
🌹HAPPY READING🌹
"Sekarang Zahra susul Bunda, ya. Minta maaf sama Bunda," ucap Dee lembut mengusap air mata di pipi Zahra.
"Boleh antar Zahra Umi?" pinta Zahra.
Dee mengangguk. Dia berdiri dan mendorong kursi roda Zahra keluar rumah untuk menyusul Sofia yang ada di taman depan rumah Ibra. Sedangkan Ibra hanya memandang kepergian Dee dan Zahra dengan senyum di bibirnya.
"Bunda," panggil Zahra lembut ketika berada di belakang bangku taman yang diduduki Sofia dan Kevin.
Sofia menghapus cepat air matanya dan menengok ke belakang, begitu juga dengan Kevin.
"Nak," ucap Kevin lembut dan langsung berdiri mendekati Zahra.
Kevin bersimpuh di depan kursi roda Zahra. "Zahra, maafin Ayah, ya," ucap Kevin sendu.
Zahra menggeleng. "Tidak ada yang perlu Zahra maafin dari Ayah. Ayah adalah Ayah terbaik yang Zahra miliki dan tidak akan pernah ada yang lain. Karena kehadiran Ayah, Zahra memiliki tiga lelaki hebat dalam hidup Zahra. Abi, Abang dan Ayah," jawab Zahra lembut.
Entah kenapa, tapi kamu benar-benar mirip seperti Dee, Nak. Ikhlas, sabar dan tegas dalam waktu bersamaan. Batin Kevin takjub dengan Zahra yang mencerminkan kepribadian Dee.
"Patah hati terberat seorang Ayah adalah melihat anak perempuannya hidup dengan tidak bahagia, Nak. Dan itu adalah kegagalan bagi Ayah. Ayah bahkan gagal menepati janji kepada Abi Ibra untuk selalu menjaga Zahra," ucap Kevin.
Zahra mencondongkan badannya dan memeluk Kevin erat. "Tidak ada keberuntungan lain di dunia ini, selain kehidupan Zahra yang dikelilingi orang-orang baik dan sayang sama Zahra," ucap Zahra tulus.
"Boleh Zahra bicara sama Bunda, Ayah?"
Kevin menatap Sofia sebentar lalu kembali menatap Zahra. "Kalau begitu Ayah ke dalam menyusul Abi," ucap Kevin sambil mengangguk.
"Iya Yah," jawab Zahra.
Kevin berdiri dan pergi meninggalkan Zahra bersama Dee dan Sofia disana.
"Kalau begitu Umi juga pergi ya, Nak," ucap Dee pamit.
Zahra menggeleng. "Umi harus disini," ucap Zahra.
"Tapi Nak-"
"Umi harus disini," ucap Zahra sekali lagi.
Dee menghela nafas pelan dan mengangguk mengiyakan permintaan Zahra. Bukannya Dee tidak ingin bertemu Sofia, tapi dia ingin memberi waktu bagi Sofia dan Zahra untuk berdua.
"Bunda," panggil Zahra lembut.
"Iya Sayang," jawab Sofia.
"Maaf atas semua perkataan Zahra, ya Bunda. Zahra tidak bermaksud menyalahkan Bunda. Hanya saja perkataan Bunda, Bunda berikan kepada orang yang salah," ucap Zahra menjelaskan kepada Sofia.
Zahra menarik tangan Dee hingga berdiri tepat di sebelahnya. "Lihat Umi, Bunda," ucap Zahra lembut.
Sofia menatap Dee yang juga tengah menatapnya. "Wajah tulus ini adalah wajah orang yang dulu pernah Bunda sakiti hatinya dengan sangat dalam. Tapi dia masih mau menerima Zahra dan mengajarkan Zahra banyak hal. Meskipun Umi tahu bahwa Zahra adalah anak Bunda," ucap Zahra.
"Maafkan Umi, Nak," ucap Sofia mengalihkan pandanganya kepada Zahra.
Zahra menggeleng. "Bukan kepada Zahra, tapi minta maaf kepada Umi," ucap Zahra.
"Zahra," ucap Dee menggeleng tidak setuju dengan permintaan Zahra. Dia merasa tidak enak dengan Sofia. Jelas Zahra adalah anak kandung Sofia, tapi Zahra lebih membelanya dari pada Zahra.
"Zahra bukan pilih kasih kepada Umi atau Bunda. Tapi perkataan yang Bunda lontarkan pasti sangat menyakiti Umi. Beruntung bukan Bang Al dan Adek yang mendengarnya, Bunda. Karena jika itu terjadi, maka Bunda kembali menghancurkan hati satu keluarga," ucap Zahra yakin dan tanpa ragu kepada Sofia.
Sofia hanya mampu menggeleng dengan dagu bergetar menahan tangisnya. "Bunda hanya membela kamu, Nak. Bunda hanya tidak terima jika anak Bunda diperlakukan dengan sangat buruk seperti itu oleh suaminya," ucap Sofia.
"Lalu kenapa Umi yang disalahkan? Menikah dengan Kak Ken adalah keinginan Zahra. Bahkan sebelum menerima pinangan Kak Ken, Umi meminta Zahra untuk menghubungi Bunda agar meminta restu. Tapi Zahra tidak melakukannya. Jadi ini bukan salah Umi, Bunda. Jangan menciptakan rasa bersalah pada hati Umi. Zahra nggak suka," ucap Zahra tanpa ragu.
Dee yang mendengar itu semakin tidak enak. Tidak seharusnya dia berada disini sekarang juga.
"Zahra memang menyayangi Umi sama seperti Zahra menyayangi Bunda. Tidak ada anak yang tidak sayang dengan orang tuanya, Bunda," ucap Zahra.
Sofia yang mendengar perkataan Zahra menoleh kepada Dee yang juga menatapnya. "Maafkan aku untuk kesekian kalinya, Dee," ucap Sofia menyesal.
"Tidak seharusnya aku mengatakan semua itu padamu. Maafkan aku," lanjut Sofia.
"Aku mengerti, kamu mengatakan itu hanya karena nalurimu sebagai seorang Ibu, Sofia," ucap Dee tulus.
Sofia mengangguk. "Harusnya aku berterimakasih kepadamu, Dee. Bukan menyalahkanmu seperti itu," ucap Sofia.
Dee mengangguk dengan senyum manisnya. "Sekarang Umi sama Bunda udah baikan, Zahra jangan sedih lagi, ya," ucap Dee menatap Zahra.
Zahra tersenyum melihat Bunda dan Uminya yang begitu menyayanginya. Setidaknya, Zahra bisa menjadi alasan Umi dan Bunda tersenyum. Batin Zahra.
"Nak," panggil Sofia lembut.
"Iya Bunda," jawab Zahra.
"Apa surat perceraian sudah ditanda tangani?" tanya Sofia.
Zahra menggeleng. "Zahra ingin Kak Ken datang kesini baik-baik untuk meminta tanda tangan. Sama seperti dulu saat meminang Zahra," jawab Zahra.
"Tapi Zahra-"
"Zahra sudah memintanya kepada Kak Ken, Umi," ucap Zahra memotong perkataan Dee.
Zahra masih mencoba mempertahankan rumah tangga Zahra, Umi. Tapi jika sampai besok Kak Ken tidak datang. Mungkin Zahra akan memilih pergi. Batin Zahra.
"Jika Kenzo tidak datang?" tanya Sofia.
Zahra memandang Dee dan Sofia bergantian sebelum menjawab pertanyaan Sofia. "Izinkan Zahra pergi, Umi, Bunda."
.....
Kenzo memandang map coklat yang ada di depannya. Dengan menguatkan sepenuh hatinya, Kenzo membuka map tersebut. Terdapat banyak lembar kertas yang ada di dalam map.
Kenzo satu persatu membaca setiap deretan angka yang membentuk kata mengenai informasi kehidupan Zahra.
DEG
Jantung Kenzo berdetak cepat ketika mengetahui informasi yang dapat meruntuhkan hatinya. "Ja-jadi, Zahra bukan anak kandung Umi Dee?," gumam Kenzo sendu.
Kenzo memejamkan mata menetralkan detak jantungnya. "Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Kenzo.
Kenzo terus membaca setiap tulisan yang ada disana. Satu hal yang paling menyakitkan baginya mengetahui bahwa kehadiran Zahra yang awalnya karena sebuah keterpaksaan.
"Aku semakin merusak kehidupannya," ucap Kenzo pada dirinya sendiri.
"Mungkinkah Zahra masih memaafkan suami yang sangat hina ini?" ucap Kenzo sendu.
"Sepulang kerja besok aku akan datang, Zahra."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz