Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 18



🌹HAPPY READING🌹


Setelah kejadian semalam, Zahra bangun dari tidurnya dalam dengan mata bengkak karena tak hentinya menangis.


Tadi setelah sholat subuh, Zahra kembali tidur dan hasilnya dia ketiduran sampai pukul delapan pagi. Badannya terasa lelah dengan hati yang tidak menentu bentuknya untuk saat ini.


Zahra menyeret dirinya untuk mendekati pintu. Sedikit mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di meja makan dapat Zahra liat Kenzo yang duduk fokus memakan sarapannya.


Zahra kembali menutup pintu kamarnya. Untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Kenzo. Menyeret dirinya saja Zahra seakan tak punya tenaga. Dia lebih memilih keluar kamar saat nanti Kenzo sudah pergi kerja.


Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil yang kian menjauh. "Sepertinya Kak Ken udah pergi kerja deh," ucap Zahra.


Zahra mendekatkan kursi rodanya dan naik ke kursi roda dengan menahan sakit di pahanya. Zahra menekan tombol pada pegangan kursi roda dan pergi ke meja makan.


Sampainya di meja makan, dapat Zahra liat piring bekas sarapan Kenzo masih ada di sana. Zahra menggeleng dan mengambil piring tersebut untuk segera dicucinya.


"Zahra nggak marah sama Kak Ken. Zahra hanya kecewa sama diri Zahra sendiri yang sampai saat ini belum berhasil buka hati Kak Ken untuk Zahra," gumam Zahra sendu.


Zahra mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Jika saatnya nanti Zahra sudah tidak kuat dan memilih pergi, Zahra harap Kak Ken bahagia dengan pasangan Kak Ken yang sesungguhnya," lanjut Zahra.


Setelah selesai mencuci piring. Zahra melihat sepiring nasi goreng yang masih utuh di sebelah kompor. "Apa ini buat Zahra?" tanya Zahra.


Senyum kecil terbit di bibir Zahra. "Zahra menganggap sarapan ini dari Kak Ken untuk Zahra," gumam Zahra senang dan memangku nasi goreng tersebut untuk dibawa ke meja makan.


Tanpa Zahra sadari, Kenzo melihat itu semua dari balik tembok. Kenzo sengaja kembali untuk mengecoh Zahra. Kenzo tahu, setelah yang terjadi kemarin, Zahra pasti tidak ingin bertemu dengannya.


"Semoga ini bisa mengobati sedikit kesedihan kamu, Zahra," gumam Kenzo. Setelah itu dia kembali keluar rumah dengan diam-diam dan berlari menuju mobil yang sengaja dia parkir di luar gerbang rumah.


"Loh, Tuan kenapa lari seperti itu?" tanya Satpam ketika melihat Ken yang sedikit berlari.


"Tadi ada yang ketinggalan, Pak," jawab Kenzo.


"Kenapa mobilnya nggak dibawa masuk, Tuan?" tanya Satpam bingung.


"Kerjakan saja tugas Bapak. Jangan banyak tanya!" ucap Kenzo ketus dan langsung meninggalkan satpam tersebut.


"Iblis dan malaikat dalam diriku bekerja sama dalam waktu yang bersamaan," gumam Kenzo setelah dia masuk ke mobil.


Kenzo bingung dengan dirinya sendiri. Setiap dia dekat dengan Zahra, dendam itu kembali bangkit. Rasa untuk menyakiti itu selalu ada dalam diri Kenzo. Tapi setelah dia melakukan itu, hatinya menyesal. Ada rasa tidak enak dalam hatinya melihat Zahra yang telah dia sakiti. "Dendam tetaplah dendam," ucap Kenzo meyakinkan dirinya sendiri. Menepis perasaan simpati dalam dirinya yang ada untuk Zahra.


Setalah itu Kenzo menjalankan mobilnya untuk segera pergi meninggalkan area rumahnya.


.....


Disinilah Kenzo berada. Di ruangan yang sudah beberapa bulan ini selalu menjadi tempat dia berkeluh kesah kepada seorang wanita yang menjadi separuh dari jiwanya, Kinzi. Kembaran yang sangat Kenzo sayangi setelah Mamanya.


Kenzo duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang. Tangannya terulur menggenggam tangan Kinzi yang terbebas dari infus. Begitu banyak kabel yang melekat ditubuh Kinzi. Bunyi detak jantungnya memenuhi ruangan yang sangat sunyi ini.


"Kinzi," panggil Kenzo lirih.


"Ayo bangun," lanjutnya dengan terus menatap Kinzi.


"Kau tahu Kinzi, kemarin aku begitu sangat melukainya. Aku sangat melukainya, Kinzi," ucap Kenzo menunduk dalam dengan terus menggenggam tangan Kinzi. Ada setitik cairan bening keluar dari sudut matanya.


"Kau tahu Kinzi, bahkan aku mengatakan jika aku mencintai adiknya. Aku membohongi perasaanku sendiri. Aku sangat mencintainya, Kinzi. Sangat," ucap Kenzo dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Setitik air mata Kenzo jatuh mengenai tangan Kinzi. Tanpa Kenzo sadari, ada buliran kristal yang mengalir dari sudut mata Kinzi.


"Kemarin, aku melecehkannya layaknya seekor binatang, Kinzi. Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri. Tapi dendam ku kepada Al semakin besar melihat dia bahagia dengan istrinya. Sedangkan kau? Kau disini hidup dengan begitu banyak alat yang mungkin melukaimu, Kinzi. Aku mohon sadarlah, aku membutuhkanmu untuk menjadi orang jahat," lirih Kenzo.


Kenzo mengangkat kepalanya dan menatap Kinzi. Senyum terbit di bibir seksi Kenzo. Tangannya terulur menghapus jejak air mata di wajah Kinzi. "Kau pasti mendengar apa yang aku katakan. Segeralah sadar, setelah itu kita selesaikan dendam ini bersama-sama," ucap Kenzo.


"Semoga kau tidak kecewa dengan apa yang aku lakukan, Kinzi," ucap Kenzo sambil membungkukkan badannya dan mengecup singkat kening Kinzi.


"Aku pamit dulu, ya. Nanti aku datang lagi. Papa dan Mama akan kesini siang untuk menemaniku," ucap Kenzo dan kembali mencium dahi Kinzi. Setelah itu dia berjalan keluar ruangan Kinzi untuk pergi ke kantornya.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Sudah setengah jam sejak selesai melaksanakan meeting, mata Kenzo tak tak lepas dari layar laptopnya. Di sana dia melihat Zahra yang sedang menyeret dirinya sendiri dengan sebuah pel ditangannya.


Senyum sumbang terbit di bibir Kenzo mengingat setiap perlakuannya. "Sangat munafik jika aku mengatakan bahwa aku merelakan orang yang aku cintai hidup bahagia bersama orang lain. Malah aku menyiksa dan mengikatmu dengan sangat menyakitkan seperti ini, Zahra," gumam Kenzo melihat layar laptopnya.


"Jika saja kau bukan adik dari Albarra, cinta itu tidak akan bercampur dengan dendam. Aku benar-benar akan menjadikanmu seorang ratu," lanjut Kenzo dengan pandangan sendu.


Puas menatap layar laptopnya, Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arman.


"Keruangan ku sekarang!" ucap Kenzo tegas tanpa bisa dibantah. Tanpa menunggu jawaban Arman, Kenzo langsung memutus panggilannya.


Lima menit, pintu ruangan Kenzo terbuka. Arman masuk dengan sebuah iPad ditangannya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Arman sambil membungkuk.


"Apa kau sudah mengurus orang-orang yang mengikutiku tadi pagi?" tanya Kenzo.


Ya, sejak tadi pagi dia keluar dari rumah, Kenzo memang mencurigai sebuah mobil hitam yang selalu mengikutinya.


"Mobil tersebut hilang jejak, Tuan. Sepertinya mereka tahu jika kita mengetahui keberadaanya," jawab Arman.


Kami terlalu cepat bergerak, Al. Batin Kenzo. Dia yakin ini adalah orang suruhan Al yang mulai mencurigainya karena kejadian kemarin di kantor Al.


"Terus berada beberapa langkah di belakangku, jangan sampai semuanya terbongkar sebelum waktunya, Arman," ucap Kenzo. Arman memang mengetahui mengenai balas dendam Kenzo. Bagaimanapun juga, Arman adalah tangan kanan Kenzo yang sangat dia andalkan.


"Baik Tuan. Saya akan mengurusnya dengan sangat rapi," jawab Arman.


"Sekarang kau boleh keluar," ucap Kenzo. Arman pamit dan langsung keluar dari ruangan Kenzo.


Kenzo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menghela nafas pelan. Memejamkan mata menenangkan pikirannya sebentar. Semoga nanti kau tidak meninggalkan aku, Zahra. Batin Kenzo mengingat seorang istri yang sudah sangat dia lukai.


......................


Gimana part ini? Kalian pengen mukul Kenzo nggak sihh????


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz