
🌹HAPPY READING🌹
Zahra memegang tangan Kenzo agar Al tidak curiga. Kenzo menoleh ketika Zahra memegang tangannya. Tanpa Zahra duga, Kenzo membalas dengan menggenggam tangan Zahra disertai senyum manisnya.
Dan semua itu masih tidak lepas dari pandangan Al. Abang tahu ada yang kamu sembunyikan, Zahra. Ucap Al dalam hati melihat semuanya.
Zahra menunduk dalam menghindari tatapan Al. Tangannya menggenggam kuat tangan Kenzo. Ya Allah, gimana kalau Abang curiga? Gimana kalau Kak Ken tahu nanti, Kak Ken pasti marah. Ya Allah selamatkan Zahra nanti di rumah. Batin Zahra cemas. Jujur sama, dia sungguh takut saat ini.
Kenzo yang merasakan genggaman tangan Zahra begitu erat menoleh kepada istrinya. "Kamu kenapa Sayang?" tanya Kenzo lembut. Mereka semua beralih menatap Zahra.
"Zahra kenapa, Nak? Kenapa berkeringat begitu?" tanya Dee yang langsung berdiri dan berjalan mendekati Zahra.
Zahra menggeleng. "Zahra tidak apa-apa, Umi," jawab Zahra mencoba tersenyum.
"Sebaiknya kamu bawa Zahra pulang, Ken. Zahra nampak tak enak badan," ucap Ibra khawatir melihat anaknya.
Kenzo mengangguk. "Kalau begitu Kenzo pamit dulu semuanya," ucap Kenzo.
"Zahra pamit dulu, Umi, Abi, Abang, Adek dan Kak Aska," ucap Zahra menyebut mereka satu persatu.
Mereka semua mengangguk mengiyakan. "Assalamu'alaikum," ucap Zahra dan Kenzo.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
Kenzo mendorong kursi roda Zahra keluar dari ruangan Al dan menuju lift. Sepanjang perjalanan menuju mobil, Kenzo hanya diam dengan wajah yang dinginnya
Kenzo membantu Zahra menaiki mobil dan melipat kursi roda Zahra lalu meletakkannya di kursi belakang.
Kenzo langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan penuh.
"K-Kak Ken, pelan-pelan saja. Zahra takut," cicit Zahra pelan.
Kenzo menulikan telinganya. Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan pengendara lain yang kesal karena ulahnya.
Zahra hanya bisa berdoa dan memejamkan matanya menahan segala rasa takut, khawatir dan cemasnya.
Hingga setengah jam, mobil Kenzo berhenti tepat di depan rumahnya. Kenzo langsung turun dari mobil dan mengeluarkan kursi roda Zahra. Dengan kasar Kenzo menyeret Zahra turun dari mobil dan mendudukkannya di kursi roda.
Kenzo mendorong kursi roda dengan kasar untuk memasuki rumah. Saat di tangga teras, kursi roda Zahra berguncang hingga luka di paha Zahra terasa sangat sakit.
Zahra hanya bisa meringis menahan sakitnya. Doa tidak pernah berhenti terucap dari mulut mungil Zahra.
Kenzo membuka pintu rumah dengan kasar dan menutupnya tidak kalah kasar. Kenzo melepaskan kursi roda Zahra dengan kuat hingga Zahra sedikit terhuyung dan kursi rodanya membentur sofa ruang tamu.
"Apa mau kamu, Zahra?" ucap Kenzo marah.
Zahra hanya menggeleng dengan kepala menunduk dalam.
"Jawab pertanyaanku! Kenapa kamu bersikap seperti itu tadi? Kamu bersikap seolah-olah memberi kode kepada mereka semua bahwa kamu tidak bahagia!" ucap Kenzo memukul tepat di pegangan kursi roda Zahra.
"Zahra tidak bermaksud seperti itu, Kak Ken," ucap Zahra pelan.
"LALU APA?" bentak Kenzo.
Zahra hanya bisa memejamkan mata mendengar setiap bentakan Kenzo.
"Ini belum saatnya keluargamu tahu bahwa kamu menderita. Tunggu beberapa saat, setelah aku benar-benar menyakitimu, maka aku sendiri yang akan membongkar semuanya kepada keluargamu, Zahra!" ucap Kenzo menatap Zahra tajam.
Zahra memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Kenzo. "Jangan sakiti keluarga Zahra, Kak Ken," ucap Zahra lirih.
Kenzo terkekeh pelan. "Bahkan itu adalah tujuanku, Zahra!" jawab Kenzo.
"Kak Ken boleh menyakiti Zahra. Kak Ken boleh tampar Zahra. Kak Ken boleh bentak Zahra, tapi jangan keluarga Zahra," ucap Zahra memohon dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya. Mereka semua sudah sangat menderita karena Bunda dulu. Sekarang jangan buat Zahra menjadi penyebab mereka menderita. Lanjut Zahra dalam hati.
"Sampai kejadian ini terulang, jangan harap pernikahan Al akan tetap bahagia!" ancam Kenzo. Zahra hanya bisa mengangguk menjawab perkataan Kenzo.
"Sekarang turun dari kursi rodamu dan pergi ke kamar!" ucap Kenzo tegas.
"TURUN!" bentak Kenzo.
Zahra hanya mengangguk pelan dan turun dari kursi rodanya dengan perlahan. Zahra menyeret dirinya dengan pelan untuk segera sampai ke kamarnya. Sungguh, paha Zahra saat ini sangat sakit karena luka yang belum kering itu kembali bergesekan dengan lantai. Kenzo mengalihkan pandangannya ke luar rumah saat Zahra menyeret dirinya sendiri dengan wajah yang sangat ketara menahan sakit.
Dagu Zahra bergetar menahan tangisnya agar tidak keluar saat di depan Kenzo. Saat sampai di kamarnya, Zahra menutup pintu dan menguncinya. Zahra menutup mulutnya dengan hijab yang dia gunakan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Kenzo.
"Ya Allah limpahkan kepada Zahra kesabaran yang lebih dari wanita lainnya. Zahra mohon Ya Allah, berikan Zahra kekuatan lebih untuk pernikahan yang berbeda ini," pinta Zahra kepada Sang Pencipta.
Kenzo menatap pintu kamar Zahra yang tertutup rapat. Dapat dia lihat sedikit noda darah yang ada di lantai.
Kenzo mengepalkan tangannya menahan segala emosinya. Kenzo segera keluar rumah dan pergi dengan mobilnya.
.....
Tidak terasa malam menjelang. Waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Kenzo masih asik dengan pikirannya yang dipenuhi oleh Zahra. Dentuman musik yang begitu keras tidak mengganggu Kenzo sedikitpun.
Ya, Kenzo sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah klub yang selalu dia datangi disaat banyak pikiran seperti ini. Meskipun bermain kesebuah klub malam, Kenzo tidak pernah bermain wanita. Dia hanya minum dan menghabiskan beberapa bungkus rokoknya di sana. Dan tidak ada yang tahu kebiasaan Kenzo ini selain asistennya, Arman.
Saat Kenzo membawa seorang wanita kerumahnya untuk membuat Zahra sakit hati, tentu itu adlah wanita yang dicarikan oleh Arman. Kenzo bahkan masih menjaga kesuciannya sebagai pria sampai saat ini.
"Tuan, anda terlalu banyak minum," ucap Arman menasehati Kenzo.
"Berikan aku lagi, Arman," ucap Kenzo.
"Tidak Tuan. Anda terlalu banyak minum dan merokok. Itu akan bahaya untuk kesehatan anda," ucap Arman kekeuh.
Kenzo hanya tertawa layaknya orang mabuk. "Aku ini pria jahat, Arman. Aku sangat jahat," ucap Kenzo sendu.
Melihat wajah Zahra yang ketakutan dan darah Zahra yang ada di lantai, membuat Kenzo tidak tenang dan selalu gelisah.
Arman tanpa aba-aba langsung membantu Kenzo berdiri dan memapah tubuh Kenzo.
"Enyah dari Tuanku, Jalang!" ucap Arman tajam kepada seorang wanita dengan pakaian minim yang mendekati Kenzo.
Wanita itu pergi dengan kesal mendengar perkataan kasar Arman. Setalah itu, Arman membawa tubuh Kenzo keluar dari tempat terkutuk itu dengan sedikit kesusahan.
.....
Sedangkan di kediaman Al, nampak lelaki itu duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan yang terus mengelus rambut Bella yang tidur dengan memeluk pinggangnya. Setelah melaksanakan kegiatan suami istrinya, Al tidak langsung tidur.
Al memandangi wajah Bella yang tidur dengan nyenyak. Wajah damai istrinya dapat menenangkan sedikit beban pikirannya. Hingga Al yakin dengan apa yang dia pikirkan, Al mengambil ponsel dan menelpon seseorang yang bisa membantunya.
"Halo, Uncle Alan," ucap Al saat panggilannya diangkat oleh Alan.
Alan adalah sahabat Ibra yang merupakan rekan kerja sekaligus seorang detektif. Apapun yang ingin diketahui, Alan selalu bisa diandalkan. Hingga kini, Al juga berteman baik dengan Uncle nya itu.
"Kenapa ?" jawab Alan kesal dari seberang sana. Tentu saja kesal, Al menelponnya saat-saat waktunya di ranjang dengan sang istri.
Al terkekeh pelan mendengar jawaban Uncle nya itu. "Jangan marah, Uncle. Nanti tambah tua," ucap Al.
"CK, cepat katakan apa mau mu?" tanya Alan.
"Al mau Uncle menyelidiki sesuatu," ucap Al tanpa basa-basi.
"Apa?" tanya Alan.
"Zahra."
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗