
🌹HAPPY READING🌹
Dengan penuh rasa bahagia, Sela menikmati setiap suapan dari Kenzo. Berbeda dengan Zahra yang menatap Kenzo kesal. Sejak tadi, kaki lelaki itu tidak pernah diam di bawah meja. Kaki Zahra selalu menjadi incarannya. Tapi Kenzo berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Ingin sekali Zahra marah melampiaskan kekesalannya, tapi dia tidak mau mengangguk kesenangan anaknya.
Awas saja nanti. Batin Zahra menatap Kenzo dengan tatapan permusuhannya.
Kenzo dan Sela menghabiskan sarapannya dengan sangat nikmat. Setelah mereka selesai sarapan, Zahra mengangkat piring kebelakang.
"Biar saya saja, Bu," ucap Kenzo menawarkan diri saat melihat Bu Sari akan membawa beberapa sisa piring ke belakang.
"Tapi Nak-"
"Tidak apa, Bu. Biar saya saja," ucap Kenzo langsung mengambil piring di tangan Bu Sari.
Bu Sari mengangguk. Dia membiarkan Kenzo mengambil alih piring tersebut. "Sela, tunggu Ayah di teras ya, Nak," ucap Kenzo pada Sela sebelum pergi ke dapur.
Sela yang sudah turun dari pangkuan Kenzo mengangguk. Anak itu pergi keluar rumah bersama Bu Sari.
Dengan senyum mengembangnya, Kenzo mengangkat piring ke belakang, menyusul sang wanita tercintanya.
"Sudah semu-" perkataan Zahra terpotong saat dia berbalik dan melihat Kenzo yang mengantar piring kotor dengan senyum yang sangat dihindari Sela.
Kenzo meletakkan piring tersebut ke dalam ember yang digunakan untuk tempat piring kotor. Zahra yang melihat Kenzo selesai meletakkan piring tersebut langsung melangkahkan kakinya hendak pergi dari dapur. Namu belum sempat kakinya bergerak, tangan kekar Kenzo sudah mencegahnya.
"Mau kemana, wanitaku," ucap Kenzo lembut.
Zahra menghela nafas pelan. Setelah itu menatap Kenzo dengan senyum terpaksanya. "Saya mau pergi," ucap Zahra tegas menatap Kenzo.
Kenzo tersenyum. Dia semakin mendekatkan dirinya kepada Zahra. Zahra yang melihat itu melangkah mundur. Hingga beberapa langkah, jarak tubuh Kenzo dan Zahra begitu dekat. Tubuh Zahra menempel pada dinding pembatas dapur dan ruang tamu.
Kenzo menempelkan telapak tangan sebelah kirinya pada dinding ketika Zahra bergerak hendak pergi dari sana. Zahra yang sudah menegang dalam keadaan seperti ini hanya bisa mengambil nafas banyak-banyak. Sungguh, meskipun mulutnya selalu menolak Kenzo, namun hatinya semakin bergetar jika sedang berada dalam situasi kedekatan yang seperti ini.
"S-Saya mau keluar. Sela pasti sudang menunggu," ucap Zahra gugup.
"Tidak usah gugup, Sayang. Gugup itu hanya untuk orang jatuh cinta," jawab Kenzo yang mengundang pelototan mata Zahra.
Kenzo terkekeh kecil. Bukannya takut, ekspresi Zahra malah sangat menggemaskan untuk Kenzo. "Dan Sela, pasti mengerti jika Ayah dan Bundanya sedang berduaan seperti ini," lanjut Kenzo.
Dada Zahra naik turun mengambil pasokan udara yang seperti sudah habis di dapur. Kenzo semakin memajukan wajahnya. Zahra yang melihat itu hanya mampu memejamkan mata dengan kedua tangannya memilih kuat kedua sisi ujung bajunya. Sungguh, Kenzo membuat jantung Zahra olahraga lari kencang pagi ini.
"Huuufff," Kenzo meniup telinga Zahra yang tertutup hijabnya. Melihat Zahra yang menutup mata, membuat Kenzo semakin ingin menggoda wanitanya. Namun melihat waktu sudah menunjukkan pukul enam.kewat empat puluh lima menit di jam tangannya, Kenzo berniat menghentikan aksinya.
"Jangan terlalu mahal, ya sayang. Nanti aku malah beralih ke lain hati. Perjuangan juga akan menemukan rasa lelah," bisik Kenzo tepat ditelinga Zahra. Setelah mengatakan itu, Kenzo langsung meninggalkan dapur dan menyusul anaknya ke luar rumah dengan senyum mengambang di wajahnya.
Setelah kepergian Kenzo, Zahra masih menegang di tempatnya. Wanita itu memegang dadanya yang terasa bergemuruh karena kelakuan Kenzo.
Zahra menghirup udara banyak-banyak menetralkan detak jantungnya. "Dasaaaar gilaaaaaa," jerit Zahra tertahan gemas bercampur kesal dengan tangan mengepal di udara. Ingin sekali rasanya wanita itu melayangkan pukulan tepat pada wajah Kenzo.
"Jika bukan Ayah dari anakku ... Huh, sudahlah," ucap Zahra kesal dan segera berjalan keluar rumah menyusul Sela.
.....
Kenzo tersenyum dan menatap Sela sebentar. Setelah itu dia beralih sebentar menatap Zahra yang duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Bu Sari, dengan Mengerlingkan sebelah matanya dan senyum jahil yang sangat dibenci oleh Zahra. Lagi-lagi laki-laki itu menggoda wanita yang merupakan Bunda dari anaknya.
"Tadi Ayah menang lotre, Sayang," jawab Kenzo setelah kembali menatap Sela.
"Menang *****?" tanya Sela dengan bahasa cadelnya yang membuat Kenzo gelagapan sendiri. Zahra yang mendengar perkataan Sela langsung membulat sempurna.
"Bu-bukan itu, Sayang. Lotre, l-o-t-r-e," ucap Kenzo gelagapan mengeja huruf dari kata yang dia maksud. Sedangkan Bu Sari yang mendengar itu hanya menahan tawa melihat keluarga kecil yang masih dalam keadaan tidak baik-baik saja ini.
"Sela diam, ya. Udah, dengar saja apa yang dibilang Ayah," ucap Zahra mencegah Sela yang akan kembali bertanya.
"Cela pengen tahu, Buna," jawab Sela tak terima.
"Lotre itu permainan Sayang, kayak Sela main sama Shasa," ucap Kenzo mencoba memberi pengertian yang kiranya bisa diterima oleh anak itu.
Sela mengangguk dengan mulut membentuk huruf 'o'. Kenzo menghela nafas lega. Jika dia salah bicara lagi, maka itu akan berbahaya untuk dirinya sendiri.
lima menit kemudian, mobil Kenzo sampai di depan panti asuhan tempat kerja Bu Sari. Mereka semua bersalaman dengan Bu Sari untuk berpamitan. Setelah mengantar Bu Sari, Kenzo kembali menjalankan mobilnya menuju tempat berikutnya.
Delapan menit, mobil Kenzo melewati toko roti tempat Zahra bekerja. "Ayah, Buna," ucap Sela melihat Ayahnya yang tidak berhenti untuk menurunkan Zahra.
"Buna nanti di pemberhentian terakhir, Sayang," ucap Kenzo.
Sela hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan Zahra, wanita itu hanya diam pasrah menerima apa yang Kenzo lakukan. Dia takut sudah tidak bisa lagi mengendalikan kekesalannya di depan Sela, dan berakhir dengan pertengkaran mereka berdua. Zahra tidak ingin membuat Sela semakin kecewa karena hubungan mereka.
.....
"Sekarang tinggal kita berdua, Sayang," ucap Kenzo setelah mereka kembali melanjutkan perjalanan putar arah dari sekolah Sela menuju tempat kerja Zahra.
Zahra hanya diam dengan tetap duduk tenang di bangku belakang. Sedikitpun, Zahra tidak bergeser dari duduknya.
Hingga di dekat persimpangan, Kenzo menepikan dan memberhentikan mobilnya. Kenzo turun dan beralih duduk di bangku belakang sama dengan Zahra. Setelah itu, masuk seorang sopir yang entah datangnya dari mana.
"Jalan, Pak," ucap Kenzo. Zahra yang sejak tadi hanya diam hanya bisa pasrah. Melawan lelaki ini, hanya akan membuat emosinya naik turun.
"Lelaki ini benar-benar gila," gumam Zahra pelan membuang wajahnya kesamping, namun masih terdengar oleh Kenzo. Kenzo hanya tersenyum dengan semua kelakuannya.
Tuan dan Nyonya kembali satu mobil. Batin Kenzo senang dengan segala kemenangannya.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘