Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 15



🌹HAPPY READING🌹


Sesuai dengan perkataan Zahra tadi siang yang meminta izin kepada Kenzo untuk bertemu Kina, kini Zahra sudah siap dengan gamis, hijab dan tas selempang kecil di badannya.


Zahra sedikit meringis menahan sakit di pahanya akibat jatuh dari mobil tadi. "Ini kok masih sakit sih? Kan udah dikasih salep," gumam Zahra sambil menyikap sedikit gamisnya ke bagian paha.


"Lecetnya gede juga," ucap Zahra saat melihat pahanya yang lecet dan kebiruan.


"Nanti pasti sembuh sendiri," sambung Zahra dan menutup kembali gamisnya.


Zahra menekan tombol pada pegangan kursi rodanya dan keluar dari kamar. Mobil yang akan mengantarkan Zahra sudah siap di depan rumah. Dengan bantuan sopir, Zahra menaiki mobil tersebut. "Terimakasih, Pa," ucap Sopir tersebut.


"Sama-sama Nyonya," jawab Kang Mardi yang merupakan sopir pribadi Kenzo.


.....


Setengah jam, mobil Zahra sampai di tempat yang dia janjikan bersama Kina.


Zahra menjalankan kursi rodanya memasuki Cafe tersebut. Zahra mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kina katanya sudah sampai sejak sepulu menit yang lalu.


Senyum Zahra mengembang melihat Kina melambaikan tangan kepadanya. Tanpa pikir panjang Kina menjalankan kursi rodanya menuju meja Kina.


"Adek kangen banget sama Kakak tau nggak," ucap Kina memeluk Zahra.


Zahra tersenyum lembut. "Kaka juga. Adek sendiri aja?" tanya Zahra.


Kina menggeleng. "Enggak, Adek sama Umi," jawab Kina.


"Umi?" tanya Zahra. Pasalnya dia tidak melihat keberadaan Dee disini.


"Umi lagi di toilet, Kak," jawab Zahra.


Saat mereka berbincang, pelayan datang dengan makanan dan minum yang sudah dipesan oleh Kina terlebih dahulu. Kina memang tahu kesukaan Zahra. Oleh karena itu dia memesan terlebih dahulu dari pada lama nantinya.


Tidak lama setelah pesanan mereka datang, Dee kembali dari toilet. "Umi," sapa Zahra.


Dee tersenyum dan memeluk Zahra. Mencium pipi Kiri dan Kanan Zahra.


"Zahra apa kabar, Nak?" tanya Dee lembut.


"Baik Umi," jawab Zahra.


Dee memperhatikan Zahra dari atas sampai bawah. Ada yang sedikit berbeda dengan putrinya itu. Dee tahu betul, sebelum Zahra menikah, Zahra tidak sekurus ini.


"Zahra tidak bohong sama Umi, kan?" tanya Dee hati-hati.


Zahra mengangguk yakin. "Enggak Umi," jawab Zahra. Dee mengangguk saja ketika mendengar jawaban Zahra. Walaupun di hatinya masih ada sedikit ragu mengenai pernikahan Zahra.


"Umi ikut, terus Abi di rumah gimana?" tanya Zahra di sela makan mereka. Karena pasalnya, sejak Ibra pensiun dari pekerjaannya, Ibra kan terus mengekor kemanapun Dee pergi.


"Udah Umi ikat di rumah," jawab Dee yang disambut tawa oleh Kina dan Zahra.


"Itu Abi kami, Umi," ucap Zahra dan Kina berbarengan.


"Abi tadi ada perlu ke kantor. Katanya ada rapat besar bersama perusahan lain yang membutuhkan kehadiran Abi," jawab Dee jujur.


Kina dan Zahra mengangguk mendengar jawaban Dee. Setelah itu mereka melanjutkan makan siang bersama dengan hening.


"Umi, Kakak," ucap Kina setelah mengusap mulutnya dengan tissue. Makanan pun sudah nampak habis tak bersisa.


"Kenapa Dek?" tanya Zahra dan Dee berbarengan.


Zahra tidak langsung menjawab. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja.


"Dek ini ..." ucap Dee memegang benda pipih tersebut.


Kina mengangguk. "Iya Umi. Adek positif hamil," ucap Kina.


Senyum mengembang terbit di bibir Dee dan Zahra. "Adek serius kan?" tanya Zahra.


"Iya Kak. Adek udah coba empat testpack, dan hasilnya sama semua," ucap Kina.


"Wah selamat Adek. Bentar lagi mau jadi Ibu," ucap Zahra senang.


Dee langsung memeluk anaknya itu. "Selamat ya, Nak. Sebentar lagi Umi akan jadi Nenek," ucap Dee mengusap lembut punggung Kina.


Dee dan Zahra mengangguk menyetujui ajakan Zahra. Mereka semua berjalan meninggalkan meja dengan Zahra yang di dorong oleh Kina. Sedangkan Dee ke kasir untuk membayar makan mereka.


.....


Sedangkan di kantor Al, tepatnya diruangan Al, Ibra duduk bersama Al, Aska dan Kenzo. Rapat penting perusahaan dengan perusahaan lain telah selesai. Kenzo sengaja masih berada di kantor Al atas permintaan Ibra. Dia ingin berbincang-bincang bersama menantunya tersebut.


Kini mereka semua duduk di sofa setelah menyelesaikan makan siang bersama.


"Bagaimana keadaan kamu dan Zahra, Ken?" tanya Ibra.


"Baik, Abi," jawab Kenzo sekenanya.


"Oh iya, Ken. Sewaktu pernikahan Lo dan Zahra, gue nggak lihat keberadaan Kinzi. Kinzi kemana?" tanya Al. Sebenarnya ini sudah sangat lama ingin keluar dari mulutnya. Tapi dia selalu tidak punya kesempatan untuk menanyakan ini kepada Kenzo.


"Sewaktu pernikahan gue sama Zahra, Kinzi tidak sehat. Makanya dia tidak hadir," jawab Kenzo.


"Dihari sepenting itu?" tanya Al heran. Pasalnya itu adalah hari yang penting dalam hidup Kenzo. Hari pernikahan uang menurutnya hanya akan terjadi sekali seumur hidup.


Kenzo mengangguk yakin. Kalau saja bukan karena lo?, Gue juga nggak sudi menikahi adik Lo yang cacat itu. Ucap Kenzo dalam hati. Ingin sekali Kenzo baku hantam dengan Al saat ini juga. Tapi dia harus sabar, Zahra akan menerima semuanya.


Ada sesuatu yang nggak beres. Batin Al tidak yakin dengan jawaban Kenzo.


Disela pembicaraan mereka, pintu ruangan Al terbuka dan menampilkan tiga orang wanita cantik dengan senyum manis mereka.


Ibra yang melihat itu langsung berdiri dan merangkul pinggang istrinya dengan posessive.


"Kalian kesini?" tanya Ibra.


Dee memutar matanya malas. Pernyataan Ibra sungguh tidak pantas untuk dijawab.


"Loh, Kak Ken," panggil Zahra dengan senyum manisnya menatap Kenzo. Sedangkan Zahra sudah duduk di sebelah Aska.


"Kamu nggak bilang mau kesini?" tanya Kenzo dan langsung berdiri mendorong kursi roda Zahra tepat disebelah sofa yang dia duduki. Kenzo benar-benar melakukan perannya sebagai suami dengan sangat baik saat ini.


"Mendadak aja tadi diajak Umi sama Adek," jawab Zahra.


Kini mereka semua sudah duduk di sofa. "Em ... Adek mau kasih sesuatu," ucap Kina.


"Apa Sayang?" tanya Aska bingung.


Zahra mengambil testpack dari tasnya dan memberikan kepada Aska.


"Sayang ini ..."


"Iya, Mas. Aku hamil," jawab Kina dengan senyum mengembangnya.


"Alhamdulillah," kata syukur terucap dari mulut Aska, Ibra dan Al. Aska memeluk erat Kina dengan senyum yang tak luntur diwajahnya.


"Aku jadi Kakek, Sayang," ucap Ibra memeluk Dee.


Dee mengangguk senang. Dia juga ikut senang mendengar kabar ini. Gadis kecilnya kini akan menjadi seorang Ibu.


Semua pergerakan Kina dan Aska tidak lepas dari pandangan Kenzo, dan Zahra melihat setiap reaksi Kenzo.


Pandangan Kenzo yang sangat lembut, bahkan tidak pernah dia berikan kepada Zahra. Harusnya Zahra yang dipandang seperti itu. Batin Zahra sendu.


Tidak kuat melihat suaminya, Zahra mengalihkan pandangannya hingga akhirnya mata Zahra bertemu dengan Al yang juga menatapnya sedari tadi.


DEG.


Jantung Zahra berdegup kencang. Dia takut Al Kan menyadari apa yang saat ini dia rasakan.


Zahra meremas kuat ujung bajunya guna menghilangkan rasa cemasnya. Ya Allah, semoga Abang tidak curiga. Batin Zahra khawatir. Dia takut jika Al mengetahuinya, maka semua ini akan berimbas untuk rumah tangga Al dan Kina.


Zahra memegang tangan Kenzo agar Al tidak curiga. Kenzo menoleh ketika Zahra memegang tangannya. Tanpa Zahra duga, Kenzo membalas dengan menggenggam tangan Zahra disertai senyum manisnya.


Dan semua itu masih tidak lepas dari pandangan Al. Abang tahu ada yang kamu sembunyikan, Zahra. Ucap Al dalam hati melihat semuanya.


......................


Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘


Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗