
🌹HAPPY READING🌹
Setelah pertemuan yang begitu menguras air mata dengan Zahra dan Sela, kini Kenzo dan Dee sudah berada di mobil untuk kembali pulang. Mereka berdua hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Kenzo fokus dengan jalanan dengan tangan yang memegang stir mobil. Pikirannya kembali teringat saat kembali dia berbicara berdua dengan Zahra.
*Flashback On*
"Jangan menikah lagi dengan orang lain selain aku, Zahra," ucap Kenzo meminta sesuatu yang dikatakan oleh hatinya.
Zahra menatap Kenzo dengan pandangan tak terbaca. Mulutnya tertutup rapat mendengar pertanyaan Kenzo. Hingga setelahnya terdengar helaan nafas dari mulut wanita tersebut. "Itu semua takdir. Dengan siapa saya menikah, atau tetap sendiri? Pencipta yang menentukan, Kak," jawab Zahra.
"Tapi satu yang pasti, saya bahagia dengan kehidupan yang seperti ini," lanjut Zahra menatap Kenzo.
Kenzo mengangguk menatap Zahra. "Selalu bahagia, Zahra," ucap Kenzo.
"Saya selalu bahagia jika tidak ada yang mengganggu kehidupan saya," jawab Zahra tegas.
Kenzo hanya bisa terdiam menatap Zahra dengan mata yang sangat sendu. Inikah wanita yang dulu aku sakiti? Ini wanita yang dulu aku siksa dengan sangat kejam? Inikah wanita yang dulu aku perlakukan layaknya binatang? Apa ini semua hasil dari perbuatanku? Aku tidak suka dengan ketegasannya ini, Ya Tuhan. Tolong kembalikan wanitaku yang manja dan ceria. Batin Kenzo memohon untuk keberuntungannya memiliki Zahra kembali.
"Kembalilah seperti dulu, Sayang," ucap Kenzo yang mampu membuat Zahra menatapnya dengan tatapan tajamnya.
"Jangan memanggil seorang janda seperti itu," ucap Zahra tegas namun terdengar sangat tegas.
Kenzo menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan ucapanku. Aku berucap pada istriku, apa itu sebuah kesalahan?" tanya Kenzo.
"Apa Kak Ken lupa dengan surat perceraian saat malam pertama itu?" tanya Zahra.
"Aku tidak pernah menandatanganinya, Zahra," ucap Kenzo sendu memberitahu Zahra bahwa mereka ini masih sah sebagai suami dan istri.
Zahra menggeleng. "Mungkin Kak Ken memang tidak menandatanganinya, tapi mulut dan hati Kak Ken sudah berniat menceraikan saya, dan itu sudah memutuskan hubungan suami dan istri diantara kita," jawab Zahra menatap Kenzo dengan menjeda sebentar perkataanya. "Dan saat ini kita hanya dua orang asing," lanjut Zahra dengan menahan segala sesak di hatinya.
"Tapi-"
"Pergilah, Kak Ken," ucap Zahra menunjuk pintu rumahnya.
"Kalau memungkinkan, maafkan dan kembali, Zahra," ucap Kenzo sendu dengan segala hancur dihatinya. Menangkup kedua tangan di dada memohon dengan sangat kepada Zahra.
"Pergilah, Kak Ken," ucap Zahra tanpa menatap Kenzo.
Kenzo menurunkan tangannya dengan senyum mengejek dirinya sendiri. Kebodohan itu benar-benar membuatnya hancur.
Kenzo berdiri dan sedikit menunduk menatap Zahra. "Jika Umi sudah selesai, sampaikan aku menunggu si mobil, Sayang," ucap Kenzo dengan segera berjalan keluar dari rumah Zahra.
Zahra mengangkat kepalanya menatap Kenzo dari jendela rumahnya. "Sangat terlambat, Kak Ken," ucap Zahra sendu menatap Kenzo.
*Flashback Off*
Tidak ada yang lebih sakit dari sebuah penolakan. Batin Kenzo dengan satu tangan tergerak memegang dadanya yang terasa sesak sekali.
Sama halnya dengan Kenzo, memori Dee juga berputar saat tadi dia akan kembali pulang.
*Flashback On*
Tanpa Kenzo dan Zahra sadari, Dee mendengar obrolan mereka. Setelah menidurkan Sela dengan sedikit usaha keras menghindari berbagai macam pertanyaan anak itu, Dee keluar dari kamar Sela. Namun, langkah Dee terhenti mendengar obrolan serius Kenzo dan Zahra.
Dee menghela nafas berat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zahra. Benar-benar tegas. Batin Dee mendengar semua perkataan tegas Zahra kepada Kenzo.
Melihat Kenzo yang sudah keluar, Dee berjalan mendekati Zahra. Dia duduk di tempat yang tadi di duduki Kenzo.
"Zahra," panggil Dee lembut.
Zahra mengalihkan pandangannya pada Kenzo yang sudah berada di luar rumah. Dia tersenyum menatap Dee. "Umi," ucap Zahra memeluk Dee dengan manja.
"Apa sekarang Zahra sudah menerima Umi?" tanya Dee mengusap lembut kepala Zahra yang tertutup Hijab instannya.
Zahra menggeleng. "Jangan ucapkan itu lagi, Umi. Zahra malu mengingatnya. Rasanya sangat tidak tahu diri jika bersikap seperti tadi. Maaf, Umi," ucap Zahra menyesal dengan segala keeogisannya tadi.
"Maaf jika Zahra tidak tahu diri, ya Umi," lanjut Zahra menengadah menatap Dee.
"Jangan diulangi, ya Nak," ucap Dee.
Zahra mengangguk. Dia berjanji tidak akan berbuat seperti tadi lagi pada Dee.
"Zahra," panggil Dee lembut.
"Iya Umi," ucap Zahra.
"Kita bertemu yang lainnya, ya," ucap Dee mengajak Zahra bertemu dengan semua keluarganya.
"Apa pernah Zahra menerima penolakan dari keluarga sendiri?" tanya Dee.
Zahra menggeleng. Memang benar, selama ini dia selalu diperlakukan baik oleh semua keluarga Hebi. Tidak ada beda antara dia, Al dan Kina.
"Untuk menjadi Ibu tidak harus melahirkan, Nak. Umi menjadi Ibu Zahra karena sayang sama Zahra. Dan tidak ada Ibu yang menolak kehadiran anaknya, Nak," ucap Dee.
"Dan satu lagi," ucap Dee menggantung ucapannya sambil menatap Zahra.
"Abi, Ayah dan Bunda pasti akan bahagia jika Zahra kembali," ucap Dee mengingatkan Zahra.
"Beri Zahra waktu, ya Umi. Jika nanti Zahra sudah yakin, Zahra sendiri yang akan pulang," ucap Zahra yakin.
Dee mengangguk. Zahra kembali memeluk Dee untuk menerima kehangatan dari wanita itu.
"Zahra," panggil Dee lagi.
"Iya, Umi," jawab Zahra.
"Apa tidak ada maaf untuk Kenzo, Nak?" tanya Dee.
Zahra terdiam den melepas pelukannya pelan dengan Dee. "Sakitnya masih ada, Umi. Belum sembuh," ucap Zahra menatap Dee dengan mata berkaca-kaca.
"Dan maaf jika hati Zahra belum se sabar dan se ikhlas Umi," lanjut Zahra sendu.
Dee menggeleng. "Zahra sudah lebih dari sabar dan ikhlas, Nak," ucap Dee.
"Satu pesan Umi, pikirkan Sela, ya," lanjut Dee mengingatkan Zahra.
Zahra mengangguk dengan ragu. Entah dia harus bagaimana menjelaskan kepada anaknya nanti, tapi dia tidak ingin lagi menyakiti hati Sela. Dan susahnya lagi, keteguhan hatinya menolak untuk menerima Kenzo meskipun cinta itu masih untuknya.
Tidak akan mudah, Umi. Seperti yang Umi bilang, sampai Kak Ken membasuh luka Zahra dengan darahnya, luka itu belum tentu sembuh. Batin Zahra sendu.
"Umi," ucap Zahra lembut.
"Iya, Nak," jawab Dee.
"Apa dulu luka Umi juga sedalam ini karena kehadiran Bunda?" tanya Zahra menatap Dee dengan mata berkaca-kaca.
Dee terdiam mendengar pertanyaan Zahra. Lidahnya tiba-tiba kelu untuk berkata-kata.
"Apa air mata Zahra bisa menebus semua kesalahan Bunda dulu, Umi? Apa masa kecil Sela saat ini bisa mengimbangi kesengsaraan Abang dan Adek dulu, Umi?" lanjut Zahra dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Bukan Zahra yang harus membayar semuanya, Nak," jawab Dee lembut menghapus air mata Zahra.
"Hanya satu pesan, Umi, Nak. Jangan pernah meniru keegoisan Bundamu," ucap Dee lembut.
*Flashback Off*
Tidak terasa air mata Dee jatuh mengingat pertanyaan Zahra mengenai masa lalunya. Dia menoleh melihat Kenzo yang juga menghapus air bening di sudut matanya.
"Kamu menangis, Ken?" tanya Dee.
Kenzo terkekeh kecil dan menatap Dee sebentar. "Senang rasanya bertemu wanita yang kita cintai, Umi. Terutama Sela, buah cintaku dan Zahra" jawab Kenzo.
Kenzo terdiam sebentar setelah menyadari ucapannya. Buah cinta yang aku paksa kehadirannya bersama dengan luka di hati Ibunya. Batin Kenzo.
Kenzo menatap Dee yang juga menatapnya. "Apa kamu akan menyerah, Ken?" tanya Dee.
Kenzo menggeleng. "Semua ini belum seberapa dari usaha Zahra dulu, Umi," jawab Kenzo sendu.
"Belajarlah dari seseorang yang bisa kamu jadikan tempat pulang dalam hal ini, Nak," ucap Dee.
"Siapa Umi?" tanya Kenzo.
"Lelaki bodoh, sekaligus hebat, Ken."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz, banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Maaf karena keterlambatan author update ya teman-teman, sampai jumpa dengan tulisan author besok pagi.