. "Benarkah Ayah?" tanya Sela antusias.
Kenzo mengangguk. "Tapi tidak dirumah ini, ya," ucapnya yang melunturkan senyum dibibir Sela.
"Ayah mau usir kambing-kambing Cela?" tanya anak itu sendu.
Kenzo menggeleng. "Bukan Sayang. Ayah sudah meminta Uncle Arman membeli lahan yang ada di ujung komplek. Nanti, kita akan bangun rumah untuk kambing kamu disana," ucap Kenzo.
"Wah, lumah besal ya, Ayah. Kan nanti kambingnya Cela pasti bakal punya anak juga nanti," ucapnya antusias.
Zahra tersenyum melihat wajah senang Sela. Apapun itu, Kenzo pasti akan lakukan untuk kebahagiaan Sela. Meskipun itu sedikit sulit, pasti akan ada jalan yang diberikan oleh seroang Ayah kepada anaknya.
"Nanti, jika kambingnya sudah punya rumah sendiri, Sela harus bantu Bunda buat tanam bunga lagi di taman belakang ya, Sayang," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh anaknya itu.
.....
Kevin duduk diam di kamar besar miliknya. Dia baru saja sampai di Turki. Akhir-akhir ini, jarak dari Turki ke Indonesia hanya bagaikan jarak dari hidung ke dahi baginya, sangat mudah dan dekat.
"Lagi dan lagi, aku berkorban dan membohongi diri sendiri," gumam Kevin sendu menatap sebuah foto yang ada di sebelah ranjangnya.
"Apa aku hidup hanya untuk menjadi penyelamat bagi orang lain? Apa aku hidup memang untuk memberi pengorbanan untuk orang lain? Apa aku hidup untuk menyiksa hatiku sendiri?" tanya Kevin pada dirinya sendiri.
Tangan Kevin terulur meremas kuat dadanya yang terasa sangat sesak sekali. Saya selalu berkata Aamiin untuk setiap doa yang kamu langit kan. Hanya saja bibir saya tidak bisa mengatakannya. Batin Kevin sendu.
Saat akan teringat sesuatu, Kevin mengeluarkan ponselnya. Jarinya dengan lincah mencari kontak seseorang yang akan dia hubungi.
"Halo," ucap Kevin saat panggilannya terhubung.
"Kau sudah kembali?" tanya seseorang dibalik telfon.
"Ya, aku baru saja datang," jawab Kevin tenang.
"Bagaimana? Apa semuanya lancar?" tanya Emre antusias. Lelaki paruh baya itu benar-benar sangat berharap akan kebahagiaan sahabatnya.
Kevin tersenyum dan menggeleng ditempatnya. "Aku harus lebih bersabar, Emre. Tidak setiap keinginan bisa aku wujudkan," jawab Kevin sendu namun mencoba untuk tetap terdengar tenang.
"Lagi?" tanya Emre tak percaya.
"Untuk saat ini, mungkin memang itu yang harus terjadi," jawab Kevin.
Terdengar helaan nafas dari balik sana. "Takdir memang ditangan Tuhan, Kevin. Tapi, campur tangan dan usahamu juga akan menentukan hasilnya. Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal nanti," ucap Mere menasehati Kevin.
"Aku sudah berteman baik dengan penyesalan, Emre," jawab Kevin enteng.
"Ya, terserah kau saja. Lalu ada apa kau menelpon ku?" tanya Emre.
"Aku ingin kau mencari tahu sesuatu, Emre," ucap Kevin.
"Apa?" tanya Emre.
"Cari tahu agensi model yang menaungi Kinzi di Paris. Apa Kinzi sudah sampai disana dengan selamat atau belum? Dan kau cari tahu semua informasi mengenai pekerjaan Kinzi disana," ucap Kevin.
"Kau serius?" tanya Emre.
"Sangat! Dan aku mau informasinya dalam lima menit," ucap Kevin tak mau dibantah dan mematikan teleponnya begitu saja.
Kevin duduk di ranjang dengan mata yang terus menatap wajah cantik yang sedang tersenyum ke kamera itu. Sudut bibirnya terangkat mengingat senyum Kinzi saat mereka pertama kali bertemu.
Tujuh menit kemudian, getaran ponsel mengalihkan pandangan Kevin. Setelah melihat siapa yang menelpon, Kevin langsung mengangkat tanpa pikir panjang.
"Bagaimana Emre?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
"Sebelumnya aku mau bertanya, apa Kinzi kembali ke Paris?" tanya Emre dari seberang sana.
"Iya, dia bilang begitu," jawab Kevin.
Lagi dan lagi Emre menghela nafas pelannya. "Sepertinya Kinzi pergi menenangkan hatinya, Kevin," ucap Emre.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin tak paham.
"Kontrak Kinzi tidak diperpanjang pada agensi itu. Kinzi memutuskan kontraknya sehari sebelum dia datang kesini menemui mu waktu itu. Dan sekarang, mereka sama sekali tidak ada hubungan kerja dengan Kinzi. Itu artinya, Kinzi tidak di Paris, Kevin."
DEG.
......................
Kisah Kevin dan Kinzi berlanjut atau tidak, ya????? Menurut kalian bagaimana????
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏