Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 100



🌹HAPPY READING🌹


Zahra, Dee, Kina, Melani, Bella, Kinzi, dan dua gadis mungil yang tidak lain adalah Sela dan Shasa, serta jangan lupakan keberadaan si kecil tampan Adam, kini sedang berada di dalam mobil Alphard milik Dee. Mereka pergi tanpa supir dengan Bella yang memegang kemudi.


Zahra nampak memeriksa beberapa tempat di tasnya, namun dia tidak menemukan dompetnya. "Kak Bella," panggil Zahra. Saat ini mobil mereka baru saja keluar dari gerbang komplek.


"Iya Dek," jawab Bella dengan mata fokus pada jalanan.


"Kita bisa putar balik ke rumah lagi nggak, Kak? Dompet Zahra ketinggalan," ucap Zahra merasa tidak enak dengan yang lainnya.


"Bukannya cudah Buna macukin ke tas tadi?" tanya Sela ikut membantu Zahra mencari dompet di tasnya.


"Tidak apa-apa, Nak. Jangan khawatirkan dompet, kamu pergi tidak dengan orang lain," ucap Melani.


"Bukan begitu, Ma. Kak Bella, bisa putar balikkan?" tanya Zahra pada Bella setelah menjawab perkataan Melani. Entah mengapa, dia merasa harus kembali mengambil dompetnya. Dia tidak ingin merepotkan keluarganya sendiri, apalagi nanti Sela yang rewel meminta ini dan itu. Bagaimana Zahra bisa meminta bantuan kepada Dee atau yang lainnya jika permintaan Sela nanti adalah mainan mahal, kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi kan.


"Umi, kita balik, ya. Sebentar kok, cuma ambil dompet," ucap Zahra.


Dee mengangguk dan meminta Bella untuk putar balik. Beruntung mereka belum jalan terlalu jauh. Jadi tidak masalah sebenarnya jika mereka harus putar arah sebentar.


"Kamu tidak mau Umi temani, Nak?" tanya Dee setelah mereka sampai di depan rumah Dee.


Zahra menggeleng. "Tidak usah, Umi. Kan cuma sebentar, Zahra bisa kok," jawab Zahra.


"Cela temani, Buna," ucap Sela yang hendak ikut turun menyusul Zahra.


"No. Sela disini, ya. Bunda cuma sebentar, oke," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh Sela.


Zahra berjalan memasuki rumah. Saat di depan pintu, sayup-sayup wanita itu mendengar suara ribut dari dalam rumah. "Kenapa ada suara ribut begitu? Itu sepertinya suara Ayah dan Abi," gumam Sela heran.


Karena tidak ingin semakin penasaran, Zahra melangkahkan kakinya memasuki rumah dan menyusul ke ruang keluarga untuk melihat apa yang terjadi.


"Ya, dia memang orang yang harus dia jauhi oleh anak-anakku."


"Abi!"


"IB!"


ucap mereka semua disana kaget mendengar apa yang dikatakan Ibra.


"Jangan lupa, Ib, semua ini berawal dari kebodohan Lo!" ucap Kevin tegas mengingatkan Ibra akan kesalahannya.


"Dan gue cuma mau memperbaikinya sekarang," jawab Ibra tenang.


"Tapi tidak dengan menyalahkan dan menjauhi Zahra seperti ini. Dia anak gue sekarang kalau Lo lupa," ucap Kevin tegas dan kesal pada Ibra.


"Dan dia sekarang adalah istri Kenzo, Abi," ucap Kenzo menambahkan apa yang disampaikan Kevin.


"Ya, dan bawa istri atau anak kalian itu pergi. Dia bukan anakku," ucap Ibra mengalihkan pandangannya dari Kevin dan Kenzo.


Jantung Zahra rasanya berhenti berdetak mendengar semua perkataan Ibra. Bangunkan Zahra jika mimpi buruk ini sudah berakhir, katakan ini tidak mungkin. Katakan jika semua ini hanya halusinasi.


"Abi."


DEG


Mereka semua yang ada disana mengalihkan pandangan pada seorang wanita yang kini berjalan mendekat.


"Sayang," ucap Kenzo tak percaya dengan kehadiran Zahra.


"Kenapa pulang, Sayang? Bukannya kamu belanja sama yang lainnya?" tanya Kenzo lembut berjalan mendekati Zahra.


Zahra mengehentikan langkahnya dan mendongak menatap Kenzo. Air mata Zahra jatuh begitu saja tanpa bisa dia cegah.


Zahra melepaskan tangan Kenzo yang memegang bahunya. Wanita itu berjalan dengan pandangan lurus ke depan mendekati Ibra yang membuang pandangannya. Rasanya tidak ada tenaga Ibra untuk menatap mata yang memancarkan luka itu.


"Abi," panggil Zahra dengan sekuat tenaganya.


"Apa yang tadi Zahra dengar itu benar, Abi?" lanjut Zahra bertanya.


Ibra hanya diam. Entah lah, hati Ibra terasa sangat kacau saat ini. Disini dia yang sangat terluka bukan, dengan segala sakit hatinya merelakan anak yang selama ini dia besarkan dan dia sayangi bukanlah anak kandungnya.


"Ayah, jawab Ara. Semuanya tidak benar kan?" tanya Zahra beralih pada Kevin.


Sama, Zahra tidak mendapat jawaban atas pertanyaanya.


"Abang, Abang jawab Ara. Semuanya tidak benar kan? Ara anak Abi kan? Ara adiknya Abang kan?" tanya Zahra dengan suara bergetar karena tangisnya.


Zahra menggoyang-goyangkan tangan Al meminta jawaban. Sungguh, dia butuh seseorang untuk menjelaskan semuanya saat ini.


"Sayang tenang, ya," ucap Kenzo datang menenangkan Zahra.


Zahra melepaskan rangkulan Kenzo dan tetap mendekati Al. "Abang, jawab pertanyaan Ara. Semua tidak benar kan? Ara anak Abi kan? Ara adiknya Abang kan? Ara kakaknya Kina kan?" tanya Zahra beruntun memegang kedua tangan Al.


"Dia bukan saudara sedarah kamu, Al. Dosa bagi kamu jika memeluk atau menyentuhnya," ucap Ibra menatap Al.


"ABI," ucap Al keras tak percaya dengan apa yang dikatakan Abinya. Sungguh, Al mengerti jika Ibra sakit hati dengan apa yang telah Sofia lakukan, tapi tidak dengan melampiaskan pada Zahra seperti ini.


"Abi, Ara anak Abi," ucap Zahra lirih menatap sendu Ibra.


Zahra berbalik mendekati Ibra. Dengan kedua lutut sebagai tumpuan, Zahra bersimpuh di depan Ibra. "Ara anak Abi kan? Jika Ara ada salah? Ara minta maaf, Abi. Jangan katakan Ara bukan anak Abi. Ara anak Abi kan?" tanya Zahra mendongak bersimpuh di depan Ibra.


"Berdiri, Zahra," ucap Ibra. Bahkan lidahnya saat ini terasa kelu menyebut nama Zahra. Nama yang dulu dia panggil dengan nada sayang, sekarang terasa sangat menyakitkan untuk dikatakannya.


Zahra menggeleng. Dia tidak akan berdiri sebelum Ibra menjawab pertanyaannya. "Jawab Abi? Zahra anak Abi kan? Abi pasti marah karena Zahra punya salah kan? Maafin Zahra kalau ada salah, Abi. Jangan hukum Zahra seperti ini," ucap Zahra dengan sekuat tenaga menatap Ibra.


Ibra menggeleng. "Tapi sayangnya itu adalah kenyataanya. Kamu bukan anak kandungku."


"MAS!" teriak Dee yang baru saja datang bersama Kina dan Bella. Sedangkan Kinzi dan Melani masih di mobil bersama Sela, Shasa dan Adam.


"Apa yang kamu katakan, Mas?" tanya Dee tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi. Bukan ini yang dia inginkan. Dia ingin Ibra mengontrol emosinya agar tidak menyalahkan Zahra atas apa yang terjadi.


"Aku hanya menyampaikan yang sebenarnya, Sayang," jawab Ibra tegas.


"Tapi itu tidak perlu untuk kamu sampaikan," jawab Dee lantang.


"Ayo berdiri, Nak. Zahra tidak pantas seperti ini," lanjut Dee membantu Zahra berdiri.


Zahar menggeleng kuat dan tetap bersimpuh di depan Ibra. "Abi, ayo bilang kalau Ara ada salah, Abi. Ara anak Abi kan?" tanya Zahra dengan lirih dan suara bergetar karena tangisnya.


Kina dan Bella yang mendengar itu tak kuasa menahan rasa terkejutnya. Apa ini? Kejutan apa yang mereka dengar. Sungguh, rasanya dunia seakan berhenti mendengar kebenaran yang sangat menyakitkan ini.


"Zahra bangun, Nak," ucap Dee lembut membantu Zahra berdiri.


"Hiks, Umi, Ara anak Abi kan?" tanya Zahra dengan tangisnya sambil berdiri menatap Dee dengan mata yang sudah penuh dengan air bening itu.


Dee mengangguk dengan terus menatap Zahra. Sungguh, Zahra memang bukan anak kandungnya, tapi kasih sayangnya tulus seperti dia menyayangi Kina dan juga Al.


"Kamu benar-benar keterlaluan kali ini, Mas," ucap Dee menatap Ibra.


"Aku hanya menyampaikan kebenaran, Sayang. Jika ini tidak disampaikan, maka itu tidak akan baik pada akhirnya," ucap Ibra.


"Ya, ini memang kebenaran, tapi cara menyampaikannya tidak harus seperti ini, bukan. Apa dengan menyuruh anak-anak menjauhi Zahra itu membuat dia tidak bersedih?" tanya Dee menatap Ibra.


"Aku hanya tidak ingin anak-anakku selalu dalam masalah. Dan aku tidak ingin anak-anakku berdosa karena saling bersentuhan dengan yang bukan saudara kandungnya," jawab Ibra.


"Tapi itu hanya berlaku untuk Al, Mas. Tidak dengan Kina juga," ucap Dee.


"Jadi benar, Umi? Ara bukan anak Abi?" tanya Zahra yang sejak tadi memperhatikan perdebatan Dee dan Ibra. Jantungnya seakan lepas dari raga saat mendengar semuanya. Hatinya sakit sekali, sangat sesak sekali.


"Nak."


"Jadi benar, Umi?" tanya Zahra kembali memastikan pada Dee.


Dee memejamkan matanya menghalau rasa sesak yang ada pada tubuhnya. Dengan ragu, Dee mengangguk menjawab pertanyaan Zahra.


"Hiks," tubuh Zahra luruh ke lantai begitu saja melihat anggukan kepala Dee. Tidak ada tenaga yang dia miliki saat ini bahkan untuk menopang dirinya sendiri.


"Hiks, Kakak," Kina langsung berlari mendekati Zahra dan memeluk wanita itu. Sungguh, mau saudara kandung atau bukan, Zahra tetap kakaknya.


Zahra menangis kencang dalam pelukan Kina. Sungguh, sakit sekali mengetahui semua ini. Mengapa harus dia yang menghadapi semua ini? Mengapa harus dia yang menerima takdir buruk seperti ini?


"Zahra, Nak," ucap Dee ikut bersimpuh mensejajarkan tinggi badannya dengan Zahra dan Kina.


Zahra mendongak dalam pelukan Kina dan beralih menatap Dee dengan mata sembabnya. "Kenapa harus Zahra, Umi? Apa Allah tidak pernah kasihan sama Zahra? Apa Allah tidak punya sisa takdir baik yang bisa diberikan kepada Zahra sedikit saja? Ini terlalu menyakitkan dari segala luka yang ada, Umi," ucap Zahra sendu menatap Dee.


"Kak," ucap Kina yang tidak kuasa mendengar perkataan Zahra.


"Jangan bicara seperti itu, Nak," ucap Dee menggeleng mendengar perkataan Zahra.


"Hati Zahra sakit sekali, Umi. Mengapa nasib Zahra berbeda dengan orang lain? Kenapa harus Zahra yang merasakan sakit dengan cinta pertama Zahra?" tanya Zahra memandang Ibra diujung perkataanya.


Ibra yang mendengar itu mengalihkan pandanganya. Hatinya ikut sakit, tapi apa yang bisa dia lakukan. Cepat atau lambat, Zahra harus mengetahui semua ini. Jika dia mengetahui lebih lama, maka sakit hati yang dia terima akan lebih besar nantinya.


"Seorang Ayah cinta pertama bagi anaknya, kan Abi? Tapi apa Zahra masih berhak meminta Abi untuk menjadi cinta pertama Zahra? Disaat Abi sudah tidak rela menganggap Zahra sebagai anak, Apa hak itu masih bisa Zahra miliki, Abi? Setidaknya jika diizinkan, sakit dan sesak ini sedikit berkurang, Abi," ucap Zahra dengan suara bergetar menatap Ibra yang terus mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mengindari tatapan Zahra yang begitu terluka, sungguh Ibra juga sangat tersiksa akan semua ini.


Ibra membelakangi mereka semua dan menghapus buliran kristal yang membasahi pipinya. Maafkan Abi, Nak. Abi menyayangimu. Tapi hati Abi masih sangat sakit. Abi tidak menyalahkan mu. Tapi maaf, melihatmu mengingatkan Abi pada Sofia dengan segala kejahatannya. Ini sesak sekali, Nak. Maafkan Abi. Batin Ibra benar-benar terluka akan semuanya.


......................


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘


Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗