
🌹HAPPY READING🌹
"Bukan, dia cantik seperti Tantenya."
DEG
Zahra mematung mendengar sebuah suara yang menyahut perkataannya.
Zahra menoleh kesamping, matanya berkaca-kaca melihat seorang wanita yang sudah sangat lama dia rindukan. Wanita yang ingin sekali dia temui, namun tertahan oleh sebuah rasa tidak ingin menyusahkan yang dibangun oleh pemikirannya sendiri.
"Kakak," panggil lirih suara tersebut. Air mata wanita itu mengalir tanpa bisa dia tahan. Air mata rindu itu akhirnya keluar dari mata beningnya.
"Hiks, Kakak," panggilnya lagi ketika Zahra tidak menyahuti sama sekali.
Zahra mengangguk dengan air mata menghiasi wajahnya. "Adek," panggil Zahra lirih.
"Kakak," panggil Kina lagi dan langsung membawa Zahra kepelukkannya.
Ya, wanita itu adalah Kina. Seorang adik yang sangat disayangi Zahra. Seorang adik yang menerima kehadirannya dengan lapang dada. Seorang adik yang menerimanya sebagai seorang Kakak.
Dee dan Kina pergi mengantar Shasa untuk sekolah hari pertamanya. Tadi saat melihat Shasa terjatuh, Kina langsung berlari mengejar anaknya, sedangkan Dee kembali ke mobil karena ada sesuatu yang tertinggal. Namun, saat melihat siapa yang menolong anaknya, langkah Kina terhenti, rasa bahagia itu muncul begitu saja dalam Hatinya. Melihat Zahra yabg seperti menghindar, Kina langsung mengambil arah lain untuk mengikuti Zahra.
Mereka saling berpelukan. Pelukan itu terasa sangat erat, erat sekali. "Ini benar Kakaknya Adekkan, hiks? Ini nggak mimpikan? Ini benar Kak Zahra kan, hiks?" tanya Kina beruntun memeluk Zahra.
Zahra hanya bisa mengangguk dengan terus memeluk adiknya tersebut. "Kakak kemana? Kenapa nggak pulang?" ucap Kina dengan tangisnya.
Saat akan membuka suaranya, Zahra tidak sengaja melihat Dee yang akan berjalan ke arah mereka. Dee tidak melihat mereka karena sibuk dengan sesuatu yang entah apa didalam tasnya.
"Maaf, Kakak harus pergi," ucap Zahra melepaskan pelukannya pada Kina.
"Enggak! Kakak harus ikut Adek pulang," ucap Kina tegas namun memandang Zahra dengan pandangan sendunya. Tangannya Manahan erat pergelangan tangan Zahra.
Kina berbalik, dan dia bisa melihat Dee disana. "Apa Kakak menghindari kami?" tanya Kina sendu.
Zahra mengalihkan pandangannya dari mata Kina. Melihat tatapan sendu Kina membuat hati Zahra sakit.
"Kakak harus pergi, Dek," ucap Zahra berusaha melepaskan tangan Kina.
"Apa Kakak tidak rindu pada Umi? Apa Kakak tidak rindu wanita yang sangat Kakak sayangi? Dia adalah wanita yang selalu menangis saat malam hari karena rindu pada anaknya, Kak," ucap Kina dengan tangisnya tertahannya.
Zahra menatap Kina dengan air mata membasahi pipinya. "Izinkan Kakak pergi, ya," ucap Zahra lembut dengan tangan yang terus berusaha melepaskan pegangan tangan Zahra pada tangannya.
Kina menggeleng kuat. "Adek mohon, kita pulang ya, Kak. Apa Kakak tidak rindu Abang? Apa Kakak tidak rindu Abi? Apa Kakak tidak rindu Bunda? Apa Kakak tidak rindu Ayah?" tanya Kina beruntun.
Zahra terus berusaha melepaskan cekakan tangannya. Namun Kina memegangnya dengan sangat erat.
"Kakak harus pergi, Kina," ucap Zahra.
Kina menggeleng kuat. "Apa Kakak menyerah dengan perjuangan yang selama ini Kakak lakukan?" tanya Kina sendu.
"Perjuangan Kakak tidak ada artinya," ucap Zahra.
"Tidak, Kak. Kakak berhasil, Kakak berhasil mendapatkan hati suami Kakak," ucap Kina memberitahu Zahra.
"Tidak ada yang bisa diharapkan dari pernikahan itu. Maaf, Dek. Kakak harus pergi!" ucap Zahra melepaskan tangan Kina dari pergelangan tangannya dengan sedikit kasar.
Kina mematung melihat tindakan Zahra. "Kakak yang Adek sayangi tidak pernah sekasar ini," ucap Kina sendu yang menghentikan pergerakan Zahra.
"Kakak sayang Kina," ucap Zahra dan berlari dengan sekuat tenaganya untuk menghindari keluarganya sendiri.
"Kakak!"
"Kak, ayo pulang, Kak!" teriak Kina memanggil Zahra.
"Kak, ayo pulang, kami rindu, hiks," ucap Kina dengan tangisnya dan badan yang luruh ke lantai.
"Kina!" teriak Dee yang baru datang dan melihat Kina yang sudah terduduk di lantai dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kina kenapa, Nak?" ucap Dee lembut bersimpuh mensejajarkan tinggi badannya dengan Kina.
Kina menoleh dan menatap Dee. "Umi," ucap Kina lirih.
"Kenapa Sayang?" ucap Dee lembut.
"Kakak, Umi," ucap Kina menunjuk bagian lorong yang tadi dilalui oleh Zahra.
"Kakak?" ucap Dee tak paham.
Kina mengangguk. "Umi percaya sama Adek, kan?" tanya Kina.
Dee mengangguk. "Umi percaya sama anak Umi," ucap Dee.
"Kakak, Umi. Kakak masih hidup, Kakak ada di kota ini, Umi," ucap Kina dengan segala keyakinannya memberitahu Dee.
"Za-Zahra?" ucap Dee memastikan.
Kina mengangguk dengan senyumnya. "Iya, Umi. Kakak masih hidup. Zahra, wanita kuat kita, Umi," ucap Kina.
"Adek tidak bercanda kan? Adek tidak bohong kan?" tanya Dee memastikan dengan mata berkaca-kaca.
"Bahkan Kakak sekarang bisa berjalan, Umi. Kakak sudah tidak kesulitan lagi," ucap Kina.
"Adek, jangan bercanda keterlaluan," ucap Dee sendu.
"Adek serius, Umi. Kakak masih hidup, bahkan tadi Kakak memeluk Adek. Kalau tidak, Adek tidak akan menangis seperti ini," ucap Kina meyakinkan Dee.
Dee memeluk Kina dengan sangat erat. "Apa Zahra baik-baik saja?" tanya Dee.
"Sangat, Umi. Bahkan Kaka terlihat lebih baik sekarang," jawab Kina.
"Kita beritahu Abi, ya," ucap Dee semangat.
Kina melepaskan pelukannya dan menatap Dee. "Jangan dulu, Umi," ucap Kina.
"Kenapa?" tanya Dee heran.
"Apa Zahra membenci kita, Nak?" tanya Dee.
Kina menggeleng. "Kakak sangat menyayangi kita. Pasti ada alasan lain, Umi," ucap Kina.
"Kita harus segera menemukan tempat tinggal Kakak, Umi," sambung Kina.
Dee mengangguk. "Kita akan melakukannya, Nak," ucap Dee dan kembali memeluk Kina. Percayalah, ini adalah kabar bahagia yang ingin sekali dia dengar sejak enam tahun lalu.
"Tapi tunggu, Dek," ucap Dee saat teringat akan sesuatu.
"Kenapa Umi?" tanya Kina.
"Apa anak Zahra selamat dan sekarang sekolah disini juga?" ucap Dee menerka-nerka.
Kina mengangguk yakin. "Bisa jadi, Umi. Jika tidak untuk apa Kakak kesini," ucap Kina menyetujui perkataan Dee.
"Kita akan mencaritahu, Nak," ucap Dee yakin dengan senyum bahagianya yang langsung dianggukki oleh Kina.
.....
Zahra memegang dadanya yang terasa sesak dibalik pohon besar yang ada di taman sekolah. Air matanya tidak henti mengalir setelah apa yang tadi terjadi.
"Zahra sangat rindu dengan Umi," ucap Zahra sendu.
"Zahra rindu pelukan Umi. Zahra rindu kasih sayang, Umi. Zahra rindu elusan tangan Umi di kepala Zahra. Zahra rindu saat rambut Zahra disisir Umi. Zahra sangat rindu, Umi, hiks," ucap Zahra memeluk dirinya sendiri.
"Tapi maaf, Zahra hanya tidak ingin membuat kalian kembali susah. Maaf, Umi," ucap Zahra lagi. Percayalah, bahkan saat ini dia lebih merindukan Dee dari pada Sofia yang merupakan Ibu Kandungnya sendiri. Ikatan bathin Zahra dengan Dee terjalin layaknya Anak dan Ibu Kandung.
.....
Waktu pulang sekolah telah tiba. Sela berjalan keluar dari kelas bersama dengan Anna yang selalu ada di genggamannya.
"Hai Sela," sapa seorang teman sekelas Sela.
"Hai Caca," ucap Sela dengan senyum manisnya.
"Aku Shasa, bukan Caca," ucap Shasa menjahili Sela.
"Maaf," ucap Sela menunduk. Dia takut kekurangannya dalam berbicara akan membuat orang membencinya.
"Tidak apa-apa. Sela pulang dengan siapa?" tanya Shasa ceria.
"Jalan kaki. Lumahku dekat dali cekolah," ucap Sela.
"Pulang dengan Shasa saja, ya," ucap Shasa langsung menggandeng tangan Sela menuju mobil yang sudah menjemputnya.
"Tapi Caca-"
"Tidak apa-apa. Shasa senang berteman dengan Sela," ucap Shasa tulus.
Kedua anak itu berjalan beriringan menuju mobil jemputan Shasa.
"Loh, Daddy," ucap Shasa kaget melihat Al yang datang menjemputnya.
"Hai Princess kecil, Daddy," ucap Al dengan senyumnya yang sedang duduk di kursi kemudi.
"Kenapa bukan Papa yang jemput?" tanya Shasa bingung.
"Papa lagi meeting gantiin Daddy. Sekarang Shasa naik, kita akan ke kantor Papi sekarang," ucap Al.
"Kantor Papi?" tanya Shasa senang. Karena jika akan ke kantor Papinya, maka dia akan mendapat banyak mainan.
Al mengangguk dengan senyumnya. Hingga pandangannya beralih pada seorang anak yang sedari tadi diam dan menunduk di belakang Shasa. "Dia siapa, Sha?" tanya Al.
Shasa menepuk jidatnya karena lupa memperkenalkan Sela pada Al. Shasa mengambil tangan Sela dan menariknya agar mereka berdiri sejajar. "Dia Sela, Dad. Teman sekelas Shasa," ucap Shasa.
Sela mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Al. "Acalamu'alaikum, Paman," ucap Sela dengan gaya cadelnya.
"Waalaikumsalam," ucap Al tersenyum lembut.
"Sekarang ayo naik, Sha," sambung Al.
"Tapi kita antar Sela pulang dulu, ya Dad," ucap Shasa.
Al mengangguk dengan senyum manisnya. Shasa yang kegirangan langsung mengajak Sela naik mobil dan mereka berdua duduk di bangku belakang.
Al hanya memperhatikan interaksi Sela dan Shasa yang sejak tadi tidak bisa diam. Mata Al terus menatap wajah Sela dari kaca mobil yang terasa tidak asing baginya.
"Caca," panggil Sela.
"Iya," jawab Shasa.
"Apa punya Ayah menyenangkan?" tanya Sela semangat kepada Shasa.
Al yang mendengar pertanyaan Sela melambatkan laju mobilnya dia ingin menikmati interaksi kedua anak itu yang terasa menarik perhatiannya, terutama Shasa.
Shasa dengan polosnya mengangguk semangat. "Sangat menyenangkan sekali. Aku punya tiga, pertama Papa, Daddy dan Papi," ucap Shasa senang. Papa yang dia maksud adalah Aska, Ayah kandungnya, Daddy untuk Al dan Papi untuk Kenzo.
Mata Sela berbinar mendengar jawaban Shasa. "Wah, Caca beluntung cekali, ya. Boleh Cela minta Ayahnya catu?" ucap Sela polos dengan menunjukkan jari telunjuknya, seolah mengisyaratkan angka satu.
"Emangnya Sela tidak punya Ayah, ya?" tanya Shasa polos.
Wajah Sela berubah sendu. Tangannya memilin-milin ujung jilbabnya. "Cela punya Ayah, tapi cedang belada di tempat lain," jawab Sela sendu.
Anak ini mengingatkan aku saat aku kecil dulu, pintar sekali. Batin Al melihat sikap Sela yang tidak jauh beda dengannya saat kecil dulu.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Maaf ya teman-teman, untuk visual di part berikutnya ya, author belum sempat cari, jangan marah teman-teman 🙏🙏🥰
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍