
🌹HAPPY READING🌹
Makan malam bersama keluarga Kenzo membuat Zahra merasa sangat nyaman. Pasalnya, Anggara dan Melani benar-benar memperlakukannya seperti seorang anak perempuan hang harus mereka sayangi. Mereka semua menikmati makan malam dengan diam. Hanya terdengar suara pertemuan piring dan sendok di ruang makan.
Setengah jam kemudian, mereka selesai dengan kegiatan makan malam. "Ma, Pa, terimakasih makan malamnya," ucap Zahra yang kini duduk di sebelah Kenzo.
Melani dan Anggara tersenyum menatap Zahra. "Mama yang harusnya berterimakasih, Nak. Kehadiran kamu dan Kenzo membuat suasana makan malam kali ini lebih hidup," jawab Melani.
Zahra tersenyum lembut menanggapi perkataan Melani. Sedangkan Kenzo hanya diam dengan wajah datarnya.
"Kenzo," panggil Melani.
"Iya Ma," jawab Kenzo pelan.
"Mama nggak mau tahu, malam ini kalian harus nginap disini!" ucap Melani tegas.
"Tapi Ma-"
"Tidak ada penolakan. Kamu dan Zahra harus nginap disini. Malam ini saja, Kenzo," ucap Melani memotong penolakan yang akan keluar dari mulut Kenzo.
"Kamu mau kan, Nak?" tanya Melani beralih menatap Zahra.
"Zahra gimana Kak Ken aja, Ma," jawab Zahra.
Kenzo langsung menoleh kepada Zahra. Memandang tajam Zahra yang tengah menatapnya dengan senyum lembut.
Gadis ini benar-benar pandai memanfaatkan situasi. Batin Kenzo kesal. Karena jika Zahra menolak, maka dia bisa memberikan alasan. Tapi jika Zahra menyerahkan keputusan kepadanya, tentu Kenzo tidak bisa menolak. Dia tidak tega melihat wajah Melani yang sangat berharap kepadanya.
Kenzo mengangguk pasrah menatap Melani. "Iya Ma. Tapi hanya malam ini," ucap Kenzo menyetujui permintaan Melani.
Nampak senyum mengembang di bibir Melani. Anggara yang melihat itu juga ikut senang. Setidaknya, Melani benar-benar menerima Zahra dengan baik, layaknya anak sendiri.
Setelah melaksanakan makan malam, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga. Melani nampak sangat antusias bercerita apa saja yang terlintas di pikirannya.
"Em ... Zahra, boleh Mama bertanya sesuatu, Nak?" ucap Melani.
Zahra mengangguk. "Boleh Ma. Kenapa harus izin dulu," ucap Zahra tak enak.
Melani tersenyum lembut. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Nana yang tertutup hijab itu. "Kamu tidak berniat menunda kehamilan kamu kan, Nak?" tanya Melani hati-hati.
"Ma, kenapa nanya itu sih?" ucap Kenzo kesal mendengar pertanyaan Melani.
"Kamu kenapa sih? Mama tanya mantu Maka, bukan kamu!" jawab Melani menatap Kenzo sinis.
"Kamu maklum ya, Nak. Kenzo sama Mamanya memang sering seperti ini," ucap Anggara kepada Nana.
Nana tersenyum. "tidak apa-apa, Pa," ucap Nana. Setelah itu dia kembali menatap Melani. "Ma," ucap Zahra lembut.
"Zahra tidak berniat menunda kehamilan. Malah Zahra sangat ingin hamil. Mama tahu, Zahra dan Ken berusaha setiap malam," ucap Zahra menatap Kenzo dengan mata jahilnya.
Kenzo membalas tatapan Zahra. Ada raut tak suka di wajah Kenzo mendengar perkataan Zahra. Sedangkan Anggara yang mendengar jawaban Zahra hanya mampu mengaminkan dalam hati.
Kamu benar-benar wanita tegar, Nak. Batin Anggara kagum memuji Zahra.
Melani tersenyum puas mendengar jawaban Zahra. Melani memang tidak tahu mengenai keadaan rumah tangga Kenzo dan Zahra. Anggar sengaja tidak memberitahunya. Dia takut semua ini akan mempengaruhi kesehatan istrinya yang akhir-akhir ini mulai menurun.
.....
Setelah berbincang banyak, kini Kenzo dan Zahra sudah berada di kamar Kenzo. Zahra nampak sudah berganti pakaian dengan piyama tidur milik Kenzo. Tubuh mungil Zahra nampak tenggelam di balik piyama tersebut.
Zahra mengedarkan pandangannya menatap setia sudut kamar Kenzo. Tidak berbeda jauh dengan kamar di rumah merek, kamar Kenzo disini terasa lebih nyaman. Wangi khas Kenzo benar-benar memenuhi indera penciuman Zahra.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Kenzo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya hingga lutut.
Zahra memandangi Kenzo yang nampak sangat tampan dengan rambut basahnya. Suami Ara memang tampan. Batin Zahra memuji Kenzo.
Kenzo yang merasa diperhatikan menoleh kepada Zahra. "Aku memang tampan. Oleh karena itu aku tidak mungkin terpesona kepadamu," ucap Kenzo yang langsung pergi ke walk in closet untuk menggunakan pakaiannya.
Zahra tersenyum lembut menatap Kenzo. Dia menebalkan telinganya agar tahan akan kata-kata kasar Kenzo. Satu hal yang Zahra sukai, semarah-marahnya Kenzo, sebencinya Kenzo kepada Zahra, tapi Kenzo tidak pernah main tangan seperti menampar atau memukulnya. Zahra yakin, ada kebaikan di hati Kenzo yang saat ini sedang ditutupi oleh emosinya.
Tidak berselang lama, Kenzo kembali dengan baju tidur lengkap di tubuhnya. Kenzo mengambil bantal dari ranjang dan meletakkannya di sofa kamar. "Loh, Kak Ken ngapain dia sofa?" tanya Zahra yang melihat Kenzo tiduran di sofa.
"Kau pikir aku mau satu ranjang dengan wanita sepertimu?" tanya Kenzo sinis.
"Zahra hanya mengingatkan kalau Zahra ini istri Kak Ken," jawab Zahra.
"Bagimu kau memang istriku. Tapi bagiku, kau hanya ajang untuk balas dendam. Tidak lebih!" ucap Kenzo tegas.
"Kesabaran dan keikhlasan Zahra pasti bisa meruntuhkan ego Kak Ken yang sangat tinggi," ucap Zahra.
Kenzo tertawa sumbang lalu menatap tajam Zahra."Banyak gadis sempurna darimu yang mampu meruntuhkan egoku," jawab Kenzo.
Zahra hanya tersenyum sendu. Tapi setelah itu dia kembali merubah ekspresinya dengan wajah yang lebih tenang. "Tidak mau membuat Kenzo junior dengan Zahra, Kak?" ucap Zahra berani kepada Kenzo.
Terdengar tawa remeh keluar dari mulut Kenzo. "Kau? Kau membuat Kenzo junior bersamaku? Berjalan saja kau tidak mampu dan sekarang berbicara seperti itu? Bahkan aku saja tidak selera melihatmu, Zahra!" ucap Kenzo tajam.
"Menyewa pelacur lebih baik daripada tidur denganmu!" lanjut Kenzo.
Entah kenapa, jantung Zahra berdetak lebih cepat mendengar perkataan Kenzo. "Apa Zahra sehina itu, Kak?" tanya Zahra pelan.
"Sangat, bahkan lebih dari itu," jawab Kenzo.
Zahra tersenyum sendu. Dia menatap Kenzo dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tadinya dia ingin sekali melawan perasaanya yang begitu lemah, tapi ketika mendengar perkataan Kenzo yang membandingkan dirinya dengan pelacur, sungguh, Zahra tidak serendah itu.
"Kak Ken. Allah maha membolak-balikkan hati manusia, jika saat ini Kak Ken membenci Zahra, tidak apa. Tapi jangan membenci terlalu dalam, Kak. Saat Allah berkehendak, kebencian itu bisa berubah menjadi rasa cinta yang bahkan Kak Ken saja tidak mampu untuk menahannya," ucap Zahra sendu. Tidak ada istri yang mau dibandingkan dengan wanita lain. Apalagi dengan seorang pelacur? Sungguh, bahkan binatang saja sangat menjaga kesetiaannya.
Kenzo terkesiap melihat Zahra. Selama ini dia selalu berkata kasar dan Zahra tetap tersenyum. Tapi kali ini?
Apa aku keterlaluan? Ah sudahlah, memang ini yang aku inginkan. Batin Kenzo.
"Kak Ken," panggil Zahra pelan.
Kenzo menatap Zahra dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Lakukan apapun yang Kak Ken inginkan untuk balas dendam kepada Zahra. Luapkan semua kebencian Kak Ken kepada Zahra. Zahra iklhas menerima setiap kata kasar Kak Ken. Tapi jangan pernah berbagi kesucian Kak Ken dengan wanita lain, terutama seorang pelacur. Itu akan sangat melukai Zahra," ucap Zahra.
Kenzo tertawa remeh. "Karena memang itu tujuanku, Zahra!"
Setetes air bening itu akhirnya keluar dari sudut mata Zahra. Tapi dengan cepat dia mengusapnya agar tidak ketahuan oleh Kenzo. Setelah itu Zahra memberikan senyum lembutnya kepada Kenzo.
"Saat Kak Ken melakukan itu, saat itu pula Zahra memilih untuk menyerah."
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗