
🌹HAPPY READING🌹
Sudah satu Minggu Zahra resmi menjadi istri Kenzo. Tapi perlakuan Kenzo masih tetap sama kepadanya. Kasar, marah, membentak dan berteriak selalu dilakukan Kenzo kepada Zahra. Bahkan Zahra melakukan pekerjaan layaknya seorang pembantu dengan segala kekurangan yang dia miliki. Tertekan? Pasti. Sakit hati? Jelas. Marah? Jangan ditanya lagi, ingin rasanya Zahra kembali ke rumah dan mengadukan semua perlakuan Kenzo kepada Abi, Abang dan Ayahnya. Tapi Zahra kembali teringat akan pesan Bundanya, bahwa keburukan suami adalah aib bagi istrinya. Jika Zahra mengatakan itu semua, maka itu akan membuka aibnya sendiri.
Zahra memandang taman yang dipenuhi berbagai bunga dari jendela kamarnya. Tanpa terasa air matanya mengalir mengingat bagaimana dengan susah payahnya dia menahan air mata agar tidak jatuh di depan Kenzo. "Ini bukan bodoh, ini adalah bentuk sabar dan ikhlas," gumam Zahra pelan membela dirinya sendiri. Jika orang lain mengetahui apa yang Zahra lalui, mungkin dia akan dikatakan bodoh karena hanya diam dan menerima apa yang dilakukan Kenzo.
"Ara harus kuat di depan Kak Ken. Kalau Ara lemah dan mudah menangis, pasti nanti Kak Ken semakin gencar menguji kesabaran Ara," gumamnya menghapus pelan air mata yang menetes di pipinya.
Ara memandangi perutnya yang rata. Dengan lembut tangannya terulur untuk mengelus perut ratanya tersebut. "Mungkin nggak ya, Ara hamil anak Kak Ken. Ara juga mau punya anak," ucap Zahra sendu menatap perutnya.
Saat asik mengusap perutnya, Ara teringat akan sesuatu. "Kira-kira dilantai dua ada apa, ya? Mumpung Kak Ken nggak ada di rumah, Ara lihat-lihat aja dulu," ucap Zahra menyeret dirinya keluar dari kamar.
"Ada untungnya juga nggak pakai kursi roda," ucap Zahra tersenyum. Karena jika menggunakan kursi roda, maka dia akan kesusahan untuk menaiki tangga.
Lima belas menit menaiki tangga, akhirnya Zahra sampai di lantai dua. Zahra berjalan menuju sebuah pintu besar yang dia tahu itu adalah kamar Kenzo. Dengan sedikit kesusahan, Zahra berhasil meraih handle pintu.
Nyaman dan wangi. Dua kata yang mewakili suasana kamar Kenzo. Zahra dengan semangat menyeret dirinya mendekati ranjang Kenzo. Dengan lembut tangan Zahra meraba-raba ranjang Kenzo.
"Harusnya tadi malam Ara tidur disini," ucap Zahra sendu.
Zahra mengedarkan pandangannya, hingga tatapannya berhenti pada sebuah foto yang berada di nakas sebelah ranjang.
.....
Sedangkan di lantai dua puluh lima sebuah perusahaan terkenal di negeri ini, Kenzo duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang fokus pada layar laptop didepannya.
DK Group, atau singkatan dari Double K yang berarti Kenzo dan Kinzi merupakan perusahaan yang Kenzo bangun sendiri dengan kerja kerasnya hingga bisa menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di negerinya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Kenzo saat melihat Zahra menyeret dirinya untuk menaiki tangga.
Kenzo langsung berdiri dan berjalan keluar ruangannya.
"Kosongkan jadwal saya sampai sore ini," ucap Kenzo pada sekretaris sekaligus asisten pribadinya, Arman.
Tanpa menunggu jawaban Arman, Kenzo langsung berjalan cepat menuju lift untuk segera pulang ke rumahnya.
.....
Delapan belas menit, mobil Kenzo sampai di rumahnya. Kenzo berjalan cepat memasuki rumah.
Sedangkan Zahra, saat tangannyaakan menggapai foto tersebut, sebuah suara mengejutkannya.
"Apa yang kau lakukan?"
Zahra berbalik. Matanya membulat melihat Kenzo yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan marahnya.
Kenzo berjalan cepat dan mengambil foto yang ada di sana. "Siapa yang mengizinkanmu memasuki kamarku, Zahra?" tanya Kenzo tajam.
"K-Kak, Zahra cuma-"
"Cuma apa? Kau lancang memasuki kamarku. Sudah aku bilang kau tidak berhak atas semua yang menyangkut diriku, Zahra!" ucap Kenzo tepat di wajah Zahra yang sudah ketakutan.
Kenzo mencengkram kuat dagu Zahra. "Buka matamu dan tatap aku Zahra!" ucap Kenzo tajam.
Zahra dengan segenap keberaniannya menatap Kenzo.
"Kau tidak punya hak atas itu Zahra! Asal kau tahu, aku menikahi mu bukan karena cinta! Mana ada lelaki sempurna sepertiku yang dengan sukarela menerima gadis cacat sepertimu!" ucap Kenzo.
"Kak Ken bohong!" teriak Zahra tepat di wajah Kenzo.
"Ara percaya, Kak Ken pasti menikahi Ara karena ketulusan, kan," ucap Zahra yakin dengan apa yang dirasakan hatinya.
Kenzo melepaskan cengkeramannya pada dagu Zahra dengan sedikit keras. Dia tertawa sumbang mendengar setiap perkataan Zahra.
"Masuk!" ucap Kenzo berteriak.
Setelah itu masuk seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian sedikit terbuka. Wanita itu berjalan mendekati Kenzo dan Zahra. Tanpa aba-aba wanita itu langsung memeluk Kenzo dengan manja.
"Siapa dia, Kak Ken?" tanya Zahra hati-hati. Dia takut jawaban yang akan dia terima adalah jawaban yang tidak ingin dia dengar.
Kenzo beralih duduk di tepi ranjang dan membawa wanita yang tadi dia suruh masuk untuk duduk di pangkuannya.
"Dia?" tanya Kenzo menatap wanita yang duduk di pangkuannya.
"Dia teman ranjangku," ucap Kenzo menjawab pertanyaan Zahra.
Zahra menggeleng kuat membantah apa yang dikatakan Kenzo. "Kak Kenzo tidak mungkin seperti itu," ucap Zahra berusaha tegar.
"Kamu mau bukti?" tanya Kenzo.
"Kak Ken tidak mungkin sejahat itu sama Ara," ucap Zahra kekeuh dengan kata hatinya.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan," ucap Kenzo.
Tanpa aba-aba, Kenzo langsung melahap bibir wanita yang ada dipangkuannya dengan rakus dan penuh nafsu. Wanita yang ada dipangkuan Kenzo dengan senang hati menerima dan membalas setiap perlakuan Kenzo.
Sudut mata Kenzo melirik Zahra yang melihat kegiatan mereka. Kenzo menghentikan kegiatannya dan menatap Zahra. "Apa kau percaya?" tanya Kenzo.
Zahra menatap Kenzo dengan menahan segala gejolak yang ada dihatinya. Sungguh, saat ini juga dia ingin sekali menangis, tapi jika di melajukan hal itu, maka dia akan kalah dengan emosinya sendiri. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah seperti itu.
"Kak Ken, apa Kak Ken tahu, Ara menerima pernikahan dengan Kak Ken hanya untuk mengalihkan perasaan Ara dari lelaki lain. Jika saja lelaki yang Ara cintai membalas perasaan Ara, maka Ara tidak akan menerima Kak Ken," jawab Zahra. Sedangkan hatinya berteriak ingin mengatakan bahwa dia merasa cemburu melihat suaminya seperti itu.
Nampak perubahan raut wajah Kenzo saat mendengar perkataan Zahra. Apa yang dia harapkan tidak terjadi. Yang dia inginkan adalah air mata Zahra. Tapi wanita itu sama sekali tidak menangis.
Kenzo berusaha tenang untuk menyembunyikan kekesalannya. "Jadi tidak masalah bukan, jika aku making love di depanmu?" tanya Kenzo menatap Zahra.
Zahra menggeleng. "Jangan melakukan dosa di depan Ara, Kak Ken. Itu hanya akan membuat Kak Ken dan teman ranjang Kak Ken ini terlihat murahan," ucap Zahra dengan menahan segala gejolak di dadanya.
Zahra membalikkan badannya dan menyeret badannya untuk keluar dari kamar Kenzo.
"Satu lagi Kak Ken, jika Kak Ken membutuhkan teman ranjang, maka ada seorang istri yang memiliki harga diri lebih tinggi dari pada dia. Jangan membuat harga diri Kak Ken jatuh dengan bermain bersama seorang jalang," ucap Zahra lembut namun menusuk.
Setelah mengucapkan itu, Zahra benar-benar menyeret dirinya dengan cepat dan keluar dari kamar Kenzo.
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗