
🌹HAPPY READING🌹
Mobil Kenzo berhenti tepat di depan gang kecil rumah Sela. Tepat dimana mobil Al tadi berhenti, disana juga mobil Kenzo parkir.
"Telimakacih, Ayah," ucap Sela sambil menyodorkan tangannya kepada Kenzo. Berniat ingin menyalami lelaki tersebut.
Kenzo hanya diam dan melipat kedua tangan di dadanya. Memasang wajah sebalnya untuk mengerjai Sela.
"Ayah Kenapa?" tanya Cela mengerjap lucu.
"Sela melupakan sesuatu untuk Ayah," ucap Kenzo.
"cecuatu?" beo Sela. Anak itu berfikir dengan jari telunjuk di dahinya. Setelah beberapa detik, Sela tersenyum polos dan menatap Kenzo.
"Ayo ikut Cela tulun, Ayah," ucap Sela senang. Dia baru ingat, tadi dia berjanji akan mengenalkan Kenzo dengan Bundanya.
Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Ayo, Nak," ucap Kenzo keluar dari mobil. Kenzo memutari mobil dan membantu Sela membuka pintu.
"Cela bica jalan, Ayah," ucap Sela ketika melihat Kenzo membuka pintu dan mengulurkan tangannya.
Kenzo tersenyum. "Tidak ada Ayah yang ingin anaknya terluka," ucap Kenzo yang mampu menerbitkan senyum tulus dan kesenangan di hati Sela.
Sela mengangguk dan menerima uluran tangan Kenzo. Mereka berdua berjalan saling bergandengan menuju rumah Sela.
"Ayah," panggil Sela.
"Iya Sela," jawab Kenzo menoleh kepada Sela.
Sela tersenyum senang dan mengayun-ngayunkan tangan mereka yang saling bergandengan. Anak itu nampak sangat bahagia sekali hari ini. "Ayah dapat pahala banyak, tau," ucap Sela.
"Pahala?" tanya Kenzo tak paham.
Sela mengangguk. "Ayah telah menyenangkan ceolang anak yatim. Cenyum anak yatim adalah pahala bagi orang yang membelikan kebahagiaan. Dan Ayah membeli cemuanya pada Cela," ucap Sela senang. Tapi berbeda dengan Kenzo yang nampak sedih mendengar perkataan Sela.
Kenzo menghentikan langkahnya dan bersimpuh didepan Sela. Dia tidak menghiraukan celana mahalnya yang akan kotor karena noda tanah. Karena jalanan menuju rumah Sela masih bebatuan. "Sela bukan anak yatim, Nak," ucap Kenzo mengusap lembut pipi Sela.
"Tidak punya Ayah adalah yatim. Tapi Ayah membelikan cetatus pada anak yatim ini cekalang. Telimakaci, Ayah," ucap Sela memeluk Kenzo.
Kenzo membalas pelukan Sela mengusap lembut punggung anak kecil itu. Andai anakku sekarang ada disini, dia bisa menjadi saudaramu, Nak. Batin Kenzo.
Kenzo melepaskan pelukannya dan menatap Sela. "Sekarang kita lanjut jalan ke rumah Sela, ya," ucap Kenzo.
Sela mengangguk. Kenzo berdiri dan kembali menggandeng tangan Sela. Mereka melanjutkan perjalanan di gang kecil itu untuk menuju rumah Sela.
Tiga menit perjalanan, Sela dan Kenzo sampai di depan sebuah rumah kecil. "Maaf ya, Ayah. Lumah Cela kecil," ucap Sela sendu. Dia takut, jika Kenzo akan merasa tidak nyaman karena keadaanya.
Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Rumah itu adalah istana, Nak. Dan ini adalah istana Sela. Tidak apa kecil, yang penting didalamnya ada kebahagiaan dan keharmonisan. Tidak seperti rumahku yang bagaikan neraka penyesalan," lanjut Kenzo dalam hatinya.
Sela mengangguk. Anak itu kembali tersenyum setelah mendengar perkataan Kenzo. Saat Sela akan mengetuk pintu rumah, seseorang telah membuka pintu dari dalam.
"Acalamu'alaikum, Nenek," ucap Sela ketika melihat Bu Sari muncul dari balik pintu.
"Waalaikumsalan, Sela sudah pulang, Nak," ucap Bu Sari mencium pipi Sela.
Sela mengangguk dan tersenyum. Dia menyalami dan mencium tangan Bu Sari.
"Nenek, Kenalin Nek," ucap Sela mengambil tangan Kenzo agar Bu Sari melihatnya.
Bu Sari yang baru sadar ternyata ada orang lain disana mengangkat kepalanya. Dia tersenyum ramah dan mengangguk. "Saya Sari, Neneknya Sela," ucap Bu Sari mengatupkan kedua tangannya di dada.
Bu Sari memperhatikan wajah Kenzo yang nampak tak asing baginya. Rasa-rasanya wajah ini sudah tak asing lagi. Aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana? Batin Bu Sari bertanya-tanya.
"Ini Ayah Cela."
DEG
Ucapan yang terlontar dari mulut Sela membuat Bu Sari membulatkan matanya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan mendengar apa yang diucapkan Sela. "A-Ayah?" ucap Bu Sari gugup.
Kenzo tersenyum. "Sela adalah teman sekolah ponakan saya, Bu. Sela menceritakan jika dia ... maaf, tak punya Ayah. Jadi mulai sekarang, Sela saya anggap, Sela sama seperti anak saya sendiri," ucap Kenzo mengusap lembut pipi Sela yang tengah tersenyum senang menatapnya.
Sela mengangguk menatap Bu Sari. "Cekalang, Cela Punya Ayah, Nek," ucap Sela senang.
Bu Sari bernapas lega mendengar penjelasan Kenzo. Jantungnya sudah tak karuan ketika mendengar Sela mengatakan bahwa Kenzo adalah Ayahnya, yang Bu Sari pikir adalah Ayah Kandung, ternyata bukan. Andai dia benar Ayah kamu, Nak. Batin Bu Sari melihat senyum Sela.
"Terimakasih telah menyayangi cucu saya," ucap Bu Sari yang dibalas anggukan kepala oleh Kenzo.
"Nenek, Buna dimana?" tanya Sela.
"Bunda belum pulang, Nak. Mungkin sebentar lagi," jawab Bi Sari.
"Yah, halusnya Buna udah pulang," ucap Sela tidak semangat.
"Tidak apa, Nak. Masih banyak waktu untuk Ayah bisa bertemu Bunda kamu," ucap Kenzo membujuk Sela yang nampak sedih.
"Janji?" ucap Sela mengajukan jari kelingkingnya.
"Janji," ucap Kenzo membalas tautan jari Sela.
"Kalau begitu Ayah pulang dulu, ya. Kita akan segera bertemu lagi," ucap Kenzo pamit.
Sela memeluk kaki Kenzo. "Cela cayang Ayah," ucap Sela.
"Ayah juga sayang Sela," jawab Kenzo.
Bu Sari yang melihat itu ikut tersenyum. Dia benar-benar tulus. Batin Bu Sari.
Kenzo berpamitan pada Bu Sari. Setelah itu dia kembali berjalan meninggalkan rumah Sela untuk menuju mobilnya yang terparkir diluar gang.
Tanpa mereka semua sadari, ada seorang wanita yang sudah berlinang air mata melihat semua interaksi antara Sela dan Kenzo. Dia bersembunyi dibalik kayu besar untuk menyembunyikan dirinya."Ya Allah, takdir macam apa ini. Kenapa mereka semua kembali hadir saat aku sudah merangkai bahagia bersama anakku," ucap Zahra lirih sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Mata Zahra terus menatap punggung Kenzo yang menjauh dari pandangannya. "Aku senang kamu baik-baik saja, Mas. Bahkan kamu terlihat lebih baik sekarang. Semoga kehidupan kamu dan keluargamu saat ini dipenuhi kebahagiaan," ucap Zahra sendu.
Zahra menghapus air matanya dan beralih menatap Sela dan Bu Sari yang masih berdiri di depan rumah. "Maaf kan Bunda, Nak. Bukannya Bunda memisahkan kamu dengan Ayahmu. Bunda hanya takut dia tidak menerima kehadiranmu karena berasal dari rahim Bunda. Rahim wanita yang sangat dia benci. Maafkan Bunda," ucap Zahra dengan suara bergetar.
Setelah memastikan Kenzo pergi, Zahra menghapus air matanya dan segera berjalan menuju rumahnya.
.....
Waktu malam telah menjelang. Dee berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi bintang yang nampak sangat indah. Tidak terasa air mata wanita yang sudah tidak lagi muda itu menetes begitu saja.
Mengapa harus Zahra yang membayar semuanya? Dia dilahirkan seolah hanya untuk membayar karma atas kesalahan dua orang manusia yang merupakan Abi dan Bundanya. Apa yang dulu aku rasakan, kenapa sekarang dia yang merasakannya? Cacat, dikucilkan, disakiti oleh suami sendiri, dan hidup seorang diri membesarkan anak tanpa suami. Mengapa harus Zahra yang menanggungnya, Tuhan? Kebahagiaan seperti apa yang sedang engkau siapkan untuknya hingga harus menjalani cobaan hidup seperti ini? Batin Dee menangis mengingat bagaimana beratnya kehidupan yang dijalani oleh seorang anak suaminya yang berasal dari rahim wanita lain. Dan Dee sangat menyayangi Zahra layaknya Ibu Kandung.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍