
🌹HAPPY READING🌹
Keluarga kecil itu sedang duduk di ruang keluarga untuk menikmati siang hari yang nampak sejuk. Matahari bekerjasama dengan manusia saat ini. Tidak panas dan juga tidak dingin.
Sela sesekali tertawa melihat tingkah kartun berwarna kuning itu yang membuat temannya kesal. Sedangkan Kenzo asik mengusap perut sang istri. Hari ini Kenzo terpaksa tidak masuk kantor karena terlambat bangun. Begitu juga dengan Sela, dia harus meliburkan diri dari sekolahnya.
"Nak, kambing kamu sudah dikasih makan?" tanya Zahra pada Sela yang tiduran dengan pahanya sebagai bantalan.
"Udah Bunda. Tadi Sela minta bantuan om botak buat ngasih makan para kambing," jawab Sela lancar.
Kenzo yang tadinya rebahan langsung mendudukkan tubuhnya mendengar perkataan anaknya itu. "Coba ulangi lagi, Nak," ucap Kenzo.
"Apa Ayah?" tanya Sela.
"Coba ulangi yang tadi kamu jawab sama Bunda," ucap Kenzo memperjelas maksud perkataannya.
"Kambing aku udah dikasih makan sama om botak," jawab Sela dengan kata berbeda namun sama maknanya. Tentu saja dia lupa dengan apa yang dia katakan tadi, namanya juga anak kecil, jelas dua tidak ingat apa yang dia katakan satu detik yang lalu.
Kenzo tersenyum sumringah mendengar perkataan anaknya. Kedua tangannya bertepuk riang seolah mendapat kejutan besar. Zahra dan Sela memandang aneh lelaki itu. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Zahra. Dia takut saja jika suaminya ini tiba-tiba kesurupan jin siang hari.
"Namu kamu siapa?" tanya Kenzo menatap Sela tanpa menghiraukan pertanyaan Zahra.
"Sela," jawab Sela polos.
"Wah, kamu udah bisa sebut S, Nak," ucap Kenzo takjub.
Reflek Sela langsung menutup mulutnya tak percaya. Zahra yang mendengarnya ikut melihat Sela dengan tatapan berbinar.
"Coba bilang Sasa, sisi, susu, sese," ucap Zahra ikut menguji Sela.
Sela membuka kedua tangan yang menutupi mulutnya. "Sasa, sisi, susu, sese," jawab Sela lancar.
"Wah, Sela udah lancar Bunda," lanjutnya setelah sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Selamat, Nak. Lidah kamu udah bener," ucap Zahra senang. Sela langsung bangun dan memeluk Bundanya. Akhirnya, bahan ejekan teman-temannya kini sudah tidak ada lagi. Dia sudah lancar dalam berbicara.
Kenzo memandang kedua wanita berbeda usia itu dengan sedikit kesal. "Ayah nggak dipeluk?" ucapnya merajuk.
Sela melepas pelukannya dengan Zahra dan beralih menatap Kenzo. Kedua tangannya membentang dan memeluk ayahnya dengan erat. "Peluk Ayah juga," ucap Sela senang. Kini anak dan ayah itu sudah baikan sejak tadi, berkat Zahra yang menengahi mereka.
Kenzo tersenyum. Dia melepaskan pelukannya dan mendudukkan Sela di pangkuannya. "Sekarang coba bilang R," ucap Kenzo. Selain S, Sela juga kadang-kadang tidak bisa menyebut kata yang ada huruf R dengan lancar.
"Rrrrrrrrr," ucap Sela dengan menyebutkan huruf itu cukup panjang.
"Ini baru benar-benar normal," ucap Kenzo dan kembali memeluk anaknya itu.
"Yeay, Sela lancar," ucapnya girang dan bertepuk tangan dalam pelukan Ayahnya. Zahra yang melihat itu ikut senang. Meskipun hal kecil, tapi itu merupakan kejutan besar untuk anaknya. Sela sering merasa minder dengan teman-temannya. Karena diantara temannya-temannya itu, hanya dia sendiri yang berbicara masih seperti anak usia tiga tahun yang tidak bisa mengucapkan S dan R dengan benar.
Ditengah kebahagiaan itu, sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak dan berbalik menatap Shasa dan Kina yang datang berkunjung.
"Papi, Bunda," ucap Shasa menyalami tangan Bunda Dan Kenzo.
"Shasa baru pulang sekolah?" tanya Sela heran. Pasalnya ini sudah pukul tiga, harusnya Shasa sudah pulang sejak tadi. Tapi ini, Shasa datang dengan masih memakai seragam sekolahnya.
"Sudah dari tadi, Sela. Tadi aku main ke kantor Papa sama Daddy dulu," ucap Shasa yang kini sudah duduk dipangkuan lainnya kaki Kenzo.
"Adek udah makan?" tanya Zahra kini beralih pada Kina.
Sela menggeleng. "Ketiduran, Mama," jawab Sela dengan sengaja menjelaskan huruf R pada kata yang dia ucapkan. Dia berharap Kina dan Shasa akan paham dengan hal ini. Sungguh, anak ini sangat ingin sekali dipuji.
Sedangkan Kina yang mendengar itu hanya mengangguk saja. Dia belum ngeh dengan perbedaan bicara Sela.
"Shasa, nanti kita bersihin rumah kambing ya, biar nggak ada ular," ucap Sela lagi dengan suara yang sedikit keras dan menjelaskan setiap huruf S dan R nya.
Zahra dan Kenzo yang paham akan maksud anaknya itu terkekeh pelan. Pandai sekali gadis kecil mereka dalam memberi kode untuk pamer kepandaiannya itu.
"Oke Sela," jawab Shasa polos. Sela mendengus kesal melihat Shasa yang belum juga paham dengan perubahan bicaranya.
Kina yang melihat Zahra dan Kenzo tertawa, serta Sela yang kesal menjadi bingung sendiri. "Kenapa Kak?" tanya Kina pada Zahra.
Zahra menunjuk Sela dengan tatapannya. "Tanya ponakan mu," jawab Zahra.
"Sela kenapa kesal, Sayang?" tanya Kina lagi.
"Shasa, nanti kita bersihin rumah kambing ya, biar nggak ada ular," ulang Sela lagi.
"Iya, Sela," jawab Shasa lagi dengan polosnya.
Kina sedikit terdiam dan berfikir. Sedetik kemudian matanya membulat dengan senyum sumringah. "Sela ngomongnya udah lancar," ucap Kina heboh.
Shasa yang mendengar perkataan mamanya menatap Sela. "Benarkah? Coba ulangi, Sela," ucap Shasa.
"Ular melingkar-lingkar, Shasa," ucap Sela dengan sangat ikhlas dan senang.
"Wah, udah nggak cadel lagi," ucap Kina.
"Shasa senang dengarnya," ucap gadis kecil itu memeluk sepupunya.
"Anak kamu sangat pandai dalam hal pamer dan menyadarkan orang, Kak," ucap Kina pada Zahra.
"Turunan Bapaknya," jawab Zahra pelan yang hanya didengar oleh mereka berdua.
"Sekarang mau ikut Ayah Papi nggak?" tanya Kenzo pada Sela dan Shasa.
"Kemana?" tanya mereka serentak.
.....
Disinilah Kenzo Sela, dan Shasa berada sekarang. Di depan bangunan dengan tonggak-tonggak yang sudah berdiri kokoh namun belum ada dinding pembatasnya. Zahra dan Kina tidak ikut karena kedua wanita itu ingin menghabiskan waktu berdua dengan bercerita dirumah.
Kenzo nampak tersenyum sumringah memandang para pekerja disana. Pembangunan itu akan segera selesai, dan telinganya akan terselamatkan dari suara berisik dirumahnya yang membuat tidurnya sangat terganggu.
Berbeda dengan Kenzo, kedua gadis kecil yang berdiri di sisi kanan dan kirinya menatap kesal dengan kedua tangan menyilang di dadanya. Sungguh, Ayah dan Papi mereka ini benar-benar membuat kesal. Baru tadi Sela bahagia karena lancar dalam berbicara, sekarang kembali kesal karena Kenzo.
"Kok rumahnya begini sih, Ayah?" tanya Sela Kesal.
"Iya, kan nanti mereka nggak nyaman," sambung Shasa yang tidak bisa berkata apa-apa.
Kenzo menghela nafas pelan mendengar perkataan kedua gadis kecil itu. "Ini belum selesai, anak-anakku. Nanti kalau sudah selesai pasti akan bagus," jawab Kenzo gemes dengan mereka berdua.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏