
🌹HAPPY READING🌹
Adzan subuh berkumandang di masjid rumah sakit membangunkan si mungil Sela dari tidurnya. Sela membuka mata mungilnya dan menatap Kenzo yang masih setia dari mimpi panjangnya.
Sela mendesah pelan. "Padahal Cela halap Ayah udah bangun," ucapnya sendu. Mata Zahra beralih menatap Zahra yang tidur di kursi dengan kepala yang direbahkan ke kasur Kenzo.
"Buna pasti cayang banget cama Ayah," gumam Sela senang melihat Zahra yang sangat perhatian pada Kenzo.
Sela beralih memandang kebawah ranjang Kenzo. Dengan hati-hati Sela mulai menurunkan kaki mungilnya. Anak itu ingin segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh.
"Huh, tinggi banget cih," gumam Sela sedikit kesal karena kakinya yang tidak kunjung menginjak lantai.
"Akhilnya," ucap Sela sedikit dramatis setelah berhasil turun dari ranjang Kenzo yang sedikit tinggi.
Sela segera berjalan ke kamar mandi dan segera mengambil wudhu. Sepuluh menit, Sela keluar dari kamar mandi. Anak itu mencari-cari peralatan sholatnya, namun tidak dia temukan.
Sela berjalan mendekat kepada Zahra dan sedikit menusuk-nusuk perut Zahra dengan jari mungilnya. "Buna," panggil Zahra.
"Buna," panggil Zahra lagi saat Zahra tidak kunjung bangun.
"Bunaaa," ucap Sela sedikit meninggikan suaranya memanggil Zahra.
Zahra yang merasa terganggu dengan suara Sela akhirnya terbangun. "Iya, Nak," jawab Zahra dengan suara seraknya.
"Pelalatan cholat Cela mana, Buna?" tanya Sela.
"Sela bangun sendiri?" ucap Zahra tanpa menjawab pertanyaan Sela.
Sela mengangguk dengan senyum manisnya. Dan itu membuat Zahra ikut tersenyum bangga pada Sela. "Pintarnya anak Bunda," ucap Zahra mencium gemas pipi anaknya.
"perlengkapan sholat ada di lemari itu, Nak. Laci paling bawah," ucap Zahra menunjuk lemari besar dan laci paling bawah dari lemari tersebut.
Sela mengangguk mengerti. Saat akan melangkah, anak itu kembali berbalik menatap heran Bundanya. "Kenapa Nak?" tanya Zahra melihat Sela.
"Buna tidak cholat?" tanya Sela menyipitkan matanya menatap Zahra mengintimidasi.
Zahra terkekeh melihat wajah anaknya yang nampak lucu raut wajah mengintimidasinya. "Buna sedang tidak baik sholat, Nak. Buna datang tamu," jawab Zahra.
"Tamu?" tanya Zahra tak mengerti.
"Datang bulan, Nak," jawab Zahra.
"Datang bulan?" tanya Zahra lagi gak mengerti.
Zahra tertawa melihat wajah bingung anaknya. "Nanti Sela pasti ngerti kalau udah gede, Nak. Sekarang sholat dulu, ya," ucap Zahra.
Cela tanya Mama Tamala saja nanti. Batin Sela yang masih bingung dengan jawaban Zahra.
Sela hanya mengangguk mendengar jawaban Zahra atas pertanyaannya.
Saat anak itu akan melangkah, sebuah bunyi bom besar membuat Sela dan Zahra terdiam.
"Pyuut,,,,,tuuuuttt,,tuut,pyuuut,tut,tut,,,,,"
Zahra dan Sela saling diam. "Hehe, Cela kentut Buna," ucap Sela cengengesan dengan wajah polos memperlihatkan deretan gigi putihnya menatap Zahra.
Tawa keras keluar dari mulut Zahra. "Hahaha,,, kamu masuk angin, Nak?" tanya Zahra berdiri dan bersimpuh di depan Sela.
"Yaudah, Sela ambil wudhu lagi, ya," ucap Sela mengusap lembut pipi Sela.
"Hehe, iya Buna," jawab Sela segera pergi ke kamar mandi untuk kembali mengambil wudhu. Jujur saja, anak itu sungguh malu dengan bunyi kentutnya yang sangat tidak estetik itu.
.....
"Buna, kok Ayah nggak bangun-bangun, ya," ucap Sela sendu menatap Kenzo di ranjang. Bunyi mesin EKG terdengar memenuhi ruangan Kenzo. Entahlah, Dokter mengatakan jika Ayahnya baik-baik saja, tapi sampai sekarang Ayahnya belum juga bangun. Saat ini mereka tengah menikmati sarapan di meja makan yang ada diruangan Kenzo.
"Kita tunggu saja ya, Nak. Dokter meminta kita untuk menunggu dua hari, dan ini baru satu hari, Nak. Yang penting Sela jangan berhenti berdoa, ya," ucap Zahra memberi pengertian pada Sela.
Sela kembali membuka mulutnya menerima suapan dari Bundanya. Sesekali Zahra menyuapi dirinya sendiri untuk mengisi perutnya. Tapi pandangan Sela tidak lepas dari Kenzo.
"Mimpi Ayah indah ya, Buna," ucap Sela ketika mulutnya berhenti mengunyah makanan.
Sela beralih menatap Bundanya dengan pandangan sendu. "Apa Ayah punya kelualga bahagia di mimpinya, Buna. Campai Ndak mau bangun," ucap Sela sedih.
Zahra menggeleng dan tersenyum menatap Sela. "Anak Ayah Kenzo ada disini, dan ini adalah kebahagiaanya," ucap Zahra menunjuk Sela.
"Buna," panggil Sela pelan.
"Iya Nak," jawab Zahra.
"Sela mau bisa melihat masa depan," celetuk Sela kembali menatap Kenzo.
"Maksudnya?" tanya Zahra tak paham.
"Cela mau bica melihat maca depan. Cela mau tahu, apakah Cela akan bahagia atau tidak, apa Ayah dan Buna akan bahagia atau tidak. Dan jika teljadi hal ceoelti ini, Cela mau gantiin Ayah, Buna," ucap Sela lirih.
"Sela, dengar Bunda, Nak," ucap Zahra membawa Sela menghadapnya.
Sela menurut dan menatap Zahra. Mata anak itu sudah nampak berkaca-kaca. "Itu semua kuasa Allah, Nak. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik. Jangan mendahului takdir ya, Nak," ucap Zahra memberi pengertian pada Sela.
Sela hanya diam. Anak itu kembali memutar badannya menghadap Kenzo. Anak itu berdiri dan berjalan mendekati ranjang Kenzo. Zahra yang melihat itu hanya diam. Dia sedih, sangat sedih. Tapi, jika dia menangis, maka siapa yang akan memberikan semangat untuk anaknya, siapa yang akan memberikan kekuatan untuk anaknya.
Sela naik ke kursi yang ada di sebelah ranjang Kenzo dengan sedikit kesusahan. Anak itu menggenggam tangan Kenzo erat. Sela hanya diam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, tapi mata anak itu mengatakan bahwa dia benar-benar sedih saat ini.
Ya Allah, Bangunkan Ayah Cela. Jangan ambil kebahagiaan Cela dan Buna. Batin Sela sendu menatap lurus ke wajah Kenzo. Setelahnya anak itu merebahkan kepalanya di ranjang dan memejamkan mata. Berharap saat dia kembali bangun nanti, Ayahnya sudah sadar.
Zahra melihat semuanya. Hatinya sedih, berbagai macam rasa bersalah menyeruak dihati Zahra.
Egois. Satu hal yang sangat Zahra sesali. Harusnya aku tidak melakukannya. Batin Zahra sedih mengingat bagaimana keras hatinya karena terjerumus dalam kesakitan masa lalu.
.....
Di sebuah gedung Tua, namun di dalamnya nampak seperti rumah mewah. Al, Thomas dan Aska berdiri menatap seseorang yang kini sudah terikat rantai di kedua tangan dan kakinya.
"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Al menatap tajam manusia di depannya.
Aska hanya diam menatap santai dibelakang Al. Sedangkan Thomas, lelaki yang benar-benar taubat itu nampak gagah berdiri di sebelah Al.
"Apa kebaikan Kenzo tidak ada artinya untukmu?" tanya Thomas pelan, namun terdengar sangat tegas.
"Apa dia sudah mati? Jika sudah, bunuh juga aku."
......................
Kira-kira siapa ya, teman-teman tersangkanya? Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗