Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 161



Halo teman-teman, setelah sekian purnama, melewati banyak musim, melampaui banyak hari dan Minggu, akhirnya aku update lagi. Maaf baru bisa update teman-teman, semoga kalian tetap suka dengan novel ini dan tidak bosan dengan ceritanya.


🌹HAPPY READING🌹


Kevin duduk di ranjang dengan mata yang terus menatap wajah cantik yang sedang tersenyum ke kamera itu. Sudut bibirnya terangkat mengingat senyum Kinzi saat mereka pertama kali bertemu.


Tujuh menit kemudian, getaran ponsel mengalihkan pandangan Kevin. Setelah melihat siapa yang menelpon, Kevin langsung mengangkat tanpa pikir panjang.


"Bagaimana Emre?" tanya Kevin tanpa basa-basi.


"Sebelumnya aku mau bertanya, apa Kinzi kembali ke Paris?" tanya Emre dari seberang sana.


"Iya, dia bilang begitu," jawab Kevin.


Lagi dan lagi Emre menghela nafas pelannya. "Sepertinya Kinzi pergi menenangkan hatinya, Kevin," ucap Emre.


"Apa maksudmu?" tanya Kevin tak paham.


"Kontrak Kinzi tidak diperpanjang pada agensi itu. Kinzi memutuskan kontraknya sehari sebelum dia datang kesini menemui mu waktu itu. Dan sekarang, mereka sama sekali tidak ada hubungan kerja dengan Kinzi. Itu artinya, Kinzi tidak di Paris, Kevin."


DEG.


Kevin menegang ditempatnya. Mendengar kabar yang disampaikan Emre, membuat hatinya sesak dan tak karuan.


"Apa informasi ini akurat, Emre?" tanya Kevin mendesak.


"Pimpinan tempat Kinzi bekerja di Paris yang memberitahu ku langsung, Kevin. Jadi dia tidak mungkin salah," jawab Emre yakin.


"Kemana Kinzi, Emre?" tanya Kevin dengan nada lemah dari balik telfonnya.


Terdengar helaan nafas dari Emre. "Apa kita perlu mengerahkan orang-orang kita untuk mencari Kinzi keseluruh dunia?" tanya Emre.


Ditempatnya Kevin mengangguk mantap. "Cari informasi di setiap Negera, Emre. Dan satu lagi, hanya kau dan aku yang mengetahui ini. Jangan sampai orang lain mengetahui ini, termasuk Zahra dan suaminya," ucap Kevin.


"Baiklah," jawab Emre patuh.


Setelah mendengar perkataan Emre, Kevin langsung memutus sambungan teleponnya. Kevin terduduk lemas di kursinya dengan ponsel yang terjatuh begitu saja di lantai.


"Maafkan aku, Kinzi," gumam Kevin lirih.


Kevin memegang dadanya yang terasa sesak. Sakit sekali, untuk kesekian kalinya dia berkorban hati untuk kebaikan semuanya.


"Rasanya ikhlas dan sabar ku sudah mencapai batasnya, Ya Tuhan," gumam Kevin dengan air mata yang jatuh begitu saja membasahi pipinya.


.....


Sela dengan riang dan bahagianya pergi untuk melihat para kambingnya bermain di halaman belakang. Sela memberitahu Shasa bahwa rencana mereka berdua untuk memelihara kambing sudah terwujud. Ya, kambing-kambing ini adalah keinginan mereka berdua. Awalnya, Shasa meminta kepada Aska, namun dengan tegas Kina dan Aska melarang. Jadilah sekarang tugas Sela yang membujuk Kenzo, dan keinginan mereka terwujud meski Kenzo harus bersabar hati karena ulah mereka ini.


Setelah pulang sekolah, Shasa memang ikut Sela ke rumahnya. Karena nanti mereka akan bermain bersama.


"Kambingnya ganteng dan cantikkan, Chaca?" tanya Sela antusias pada Shasa yang melihat berbinar banyaknya kambing dihalaman belakang rumah saudarinya itu.


"Ini sangat banyak, Sela. Kita bisa beternak kambing dengan banyak," ucap Shasa antusias.


Sela mengangguk setuju. "Dan tabungan kita akan cemakin banyak kalena kambing-kambing ini. Nanti kita pakca Kakek dan Nenek untuk membeli kambing kita, Chaca. Uangnya untuk kita beldua libulan," ucap Sela dengan semangat menyampaikan idenya.


"Benar Sela. Jika kakek dan nenek yang beli anak kambing kita nanti, maka kita tetap bisa main bersama mereka. Kita kan tidak boleh rugi," ucap Shasa.


Kedua gadis cilik itu bertos ria setelah mengungkapkan ide mereka. Semua itu tidak lepas dari pandangan dan pendengaran Zahra bersama Kina. Kedua wanita dewasa itu hanya melongo mendengar ide konyol anak-anaknya.


"Kak, kita dalam bahaya kalau kedua anak kecil ini besar," ucap Kina ngeri.


"Kita akan lebih bahaya dari mereka, Dek," ucap Zahra santai sambil mengerlingkan sebelah matanya menatap Kina.


"Sela, Shasa," panggil Zahra lembut.


"Iya, Bunda," jawab mereka serentak.


"Kalian adalah anak Bunda dan Mama. Jadi, kambing kalian ini juga punya bunda dan mama. Apa yang kalian lakukan pada kambing-kambing ini, harus atas persetujuan Bunda dan Mama. Kalian tidak lupa bukan, surga dibawah telapak kaki ibu. Jadi, kalian harus patuh," ucap Zahra dengan lembut, namun terdengar sangat tegas ditelinga Sela dan Shasa.


Sela dan Shasa hanya mengangguk lesu. Gagal sudah rencana mereka untuk menjadi bos.


"Sekarang Shasa dan Sela ganti baju dulu. Nanti baru boleh main sama kambingnya," ucap Zahra.


Sela dan Shasa mengangguk patuh. Sela mengajak Shasa ke kamarnya dan mereka berganti pakaian.


Kina menatap tubuh Zahra yang berjalan di depannya. Ada sedikit keanehan yang dia tangkap melihat pinggul Kakaknya itu.


Tubuh Kakak kayak ada bayinya. Batin Kina menerka-nerka.


"Kak," panggil Kina setelah mereka sampai di dapur.


"Kenapa Dek?" jawab Zahra sambil membuka kulkas.


"Kakak hamil ya?" tanya Kina to the point.


Zahra menghentikan kegiatannya. Dia menatap Kina dan menggeleng tak percaya mendengar perkataan adiknya itu. "Kamu lupa, Dek, beberapa hari yang lalu kamu bawa kakak ke rumah sakit waktu pingsan di sekolah Sela dan Shasa," jawab Zahra mengingatkan Kina.


Kina menepuk jidatnya. "Padahal umur belum seberapa udah pelupa aja," gerutu Kina kesal dengan ingatannya sendiri. "Semoga dedek bayi sehat ya, Kak," lanjut Kina tulus.


Dengan reflek tangan Zahra menyentuh perutnya. Senyum terbit dibibir mungilnya jika apa yang dikatakan Kina memang benar. "Semoga, Dek," ucap Zahra.


"Aamiin, Kak," jawab Kina tulus. Kedua perempuan itu melanjutkan kegiatan memasak mereka. Karena nanti siang, Kenzo, Aska dan Al akan makan siang bersama di rumah Kenzo.


.....


Sedangkan di perusahaannya, entah mengapa Kenzo uring-uringan tidak jelas. Hatinya gelisah entah karena apa.


"Lo kenapa, Ken?" tanya Al.


Al, Aska, Arman beserta Thomas memang berada di perusahaan Kenzo untuk membahas kerjasama mereka. Proyek pembangunan mall besar yang akan didirikan oleh tiga perusahaan besar ini akan menjadi kerjasama mereka selanjutnya.


"Entahlah, gue ngerasanya nggak tenang aja," jawab Kenzo pelan.


"Istighfar, Ken. Mungkin setan dalam diri Lo lagi bereaksi atau memberontak," ucap Thomas yabg mendapat delikan tajam dari Kenzo.


"Lo setannya!" ucap Kenzo kesal.


"Lo sama Zahra baik-baik aja, kan?" tanya Al memastikan.


Kenzo mengangguk yakin. "Kami baik-baik aja, Al," jawab Kenzo.


"Mungkin cuma perasaan gue aja," lanjut Kenzo yang dianggukki oleh mereka semua.


Kenzo kembali membaca rencana kerjasama yang sudah mereka susun. Matanya memang melihat kertas dipegangnya, namun hatinya memikirkan hal lain.


Kinzi. Batin Kenzo ketika nama Kinzi terlintas begitu saja dipikirannya.


.....


Di sudut kota Jakarta, seorang wanita cantik memandang rumah kecil yang ada didepannya. Rumah yang nampak nyaman, namun tak terawat karena sudah lama tak ditempati.


"Apa kau menyukainya?" tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri disebelah wanita itu.


Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. "Ini saja lebih dari cukup, Bu. Aku akan mengontrak rumah ini," ucap Wanita itu.


"Baiklah. Jika kamu butuh apa-apa, jangan segan untuk minta bantuan Ibu, ya," ucap wanita paruh baya itu.


"Kalau begitu ibu pamit dulu," lanjutnya pamit meninggalkan wanita cantik itu sendiri.


"Terimakasih banyak, Bu," ucap wanita cantik itu tulus.


Dengan langkah pastinya, wanita itu berjalan menuju pintu dan membuka dengan kunci yang diberikan oleh pemilik rumah tadi.


Meskipun tidak besar dan mewah, rumah yang sangat sederhana cukup untuk kehidupannya ke depan.


Tangan wanita itu terulur mengusap perutnya yang masih sangat rata. "Kami akan hidup bahagia di rumah kecil ini," ucapnya dengan senyum mengembang menyemangati dirinya.


......................


Ribuan maaf author ucapkan pada pembaca setia semuanya karena baru bisa update. Karena satu bulan ini, author harus menyelesaikan tugas akhir kuliah alis skripsi. Tapi tenang, tugas akhir selesai dan sekarang saatnya kita saling melepas rindu dengan kisah ini, ya. Semoga kalian tetap suka dengan tulisan dan karya aku, ya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏