
🌹HAPPY READING🌹
Waktu malam telah menjelang. Dee berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi bintang yang nampak sangat indah. Tidak terasa air mata wanita yang sudah tidak lagi muda itu menetes begitu saja.
Mengapa harus Zahra yang membayar semuanya? Dia dilahirkan seolah hanya untuk membayar karma atas kesalahan dua orang manusia yang merupakan Abi dan Bundanya. Apa yang dulu aku rasakan, kenapa sekarang dia yang merasakannya? Cacat, dikucilkan, disakiti oleh suami sendiri, dan hidup seorang diri membesarkan anak tanpa suami. Mengapa harus Zahra yang menanggungnya, Tuhan? Kebahagiaan seperti apa yang sedang engkau siapkan untuknya hingga harus menjalani cobaan hidup seperti ini? Batin Dee menangis mengingat bagaimana beratnya kehidupan yang dijalani oleh seorang anak suaminya yang berasal dari rahim wanita lain. Dan Dee sangat menyayangi Zahra layaknya Ibu Kandung.
Tangan Dee terulur mengusap air matanya ketika mendengar pintu kamar terbuka. Dee menoleh dan melihat Ibra yang memasuki kamar dengan senyum manisnya kepada sang istri.
"Belum tidur, Sayang," ucap Ibra berjalan mendekati sang istri. Semakin tua, pasangan suami istri ini terlihat semakin mesra, bahkan manja Ibra melebihi manja sang cucu, Shasa kepada Mamanya. Ibra lebih manja kepada Dee.
"Belum Mas," jawab Dee dengan senyum manisnya.
Dee dan Ibra berdiri berhadapan. Ibra menatap pipi sang istri dan melihat jejak air mata disana. "Kenapa?" tanya Ibra sambil mengusap pipi Dee dengan jari telunjuknya.
Dee menggeleng sambil tersenyum. "Hanya rindu dengan Zahra," ucap Dee jujur.
"Jangan membuat sedih karena keberadaan seseorang yang sudah meninggal, Sayang," ucap Ibra yang percaya bahwa Zahra memang sudah meninggal karena musibah banjir enam tahun lalu di kota Tarim.
Dee menggeleng. "Anakku masih hidup," jawab Dee pelan namun tegas.
Ibra mengangguk. "Dia selalu hidup di hati kita, Sayang," jawab Ibra.
Ibra memeluk Dee erat. "Terimakasih telah menyayangi dan menerima Zahra dengan sangat baik seperti, Sayang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupanku jika bukan kamu istriku," ucap Ibra tulus mengusap lembut rambut Dee yang tidak tertutup jilbabnya.
Dee melepaskan pelukannya dan menatap Ibra. "Zahra hadir karena sebuah keterpaksaan yang kalian lakukan, tapi keberadaanya di hidup kita sungguh memberi banyak kebahagiaan. Hingga tanpa sadar, dia membayar segala karma atas kesalahan orang tuanya. Secara tidak langsung, dia membayar segala air mata yang tumpah disini, Mas," ucap Dee menunjuk matanya sendiri dengan tatapan tak lepas dari Ibra.
Ibra terdiam mendengar perkataan Dee. "Maaf Sayang," ucap Ibra menunduk.
Dee tersenyum. Kedua tangannya terangkat mengusap lembut kedua bahu Ibra. "Jangan terlalu sering meminta maaf, Mas. Kita sudah lama bahagia, bukan," ucap Dee.
Ibra mengangguk dan kembali memeluk Dee. Tidak ada rasa syukur yang lebih besar selain memiliki kamu, Sayang. Batin Ibra bersyukur memiliki Dee dalam hidupnya.
Aku akan membawa Zahra kembali, dan mengembalikan senyum kamu, Mas. Aku tahu, kamu memendam sendiri perasaanmu untuk Zahra. Batin Dee.
.....
Sedangkan di rumah lain, Bu Sari dan Zahra sedang membuat adonan donat untuk besok ditekankan di warung-warung. Sedangkan Sela sudah tertidur setengah jam yang lalu, setelah menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Zahra," ucap Bu Sari serius.
"Iya, Bu," jawab Zahra tanpa mengalihkan pandangannya pada adonan kue ditangannya.
"Jangan memendam sendiri kesedihanmu," ucap Bu Sari yang mampu menghentikan kegiatan Zahra.
Zahra memandang Bu Sari dengan senyum manisnya. "Tidak ada yang sedih, Bu," ucap Zahra yakin.
Zahra kembali melanjutkan kegiatannya. Bu Sari hanya diam dengan terus memandang Zahra. Aku harus memastikan keraguanku. Batin Bu Sari. Dia yakin, bahwa ingatannya tentang Kenzo yang tadi mengantar Sela pulang sekolah adalah benar. Dia adalah Ayah Kandung Sela. Kenzo adalah lelaki yang sama yang pernah dia lihat waktu mengantar Zahra untuk kembali pada keluarga Hebi, namun Zahra menolak. Dia yakin, lelaki yang merupakan Ayah kandung Sela, dan lelaki yang membuat Zahra begitu terluka adalah Kenzo.
"Kamu sedih karena Sela menemukan Ayah Kandungnya," ucap Bu Sari langsung tanpa basa-basi.
Zahra langsung memandang Bu Sari dengan pandangan tak dapat diartikan. "Sela hanya punya Bunda, Bu. Tidak dengan Ayah," ucap Zahra.
"Tapi yang tadi siang kamu pergoki secara diam-diam dari balik pohon depan rumah kita adalah Ayah Kandung Kenzo," ucap Bu Sari yang mampu menampilkan raut keterkejutan di wajah Zahra.
"Sela berhak tahu mengenai Ayahnya, Nak," ucap Bu Sari lembut menatap Zahra.
Zahra menggeleng. "Memiliki Bunda saja sudah cukup untuk Sela, Bu," ucap Zahra kekeuh dengan keteguhan hatinya.
"Itu menurutmu, tapi bukan menurut Sela. Jangan bersikap egois, Zahra," jawab Bu Sari.
"Sela pasti mengerti kesedihan Bundanya, Bu," jawab Bu Sari.
Bu Sari menggeleng. "Hal yang wajar itu adalah orang tua yang harus mengerti bagaimana keinginan hati anaknya, bukan malah sebaliknya, Nak. Jangan sampai anakmu merasakan penderitaan batin karena merindukan Ayahnya. Apalagi diumur yang masih sangat kecil seperti itu. Jangan paksa anakmu dewasa sebelum waktunya," ucap Bu Sari yang membuat hati Zahra begitu sakit mendengarnya.
Setelah mengatakan itu, Bu Sari pergi begitu saja meninggalkan Zahra yang terdiam dengan hati kacau setelah mendengar perkataannya. "Benarkah aku egois pada anakku?" tanya Zahra lirih pada dirinya sendiri.
"Maafkan Bunda, Sela," ucap Zahra sendu.
Sela melanjutkan adonannya hingga selesai. Setelah satu jam, Zahra membereskan semua peralatan dapur dan pergi ke kamar Sela. Di sana, Zahra dapat melihat Sela tidur dengan nyenyak, dan tidak lupa Anna di pelukannya.
Zahra kembali ke kamarnya. Tangannya terulur mengambil sebuah bingkai foto yang menampilkan wajah seroang lelaki tampan. Kenzo, lelaki yang setiap malam Zahra pandangi wajahnya teduhnya, meskipun hanya dari sebuah foto.
"Apa kamu menerima Sela jika mengetahui dia anak anakku, Kak? Apa kamu menerima Sela jika mengetahui bahwa dia adalah anak yang lahir dari rahim wanita yang kamu benci? Aku hanya takut Sela akan mendapatkan penolakan seperti yang aku dapatkan. Itu sangat menyakitkan, Kak Ken," ucap Zahra sendu memandangi foto Kenzo dan mengusap lembut dengan jarinya.
"Aku harus bagaimana? Satu sisi ada hatiku, dan disisi lain ada hak anakku yang harus aku penuhi untuk mengetahui Ayahnya. Aku harus bagaiman?" lanjut Zahra lirih.
"Ya Allah, bantu aku mengambil keputusan bijaksana untuk diriku sendiri dan anakku. Bantu aku jadi wanita kuat dan Ibu bijaksana untuk putriku," ucap Zahra dengan doa tulus kepada penciptanya.
.....
Suara adzan membangunkan seorang gadis kecil dari tidurnya. Sela bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang. "Kok Buna tidak bangunin Cela?" gumam anak itu heran. Biasanya, Bundanya yang akan membangunkannya untuk Sholat Subuh.
Sela turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. "Nenek," panggil Sela ketika melihat Bu Sari yang hendak pergi ke kamar mandi.
"Eh, Sela sudah bangun," ucap Bu Sari.
Sela mengangguk. "Buna dimana, Nek? Kenapa tidak bangunkan Cela?" tanya Sela.
Zahra belum bangun? Batin Bu Sari heran, karena biasanya Zahra akan bangun lebih dulu dari mereka semua.
"Mungkin Bunda kecapean, Nak. Coba Sela bangunkan Bunda," ucap Bu Sari.
Sela mengangguk dan berjalan menuju kamar Bundanya. Anak itu membuka pintu kamar yang tidak terkunci. "Buna macih tidul," gumam Sela melihat Zahra yang masih tidur dengan nyenyak.
Sela berjalan mendekati Zahra. "Ini foto ciapa?" tanya Sela melihat sebuah bingkai foto dipelukan Bundanya.
Dengan perlahan tangan mungil Sela mengambil foto tersebut.
Berhasil, anak itu berhasil mengambil bingkai fotonya. Sela membalikkan bingkai tersebut. "Ayah."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍