
🌹HAPPY READING🌹
Bu Sari dan Zahra berjalan menuju apotik rumah sakit untuk menebus resep yang diberikan Dokter. Zahra duduk di kursi tunggu sedangkan Bu Sari memberikan antrian resepnya.
Zahra melihat sekelilingnya. Mata menatap lalu lalang para manusia yang entah mengapa sangat ramai dirumah sakit saat ini. Hingga mata Zahra berhenti pada seorang wanita yang baru saja berjalan keluar dari ruangan tempat yang tadi juga dia masuki.
DEG.
"Kak Kinzi."
Untuk lebih meyakinkan, Zahra kembali mengarahkan pandangannya pada papan nama ruangan tersebut. "Poli obgyn," gumam Zahra.
Zahra segera berdiri dan berjalan cepat menyusul wanita yang dia lihat. Karena tidak bisa berjalan cepat, Zahra kehilangan jejak wanita itu, ditambah dengan keadaan rumah sakit yang cukup ramai.
"Mungkin kah itu Kak Kinzi?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.
"Bukannya Kak Kinzi di Paris? Lalu itu..." Zahra tak sanggup melanjutkan ucapannya dan menduga hal-hal yang buruk mengenai semua ini.
"Nak," panggil Bu Sari membuyarkan lamunan Zahra.
"Astagfirullah, Zahra kaget, Bu," ucap Zahra mengusap dadanya pelan.
"Kamu cari siapa?" tanya Bu Sari.
Zahra menggeleng. "Ibu sudah selesai?" tanya Zahra mengalihkan pertanyaan Bu Sari.
"Sudah. Kita langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Bu Sari.
"Langsung pulang aja, Bu. Zahra mau istirahat aja dirumah," jawab Zahra yang langsung dianggukki Bu Sari.
Zahra dan Bu Sari keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Mata Zahra sesekali mencuri pandang ke segala arah, dengan harapan wanita yang tadi dia lihat masih ada di sekitaran rumah sakit.
"Ayo masuk, Nak," ucap Bu Sari yang melihat Zahra tak kunjung masuk mobil.
"Eh, iya Bu," jawab Zahra dan menuruti perkataan Bu Sari. Karena setelah ini sopir mereka akan kembali ke kantor Kenzo.
Sepanjang perjalanan, Zahra hanya melihat keluar jendela. Pikirannya selalu tertuju pada Kinzi. Mengingat bagaimana keadaan Kinzi pergi ke Paris saat itu, membuat Zahra ragu.
Semoga Kak Kinzi baik-baik saja dimanapun berada. Batin Zahra tulus.
.....
Keluarga kecil itu sedang melaksanakan sholat isya berjamaah dengan Kenzo sebagai imamnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullaahi," ucap Kenzo menoleh ke kanan dan selanjutnya ke kiri diikuti Zahra, Bu Sari dan Sela.
Mereka semua berdzikir dan dilanjutkan dengan doa kepada Yang Maha Kuasa.
Mereka semua berdoa Tapi tidak dengan seorang gadis kecil yang sudah merebahkan dirinya di atas sajadah Matanya sangat berat ingin tidur. Bahkan saat zikir saja, matanya sudah setengah terpejam.
Saat selesai berdoa, Kenzo berbalik agar Zahra dan Sela bisa menyalami dirinya. Namun yang dia temukan, gadis kecilnya sudah tertidur diatas sajadah dengan mulut menganga sepeti sangat kelelahan.
"Anak kamu, Mas," ucap Zahra yang merasa lucu melihat anaknya tidur dengan tidak ada jaim-jaimnya.
Kenzo hanya menggeleng. "Aku angkat ke kamar dulu, ya," ucap Kenzo setelah Zahra menyalami tangannya dan dia bergantian menyalami tangan Bu Sari.
"Sampai di kamar buka mukenah nya, Ken. Biar tidurnya lebih nyaman," ucap Bu Sari.
"Iya, Bu," jawab Kenzo dan menggendong Sela ke kamarnya.
.....
"Bagaimana kata Dokter, Sayang? Maaf ya, tadi aku selesai meeting baru jam makan siang, jadi nggak bisa nyusul kamu ke rumah sakit," ucap Kenzo bersalah pada Zahra.
Kini kedua suami istri itu sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya menikmati angin malam, sambil melihat bulan yang ditemani ribuan bintang dan menambah keindahan langit. Sedangkan di sekecil Sela sudah lebih dulu memasuki dunia mimpinya. Entah apa yang anak itu lakukan di sekolah, tadi setelah isya dia langsung ketiduran ketika masih berdoa bersama.
"Nggak apa-apa, Mas. Lagian kan kamu kerja juga buat aku sama anak-anak kita. Aku tadi juga nggak sendirian, ada Ibu yang nemenin," jawab Zahra lembut.
"Lalu apa kata dokter? Tidak ada masalahkan, Sayang?" tanya Kenzo sambil mengusap lembut perut Zahra.
"Baik-baik saja, Mas. Kata Bu Dokternya itu hal biasa di trimester pertama. Tapi jika nanti saat trimester kedua atau ketiga aku masih sering ada bercak darahnya, baru diperiksa lagi, Mas," ucap Zahra.
"Aku khawatir, Sayang," ucap Kenzo sendu.
"Tidak apa-apa, Mas. Tenang aja ya. Semua pasti baik-baik saja. Ada Mas disisi aku, dan pasti akan selalu jaga aku," ucap Zahra lembut dengan senyum manisnya.
"Aku akan selalu bersama kamu, Sayang. Mungkin ini hanya kata bagi kamu, tapi aku akan buktikan itu," ucap Kenzo yakin.
Zahra mengangguk. Kenzo memeluk Zahra dari samping penuh cinta. Pria itu membenamkan kepalanya di dada sang istri mencari kenyamanan. Ditambah angin malam, ini sungguh memberi ketenangan bagi Kenzo.
Tangan Zahra bergerak mengelus rambut suaminya. Kenzo sangat pandai dalam mencari posisi, hingga tak membuat perut Zahra terganggu.
"Mas, jika nanti ada apa-apa dengan kehamilan ini, tolong pilih anak kita ya, Mas," ucap Zahra lembut.
Kenzo langsung menegakkan kepalanya mendengar perkataan Zahra. "Kamu bicara apa, Sayang?" tanya Kenzo tak suka.
Zahra tersenyum dan menggeleng. "Hanya ingat saja, Mas. Bagaimanapun juga, anak ini yang utama," ucap Zahra.
"Tidak! Aku akan memilih kamu tentunya!" ucap Kenzo mutlak.
"Tapi Mas-"
"Sayang, kita bisa buat anak lagi jika memang ini bukan rezeki kita. Tapi jika kamu, aku harus cari dimana? Hidupku adalah kamu, kamu pergi maka kehidupanku berakhir!" ucap Kenzo tanpa ingin dicegah.
"Yang penting sekarang, kita sama-sama berdoa untuk kebaikan semuanya, ya. Anak kita akan baik-baik saja disini," ucap Kenzo mengusap lembut perut Zahra "Jangan bicara seperti itu lagi. Jangan mengada-ngada dan mendahului takdir Allah, Sayang. Tidak baik," lanjut Kenzo.
Zahra mengangguk dan tersenyum. "Aamiin untuk semua doa baiknya, Mas," jawab Zahra lembut.
"Maaf omongan aku yang tadi, ya. Jika itu membuat kamu marah," sambung Zahra.
Kenzo mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di dada Zahra mencari kenyamanan.
"Mas," panggil Zahra.
"Hem," jawab Kenzo. Mata lelaki itu masih terpejam menikmati sentuhan lembut tangan Zahra di rambut dan kepalanya.
Zahra terdiam sebentar. Dia sedikit ragu memberitahu Kenzo mengenai ini. Tapi dia juga ingin tahu mengenai keadaan Kinzi sekarang. Dia sangat berharap bahwa apa yang tadi dia lihat adalah salah dan tidak sesuai dengan prasangka nya.
"Mas, keadaan Kak Kinzi bagaimana? Apa kamu sudah menghubunginya? Soalnya, tadi saat dirumah sakit, aku melihat seseorang yang begitu mirip dengan Kak Kinzi, Mas."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏