Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 48



🌹HAPPY READING🌹


"Sela mau Ayah, ya?" ucap Shasa seraya berpikir. Dengan jari telunjuk di dagu dan sebelah tangannya yang dilipat di dada, anak itu nampak menggemaskan dan sangat imut.


Sela berbinar mendengar pertanyaan Shasa. Dia mengangguk semangat tanpa banyak pikir. Al menyaksikan itu semua, senyum terbit di bibir Al melihat bagaimana Shasa yang bisa menghibur temannya.


"Shasa nggak punya Ayah," ucap Shasa berubah sendu.


Bahu yang tadinya semangat dan tegap itu kini merosot kembali. Sela menghela nafas pelan sambil tersenyum kepada Shasa.


"Tid-"


"Tapi Shasa punya Papi," sambung Shasa memotong perkataan Sela.


"Papi?" tanya Sela memastikan.


Shasa mengangguk yakin. "Kalau Papa tidak bisa, dia punya Shasa. Daddy juga tidak bisa, karena punya Adek Adam, tapi Papi tidak punya siapa-siapa. Iya kan, Dad?" ucap Shasa menatap Al yang sedang membawa mobilnya. Ya, Al memang dikarunia oleh seorang jagoan kecil yang saat ini masih berusia satu tahun.


"Papi kan punya kita semua, Sayang," ucap Al.


Shasa mengangguk. "Iya, tapi Papi masih tinggal sendiri. Bahkan Aunty Kinzi tidak dibolehkan tinggal bersama Papi. Bagaimana kalau Sela jadi anaknya Papi? Sela mau?" tanya Shasa dengan wajah cerianya.


"Jadi sekarang kita sama-sama punya Papi," sambung Shasa.


Mata Sela membulat berbinar mendengar perkataan Shasa. "Cela mau," ucapnya mengangguk yakin.


"Rumah Sela yang mana, Nak?" tanya Al saat mobilnya berhenti di depan gang kecil yang tadi dikatakan oleh Sela.


Shasa dan Sela sama sama menoleh. "Lumah Cela macuk ke dalam gang itu, Paman," ucap Sela menunjuk arah jalan rumahnya.


"Kita antar Sela ya, Dad?" ucap Shasa memohon.


"Tapi nanti kita terlambat ketempat Papi, Sha," ucap Al menolak dengan halus.


Shasa manyun mendengar jawaban Al. Melihat Shasa yang sudah mode ngambek seperti ini, Al tidak bisa apa-apa selain menuruti perkataan keponakan tercintanya itu. "Yasudah, kita antar Sela. Ayo turun," ucap Al.


"Tapi Paman-"


"Ayo Sela," ucap Shasa yang sudah lebih dulu turun dan menarik tangan Sela.


Sela hanya bisa pasrah. Al mengikuti langkah kaki dua anak kecil tersebut dari belakang.


Seperti tempat kumuh. Ucap Al melihat sekeliling perjalanan gang menuju rumah Sela.


"Ini lumah Cela," ucap Sela senang setelah lima menit mereka berjalan kaki.


Sela menunjukkan rumahnya yang jauh dari kesan bagus dengan rasa bangga kepada Al dan Shasa. Al hanya diam dan terus memandangi rumah Sela. Sedangkan Shasa ikut tersenyum, dipikiran anak itu yang penting dia tahu rumah temannya, jadi bisa pergi main kapan saja.


"Maaf, ya Paman. Lumah Cela kecil," ucap Sela melihat reaksi Al yang hanya diam.


Bukan jijik ataupun marah. Al hanya salut melihat sikap Sela yang tidak malu akan keadaannya. Anak ini sangat mensyukuri keadaannya. Dan Al bangga akan hal itu.


Al tersenyum dan membungkuk mengusap lembut pipi Sela. "Tidak apa-apa, yang penting punya tempat tinggal, Sayang," ucap Al.


"Ibu Sela dimana?" tanya Al melihat sekeliling rumah Sela yang nampak sepi.


"Kalau jam segini, Buna macih di toko kue, dan Nenek ada di panti acuhan, Paman. Biacanya Cela akan ikut Nenek ke Panti, tapi kalna cekolah, jadi Cela tinggal di lumah," ucap Sela memberitahu keberadaan Bunda dan Neneknya.


Selain membuat kue dan meletakkan di warung-warung, Zahra memang bekerja di Toko Kue milik anak dari pemilik panti asuhan tempat Hu Sari bekerja. Bu Sari memang bekerja di panti asuhan untuk membantu memasak disana.


Shasa yang mendengar perkataan Sela tersenyum senang. Rencana indah tiba-tiba muncul di otak cerdasnya.


"Bagaimana kalau Sela ikut kita ke tempat Papi?" tanya Shasa senang.


"Papi yang Caca kaci cama Cela?" tanya Sela memastikan.


Shasa mengangguk yakin. Setelah itu dia menoleh pada Al yang hanya berdiri dibelakang mereka. "Boleh ya, Dad?" pinta Shasa memohon.


Al mengangguk dengan senyumnya. Tidak ada alasan untuk dia menolak permintaan Shasa. Lagian dia ke Kantor Kenzo juga bukan untuk membahas pekerjaan, tapi membahas hal lain.


"Tunggu cebental," ucap Sela melepaskan tas punggungnya dan meletakkan Anna di kursi kayu reot yang ada di teras rumahnya.


"Sela mau buat apa?" tanya Al saat melihat Sela mengeluarkan kertas dan juga pensil.


Sela tersenyum menatap Al. "kaci pecan buat Buna, Paman. Biar nanti Buna tidak cucah nyali-nyali Cela," ucap Sela sambil menulis di kertas tersebut.


"Kenapa tidak kirim pesan lewat ponsel saja?" tanya Shasa yang biasa menggunakan ponsel Mamanya untuk menelpon siapapun.


Sela menggeleng. "Cela dan Buna tidak punya HP. Lagian itu balang mahal, Buna dan Nenek tidak punya," ucap Sela polos namun entah kenapa sangat menyayat hati Al.


Anak ini luar biasa. Batin Al memandang Sela dengan senyum manisnya.


"Sela sudah bisa menulis?" tanya Al melihat tulisan Sela yang khas akan tulisan anak kecil.


"Buna yang ajalkan," ucap Sela. Lalu anak itu melipat kecil kertas tersebut dan menyelipkannya di kursi kayu yang ada bagian bolongnya.


"Ayo Paman, Shasa," ucap Sela setelah memakai tas dan mengambil Anna di kursi tersebut.


Al dan Shasa mengangguk, mereka bertiga berjalan menjauhi rumah Sela dan menuju mobil untuk segera pergi ke kantor Kenzo.


.....


Tiga puluh menit, mobil Al sampai di lobi luar kantor Kenzo. Sela melihat kiri dan kanannya, memperhatikan segala sisi Kantor Kenzo yang nampak menakjubkan baginya. Untuk pertama kalinya, Sela menginjakkan kaki di gedung besar yang biasanya hanya bisa dia lihat.


Sela mengangguk. Anak itu hanya menunduk selama berjalan menuju ruangan Kenzo. Berbeda dengan Shasa yang nampak tersenyum dan sesekali menyapa karyawan Kenzo. Sedangkan Al hanya terus berjalan lurus dengan wajah dinginnya.


Ting.


Lift berbunyi dan mereka sampai di lantai ruangan Kenzo. "Angkat kepalanya Sela, Princess tidak boleh menunduk," ucap Al pada Sela.


Shasa yang melihat itu ikut mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Daddy-nya. Tidak ada rasa iri sama sekali dalam diri Shasa melihat itu, entah kenapa dia sangat senang berteman dengan Sela yang pendiam di sekolah.


Sela mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Al, manis sekali. Al terpaku sejenak melihat senyum Sela. Setelah itu dia menggeleng kuat mengusir pikiran gang akan membuatnya sedih.


"PAPI," teriak Shasa saat memasuki ruangan Kenzo.


Kenzo yang tadinya sibuk dengan segala berkas di dengan tangan yang menggenggam sebuah pena ditangannya, menoleh. Senyum terbit di bibirnya melihat seorang anak yang sudah dia anggap seperti anak sendiri memasuki ruangannya.


"Princess Papi sudah datang," ucap Kenzo berdiri dan mengangkat tubuh Shasa kegendongannya.


Sela yang melihat itu semua hanya memandang dengan sendu dari belakang tubuh Al. Ingin sekali dia merasakan pelukan dan gendongan seperti itu dari Ayahnya.


"Papi, Shasa punya sesuatu untuk Papi," ucap Shasa senang.


"Benarkah, kejutan apa, Sayang?" ucap Kenzo gemes mencubit pipi Shasa.


Shasa meronta ingin turun dari gendongan Kenzo. Dia berjalan mendekati Al dan menarik tangan Sela yang sedari tadi hanya berdiri dibelakang Al.


"TARAAAA," ucap Shasa senang.


DEG


Jantung Kenzo berdetak saat matanya bertubrukan dengan mata indah Sela. Mata ini ... Batin Kenzo.


Kenzo berjalan mendekati Sela dan bersimpuh saat sudah berada didepannya.


"Namanya siapa, Nak?" tanya Kenzo lembut dengan senyumnya, dan pandangannya yang tak lepas dari mata Sela.


Mata Sela mengerjap lucu. "Acalamu'alaikum, Paman," ucap Sela.


"Waalaikumsalam," jawab Kenzo. "Namanya siapa ini? Cantik sekali," ucap Kenzo mengusap lembut pipi Sela.


Mata Sela berkaca-kaca ketika tangan Kenzo menyentuh pipinya. Terasa nyaman sekali, seolah Sela merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ayah, walaupun tidak seutuhnya.


"Cela Alunika Kenjar," jawab Sela.


"Cela?" tanya Kenzo memastikan.


"Sela Arunika Kenzar, Papi," ucap Shasa memperjelas maksud Sela.


"Nama yang cantik, Nak," ucap Kenzo.


"Telimakaci, Paman. Nama adalah doa dali Buna," ucap Sela.


"Papi," panggil Shasa.


Kenzo menoleh kepada Shasa. "Kenapa Sayang?" tanya Kenzo.


Shasa berdiri disebelah Sela dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Sela tidak punya Ayah, apa Papi mau menjadi Ayah Sela? Tadi Shasa udah janji buat kasi Papi untuk jadi Ayahnya Sela," ucap Shasa polos.


Sela yang mendengar itu memandang Kenzo dengan pandangan memohon dan mata yang berkaca-kaca. Kenzo menoleh pada Sela. "Ayah Sela kemana, Nak?" tanya Kenzo lembut.


Sela menggeleng dengan dagu bergetar menahan tangisnya. "Tidak tahu," jawab Sela dengan suara bergetar.


Kenzo memeluk Sela dan mengusap lembut punggung anak itu. "Sekarang, jangan panggil Paman. Sela panggil Papi, ya," ucap Kenzo.


Sela menggeleng. Dia melepaskan pelukan Kenzo dan menatapnya. "Boleh Cela panggil Ayah?" pinta Sela.


"Papi itu cudah punya Caca, jadi Cela mau panggil Ayah. Kata Buna, tidak baik mengambil milik Olang. Jadi, kalau Cela panggil Ayah, tidak akan mengambil Papi Caca," ucap Sela menjelaskan dengan bicara cadelnya.


Kenzo dan Al tersenyum mendengar perkataan Sela. Ibu dari Anak ini mendidik Sela dengan sangat baik, pikir Al dan Kenzo.


"Sela boleh panggil Ayah," ucap Kenzo.


"Ayah," panggil Sela dengan suara bergetar. Akhirnya kata yang selama ini ingin dia ucapkan terlontar dari mulutnya.


Kenzo tersenyum an mengangguk. Ada rasa senang dalam dirinya melihat Sela bahagia. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Sela yang basah karena air matanya.


"Sekarang Sela punya Ayah," ucap Kenzo.


DEG


Kenzo terpaku melihat Senyum Sela kepadanya. Senyum ini sangat mirip sekali dengan senyum wanita yang selalu mengisi relung hatinya sampai kapanpun. Senyum itu sangat mirip dengan wanita yang selalu memenuhi pikirannya.


"Zahra," gumam Kenzo tanpa sadar menatap Sela.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Maaf ya teman-teman, untuk visual di part berikutnya ya, masih galau dengan visualnya, jangan marah teman-teman 🙏🙏🥰


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍