
🌹HAPPY READING🌹
Sela, anak kecil itu masih menangis sesegukan sambil memeluk buku diary Zahra. Tubuhnya bersandar ke pintu kamar dengan kedua lutut yang di tekuk.
"Apa kalna ini Buna tidak bica menelima Ayah? Apa kalna ini Buna melalang Cela buat tahu ciapa Ayah?" monolog anak itu sesegukan.
Sela menengadah dan menampung kedua telapak tangannya ke atas. "Ya Allah, jika kebahagiaan Cela melukai Buna, maafkan Cela, Ya Allah," ucap Sela memohon ampun atas luka yang telah dia berikan kepada Bundanya.
.....
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Ini adalah hari Minggu, hari yang ditunggu oleh semua anak-anak. Karena hari ini, mereka bisa berkumpul dengan keluarga.
Sela dan Zahra baru saja kembali dari warung-warung untuk mengantar donat. Kebetulan hari ini Zahra dapat jatah libur dari pemilik toko roti tempat dia bekerja. Sedangkan Bu Sari sudah pergi ke panti.
Sela terus memandangi wajah Zahra yang kini menyuapinya sarapan. Benar ternyata, Bundanya sangat cantik. Mungkin dulu mata Ayah cakit, makanya tidak melihat kecantikan Buna. Batin Sela memuji Zahra.
"Sela kenapa, Nak?" tanya Zahra bingung. Dia jadi salah tingkah sendiri karena dilihat seperti itu oleh anaknya.
Sela tersenyum dan menggeleng. "Cela cayang Buna," ucap Sela.
Zahra tersenyum. "Bunda lebih sayang Zahra," ucap Zahra mencolek hidung mungil Sela.
Saat asik menyuapi Sela, terdengar suara salam dan pintu rumah diketuk dari luar.
Tok, tok, tok.
"Ciapa ya, Buna?" tanya Sela bingung.
"Tidak tahu, Nak. Biar Bunda lihat dulu, ya," ucap Zahra.
"Cela ikut Buna," ucap Sela dan langsung turun dari kursi tanpa menunggu jawaban Zahra.
Zahra tersenyum dan mengangguk. Zahra mencuci tangannya terlebih dahulu, setelah itu mereka berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.
"Waalaikumsalam."
Ceklek.
Zahra mematung melihat siapa yang datang. Semua keluarganya ada di depannya saat ini. Memandangnya dengan senyum tulus. Mereka semua senang melihat Zahra yang sudah bisa berjalan seperti manusia normalnya.
Bukan hanya keluarganya, ada orang tua Kenzo, tapi tidak dengan Kinzi. Dia sengaja tidak datang karena tidak ingin merasa tidak enak kepada Al dan keluarganya. Seketika tubuh Zahra terasa kaku. Kegugupan melingkupi perasaanya.
"Nak," panggil Dee lembut.
"Iya, Umi," jawab Zahra lembut. Zahra menyalami tangan Dee dan Ibra secara bergantian.
"Om, Tante," ucap Zahra ketika menyalami tangan kedua orang tua Kenzo, Anggara dan Melani.
Anggara dan Melani yang mendengar Zahra memanggilnya dengan sebutan Om dan Tante, membuat hati kedua orang tua itu terasa sakit. Pasalnya, bagaimanapun hubungan Zahra dan Kenzo, mereka tetap menyayangi Zahra sebagai anak mereka sendiri.
"Abang," panggil Zahra lirih ketika melihat Al yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Al masih diam. Dia hanya memandangi adiknya itu dengan perasaan yang tak bisa dia jelaskan.
"Hiks, Abang," ucap Zahra menangis dan langsung memeluk Al.
Air mata Al jatuh begitu saja ketika Zahra memeluknya. Akhirnya, pelukan seorang adik yang selama ini dia rindukan terpenuhi juga. Seorang adik yang dulu pernah dia tolak kehadirannya, kini dia sayangi bagaimana dia menyayangi Kina.
Tangan Al perlahan membalas pelukan Zahra. Dia mengusap lembut kepala Zahra yang tertutup hijab.
"Zahra kenapa tidak pulang?" ucap Al membuka suaranya. Pertanyaan yang sama yang Zahra dengar ketika bertemu dengan keluarganya.
"Maaf," ucap Zahra. Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Tidak dapat Zahra pungkiri, bahwa dia sayang menyayangi Abangnya ini.
Kina yang melihat itu ikut tersenyum "Kakak," panggil Kina lembut.
Zahra melepaskan pelukannya pada Al. Dia beralih menatap Kina. Kina langsung berhambur memeluk Zahra. "Adek rindu," ucap Kina menangis memeluk Zahra. Zahra membalas erat pelukan Adiknya. "Kakak juga rindu. Dan yang penting, Kakak sayang Adek," ucap Zahra. Kedua anak perempuan Ibra saling berpelukan melepas rindu mereka.
"Zahra," panggil Bella yang sejak tadi berdiri di sebelah Al dengan seorang anak lelaki digendonganya.
Zahra mengangkat kepalanya sambil melepaskan pelukan pada Kina. Dia tersenyum menatap Kakak Iparnya yang masih terlihat sangat cantik seperti dulu. "Kak Bella," panggil Zahra lembut.
"Apa ini ponakan Ara?" tanya Zahra menatap wajah tampan Adam.
Bella mengangguk. "Dia ponakan kamu, Zahra," ucap Bella lembut. Sampai kapanpun, Bella tidak akan pernah melupakan wanita ini. Wanita yang begitu baik dengan segala pengorbanan untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Al. Demi keutuhan rumah tangganya, Zahra rela menjadi target balas dendam Al.
Mengenai Zahra, Ibra sudah memberitahu Kevin. Alangkah senang Kevin mendengar kabar baik ini. Tapi semua ini belum diketahui Sofia, karena Kevin yang meminta. Dia ingin memberi kejutan untuk istrinya itu.
Kenzo yang sejak tadi diam hanya bisa tersenyum kecut. Kehadirannya bahkan bagai tidak terlihat oleh Zahra.
Kenzo memandangi Sela yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Ada yang aneh dengan anakku. Batin Kenzo merasakan keanehan pada tingkah Sela.
Zahra yang sadar akan Sela segera menoleh kebelakang. "Sela," panggil Zahra lembut.
"Iya Buna," cicit Sela pelan.
"Salim dulu, ya. Ini semua salah keluarga Sela," ucap Zahra.
Sela mengangguk patuh dan mulai menyalami satu persatu orang yang ada disana. Saat menyalami Kenzo, tangan Sela sedikit bergetar. Anak itu sekuat hati mengambil uluran tangan Kenzo dan menyalaminya.
Setelah Sela selesai menyalami semuanya, Zahra meminta mereka semua untuk masuk.
"Maaf, rumah Zahra hanya seperti ini," ucap Zahra tak enak kepada mereka semua. Malu rasanya saat Zahra mempersilahkan semua keluarganya untuk duduk dilantai dengan tikar sebagai alasnya.
"Kalau begitu Ayo pulang, Zahra," ucap Al memanfaatkan situasi untuk mengajak Zahra kembali.
Zahra menggeleng. "Zahra bahagia disini," jawab Zahra.
Al hanya menghela nafas pelan. Sama persis seperti apa yang kemarin disampaikan Uminya. Zahra pasti akan menolak jika diajak kembali.
Sela sedari tadi hanya mengikuti kemana langkah Zahra dari belakang tubuh Bundanya itu. Anak itu benar-beanr tidak menatap Kenzo sama sekali.
Kenzo yang tidak tahan diacuhkan oleh anaknya langsung menggenggam lembut tangan Sela. "Nak," panggil Kenzo lembut.
Sela menahan dirinya agar tidak mendekati Kenzo. Dia menggenggam erat baju Zahra agar tidak mendekat kearah Kenzo.
"Sela kenapa sayang?" tanya Kenzo lembut.
Sela hanya menggeleng dengan kepala terus menunduk.
"Zahra kenapa, Nak?" tanya Zahra lembut.
"Hiks," terdengar suara tangis keluar dari mulut kecil Sela.
Mereka semua yang mendengar tangis Sela ikut bingung. "Sela kenapa? Cerita sama Bunda? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Zahra.
Sela mengangkat kepalanya. Anak itu menata Kenzo dan Zahra bergantian. "Ayah jahat, Buna."
DEG
Jantung Kenzo berdetak sangat cepat mendengar perkataan Sela. Entah apa salah yang dia lakukan, tapi perkataan Sela berhasil membuat hatinya ngilu.
"Jahat?" tanya Sela bingung sambil menatap mereka semua.
Sela mengangguk. Anak itu berlari menuju kamarnya dan mengambil buku diary Zahra. Sela kembali ke ruang tamu dan memberikan buku tersebut kepada Zahra. "Ini Buna," ucap Sela.
Mata Kenzo dan Zahra membola melihat apa yang Sela berikan. "Buku diary?" tanya Dee yang melihat itu.
Zahra mengangguk. Air matanya sudah menjatuhi pipinya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ini, begitu juga Kenzo. Pikirannya sudah tidak karuan. Dia takut Sela akan membencinya. Dia takut anaknya akan mengetahui semua masa kelam yang dia berikan kepada Zahra.
"Se-Sela dapat darimana, Nak?" tanya Zahra gugup.
"Maaf, Ayah. Kemalin Cela dapat ini dali kamal dekat toliet caat main kelumah Ayah," ucap Sela menunduk takut.
"Nak, Ayah bisa jelaskan, Sayang," ucap Kenzo mencoba meraih tubuh Sela untuk mendekat kepadanya.
Sela menjarak. Anak itu berdiri tepat dihadapan Zahra dan menatap Bundanya. "Maaf, Buna," ucap Sela dengan suara bergetar.
"Maaf untuk apa, Nak?" tanya Zahra.
"Maaf jika Cela meminta Buna kembali pada Ayah, dan itu melukai Buna. Mulai cekalang Cela tidak akan memakca Buna untuk kembali pada Ayah. Cela tidak mau Buna teluka," ucap Sela menatap Zahra dengan tangisnya.
"Jangan bicara seperti itu, Nak," ucap Kenzo sendu. Dunia Kenzo seakan runtuh saat itu juga.
"Ayah sayang sama Sela dan Bunda, Nak," ucap Kenzo.
Sela memberanikan diri menatap Kenzo. Dia berjalan mendekati Kenzo yang duduk di sebelah Al. "Ayah," panggil Sela parau.
"Iya Nak," jawab Kenzo memegang kedua tangan anaknya.
"Cela cayang Ayah. Tapi cekalang, Cela tidak melalang Ayah jika memiliki wanita celain Buna. Cela tidak mau Buna luka lagi, Ayah. Pasti cakit cekali, jika tidak, Buna tidak akan menangis cetiap malam jika melihat foto Ayah," ucap Sela.
Zahra mengalihkan pandangannya mendengar perkataan Sela. Tidak sanggup jika telinganya menerima setiap kata sendu yang keluar dari mulut anaknya.
"Ayah tidak akan kacal cama Cela kan? Ayah menelima Cela cegabai anak Ayah, kan?" tanya Sela menatap Kenzo sendu.
Kenzo mengangguk yakin. "Iya, Nak. Ayah sangat sayang Sela. Sela anak Ayah. Jangan benci Ayah, Nak," ucap Kenzo.
Sela mengangguk. "Telimakaci, Ayah. Cela tidak benci Ayah. Tidak ada anak yang benci Ayahnya, kan. Dan Cela tidak boleh egois," ucap Sela sambil memandang Dee. Dia ingat, itulah nasehat yang diberikan oh Dee kepadanya.
Dee yang mendengar itu tersenyum sambil mengangguk. Cucunya ini benar-benar anak yang luar biasa.
Sela mengalihkan pandangannya pada Zahra. Tapi dia tidak beranjak sedikitpun dari Kenzo. "Buna," panggil Sela lembut.
"Iya Nak," jawab Zahra sendu.
"Cela tidak akan pakca Buna kembali pada Ayah, tapi jangan lalang Cela untuk cayang Ayah, ya Buna. Jangan ambil mimpi Cela ya, Buna," ucap Sela memohon dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya.
"Ya Allah, Nak."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘