
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo mengangguk. Sela yang melihat Bundanya sedikit sadar ikut tersenyum senang. Anak itu takut untuk bersuara setelah mendapat bentakan dari Ayahnya tadi.
"Sabar ya, Sayang. Anak-anak Ayah yang kuat, ya. Sebentar lagi kita sampai, Nak," ucap Kenzo berusaha menahan sedihnya.
"Mas," panggil Zahra lagi.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
"Selamatkan anak-anak kita, ya. Apapun yang terjadi, selamatkan mereka, ya," ucap Zahra lemah dengan mata yang tak mampu lagi dia buka.
"BUNDA!"
"ZAHRA!"
"SAYANG!"
Teriak mereka semua melihat Zahra yang kembali tak sadarkan diri.
Sepuluh menit, mobil sampai di rumah sakit. Kenzo langsung mengangkat sang istri dan membawanya ke UGD.
"TOLONG ISTRI SAYA, SUSTER!" teriak Kenzo ketika mendapat kasur kosong dan meletakkan Zahra disana.
Para Suster yang Dokter yang ada disana langsung menghampiri begitu tahu bahwa yang datang adalah anak dan menantu pemilik rumah sakit.
"Astaga Nyonya Zahra!" ucap Mereka kaget melihat kaki Zahra yang sudah dipenuhi darah dan wajahnya yang sangat pucat.
"Dokter, selamatkan istri dan anak saya," ucap Kenzo sendu memohon.
Dokter mengangguk. "Kami akan segera memeriksa dan memanggil Dokter kandungan yang menangani Nyonya Zahra, Pak," jawab Dokter.
"Bapak silahkan tunggu diluar," ucap Suster dan langsung menutup pintu untuk segera melakukan tindakan untuk Zahra.
Kenzo terduduk lemah di kursi tunggu. Sedangkan Bu Sari dan Seka sejak tadi hanya diam tak berani bersuara. Sela, anak kecil itu hanya menangis dalam diamnya. Dia tidak berani menangis histeris karena tidak mau membuat Ayahnya semakin susah nanti.
Saat teringat sesuatu, Kenzo mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Assalamu'alaikum," jawab seseorang diseberang sana.
"Waalaikumsalam, Umi," jawab Kenzo dengan suara bergetar.
"Kenzo? Kamu kenapa, Nak?" tanya Dee khawatir.
"Zahra, Zahra masuk rumah sakit, Umi. Umi sama Abi kesini, ya," ucap Kenzo dengan suara gemetar.
"Astaghfirullahalazim. Umi kesana sekarang sama Abi," jawab Dee khawatir dari seberang sana.
Kenzo memutus sambungannya dan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Kenzo menyenderkan kepalanya ke dinding dengan menengadah ke atas. Ya Tuhan, sekali ini saja, selamatkan anak dan istri hamba. Batin Kenzo berdoa dengan segala kepasrahan dirinya.
Tidak beberapa lama, terdengar suara langkah dari ujung pintu masuk rumah sakit.
"KENZO!" teriak Dee yang datang bersama Ibra.
"Bagaimana Zahra?" tanya Dee khawatir.
Kenzo menegakkan tubuhnya dan menatap Dee dengan mata berkaca-kaca. "Zahra pendarahan, Umi. Dia juga sudah tidak sadar saat dibawa kesini," jawab Kenzo sendu.
Dee yang mendengar itu menutup mulut tak percaya. "Mas," lirihnya pada Ibra.
"Kita doakan Zahra baik-baik saja, Sayang," ucap Ibra.
Tidak lama setelah kedatangan Dee, nampak Kina, Aska, Al, Bella dan juga kedua orang tua Kenzo yang datang ke rumah sakit.
"Kenzo," panggil Melani pelan.
"Ma," jawab Kenzo sendu.
Melani memeluk anaknya. Kenzo menangis dalam dekapan sang Ibu. "Zahra, Ma. Kenzo gagal jaga Zahra," sendu Kenzo diperlukan Melani.
"Semua sudah jalannya, Nak. Tugas kita sekarang adalah mendoakan yang terbaik buat Zahra dan anak kalian," ucap Melani yang tak mau membuat sang anak bertambah sedih. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan saat ini.
"Beberapa bulan lalu, Zahra memang sering mengeluh jika perutnya Keram dan nyeri. Dan Dokter memang meminta Zahra untuk melepaskan kandungannya, tapi Zahra nggak mau dan bersikukuh melahirkan anak kami, Ma" ucap Kenzo menceritakan apa yang selama ini dia dan Zahra sembunyikan dari semua keluarga.
Mereka semua menutup mulut tak percaya mendengar apa yang dikatakan Kenzo. Bella yang mendengar itu berjalan mendekati Kenzo dan mengusap pelan bahu suami adik iparnya itu. "Itu adalah naluri kalian sebagai orang tua, Ken. Jangan pernah menyesali semuanya. Kita harus berdoa agar perjuangan kamu dan Zahra tidak sia-sia untuk anak kalian," ucap Bella menimpali.
Kenzo mengangguk. Tidak lama, pintu UGD terbuka dan keluar Dokter yang bisa menangani kandungan Zahra.
"Bagaimana Dokter?" tanya Kenzo cepat yang langsung berdiri begitu saja.
"Maaf, Pak. Kami harus segera mengambil tindakan untuk Ibu Zahra dan anak-anaknya," ucap Dokter setalah melepas masker medisnya.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter," ucap Kenzo memohon menatap Dokter tersebut.
Dokter mengangguk. "Kami tentu akan memberikan yang terbaik untuk pasien kami, Pak. Doa kalian juga sangat dibutuhkan oleh Bu Zahra dan anak-anak kalian. Tapi Pak, ada satu hal yang harus saya sampaikan," ucap Dokter men-jeda perkataanya.
"Katakan Dokter!" sela Ibra tegas.
"Sulit untuk menyelamatkan antara Ibu dan anak. Jadi, Bapak Kenzo harus memilih salah satunya," ucap Dokter memberitahu.
DEG
Jantung Kenzo berdetak hebat mendengar perkataan Dokter. Akhirnya apa yang dia takutkan dengan Zahra terjadi juga.
"KEN!" protes mereka semua yang ada disana.
"Selamatkan istri saya, Dokter," ucap Kenzo lagi tanpa menghiraukan mereka semua.
Dokter mengangguk. "Kami akan langsung mengambil tindakan. Permisi," ucap Dokter dan kembali masuk keruang UGD.
"apa yang kamu lakukan, Ken? Apa kamu lupa dengan segala perjuangan Zahra untuk anak kalian?" tanya Bu Sari yang kini sudah berdiri di depan Kenzo.
"Kehilangan anak-anakku mungkin akan terasa berat, Bu. Tapi untuk kehilangan Zahra, aku sangat tidak sanggup. Kami bisa program hamil lagi jika nanti memang kembali menginginkan anak. Tapi jika aku kehilangan Zahra, aku harus mencari gantinya dimana?" tanya Kenzo menatap sendu.
"Tapi pikirkan perasaan Zahra saat dia sadar nanti. Dia pasti akan marah padamu, Kenzo," ucap Bu Sari lagi.
"Kemarahan Zahra bisa aku atasi, Bu. Tapi aku tidak mengatasi penyesalan saat aku kehilangannya," jawab Kenzo lagi.
Sela yang mendengar semuanya membuat anak itu cukup mengerti. Saat ini, hanya Bundanya yang bisa diselamatkan. Sedangkan adik-adiknya belum tahu bagaimana kondisinya.
Anak yang kini duduk sendiri itu berdiri dan berjalan meninggalkan mereka semua. Kakinya melangkah menuju musholla yang sering dia datangi jika sholat di rumah sakit.
Kaki mungil anak itu melangkah cepat, seakan tergesa-gesa untuk bertemu sang Pencipta.
Sampai di mushalla, Sela langsung mengambil wudhu dan memakai mukena yang ada disana. Dia tidak tahu harus sholat apa yang dia lakukan sekarang, tapi yang pasti, dia tahu sholat sunat itu dua rakaat, dan dia ingin meminta dalam sholat kepada Penciptanya.
Bagaikan luka yang sangat dalam, sejak mengucapkan takbir hingga salam, air mata Sela tak hentinya mengalir. Tapi mulut anak itu dengan serius mengucapkan bacaan sholatnya.
Sujud terakhir yang sejak tadi Sela incar akhirnya di dapatkan juga. Anak itu menangis tersedu dalam sujud nya. Meskipun kecil, tapi dia paham tentang semua ini. Bundanya selalu mengajarkan untuk banyak berdoa di sujud terakhir sholat yang dia laksanakan. Karena disaat itulah, Allah sedang mengusap kepalanya.
Puas dengan tangisnya, Sela bangun dari sujud nya. Anak itu menoleh ke kiri dan kana ketika selesai melaksanakan rukun sholatnya.
Kedua tangan Sela terangkat menampung keatas.
"Ya Allah, selamatkan Bunda dan adik-adik Sela, Ya Allah. Izinkan Sela bertemu dengan adik-adik Sela. Tapi juga beri keselamatan untuk Bunda saat melahirkan adik-adik, Ya Allah. Kami tidak bisa jika tidak ada Bunda, hiks," ucap anak itu berdoa dengan tangis yang semakin mendera dirinya.
"Jangan Buat Ayah dan Bunda sedih karena kehilangan adik-adik, Ya Allah. Kabulkan doa Sela, Ya Allah. Sela.hanya minta ini saja, tidak ada yang lain, hiks," ucap anak itu menutup doanya dengan mengusap kedua tangan ke wajahnya.
Anak itu memandangi langit-langit musholla. Abang Akbar, jangan terima adik-adik kita di langit, ya. Karena kalau Abang menerima mereka, maka kesedihan akan ada di rumah kita. Jika adik-adik datang kesana, minta mereka buat kembali ya, Abang. Karena kedatangan mereka adalah hal yang sangat membahagiakan untuk Ayah dan Bunda. Tolong beri pengertian pada adik-adik ya, Abang. Sela mohon. Batin anak itu dengan air mata yang selalu mengalir di pipinya.
Setelah puas dengan segala tangis dan doanya, Sela berdiri dan membuka mukenanya. Anak itu melipat seadanya dan meletakkan kembali di lemari paling bawah. Rambutnya nampak sedikit tak rapi. Tapi anak itu tak peduli, tujuannya saat ini kembali pada Bundanya.
.....
Kenzo teringat sesuatu. Dia menatap sekeliling dan tak melihat anaknya ditempat yang tadi diduduki Sela.
"Sela kemana, Bu?" tanya Kenzo pada Bu Sari.
Bu Sari menoleh. "Tadi duduk di kursi, Ken," ucap Bu Sari kaget karena tidak melihat Sela.
"Kamu cari Sela, Ken," ucap Anggara memerintah anaknya.
Kenzo mengangguk. Dia langsung pergi dari sana dan mencari anaknya disekitar rumah sakit.
Langkah Kenzo terhenti ketika melihat bocah kecil yang baru keluar dari musholla.
Kenzo berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang sang anak yang sedang memasang sendalnya.
"Nak," panggil Kenzo lembut.
Sela menyelesaikan memakai sendalnya cepat dan berbalik. "Ayah," balas anak itu menatap Kenzo.
Kenzo dapat melihat mata bengkak anaknya dengan wajah yang masih merah. Penyesalan baru datang setelah sadar bahwa dia tadi membentak anaknya dan melupakannya begitu saja.
Kenzo bersimpuh merendahkan tubuhnya agar mudah menatap Sela.
"Maafin Ayah udah bentak Sela tadi, ya," ucap Kenzo lembut merapikan rambut anaknya yang acak-acakkan karena tidak sempat mengunakan jilbabnya tadi.
Sela mengangguk. "Hiks, Sela khawatir sama Bunda, Ayah. Tapi Sela juga nggak mau buat Ayah marah," jawab anak itu dengan tangis tertahan dan suara yang gemetar. Percayalah, dada anak itu sangat sakit saat ini menahan tangisnya.
Kenzo mengangguk dan membawa tubuh sang anak kedalam dekapannya. "Hiks, jangan bentak Sela lagi, Ayah," ucap anak itu dengan tangis yang sudah tidak dapat dia tahan.
Kenzo mengangguk. "Maafin Ayah ya, Nak. Ayah nggak akan ulangi lagi," ucap Kenzo mengecup lembut pucuk kepala Sela.
"Jika nanti sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, janga pernah marah sama siapapun ya, Ayah. Karena Sela masih butuh Ayah untuk membantu menguatkan Bunda," ucap anak itu bijak.
Kenzo mengangguk dan memeluk erat anak itu. Ya Allah, maafkan aku yang tak bisa mengendalikan emosi ini. Batin Kenzo dengan mata memerah tak sanggup mendengar perkataan sang anak.
Lama memeluk Sela, Kenzo melepaskannya dan mengusap wajah anaknya yang basah karena air mata. "Sela bisa kembali sendiri ke tempat Bunda kan?" tanya Kenzo yang dianggukki Sela.
"Sela balik sendiri dulu, ya. Ayah mau masuk musholla sebentar," ucap Kenzo lembut.
"Kalau berdoa jangan marah-marah ya, Ayah. Tetap meminta dengan sopan agar Allah tak ikut marah," ucap Sela.
Kenzo tersenyum dan mengangguk. Anaknya itu selalu ingat dengan apa saja yang diajarkan oleh Zahra kepadanya.
Sela pergi meninggalkan Kenzo yang berdiri memandangi musholla. Dengan gontai, kakinya melangkah memasuki musholla itu dan berjalan menuju tempat wudhu laki-laki. Berdoa adalah hal yang harus dia lakukan saat ini.
......................
Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍