
🌹HAPPY READING🌹
Dee dan Kini duduk bersama di kursi yang ada di lorong sekolah Shasa dan Sela. Mereka duduk dengan harapan kedatangan seorang wanita yang sangat mereka rindukan.
Kina melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan. "Umi, sudah dua jam kita menunggu, tapi Kakak belum terlihat sama sekali," ucap Kina sendu menatap Dee.
"Apa Kakak benar-benar tidak mau bertemu kita lagi, Umi?" lanjut Kina lirih menatap Dee dengan mata berkaca-kaca.
Dee memeluk anaknya. Mengusap lembut punggung Kina untuk menenangkannya. Jujur saja, hatinya juga sangat sedih dan berharap semua khayal yang dia miliki untuk bertemu Zahra bisa terwujud. Dia ingin memastikan sendiri bahwa Zahra, anak yang dia sayangi layaknya anak kandung itu masih hidup sampai saat ini. Dia ingin membuktikan kepada Sofia, Kevin dan juga Ibra bahwa Zahra masih hidup.
"Jangan berpikir seperti itu, Nak. Waktu bertemu kemarin, Kakak bilang apa sama Adek?" tanya Dee.
"Kakak bilang dia sayang sama Kina," jawab Kina sendu.
Dee tersenyum dan terus mengusap lembut punggung Kina. "Itu artinya, Kakak memang menyayangi Adek. Kita pasti akan bertemu kembali dengan Kakak, Nak,x ucap Dee.
Ya Allah, aku harus minta bantuan siapa? Tidak mungkin meminta bantuan Mas Ibra. Aku tidak ingin dia semakin bersedih jika semua ini salah. Kenzo? Ya Kenzo. Aku akan meminta Kenzo ke rumah nanti. Batin Dee. Jika hanya mereka berdua, dia akan sulit untuk menemukan keberadaan Zahra. Dee akan memberitahu Kenzo mengenai pertemuan Kina dan Zahra. Dia yakin, Kenzo pasti bisa menemukan segala kebenaranya.
Setahun sejak kabar kematian Zahra, keluarga Hebi dan Kenzo memang menghentikan pencarian mereka. Pencarian memang berhenti, tapi harapan itu selalu ada dalam hati mereka.
"Dek, kita pulang dulu, ya. Uni tadi juga sudah mengubungi kepala sekolah disini, hari ini dia tidak berada di tempat. Besok kita akan kembali dan menanyakan data orang tua dan murid di sekolah ini," ucap Dee membujuk Kina.
Kina mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Semoga kita berhasil menemukan wanita kuat kita, ya Umi," ucap Kina penuh harap.
Dee mengangguk yakin dengan senyum tulusnya kepada Kina. "Aamiin," jawab Dee.
Mereka berdua berdiri dan berjalan meninggalkan sekolah Shasa dan Sela.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Shasa dan Sela berjalan beriringan menuju pekarangan sekolah. Saat bel pulang berbunyi, Shasa dan Sela langsung berhambur keluar kelas. Mereka sudah tidak sabar untuk segera pulang dan bermain bersama di rumah Shasa. Sela dengan segala harapan atas jawaban pertanyaan di hatinya, dan Shasa yang bahagia karena akan bermain bersama Sela.
"Papa," panggil Shasa ketika melihat Aska yang sudah berdiri dengan gagah di sebelah mobilnya.
Aska menoleh dan tersenyum ketika melihat anaknya. "Halo Princess Papa. Siap untuk pulang?" tanya Aska menggendong Shasa. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Sela. Rasanya dia juga ingin sekali dipeluk dan digendong oleh Ayahnya sendiri.
Shasa mengangguk. "Shasa bawa sahabat Shasa ya, Pa. Ini Sela, Pa, sahabat Shasa," ucap Shasa memperkenalkan Sela.
Aska menoleh dan tersenyum kepada Sela. Begitu juga Sela yang menampilkan senyum manisnya.
"Boleh, Sela akan ikut pulang ke rumah," jawab Aska. Shasa dan Sela bersorak senang. Kedua anak itu memasuki mobil dan duduk di bagian belakang. Sedangkan Aska segera masuk ke bagian kemudi.
Tiga puluh menit, mobil Aska sampai di depan rumah kediaman Hebi. Sela mengedarkan pandangannya melihat rumah mewah yang saat ini benar-benar ada didepan matanya.
"Ayo Sela," ajak Shasa.
Sela mengangguk. Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Ada Papi sama Daddy juga, Pa?" tanya Sela ketika melihat mobil Al dan Kenzo dipekarangan rumahnya.
Aska mengangguk. "Iya, Nak. Nenek mengundang kita semua untuk makan siang," jawab Aska.
Sela yang mendengar semua itu menghentikan langkahnya. Dia menjadi tidak enak untuk memasuki rumah Shasa yang banyak keluarga. "Cela menunggu di telas caja, Ca, Om," ucap Sela.
"Kenapa begitu?" tanya Shasa tak setuju.
"Banyak kelualga," jawab Cela.
Aska tersenyum mendengar jawaban Sela. "Tidak apa, Sela. Ayo masuk, didalam semua orang menunggu kita," ucap Aska merangkul Sela.
"Apa benar tidak apa-apa, Paman?" tanya Sela.
Aska mengangguk. "Ayo," ajak Aska. Mereka bertiga berjalan memasuki rumah mewah tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucap Aska mewakili Sela dan Shasa ketika mereka sampai di ruang tamu.
Ruang tamu kediaman Hebi nampak ramai. Mereka semua berkumpul untuk menikmati makan siang atas permintaan sang ratu, Dee. Termasuk Aska juga ada disana.
"Adek Adam," teriak Shasa langsung berlari menghampiri Adam yang duduk tenang di atas pangkuan Ibra.
Sela mengedarkan pandangannya. Hinga tatapannya bertemu dengan tatapan Kenzo. "Ayah," panggil Sela senang dan berjalan mendekati Kenzo. Benar dugaannya, pasti Ayahnya itu tinggal serumah dengan Shasa. Tidak salah langkahnya untuk datang bermain ke rumah Shasa.
"Sela kesini?" tanya Kenzo ikut senang.
"Cela mau main cama Caca," jawab Sela yang membuat mereka semua tersenyum ketika me dengar bicara Sela yang lucu dengan gaya cadelnya. Shasa memperkenalkan Sela pada semua keluarganya, ada rasa hangat dari diri Sela ketika melihat semua senyum tulus yang dia terima dari keluarga Shasa, yang.mungkin juga keluarganya.
"Berhubung kita semua sudah berkumpul, ayo kita ke ruang makan," ajak Dee, dan mereka semua mengangguk menyetujui ajakan Dee.
Sela menatap seluruh dinding rumah mewah itu. Hingga pandangannya berhenti saat menemukan sebuah bingkai besar di dinding ruang makan, yang diisi foto seorang wanita cantik sedang duduk di kursi roda dengan senyum manisnya.
DEG
Buna. Batin Sela. Dia sangat mengenal wanita itu. Wanita di foto itu adalah Bundanya.
Apa cegala peltanyaan itu jawabannya adalah iya? Batin Sela bahagia.
Sampai duduk di kursi, mata Sela tidak berhenti menatap foto Bundanya yang sangat cantik. Dee yang melihat itu mengikuti arah pandang Sela.
"Sela melihat foto itu?" tanya Dee yang membuat mereka semua ikut memandang Sela.
Sela mengalihkan pandangannya dan mengangguk. "Cantik, Nenek," jawab Sela.
Dee dan mereka semua tersenyum, termasuk Kenzo. "Dia anak kedua di rumah Ini, Sayang," ucap Dee.
Sela memandangi mereka semua. Ada rasa bahagia yang tidak bisa anak itu jelaskan saat ini. Jadi ini kelualga Cela. Batinnya bahagia.
"Aunty Zahra itu istri Papi, Sela," celetuk Shasa yang kini duduk dipangkuan Aska.
"Benarkah?" tanya Sela menatap polos Kenzo.
"Iya, Sayang. Wanita cantik itu istri Ayah," ucap Kenzo yang duduk disebelah anak itu menjawab pertanyaan Sela.
Jadi benar Ayah ini adalah Ayah kandung Cela? Apa benal cekalang Allah menjawab cemua doa Cela? Racanya bahagia cekali. Tapi mengapa Buna hidup cucah? Mengapa tidak tinggal belcama? Apa Cela dan Buna dibuang? Batin Sela memandangi Kenzo dengan mata berkaca-kaca, namun menyiratkan kebahagiaan.
"Kok tidak belcama kita, Ayah?" tanya Sela pura-pura tidak tahu. Anak itu hanya ingin tahu kenapa dia dan Bundanya tidak hidup bersama mereka semua.
"Aunty Zahra sudah meninggal, Sela," celetuk Shasa sesuai apa yang dia ketahui.
Sela langsung memandangi Shasa. "Meninggal? Ke Culga?" tanya Sela.
Mereka semua mengangguk. "Zahra meninggal bersama anak dikandungan ya saat musibah banjir di suatu kota enam tahun yang lalu, Nak," jawab Ibra.
Tapi tidak dengan Kenzo, Dee dan Kina, mereka hanya diam. Keyakinan mereka sangat besar untuk kehidupan Zahra yang masih panjang di dunia.
Buna dan Cela macih hidup, Kakek. Dan Cela ini Anak Ayah. Batin Sela sendu menatap Kenzo dan Ibra bergantian. Ingin sekali dia berteriak mengatakan bahwa dia dan Bundanya masih hidup. Dia dan Bundanya masih ada di dunia ini. Ingin sekali dia berhambur memeluk Kenzo dan mengatakan bahwa dia adalah anaknya. Tapi kejanggalan di hatinya masih belum sepenuhnya lega.
"Apa Ayah menikah lagi?" ucap Sela yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Dia hanya takut, posisi Bundanya sudah digantikan oleh orang lain, dan itu akan membuatnya semakin terluka.
Kenzo tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada yang bisa menggantikan dia, Nak," jawab Kenzo memandangi Zahra dari fotonya.
Sela disini, Ayah. Batin Sela menangis. Sebisa mungkin anak itu menahan diri untuk tidak membuka suara dan mengatakan apapun. Anak kecil itu bahkan sudah dipaksa berpikir keras untuk mengembalikan jati diri bundanya dan kebahagiaan yang selama ini dia inginkan.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍