Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 171



🌹HAPPY READING🌹


"Maaf, Mas. Zahra ingin memberi kejutan untuk ulang tahun, Mas. Zahra bingung harus beri kejutan bagaimana. Karena jika diucapkan dengan cara biasa, Mas tidak akan memperdulikan Zahra. Zahra tidak bermaksud apa-apa, Mas," ucapnya menjelaskan dengan suara bergetar.


"Dan apa kejutan ini benar? Apa kejutan ini baik untuk anak yang belum lahir itu yang telah kamu jadikan pancingan, Zahra?" tanya Kenzo lagi.


"Maaf Mas," hanya itu yang bisa Zahra ucapkan saat ini. Dia tidak menyangka, akan seperti reaksi yang Kenzo berikan kepadanya.


"Apa kamu sudah senang membuat aku terlihat semakin bodoh dengan kebohongan ini?" ucap Kenzo menatap Zahra lekat.


Zahra menggeleng kuat. "Enggak gitu, Mas," ucapnya dengan suara bergetar menyalahkan anggapan Kenzo pada apa yang dia berikan.


Zahra memberanikan diri untuk meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya. "Zahra cuma mau kasih kejutan untuk Mas Ken. Zahra cuma mau di hari spesial ini, Mas Ken dapat yang terbaik, hanya itu tujuan Zahra. Zahra cuma mau lihat senyum Mas lagi," ucap Zahra dengan sendu dan bergetar.


"Tapi tidak dengan kebohongan, Zahra," jawab Kenzo menarik tangannya dari genggaman Zahra.


Zahra kembali menangis melihat tangannya yang sudah kosong itu. Hampa, sangat terasa hampa saat Kenzo melepaskan tangannya.


"Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk memberi kejutan. Ditambah lagi, kamu menggunakan anakku sebagai umpannya, apa kamu tidak berpikir akibat belakangnya yang akan terjadi?" lanjut Kenzo menatap Zahra.


"Beruntung dia benar baik-baik saja. Jika nanti dia kesakitan dan aku anggap itu kebohongan lagi karena hal sekarang ini, apa itu akan baik untuk kesehatannya, Zahra? Yang harusnya diobati malah ditelantarkan hanya karena semua ini," ucap Kenzo lagi.


"Zahra bingung. Zahra nggak tau lagi harus berbuat apa. Mas hanya diam dan bersikap dingin kepada Zahra. Zahra bicara Mas hanya diam dan menjawab apa adanya. Zahra mencoba untuk bertanya Mas selalu jawab sibuk dan banyak pekerjaan. Zahra hanya bingung menjawab pertanyaan Sela mengenai kenapa Ayahnya. Hanya dengan cara seperti ini perhatian Mas bisa teralihkan pada kami," jawab Zahra memberi penjelasan pada Kenzo dengan air mata mengalir membasahi pipinya.


Kenzo berbalik dan menatap keluar jendela rumah sakit mendengar perkataan Zahra.


"Sekarang coba bicara, Mas. Ada apa sebenarnya? Apa Zahra punya kesalahan hingga Zahra didiamkan beberapa hari ini?" tanya Zahra lembut sambil menghapus air mata dengan telapak tangannya.


"Bukan kamu yang salah, hanya aku yang terlalu bodoh," jawab Kenzo pelan.


"Mas," ucap Zahra tak percaya mendengar perkataan suaminya itu.


"Jangan bersikap seperti anak kecil, Mas. Zahra mohon, bicaralah pada Zahra. Katakan apa yang terjadi. Jika seperti ini, bagaimana Zahra bisa memperbaiki diri. Jangan hanya bersikap dingin dan mencari jalan keluarnya sendiri, Mas," ucap Zahra lembut.


"Bukankah kita berjanji untuk saling terbuka satu sama lainnya?" tanya Zahra.


Kenzo tergelak pelan. Terbuka? Apa dia tidak salah dengar?


"Jangan bicara itu jika kamu saja melanggarnya, Zahra. Aku tidak akan begini jika kamu sedikit terbuka pada suamimu ini," jawab Kenzo.


"Mas, Zahra tidak menyembunyikan apapun. Zahra selalu bilang apa yang terjadi pada Mas. Zahra selalu menjadikan Mas tempat pulang dan cerita semua keluh kesah Zahra, lalu kenapa Mas bicara seperti itu?" ucap Zahra sendu.


"Keluarlah Zahra, aku hanya ingin sendiri," ucap Kenzo menahan emosinya. Dia tidak mau Zahra menjadi objek pelampiasan emosinya saat ini. Dia hanya takut melukai hati wanita yang dia cintai bersama dengan calon anak mereka yang masih berada nyaman diperut Zahra.


"Zahra tidak akan keluar sebelum semuanya selesai. Zahra tidak akan keluar sebelum Mas bicara dengan Zahra," ucap Zahra.


"Sejak tadi kita sudah bicara, Zahra," jawab Kenzo.


"Mas!" ucap Zahra tak sengaja meninggikan sedikit suaranya menatap Kenzo. Sungguh, Zahra tidak tahu harus bagaimana lagi berbicara dengan Kenzo..Keras kepala Kenzo benar-benar tidak bisa dia kurangi sedikit saja.


"Bicaralah, Zahra mohon," ucap Zahra lembut.


Kenzo menatap dalam Zahra yang berdiri tepat didepannya. "Kerja sama dengan Türk Mücevher," ucap Kenzo singkat.


DEG


Zahra menatap terkejut Kenzo setelah mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya itu. Keterkejutan terlihat jelas di sorot matanya.


"I-itu ..."


"Apa?" tanya Kenzo menatap sendu Zahra.


"Apa ini yang dibilang keterbukaan, Zahra?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak marah karena kamu membantu perusahaan, tapi kenapa harus dengan diam-diam seperti ini? Tidak bisakah kamu percaya padaku mengenai ini?" ucap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


Zahra menggeleng. "Mas, Zahra hanya tidak ingin mas menolak nanti," ucapnya dengan air mata membasahi pipi menatap lekat Kenzo.


Kedua manik indah itu saling menatap dalam. Satu manik menyorot sebuah penyesalan dan kata maaf, sedangkan manik lainnya menyorot sebuah kesedihan dan juga rasa kecewa.


"Aku tidak se egois itu untuk menolak bantuan istriku sendiri, Zahra," ucap Kenzo sendu.


"Jangan marah, Mas. Zahra mohon," ucap Zahra bergetar takut bahwa Kenzo akan semakin marah kepadanya.


"Aku tidak marah, Zahra. Aku hanya merasa bodoh saat mengetahui ini semua. Dengan bangganya aku mengatakan pada diriku sendiri jika aku bisa membangkitkan keadaan perusahaan ku, tapi nyatanya, aku dihempaskan oleh sebuah kebohongan. Bukan aku yang hebat, tapi istriku yang mengulurkan tangan untuk menolongku," ucap Kenzo.


"Tidak ada yang salah jika istri membantu suaminya, Mas," ucap Zahra sendu.


"Memang benar tidak ada yang salah, Zahra. Tapi caramu membuat aku terluka. Kamu mempertanyakan harga diriku sebagai laki-laki, kamu menjatuhkan derajat ku sebagai seorang imam dan kepala keluarga. Dengan bangga aku menceritakan padamu bahwa aku berhasil membuat keadaan perusahaan menjadi stabil, tapi kamu sudah mengetahui semuanya terlebih dahulu, bahkan sebelum aku mulai pun, kamu sebenarnya sudah tahu. Kamu hanya berpura-pura antusias agar aku terlihat semakin senang. Benarkan Zahra? Apa aku begitu tidak bisa diandalkan sebagai lelaki?" ucap Kenzo panjang lebar menatap sendu Zahra. Tidak ada kekerasan dan bentakan dari nada bicara Kenzo, yang ada hanya sebuah ucapan sendu yang begitu menyayat bagi Zahra.


"Aku minta maaf jika ikut menyembunyikan mengenai identitas mu, Zahra. Tapi semua itu agar kamu tidak semakin terluka jika mengetahui kedua orang tuamu sudah meninggal," lanjut Kenzo lagi menyadari juga kesalahannya.


"Begitu juga aku, Mas. Aku melakukannya hanya karena suamiku. Aku tidak mau kamu sakit dan kelelahan karena itu. Aku nggak mau lihat kamu tidak tidur berhari-hari karena perusahaan. Aku hanya mau suamiku baik-baik saja, hiks," ucap Zahra menjelaskan maksud hatinya. Tubuh wanita itu terduduk lemas dilantai karena tidak kuat lagi menahan semuanya.


Kenzo memejamkan mata sejenak mendengar perkataan Zahra. Dia beristigfar dalam hati menetralkan emosinya. Dia tidak marah, hanya saja sedang terluka saat ini.


Kenzo bersimpuh dan memegang kedua pundak Zahra. "Bangun, Sayang," ucap Kenzo lembut.


Zahra mengangkat kepalanya. Kenzo dapat melihat air mata yang begitu deras membasahi pipi istrinya. "Maafkan, Zahra. Bukan maksud Zahra seperti itu. Zahra tidak mungkin melukai harga diri suami Zahra sendiri. Bukan itu maksud Zahra, hiks," ucap Zahra lirih.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏