Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 190



🌹HAPPY READING🌹


Mas," panggil Zahra pelan.


"Iya Sayang," jawab Kenzo lembut.


Zahra nampak ragu untuk bicara. Dia hanya menatap Kenzo dengan matanya yang masih berair.


"Kenapa Sayang? Katakanlah," ucap Kenzo lembut mengusap pipi Zahra.


"Apa Ayah dan Kak Kinzi benar-benar tidak bisa bersama?" tanya Kinzi hati-hati.


Kenzo menggeleng yakin. "Tidak ada yang bisa diperjuangkan dari hubungan mereka jika bersatu, Sayang," jawab Kenzo.


"Hati mereka juga butuh rumah untuk pulang, Mas," ucap Zahra mencoba meyakinkan Kenzo.


"Masih banyak manusia di dunia ini yang bisa mereka jadikan pasangan. Jodoh memang ditangan Allah, tapi campur tangan kita juga diperlukan didalamnya," jawab Kenzo lagi.


"Lagi pula, tidak ada yang diuntungkan jika mereka bersama. Masyarakat akan bilang apa, Sayang? Tabu rasanya jika menikahi Ayah mertua kembaran sendiri. Hubungan mereka banyak perbedaan dan pertentangan dari berbagai pihak," ucap Kenzo.


"Tapi aku tidak ada hubungan darah dengan Ayah, Mas. Jadi sah-sah saja," ucap Zahra lagi menyakinkan Kenzo. Entahlah, dia merasa hati Kevin yang berada di seberang sana sedang tak tenang saat ini. Tugasnya disini untuk meyakinkan Kenzo. Jika Kenzo setuju, maka semua akan mudah, begitu menurut Zahra.


"Orang lain tidak tahu itu, Sayang. Kita harus menjaga pandangan orang juga terhadap kita," jawab Kenzo dengan pendiriannya.


"Penting apa pandangan orang dari pada kebahagiaan keluarga kita sendiri, Mas? Orang lain tidak tahu seberapa keras hidup kita. Perjuangan apa yang telah kita lewati. Saat kita jatuh, keluarga kita yang ada, bukan orang lain. Jadi jangan terlalu memikirkan orang lain dari pada keluarga sendiri, Mas. Kakak ipar dan Ayah kita perlu kebahagiaan," ucap Zahra menatap Kenzo yang menunduk.


Kedua tangan Kenzo mengepal dalam saku celananya. Dia tidak mungkin meluapkan emosi pada istrinya. Kenzo hanya bisa menghela nafas pelan untuk menetralkan emosinya yang tak menentu agar Zahra tidak kenapa-napa. Dia ingin sekali membahagiakan kembarannya itu, tapi tidak dengan cara begini.


"Banyak jalan untuk bahagia, Sayang. Dan seharusnya mereka bisa mengendalikan hati dan perasaan mereka sendiri!" ucap Kenzo tegas.


Kenzo beralih menatap Zahra yang hanya diam. "Kamu istirahatlah. Jangan pikirkan apa yang bukan tugas kamu. Ingat, kesehatan anak kita sangat tergantung dari kesehatan ibunya. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa-napa, Sayang," ucap Kenzo sambil mengusap lembut perut Zahra.


"Aku akan kembali ke kantor. Kamu istirahat ya. Sebentar lagi Sela akan pulang. Cup," lanjut Kenzo dan memberi kecupan singkat di dahi, kedua pipi dan bibir Sela.


Kenzo berdiri dan melangkah kakinya keluar kamar. Tapi sebelum keluar, Kenzo berbalik dan menatap Zahra. "Dan satu lagi, Sayang. Jangan pernah membicarakan mengenai ini lagi. Karena kamu akan selalu mendapat jawaban yang sama dariku. Jika memang kamu sangat menginginkan pernikahan Kinzi dan Ayah Kevin, berarti kamu mempertaruhkan pernikahan kita. Assalamu'alaikum!" ucap Kenzo dengan suara tegasnya dan berbalik pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang ada di hatinya.


Zahra menghela nafas pelan. Suaminya memang benar-benar memiliki pendirian yang kuat. Sangat susah untuk membujuk Kenzo mengenai hal ini. Zahra harus lebih sabar lagi, jika terlalu memaksa, maka dia yang akan menerima kemarahan Kenzo. Dan tentunya tidak akan berdampak baik bagi rumah tangga mereka.


.....


Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda. Pasalnya, si kepala keluarga sejak tadi hanya diam dalam makannya.


Sela yang merasakan ada sedikit yang aneh pada Ayah memberi kode pada Zahra yang duduk disebelahnya, dengan menyenggol betis Zahra dengan kaki mungilnya dibawah meja.


Zahra yang merasakan senggolan di betisnya menatap Sela dengan alis terangkat seolah bertanya 'Ada apa?'


Sela memberi kode pada Zahra lewat pandanganya yang menatap Kenzo. Zahra yang mengerti mengangguk pada Sela. Seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Sela mengangguk mengerti. Setelah itu dia melanjutkan makannya dengan tenang.


"Sela," panggil Kenzo pada Sela.


Sela yang sedikit terkejut langsung mengangkat kepalanya menatap Kenzo. "Iya Ayah," jawab Sela.


Mata Sela berbinar seketika mendengar perkataan Kenzo. "Benar Ayah?" tanya Sela semangat untuk memastikan.


Kenzo tersenyum dan mengangguk yakin.


"Kalau begitu nanti kita ke Cappadocia ya, Ayah," seru Sela senang.


"Kamu tahu darimana Cappadocia, Nak?" tanya Zahra bingung. Pasalnya, ini adalah pertama kali Sela akan ke Turki, jadi rasanya sangat tidak mungkin bahwa anak sebesar itu mengetahui mengenai tempat indah itu.


"Itu kan lagi viral, Bunda. Tempat impiannya Kinan layangan putus," jawab Sela lancar.


"Apa itu layangan putus?" tanya Kenzo tak paham. Apa hubungannya layangan yang putus dengan Cappadocia? Pikir Kenzo.


"Itu Ayah, web series yang lagi booming itu. Sela aja tahu, masa Ayah nggak tahu," ucap anak itu dengan segala kebanggaannya.


"Waktu Ayah terlalu berharga untuk menonton itu," jawab Kenzo tak mau kalah.


"Bilang saja ketinggalan," jawab Sela ketus.


"Kamu tahu darimana layangan putus, Nak?" tanya Zahra.


"Hehe, aku dan Shasa tadi nonton waktu di mobil sama Mama Kina," jawab Sela jujur.


Kedua anak ini benar-benar sudah dewasa. Batin Zahra.


"Baru tahu juga udah sok yang paling tahu," cibir Kenzo.


"Setidaknya kan tahu. Daripada enggak sama sekali," jawab Sela mengejek Kenzo.


"Ya Bunda, nanti me Cappadocia itu, ya. Sela mau naik balon udara," lanjut Sela memohon pada Zahra.


"Di Indonesia juga bisa naik balon udara," celetuk Kenzo.


"Tapi itu nggak bisa jalan balon udaranya, Ayah..Cuma digantung aja buat tempat foto. Ya Ayah, ya," ucapnya memohon pada Kenzo.


"Lihat nanti, kalau uang Ayah cukup," jawab Kenzo semakin mengerjai anaknya.


Sela nampak berpikir. Tidak lama akhirnya dia mengangguk dan tersenyum. "Baiklah," ucapnya menurut. Meskipun nanti uang Ayahnya tidak cukup, ada cara lain yang bisa dia lakukan untuk mendapat uang banyak, tunggu saja. Tidak ada Ayah, masih ada Daddy dan Papanya. Tapi Sela tahu mereka tidak akan memberi dengan cuma-cuma, oleh karena itu dia sudah mempersiapkan semuanya.


Kenzo menatap heran anaknya. Biasanya Sela akan semakin memohon dan sedikit murung jika diragukan keinginannya. Tapi sudahlah, yang penting malam ini dia tidak kalah berdebat dengan Sela. Setelah itu, mereka melanjutkan makan malam kembali.


......................


Hai, sedikit bonus sebelum tidur 😉


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏