Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 20



🌹HAPPY READING🌹


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kenzo yang sejak tadi mengguling-gulingkan tubuhnya di ranjang king size miliknya tak kunjung menutup mata. Entah mengapa rasa kantuk itu tidak menyerang matanya. Pikirannya selalu terbayang Zahra dan kejadian saat dia akan mengambil kesucian Zahra.


"Gue suaminya, dan gue berhak atas diri Zahra," gumam Kenzo pada dirinya sendiri.


Kenzo bangun dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ujung jarinya saling bersatu dengan siku yang bertumpu pada kedua pahanya. Gue harus cepat menyelesaikan semua ini sebelum Al mengetahui semuanya.


"Tapi kenapa gue nggak tega begini sih, bangsat!" umpat Kenzo mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Rasanya Kenzo ingin membelah dadanya sendiri dan mengubah isi hatinya. Dia tidak ingin ada perasaan cinta dan iba ini untuk Zahra. Semua ini sangat menyiksanya.


"Gue harus selesaikan ini cepat," ucap Kenzo dengan segala keyakinannya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya sendiri.


Kenzo menuruni anak tangga dan melihat Zahra yang masih berada di ruang keluarga. Dengan langkah pelan Kenzo menghampiri Zahra.


Zahra yang sedang asik dengan tontonan televisinya terlonjak kaget saat merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya.


"Kak Ken," ucap Zahra kaget saat melihat Ken yang berdiri di belakang kursi rodanya.


Kenzo memutari kursi roda Zahra dan bersimpuh tepat di depannya. Kedua tangan Kenzo menggenggam erat tangan Zahra.


"Zahra," panggil Kenzo lembut.


"K-Kak Ken kenapa?" tanya Zahra gugup. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Kenzo bersikap sangat manis kepadanya. Bahkan suara Kenzo terdengar sangat berat dan penuh perhatian.


"Saya suami kamu kan, Zahra?" tanya Kenzo.


Zahra mengangguk menjawab pertanyaan Kenzo.


"Kewajiban istri adalah mempercayai suaminya kan, Zahra?" tanya Kenzo lagi yang dibalas anggukan oleh Zahra.


"Bisakah saya meminta satu hal kepadamu, Zahra?" tanya Kenzo lembut.


Zahra dengan patuh hanya mengangguk. Sungguh, dia masih bingung dengan sikap Kenzo yang sangat berbeda ini. Padahal tadi Kenzo masih berbicara kasar dengannya. Tapi ini, bahkan suara Kenzo terdengar lebih merdu dari pada penyanyi internasional saat bicara dengan Zahra.


"Apapun nanti yang saya lakukan, apapun nanti yang saya tinggalkan, itu semua adalah kebaikan untuk kita berdua, Zahra," ucap Kenzo.


"Maksud Kak Ken?" tanya Zahra tak paham.


Kenzo tersenyum lembut. "Apa hati kamu sudah ada untuk saya, Zahra?" ucap Kenzo tanpa menjawab pertanyaan Zahra.


Zahra diam. Dia tidak tahu harus berkata seperti apa sekarang. Pertanyaan Kenzo yang seperti ini sungguh membuatnya bingung. "Bagaimana hati Kak Ken kepada Zahra saat ini, begitulah perasaan Zahra sekarang," jawab Zahra.


"Apa disini sudah ada nama saya, Zahra? Apa lelaki yang kamu harapkan itu sudah berhasil saya singkirkan dari hati kamu?" tanya Kenzo menunjuk dada sebelah kiri Zahra.


Sungguh, Zahra sangat gugup untuk saat ini. Perlakuan Kenzo bahkan lebih lembut dari sutra yang menyentuh kulit.


"Bolehkan Zahra berbicara jujur, Kak Ken? ucap Zahra.


Kenzo mengangguk. "Kejujuran kamu sangat berguna untuk saya, Zahra," jawab Kenzo.


Zahra mengambil tangan Kenzo dan meletakkan tepat di dada sebelah kirinya. "Sejak Zahra memutuskan untuk menerima Kak Ken menjadi seorang suami, saat itu juga Zahra sudah menjatuhkan hati Zahra pada Kak Ken. Zahra percaya, Kak Ken adalah jawaban yang Allah kasih dari doa Zahra. Disini, pasti ada sedikit rasa cinta untuk Zahra," ucap Zahra menunjuk dada kiri Kenzo.


Kenzo tersenyum mendengar jawaban Zahra. "Zahra," panggil Kenzo lembut.


"Iya," jawab Zahra.


"Apapun nanti yang terjadi, jangan pernah merubah perasaan kamu kepadaku, Zahra. Tetaplah dengan cinta yang tulus itu apapun yang terjadi nanti, Zahra," ucap Kenzo.


"Kak Ken-"


"Aku meminta hakku sebagai suamimu, Zahra," ucap Kenzo cepat memotong perkataan Zahra.


"Tapi-"


"Saya janji akan memperlakukan kamu dengan lembut. Bukankah kamu bilang akan memberikannya kepada saat aku dalam keadaan sadar," ucap Kenzo.


"Zahra takut Kak Ken mempermainkan Zahra lagi. Zahra memang seorang istri, tapi bukan wanita murahan yang bisa Kak Ken gunakan kapanpun dan Kak Ken buang begitu saja," ucap Zahra menunduk.


"Saya mohon, Zahra. Setelah ini kita akan memulai kehidupan yang baru," ucap Kenzo meyakinkan Zahra.


Zahra menatap dalam mata Kenzo yang juga menatapnya. Zahra mengangguk menyetujui permintaan Kenzo. "Ayo sempurnakan pernikahan kita, Kak Ken," ucap Zahra yakin. Meskipun dalam hatinya ada begitu banyak pertanyaan mengenai perubahan sikap Kenzo ini.


Kenzo tersenyum senang mendengar jawaban Zahra. Tanpa aba-aba Kenzo mengangkat Zahra dari kursi rodanya dan menggendong Zahra ala bridal style. Zahra yang terkejut langsung mengalungkan tangannya di leher Kenzo.


"Ke kamar Zahra?" tanya Zahra ketika Kenzo membawanya ke kamar yang dia tempati.


Kenzo mengangguk dengan senyumnya. "Kita akan mengukur cerita disini, Zahra," ucap Kenzo.


Dengan perlahan Kenzo melepas kerudung milik Zahra. "Cantik," gumam Kenzo yang mampu membuat pipi Zahra bersemu merah.


"Andai Kak Ken seperti ini sejak dulu," ucap Zahra dengan senyum manis mengusap lembut rahang Kenzo.


Kenzo hanya tersenyum. Kenzo semakin mendekatkan wajahnya dengan Zahra dan tanpa aba-aba bibir mereka saling melahap satu dengan lainya.


Secara perlahan Kenzo membaringkan Zahra tanpa melepas pautan bibir mereka. Zahra yang belum berpengalaman mencoba untuk membalas setiap perlakuan Kenzo. Hingga tidak terasa kini mereka sudah tidak terlapisi oleh sehelai benangpun. Dua tubuh yang berbeda jenis itu kini di penuhi buliran keringat karena kegiatan mereka.


Kenzo menepati ucapannya. Dia benar-benar memperlakukan Zahra dengan lembut. Zahra menikmati setiap sentuhan yang diberikan Kenzo. Hingga pada intinya, Zahra menjerit sakit saat sesuatu milik Kenzo memasuki tubuhnya.


"Kak Ken, sakit," rintih Zahra.


"Tahan, Zahra" ucap Kenzo disela kegiatannya.


Dengan segala usahanya, Kenzo berhasil sampai pada tujuannya. Kasur kecil milik Zahra menjadi saksi bagaimana mereka melakukan penyatuan dan menyempurnakan pernikahan mereka. Mereka melakukannya berkali-kali untuk saling memuaskan satu dengan yang lainnya.


Maafkan aku, Zahra. Batin Kenzo diakhir kegiatannya.


.....


Pagi telah menjelang. Zahra menggeliat dari tidurnya dengan mata yang perlahan mulai terbuka. Zahra tersenyum mengingat apa yang dia lakukan semalam dengan Kenzo. Meskipun saat ini badannya terasa sangat sakit semu, tulangnya terasa akan remuk, tapi tidak dapat dipungkiri, Zahra menikmatinya. "Jadi begini rasanya," gumam Zahra senang.


Zahra berbalik dan tidak melihat keberadaan Kenzo yang kemarin malam tidur sambil memeluknya. Zahra duduk dengan menahan selimut agar tidak melorot. Tubuhnya masih belum berbalut sehelai benangpun.


"Kak Ken kemana pagi-pagi begini, ya. Zahra mau minta bantu ke kamar mandi," ucap Zahra saat melihat jam masih menunjukan pukul enam pagi.


Zahra mengedarkan pandanganya hingga matanya tertuju pada sebuah map coklat yang ada di sebelah kasurnya.


Zahra mengambil surat tersebut dan membukanya.


DEG.


Jantung Zahra seakan berhenti melihat apa yang tertulis di kertas yang ada di amplop. Tangan Zahra gemetar melihat isi surat tersebut.


"Su-surat cerai. Ini tidak mungkin kan? Ini Zahra salah lihat kan?" ucap Zahra dengan suara bergetar.


......................


Maaf ya teman-teman adegan segitu aja biar puasa kita tidak batal. Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz