Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 87



🌹HAPPY READING🌹


Mereka semua masih setia menanti di depan UGD. Sudah satu jam, namun dokter belum juga keluar dari ruangan.


Sela masih setia dalam pelukan Bundanya. Anak itu masih terisak kecil memikirkan sang Ayah yang sedang berjuang hidup di dalam sana.


Sela memandang keluarganya satu persatu. Dia melihat banyak air mata yang tumpah saat ini. Demi memenuhi keinginannya untuk memiliki keluarga utuh, dia harus banyak melihat orang yang bersedih. Sela melepaskan dirinya dari pelukan sang Bunda. Dia berbalik dan menatap Bundanya yang kini sudah duduk di kursi tunggu. Sela memandang dalam wajah Bundanya. Dia melihat darah sang Ayah yang mulai mengering di wajah, pakaian dan tangan Bundanya. Lalu anak itu menurunkan pandangannya pada gaunnya yang juga terkena darah dari sang Ayah.


"Buna," panggil Sela dengan suara bergetar. Tangis anak itu nampak akan kembali keluar, terbukti dari dagu Sela yang gemetar menahan isakannya.


"Iya, Nak," jawab Zahra mencoba kuat dan tersenyum pada Sela.


"Cela tidak apa-apa jika Ayah tidak belcama kita, acal Ayah baik-baik caja, Buna," ucap Sela bergetar.


"Hiks, Cela tidak apa-apa tidak punya Ayah, acal Ayah cehat," lanjut Sela dengan tangis yang sudah tak bisa dia tahan. Sungguh, anak itu merasa bersalah kini. Demi keinginannya untuk memiliki keluarga yang utuh, Ayahnya harus berkorban sebesar ini, begitu pikir Sela.


Zahra menangkup kedua pipi Sela. Nampak darah yang sedikit mengering itu menempel di pipi bulan Sela. Zahra memejamkan matanya sebelum membuka mulutnya untuk bersuara. Semoga Akbar juga suka dan senang dengan keputusan Bunda, Nak. Restui Bunda, Akbar. Batin Zahra mengingat Akbar, anak sulungnya yang sudah lebih dulu pergi ke pangkuan sang pencipta.


Zahra membuka matanya dan menatap Sela dengan senyum tulusnya. "Bunda akan kembali pada Ayah. Kebahagiaan Sela, adalah kewajiban bagi Bunda," ucap Zahra tulus.


Bukannya senang, Sela malah semakin menangis mendengar perkataan Zahra. "Kenapa menangis, Nak?" tanya Sela khawatir mendengar tangis Sela. Begitu juga dengan mereka semua yang ada disana.


"Kalau Buna telpakca, jangan Buna," ucap Sela.


Zahra menggeleng. "Bukan terpaksa, Nak. Karena memang seharusnya Bunda kembali pada Ayah. Hidup bahagia untuk Sela dan semuanya," jawab Zahra menenangkan anaknya.


"Buna iklhaskan, Buna?" tanya Sela lagi.


Zahra mengangguk untuk kesekian kalinya. "Sangat ikhlas, Nak," ucap Zahra.


Sela memeluk erat Bundanya. Begitupun Zahra yang membalas pelukan anaknya tak kalah erat. Zahra memandang satu persatu keluarganya yang ikut tersenyum memandangnya.


"Kakak, Sela, ganti baju, yuk. Baju Kakak sama Sela banyak darahnya," ucap Kina mendekati Zahra.


Zahra menggeleng. "Kakak mau nunggu Kak Ken, Dek," ucap Zahra.


"Ganti bajumu, Nak. Kami semua ada disini untuk Kenzo," ucap Anggara.


"Nanti kalau Kak Ken bangun dan cariin Zahra gimana, Pa?" ucap Zahra.


Mereka semua tersenyum mendengar perkataan Zahra. "Kalau begitu Kakak ganti baju disini aja. Diruang keluarga kita ada pakaian, Kak," ucap Kina mengingatkan Zahra bahwa ini adalah rumah sakit keluarga mereka.


"Tapi-"


"Ayo, Kak," ucap Kina memotong perkataan Zahra. Zahra mengangguk pasrah. Dia berdiri dan menggandeng tangan Sela untuk pergi.


Ceklek.


"Saudara Sela," panggil seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Zahra dan Sela kembali berbalik. "Aku Cela," ucap Sela mengangkat tangannya dan berjalan mendekati Al yang juga berdiri di pintu UGD.


"Ada apa, Suster?" tanya Al yang memang berdiri di dekat pintu UGD bersama Sela yang sudah berdiri didepannya.


"Pasien terus menyebut nama Sela dalam keadaan tidak sadar. Dokter meminta saudara Sela untuk masuk, dengan harapan bisa membantu pasien melawan masa kritisnya," ucap Suster.


"Suami saya baik-baik saja kan, Dokter?" tanya Zahra khawatir.


"Tenang saja, Bu. Dia laki-laki yang kuat," jawab Sister dan beralih menatap Sela. "Sela bisa ikut sekarang?" tanya suster tersebut.


"Bica, Cutel," jawab Sela.


Suster tersebut hanya tersenyum mendengar bicara Sela yang masih cadel. "Ayo," ucap Suster tersebut mengajak Sela.


Sela mengangguk. Dia menatap semua keluarganya terlebih dahulu. "Ayah pasti baik-baik caja, Buna," ucap Sela saat menatap Zahra.


Zahra mengangguk. Setelah itu Sela mengikuti suster dan masuk ke UGD.


Sela mengedarkan pandangannya menatap setiap pasien yang dia lalui. Dia meringis ketika melihat anak seumurannya disuntik oleh seorang Dokter wanita.


"Tapi punggung Ayah macih cakit, Doktel," ucap Sela cepat.


Dokter tersebut menunduk dan melihat seorang gadis kecil berdiri disebelahnya. "Ayah kamu akan baik-baik saja. Apa kamu yang bernama Sela?" tanya Dokter.


Sela mengangguk. "Dari tadi dia terus memanggil-manggil nama kamu, Nak," ucap Dokter tersebut.


Kenzo sudah kembali tidur dengan posisi normal. Sela melihat Dokter memasang kabel-kabel di tubuh Ayahnya. Anak itu hanya melihat, dia yakin, semua ini pasti untuk kesembuhan Ayahnya.


Setelah selesai, Dokter tersebut mengangkat Sela untuk berdiri di tangga kecil besi agar bisa melihat Kenzo lebih jelas.


"Sela," suara Kenzo lirih, lebih terdengar seperti bisikan. Namun matanya masih setia terpejam.


"Ayah Cela baik-baik caja kan, Doktel?" tanya Sela.


Dokter tersebut tersenyum. "Doakan Ayah kamu, ya. Dokter permisi dulu," ucap Dokter tersebut dan berlalu pergi.


"Cutel," panggil Sela pada suster wanita yang ada disana dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah Cela baik-baik caja, kan?" tanya Sela memastikan keadaan Ayahnya.


Suster tersebut mengangguk. "Doa kamu, sangat berarti untuk kesadaran Ayah kamu," ucap Suster tersebut ramah.


Sela menatap Kenzo. Dia memeluk lembut tubuh Kenzo. Tangan mungil Sela melingkari separuh badan Kenzo. Matanya menatap wajah Kenzo yang dari tadi memanggil-manggil namanya. "Ini Cela, Ayah," ucap Sela sendu.


"Ayah bangun, ya. Ada kabal bahagia menanti Ayah," ucap Sela. Anak itu menghapus air matanga cepat agar tidak ketahuan menangis.


"Buna cudah cetuju untuk kembali cama Ayah. Kita akan hidup bahagia, Ayah. Ayah bangun, ya. Jangan buat Cela takut. Jika nanti Buna beltanya mengenai Ayah, Cela halus jawab apa? Cela cudah tidak mau lagi belbohong Ayah, akibatnya menyakitkan Cela," ucap Sela lirih.


Sela semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kenzo


Cup. Anak itu mencium lembut pipi putih Ayahnya. Setelah itu, Sela mendekatkan mulutnya ke telinga Kenzo untuk mengatakan sesuatu.


"Ayah bangun, yuk. Jangan buat Cela jadi yatim lagi, Cela dan Buna butuh Ayah. Bangun, ya, pahlawannya Cela, cup," bisik Sela dengan air mata yang tidak mampu dia tahan, dan memberikan kecupan singkat di pipi Ayahnya.


Sela mengangkat kepalanya dan melihat sudut mata Kenzo yang mengeluarkan air mata. Mulut Kenzo sudah berhenti menyebut nama Sela, namun lelaki itu masih belum menunjukkan tanda-tanda dia akan sadar.


Sela menghapus air mata itu dengan tangan mungilnya. Tangan satunya lagi digunakan untuk menggenggam tangan Ayahnya.


"Aw,,," teriak Sela kaget ketika merasakan tangannya digenggam kuat oleh tangan Kenzo.


"Cutel, Ayah kenapa?" tanya Sela khawatir melihat Ayahnya yang kejang-kejang. Dengan sekuat tenaga, anak itu menahan sakit ditangan mungilnya akibat remasan tangan Kenzo.


Suster yang melihat itu langsung memanggil Dokter. "Pasien tiba-tiba kejang, Dok," ucap Suster tersebut.


"Doktel, Ayah Cela," ucap Sela dengan suara bergetar.


Dokter langsung memberi tindakan pada Kenzo. Sela melihat Dokter menangani Ayahnya terus berdoa dalam hati. Ayah, cadarlah. cadal Ayah, tangan Cela cakit. Batin Sela merasakan sakit luar biasa pada tangannya yang digenggam kuat sekali oleh Kenzo.


"Selamatkan Ayah, Doktel," ucap Sela sendu. Dokter tersebut mengangguk.


Lima belas menit, Kenzo sudah kembali tenang. Ternyata itu adalah reaksi tubuh Kenzo terhadap obat yang diberikan Dokter.


"Sela tenang, ya. Ayah Sela baik-baik saja. Tapi kita butuh waktu untuk menunggu Ayah sadar, ya," ucap Dokter. Memang benar adanya, bagian runcing lampu menusuk tubuh belakang Kenzo cukup dalam, tapi untungnya tidak mengenai organ penting tubuhnya, hingga bisa diatas. Dan bagian sekitar punggung Kenzo yang memar dan luka kecil. Tapi satu hal yang ditakutkan, yaitu lengan bagian kanan Kenzo yang paling menahan berat lampu besar tersebut.


"Tangan Cela cakit, Doktel," ucap Sela dengan mata berkaca-kaca menatap tangannya yang masih digenggam kuat oleh Kenzo.


Dokter yang melihat itu langsung melepaskan genggaman Kenzo dengan perlahan.


"Sela keluar dulu, ya. Dokter akan pindahkan Ayah ke ruang rawat dulu," ucap Dokter tersebut.


Sela melihat Ayahnya sekali lagi. Dia kembali menaiki tangga kecil itu dan kembali berbisik pada Kenzo. "Ayah bangun, ya. Kicah kita balu dimulai. Istli dan anak Ayah menuggu. "


......................


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘