Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 55



🌹HAPPY READING🌹


Pulang dari rumah Ibra dengan harapan besar dan senyum mengembang di bibirnya, Kenzo kembali ke kantor untuk bertemu dengan anak buah yang dia minta untuk menyelidiki Sela. Setelah berbicara dengan Dee, anak buahnya mengabari bahwa informasi yang Kenzo minta sudah mereka dapatkan.


Kenzo memasuki kantor dengan wajah dinginnya. Aura pemimpin nampak begitu kental di wajahnya. Gagah dengan pakaian formalnya dan berwibawa dengan langkah pastinya.


Ting. Pintu lift berbunyi dan Kenzo segera keluar lift menuju ruangannya. Dari ujung lorong ruangannya, Kenzo melihat kedua anak buahnya sedang berbincang dengan Arman, sekretarisnya.


Kenzo berjalan mendekati mereka. "Keruangan saya! Kamu juga, Arman," ucap Kenzo tanpa bisa dibantah. Anak buah Kenzo dan Arman mengangguk. Mereka mengikuti langkah kaki Kenzo dari belakang menuju ruangannya bosnya tersebut.


"Apa kalian mendapatkan apa yang aku minta?" tanya Kenzo tanpa basa-basi.


Salah satu anak buah Kenzo mengangguk. Arman yang melihat itu nampak senang, karena sebentar lagi kehidupan Kenzo akan berubah karena ini. Kebahagiaan itu akan datang, Tuan. Kehidupan anda akan kembali. Batin Arman ikut senang.


Anak buah Kenzo maju dan memberikan sebuah flashdisk yang berisi mengenai informasi mengenai Sela. Kenzo menerima flashdisk tersebut. Tanpa banyak tingkah, Kenzo langsung menghubungkan flashdisk tersebut dengan laptopnya.


"Apa kalian mendapat video kehidupannya seperti yang aku inginkan?" tanya Kenzo sambil menunggu laptopnya hidup.


Anak buah Kenzo beserta Arman mengangguk. "Kami memasang CCTV setelah mengetahui rumahnya, Tuan. Disepanjang jalan menuju rumahnya pun, kami memasang CCTV yang tidak orang lain ketahui keberadaan CCTV tersebut," jawab Arman yakin.


"Berarti ini akan membuka semua hal tentang anak itu? Termasuk Ibunya?" tanya Kenzo hati-hati di ujung pertanyaannya.


Arman mengangguk yakin dengan senyumnya. Ingin sekali dia memberitahu bahwa Sela adalah anaknya, namun Arman ingin Kenzo mengetahuinya sendiri.


"Kalian yakin dengan semua informasinya?" tanya Kenzo lagi.


Arman dan kedua anak buah Kenzo mengangguk yakin. "Sangat yakin, Tuan," jawab Arman mewakili mereka bertiga.


Kenzo mengangguk. Setelah laptopnya menyala, Kenzo segera menghubungkan flashdisk tersebut. Kenzo hanya tinggal menekan file yang ada disana, karena isi flashdisk tersebut hanya berisi data mengena Sela.


Kenzo langsung membuka file yang berisikan hasil rekaman CCTV yang merekam kegiatan Sela sehari kemarin dan sampai tadi pagi.


Ternyata video pertama menunjukkan waktu malam. Anak buah Kenzo memasang CCTV disana saat malam hari. Tidak ada tanda apa-apa. Kenzo memutar lagi video berikutnya.


Pagi hari, di video Kenzo melihat Zahra yang pergi sekolah dengan Neneknya. Tidak ada informasi yang berarti seperti yang aku harapkan. Batin Kenzo lemas.


Kenzo mempercepat putaran video tersebut. Saat dia akan mengakhiri videonya, mata Kenzo melihat seorang wanita keluar dari rumah Sela.


Kenzo memandang anak buahnya dan Arman secara bergantian, setelah itu kembali memastikan penglihatannya. "Zahra," gumam Kenzo.


"Arman?" tanya Kenzo memastikan kepada Arman.


Arman mengangguk dengan senyumnya. "Benar, Tuan. Anak kecil tersebut adalah anak Nyonya Zahra," jawab Arman.


Tangan Kenzo terulur menyentuh layar laptopnya. Mengusap lembut Zahra yang ada di video tersebut. Air bening itu keluar dari sudut matanya. Kenzo tidak memperdulikan lagi keberadaan anak buahnya dan Arman disini. Yang penting saat ini, dia sangat bahagia karena menemukan belahan jiwa dan seluruh hidupnya.


"Apa Sela anakku, Arman?" tanya Kenzo dengan nada bergetar tanpa mengalihkan pandanganya video tersebut.


Lagi-lagi Arman mengangguk. "Benar, Tuan. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, Nyonya Zahra tidak pernah menikah setelah kejadian di kota Tarim. Sela lahir tepat sembilan Ulan setelah kejadian bencana tersebut. Dan saat ini, dia tinggal bersama seorang Ibu yang menjadi relawan saat kejadian banjir tersebut, Tuan," jawab Arman yakin.


Kenzo memandang Arman dengan anak buahnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang tak luntur. "Terimakasih atas pekerjaan kalian," ucap Kenzo tulus.


"Sama-sama, Tuan," jawab mereka bertiga ikut bahagia dengan hal tersebut.


Arman memberi kode kepada kedua anak buah Kenzo untuk keluar. Mereka mengangguk dan meninggalkan Kenzo sendiri untuk menikmati waktu bahagianya.


.....


"Kamu benar-benar jadi wanita sempurna, Sayang," ucap Kenzo senang melihat Zahra yang bisa berjalan dengan lincahnya.


Sedetik kemudian, wajah tampan itu berubah sendu mengingat sesuatu yang menyakitkan untuknya. "Apa kamu masih mencintai lelaki dengan serba kekurangan ini, Zahra? Apa aku masih jadi satu-satunya pemilik hati kamu? Apa kesempurnaan kamu yang seperti ini bisa menerima lelaki bejat dan bajingan seperti aku, Zahra?" ucap Kenzo lirih.


"Aku mohon terima lelaki ini dan kembali, hiks," ucap Kenzo menangis dengan kepala menunduk menyembunyikan air mata dari segala benda yang menjadi saksi bahagia sekaligus sesaknya di ruangan ini.


Beberapa menit menangisi nasibnya, Kenzo teringat akan Dee. Dia menatap jam tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Kenzo menutup laptopnya dan membawa benda pipih itu keluar ruangannya. Dia segera meninggalkan kantor dan kembali ke rumah Ibra. Harapan sangat besar agar Seka masih berada di rumah Ibra bermain dengan Shasa.


.....


Sela turun dari mobil yang mengantarnya pulang. Dia pulang dengan diantar Shasa dan sopir pribadi keluarga Ibra. Karena anggota keluarga yang lain ada keperluan yang tidak dapat mereka tinggalkan.


"Cela duluan ya, Ca," ucap Sela ketika akan turun dari mobil.


"Besok kita main lagi, ya," ajak Shasa yang seperti tidak rela jika Sela pulang.


Sela mengangguk. "Kita akan celing main," ucap Sela memeluk Shasa.


Puas anak kecil itu saling berpelukan, Sela menatap Sopir yang mengantarnya. "Telimakaci udah antal Cela, Pak," ucap Sela sopan.


Sopir tersebut mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Nona," jawabnya ramah.


"Acalamu'alaikum," ucap Sela keluar dari mobil.


"Waalaikumsalam," jawab Shasa dan Sopir.


Sela memperhatikan mobil Shasa yang jauh dari pandangannya. Anak itu sengaja minta diantar sampai gang saja, dia tidak ingin terlalu merepotkan Shasa.


"Hali yang indah," gumam Sela senang dan segera berbalik menuju rumahnya.


Sela berjalan dengan bersenandung kecil. Nampak sekali raut bahagia di wajah anak itu saat ini. Bayangan bersalaman dengan sang Ayah dan mencium wajah Ayahnya selalu ada di ingatannya. Terasa sangat indah sekali.


Sampai hampir dekat rumahnya, Sela melihat Zahra yang sudah duduk di kursi kayu teras mereka. "Buna, tumben Buna cudah pulang," gumam Sela heran, karena biasanya Zahra akan pulang hampir atau selepas magrib.


"Acalamu'alaikum, Buna," ucap Sela datang dengan senyum manisnya.


"Waalaikumsalam, Sayang. Sela darimana saja baru pulang jam segini, Nak? Tadi Bunda jemput ke sekolah tapi Sela nggak ada? Kenapa nggak izin dulu sama Bunda kalau main? Kenapa nggak kasih surat dulu?" tanya Zahra bertubi khawatir dengan anaknya.


Sela hanya tersenyum polos dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Maaf, Buna," ucap Sela.


Zahra menghela nafas pelan. "Lain kali Sela izin dulu, ya. Jangan buat Bunda khawatir, Nak," ucap Zahra lembut.


Sela mengangguk dengan senyumnya, lalu memeluk kaki Zahra. Zahra membungkuk dan mensejajarkan tinggi badannya dengan Sela. "Emang tadi Sela main kemana, Nak?" tanya Zahra lembut merapikan jilbab Zahra yang sedikit berantakan.


Sela terdiam sebentar dan menatap Zahra lekat. Anak itu menatap mata Zahra penuh harap. "Main ke lumah Ayah, Buna."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍